Saturday, 25 March 2017

Kebahagiaan Cinta

Adakah yang lebih membahagiakan dari kebahagiaan menemukan teman hidup seperti yang diidamkan? Lalu adakah yang lebih membahagiakan dari pengakuan cinta dan kesungguhan dari seseorang yang diam-diam kita harapkan?

Dan hari ini, salah satu teman dekatku telah mendapatkan dua kebahagiaan itu. Bahagia rasanya mengingat ia yang selama ini terus didesak oleh sang ibu dengan berbagai pertanyaan seputar 'mana si dia?', akhirnya bisa menjawab dengan sebuah jawaban pasti. Kini ia, dan tentu saja ayah ibunya, bisa sedikit bernapas lega.

Tapi aku juga tak habis pikir dengan para lelaki di luar sana, seperti 'si dia'nya temanku ini. Sulit sekali hanya untuk mengakui perasaan, menunggu harus ditanya terlebih dahulu. Padahal pengakuan masalah hati tak harus berarti dengan menjalin hubungan kekanak-kanakan. Karena ada banyak wanita yang sebenarnya hanya menanti kejelasan, selebihnya tak ada yang berubah. Yah tidak justru sama seperti si lelaki temanku ini. Harus ditanya dahulu, lalu berkilah dengan berbagai candaan pula, baru akhirnya berkata, 'Maukah jika aku mengajak ke hubungan yang lebih resmi? April besok insyaAllah aku pulang, dan hal semacam ini sebaiknya dibicarakan secara langsung.'

Aku meminta temanku itu bertanya, kenapa si lelaki diam-diam saja jika tak ditanya? Bahkan memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi. Tahu apa jawabannya?

Karena dia takut memutuskan hubungan baik yang selama ini telah terjalin. Betapa tidak masuk akal, dan betapa anehnya lelaki berpikir. Karena malangnya tak semua wanita sanggup meminta kejelasan. Jika ada seribu jenis lelaki seperti ini, maka bisa dipastikan akan ada seribu perasaan yang pada akhirnya harus terkubur sebagai sejarah.

Lalu soal temanku yang kini masalahnya adalah jutru tentang alasan-alasan yang tak masuk akal. Umur yang masih 22 lah, rencana untuk melanjutkan pendidikan lah, masih ingin menggapai impian lah, dan sederet hal lainnya, hingga ia jadi ragu-ragu untuk menerima ajakan si lelaki.

Kenapa harus memikirkan masalah yang sama sekali bukan masalah? Umur 22, percayalah itu adalah usia yang sangat masuk akal bagi seorang wanita. Lalu soal pendidikan pasca sarjana yang akan masing-masing kalian ambil, memangnya tidak bisa sejalan dengan kehidupan rumah tangga?

Dalam kondisi seperti ini, percayalah aku bisa seketika berubah jadi manusia paling bijak. Kukatakan padanya bahwa setelah pernikahan, kalian bisa saja memutuskan untuk tak bersama dulu. Dia dengan pendidikannya, dan kamu dengan pendidikanmu. Hal-hal yang membedakan adalah: hubungan kalian menjadi halal baik itu yang berbentuk sms, telepon, video call, bahkan jika beberapa waktu sekali kalian memutuskan untuk bertemu. Selebihnya akan sama hingga nanti kalian bisa hidup dalam satu tempat tinggal.

Hey, percayalah kesempatan seperti ini sulit untuk datang dua kali. Maksudku, tak mudah menemukan seseorang yang kita sukai dan ia pun menyukai kita. Tak mudah mendapatkan dua tangan yang saling bertepuk. Jadi, begitu kamu sudah menemukan ia yang menerima dirimu, dan kamu menerima dirinya, untuk apa lagi menunda dengan berbagai alasan.

Ah, ini sudah dini hari. Lagipula aku sedang di kapal. Lain kali aku akan menuliskan nasehat untukmu lagi. Mungkin yang lebih panjang dari ini. Percayalah, aku ikut merayakan kebahagiaanmu. Semoga selalu berbahagia.

Tuesday, 21 March 2017

Menulis dan Pesan






Menulis adalah satu-satunya hal yang selalu membuatku rindu. Bagiku, satu minggu tanpa menuliskan apapun adalah sama dengan satu minggunya pepohonan yang tak menemui hujan. 

Gersang. Satu per satu daunnya berguguran. Demikian pula kebahagiaan yang satu per satu meninggalkan diri. 

Terkesan berlebihan, tapi begitulah adanya. Menulis adalah terapi jiwa yang selalu berhasil membuatku bahagia. Meskipun—aku tahu—tak banyak orang di dunia yang menikmati tulisanku. Namun rasanya, mendapati ada beberapa orang yang menyatakan suka, aku seperti menemukan dunia yang sesungguhnya. 

Di dunia nyata, aku adalah perempuan pendiam, meskipun dalam hati aku ingin sekali banyak bicara. Terkadang beberapa saat sebelum tidur, pikiranku terus bercerita banyak hal hingga satu atau dua jam ke depan. Semua diceritakan. Tapi begitu aku harus berhadapan dengan orang lain, ingin mengeluarkan satu dua patah kata saja begitu ketakutan. 

Karena itulah aku sangat bersyukur dianugerahi hobi menulis. Mungkin inilah caraku untuk bercerita segala sesuatu yang tak bisa diungkapkan oleh kedua bibir. Inilah caraku berkomunikasi panjang lebar denganmu. Jadi, jika kamu ingin mengenalku lebih jauh, maka bacalah tulisanku (entah kamu siapa. Hehe)

Beberapa waktu terakhir, beberapa orang yang kukenal telah melangsungkan pernikahan. Aku tidak bisa menghadiri keduanya karena jarak yang tidak memungkinkan. Lagipula banyak kewajiban di sini yang tak bisa begitu saja ditinggal. Serangkaian doa tulus ikhlas, adalah hal yang bisa dihadiahkan tanpa peduli berapa ribu mil jarak memisahkan. Semoga teman-teman salihahku berbahagia di dunia akhirat. Semoga diberkahi dengan sakinah, mawaddah, warahmah. 

Dan tidak lupa doa untukku, semoga nanti si dia juga memberi mahar hafalan Ar Rahman seperti para lelaki yang telah mempersunting teman-temanku. Jadi mulai sekarang, untukmu yang selalu singgah di halaman ini—yang entah siapa dia, mulailah menghafal surah itu sedikit demi sedikit. 

Sudah. Ini saja.

Monday, 20 March 2017

Kisah Imam Ahmad dan Istighfarnya Penjual Roti



Dikisahkan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bepergian untuk suatu keperluan sampai kemalaman di sebuah kampung. Karena tidak ingin merepotkan siapapun, beliaupun mampir ke sebuah masjid kecil untuk shalat sekaligus berniat bermalam disana. Seusai shalat, ia hendak merebahkan tubuh tua beliau di masjid kecil tersebut guna melepaskan sedikit kepenatan malam itu, tiba-tiba sang penjaga masjid datang dan melarang beliau tidur di dalamnya.

Sang penjaga tidak mengetahui bahwa, yang dihadapainya adalah seorang ulama besar. Sementara Imam Ahmad juga tidak ingin memperkenalkan diri kepadanya. Beliau langsung keluar dan berpindah ke teras masjid dengan niat beristirahat di luar masjid itu. Namun sang penjaga tetap saja mengusir beliau secara kasar dan bahkan sampai menarik beliau ke jalanan.

Tepat saat Imam Ahmad sedang kebingungan di jalan itu, melintaslah seseorang yang ternyata berprofesi sebagai pembuat dan penjual roti. Akhirnya dia menawari dan mengajak beliau untuk menginap di tempatnya, juga tanpa tahu bahwa, tamunya ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika sampai di rumahnya, sang lelaki baik hati itupun segera mempersiapkan tempat bermalam untuk Imam Ahmad dan mempersilahkan beliau agar langsung istirahat. Sedangkan dia sendiri justru mulai bekerja dengan menyiapkan bahan-bahan pembuatan roti yang akan dijualnya esok hari.

Ternyata Imam Ahmad tidak langsung tidur, melainkan malah memperhatikan segala gerak gerik sang pembuat roti yang menjamu beliau. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian beliau dari lelaki ini. Yakni ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus sejak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.

Imam Ahmad merasa penasaran lalu bertanya, “Sejak kapan Anda selalu beristighfar tanpa henti seperti ini?”

Ia menjawab, “Sejak lama sekali. Sejak saya masih bujangan dulu. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.”

Sang Imam melanjutkan pertanyaan beliau, “Lalu apakah Anda bisa merasakan adanya hasil dan manfaat tertentu dari kebiasaan istighfar Anda ini?”

“Ya, tentu saja,” jawab sang tukang roti dengan cepat dan penuh keyakinan.
“Apa itu, kalau boleh tahu?,” tanya Imam Ahmad lagi.

Ia pun menjelaskan, “Sejak merutinkan bacaan doa istighfar ini, saya merasa tidak ada satu doapun yang saya panjatkan, melainkan selalu Allah kabulkan, kecuali satu doa saja yang masih belum terkabul sampai detik ini?”

Sang Imam semakin penasaran dan bertanya, “Apa gerangan doa yang satu itu?”
Si lelaki saleh ini pun melanjutkan jawabannya dan berkata, “Sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal!”

Mendengar jawaban dan penjelasan terakhir ini, Imam Ahmad terhenyak dan langsung bangkit serta bertakbir, “Allahu Akbar! Ketahuilah wahai Saudaraku bahwa, Allah telah mengabulkan doamu!

Sang pembuat roti kaget dan penasaran, “Apa kata bapak? Doaku telah dikabulkan? Bagaimana caranya? Dimana saya bisa menemui Sang Imam panutan saya itu?”

Selanjutnya Imam Ahmad menjawab dengan tenang, “Ya. Benar, Allah telah mengabulkan doamu. Ternyata semua yang aku alami hari ini, mulai dari kemalaman di kampung ini, diusir sang penjaga masjid, bertemu dengan Anda di jalanan, sampai menginap di rumah ini, rupanya itu semua hanya merupakan cara Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh. Ya, orang yang sangat ingin kamu temui selama ini telah ada di rumahmu, dan bahkan di depanmu sekarang. Ketahuilah wahai lelaki saleh, aku adalah Ahmad bin Hanbal…!”

Subhanallah, Allah SWT akan mengabulkan doa hamba-Nya yang senantiasa membaca istighfar.

Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).

Dari Ibnu Abbas r. a Rasulullah SAW Bersabda :”Siapa yang selalu beristighfar (meminta ampun kepada Allah), niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan bagi setiap kesempitan, kesenangan bagi setiap kesedihan dan memberi rezeki tanpa di duga olehnya. (HR. Abu Daud)

Mengenal Suku ‘Asli’ di Pulau Penyalai




Sejak dulu, masyarakat di pulauku sudah terbagi-bagi menjadi beberapa suku. Ada Jawa, Melayu, Lombok, Bugis, Tionghoa campuran, Minang, dan suku Akit atau yang biasa kami panggil ‘suku Asli’. Berdasarkan cerita dari orangtua, suku Akit dikenal sebagai suku Asli karena memang mereka adalah penghuni pertama pulau ini, juga beberapa pulau kecil lain di pesisir Riau. Nama resmi pulauku adalah Mendol—bahkan di peta pun tertulis sebagai pulau Mendol—namun masyarakat Riau lebih mengenalnya dengan sebutan Penyalai. 

Nama Penyalai sendiri—berdasarkan legenda—diambil dari kebiasaan suku Asli yang suka menyalai daging Babi. Mereka memang pemakan daging babi sejati di sini. Jadi tidak perlu heran ketika mendapati para suku Asli memotong babi, menjualnya, dan memasaknya. Daging babi yang mereka makan biasanya didapat dari kebun atau hutan dengan cara memasang perangkap tali (dikenal dengan nama: menjerat babi), bukan daging babi budidaya seperti di luar.

Secara umum, masyarakat Asli adalah mereka yang berkulit lebih gelap (namun tidak sehitam masyarakat Timur) dan memiliki anak lebih banyak dibandingkan jumlah anak yang dimiliki suku Jawa atau Melayu. Bisa lima, enam, atau lebih. Jarang sekali anak-anak dari suku ini yang sekolah sampai ke Perguruan Tinggi, kalau pun ada jumlahnya bisa dihitung jari. Tampaknya orang-orang dari suku ini tidak begitu peduli pada pendidikan (tidak semua, tapi kebanyakannya seperti itu). Satu orang teman SD-ku dulu (dari suku ini) berhasil kuliah sampai ke Pekanbaru, di kampus Islam, hingga satu tahun lalu dia memutuskan ber-Islam.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Asli yang tidak akan pernah kalian jumpai di tempat lain, bahkan di daerah Pekanbaru dan sekitarnya. Misal kalimat ‘Kalian mau apa?’, jika di-translate ke bahasa Asli menjadi ‘Mika ika nak apa?’, dan seringkali ditambahi ‘oh’ di akhir kalimat. Misal ‘Mika ika nak kamana, oh?!’ ini berarti ‘Where are you going, guys?’. 

Yes, oh di sini sama maknanya dengan guys, bro, sis, dan sejenisnya. Saat mereka berbicara panjang dan cepat, biasanya yang tertangkap telinga awam kita adalah ‘bleketek-bleketek-bleketek’ (Don’t laugh! It’s true). Tapi karena aku sudah hidup di sini sejak kecil, teman-teman semasa SD juga banyak dari suku tersebut, bahasa Asli sudah tidak asing bagiku. Setidaknya, aku paham apa yang sedang mereka bicarakan, tidak perlu buka kamus. Dan actually, meski aku cukup enggan mengaku, neneknya ibuku (mbah buyutku dulu) juga berasal dari suku Asli yang menikah dengan lelaki Jawa. Berarti dalam susunan DNA-ku, ada juga ya komponen DNA orang Asli? Wong ibuku yang sudah puluhan tahun hidup di lingkungan Jawa saja masih bisa berbahasa Asli, tapi ibuku juga bisa bahasa orang Tionghoa.

Baiklah, just leave it. Kita bicara saja tentang deen, religion, alias agama yang mereka anut. Mereka jelas bukan penganut Islam, bukan Hindu, bukan Budha, bukan Katolik, juga bukan Protestan. Entahlah aku saja tidak tahu pasti apa agama mereka. Bukan pula penyembah batu, matahari, bulan, atau berhala. And, urusan pencatatan pernikahan, pemerintahan, survey dan statistik lain, mereka tercatat sebagai penganut agama Budha. Biarpun begitu, mereka punya hari lebaran sendiri, tepat pada tanggal 27 Ramadhan. Jadi, kalau kita sudah berpuasa selama 27 hari, orang Asli akan berlebaran atau yang dikenal mereka dengan nama ‘Raya Tojoh Lekor’. Biasanya saat berlebaran, mereka akan mengantarkan banyak makanan ke kuburan para leluhur. 

Mereka juga punya ritual-ritual lain, seperti menyiapkan sesaji dalam kapal-kapalan kecil yang terbuat dari pelepah sagu dan dibentuk seindah mungkin, lalu dihanyutkan ke laut sebagai tolak bala.  Suku ini tidak memiliki ritual pasti seperti shalat 5 waktu dalam Islam, ibadah Minggu untuk Kristen, sembahyang di Wihara bagi Budha, atau ke kuil bagi Hindu. Jadi tidak ada tuh catatan dokumenternya kalau orang Asli sembahyang di kuburan setiap hari Sabtu, atau bangun kuil dan candi di tengah hutan. None at all!

Soal hiburan, suku Asli adalah suku penyuka hiburan. Biasanya saat ada hajatan di kampung orang Jawa atau Melayu selalu ada orgen tunggal (key board), orang Asli selalu berhamburan datang meski mereka harus jalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya. Di lingkungan orang Asli sendiri, mereka memiliki joget tradisional bernama ‘Joget Dang Gung’. Aku sudah lupa seperti apa gerakannya, seingatku joget ini adalah joget para wanita dengan pakaian tradisional, lalu diiringi musik gendang ‘dang gung, dang gung, dang gung’, dan mereka berputar-putar sambil mengentakkan kaki.

Hiburan untuk perayaan seperti nikahan, dsb, mereka sering mengundang joget (cukup dikenal sebagai joget, tidak ada embel-embel lain). Joget ini terkenal sekali di sini (di kalangan mereka), dan mereka semua menyukainya. Dulu, saat umurku enam atau tujuh, di panggung desa ada joget ini setiap malam selama sebulan sebagai perayaan 17 Agustus. Paling sering pakai musik lagu ‘Asarehe a rehe, bla bla bla rehe rehe’, sampai-sampai semua anak-anak seumuranku bisa menyanyikan lagu tersebut. 

Setahuku, joget ini diisi oleh 10 hingga 20 wanita muda dengan dandanan mencolok, berpakaian sedikit atau memang seksi (Tapi tidak sampai buka-bukaan juga. Maksimal pakai hot pant sama tank top), berdiri berhadap-hadapanan, musik diputar, dan mereka berjoget seasyik-asyiknya. Para lelaki yang merasa punya uang bisa ikut joget dan memberikan bayaran di akhirannya. Kurasa sama dengan nyawer. Biasanya semakin larut malam, semakin mereka mabuk, jogetnya akan semakin panas. Pagi harinya, kita akan menjumpai rumput-rumput di halaman rumah mereka gersang akibat terinjak-injak, serta kaleng-kaleng bir berserakan. So, if you come here, don’t be shocked..! Note, I never watch it, selain dulu tidak sengaja nonton di pentas desa. But, it was long long long time ago.

Soal pekerjaan, mereka bukanlah suku yang punya pekerjaan umum seperti suku Jawa dan Melayu yang memang rata-rata sebagai petani. Sebagian dari suku Asli bekerja sebagai karyawan PT sawit di pulau-pulau tetangga, beberapa bertanam jagung, beberapa menjerat babi, beberapa menangkap ikan, beberapa jadi THL (tenaga harian lepas) sebagai pemetik jagung dsb, beberapa menggesek (membuat papan menggunakan sinksaw di dalam hutan), dan satu-dua berhasil menjadi pegawai negeri. 

Untuk foto, sudah beberapa kali anak-anak suku Asli datang ke rumah (mereka sering ikut lebaran kalau Muslim di sini lebaran), tapi aku lupa memotret mereka. Lain kali akan kumasukkan foto-foto, sekaligus keadaan lingkungan tempat mereka tinggal. 

Jadi bagi kalian yang belum pernah bertemu dengan suku Asli, ingin melihat lebih jauh seperti apa kehidupan mereka, datanglah ke Penyalai. Bagaimana pun, perbedaan itu sudah sunnatullah. Semakin berbeda, semakin berwarna. Semakin berbeda, semakin kita banyak belajar tentang menyatukan visi-misi, semakin banyak belajar pula bagaimana cara bertoleransi, semakin paham bagaimana cara menghargai. We just need to enjoy and share this natural beauty!





A Self Reminder: untuk Saudariku Muslim dan Muslimah




Untukmu, Wahai Lelaki. Mereka kaum Barat berkata hijab hanyalah simbol kekolotan, mengekang wanita, dan tidak masuk akal. Saat teman-teman sesama Muslim menjelaskan bahwa hijab ini berfungsi untuk melindungi seorang wanita, mereka justru giat sekali membantah, “Ah, kejahatan tidak bisa dielakkan hanya karena kamu berpakaian terbuka atau tertutup. Lagipula saat pria melihat seorang wanita, dia tidak peduli pada apa yang dipakai wanita tersebut. Karena pria selalu membayangkan wanita dalam keadaan tidak berpakaian.” 

Entahlah aku tidak tahu kebenaran ucapanmu itu, karena untuk membuktikannya berarti aku harus menjadi seorang lelaki. Seandainya benar antara yang berhijab dan yang terbuka tidak memiliki perbedaan, lalu kenapa para lelaki Muslim yang baik imannya, selalu mengingatkan saudari Muslimah untuk berhijab? Apa kamu lupa bahwa yang berkata, “Hijab akan menghalangi nafsu syahwat seorang lelaki yang melihatmu. Hijab melindungimu dari pandangan jahat dan kelakuan nakal,” juga para lelaki? 

Kupikir yang melihat semua wanita sama, yaitu dalam keadaan berpakaian atau tidak, adalah bukan semua lelaki, tapi dirimu sendiri. Itu karena lemahnya imanmu. Itu karena pikiranmu sudah lama berinteraksi dengan budaya Barat, sehingga kegiatan mengumbar aurat berubah menjadi hal yang wajar. Itu karena otakmu sudah terdoktrin oleh kampanye-kampanye luar yang mengatakan hijab adalah simbol keterbelakangan. Jadi sekali lagi, jika kamu adalah satu lelaki yang berpikir tak ada bedanya antara wanita berhijab dan yang tidak, maka cobalah sekali lagi lihat pada dirimu sendiri.

Selalu ada perbedaannya, Teman. Aku pernah punya teman-teman kelas yang mayoritas lelaki, tiap kali ada wanita berpakaian terbuka melintas, mereka pun memanggil dan menggodanya. Kebalikan dari itu, saat seorang wanita berhijab sempurna melintas, mereka akan diam, paling jauh melontarkan salam. 

Selalu ada perbedaannya, Teman. Ketika wanita yang berpakaian terbuka melintas di depanmu, aku yakin hatimu akan berdesir. Kamu boleh berkata tidak, tapi sungguh, aku tak akan percaya. Faktanya, mereka yang mengatakan tak ada bedanya adalah para manusia yang mengingkari kebenaran dari dalam hatinya sendiri. Mereka hanya ikut-ikutan, percayalah. 

Sudahlah, Saudariku Muslimah. Tak ada gunanya kita terpengaruh pada omongan kosong mereka.

 Aku memang belum pantas memberi nasehat, tapi bukankah saling mengingatkan dalam kebaikan adalah tugas dari setiap Muslim? Berdasarkan hal ini pula, aku melanjutkan tulisan ini. Sebenarnya tulisan ini sudah ada dalam draft laptopku entah sejak berapa bulan yang lalu. Hingga kemudian aku menemukannya malam ini. Setelah kubaca, rasanya tidak masalah jika aku membumbuhi dengan beberapa kalimat lagi. 

Lalu untukmu saudariku Muslimah, apakah kalian tidak ingin memiliki sebuah kehidupan yang tenang baik itu di dunia maupun kelak di akhirat? Apakah kalian tidak pernah memiliki impian untuk menjadi sosok wanita yang menenteramkan? Yang berpakaian longgar, berhijab dengan sempurna, yang menjaga shalatnya, yang menjaga pandangannya, yang menjaga pergaulannya, yang rutin puasa sunnahnya, yang baik tutur katanya, yang selalu tersenyum, yang tidak hobi marah-marah, yang tidak bergosip, yang memiliki teman-teman saleha, yang selalu membicarakan ilmu dan hal-hal yang baik saja, yang mendidik putra-putri kalian dengan ikhlas, yang menjadi suri tauladan bagi anak-anak, yang memuliakan tamu, dan lain sebagainya?

Bukankah tiap kali kamu melihat ada seorang wanita yang  memiliki kehidupan seperti itu, kamu menyebutnya sebagai bidadari dunia? Bukankah hatimu terasa sejuk tatkala melihatnya? Bukankah saat melihatnya perasaanmu berkata bahwa ternyata masih ada kebaikan-kebaikan yang tersisa di dunia ini? Bukankah kamu juga berangan-angan ingin sepertinya? 

Jika iya, maka marilah kita memulainya dari sekarang. 

Sulit? Tentu saja! Aku sangat mengakui hal itu. Ternyata tak mudah untuk menjadi baik. Tak mudah untuk mengalahkan hawa nafsu. 

Tapi percayalah, Allah tidak akan pernah mengabaikan cara kita berproses. Jika manusia saja bisa menghargai proses seseorang, maka Tuhan yang Maha Pengasih akan lebih dari itu. Dia akan memberi kita ganjaran yang jauh lebih baik, insya Allah.

Dari mana kita memulainya?

Yang pertama adalah hijab. 

Sempurnakan hijab kita, karena perintahnya sangat jelas dalam Al Quran. Dalam Islam, hijab bagi seorang Muslimah bukan sebuah pilihan, melainkan perintah alias kewajiban. Maka sudah sepantasnya sebagai Muslimah yang patuh kepada Tuhan yang Menciptakan untuk mematuhi perintah tersebut tanpa tawar menawar lagi. Wanita berhijab bukan berarti wanita yang akhlaknya sempurna, tapi setidaknya hijab akan menghalangi kita dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama.

Contohnya, saat kita tidak berhijab maka kita mau-mau saja makan dan minum sambil berdiri dengan santainya. Berbeda halnya jika kita berhijab, makan dan minum sambil berdiri adalah sesuatu yang sangat memalukan. Tahu kenapa? Karena Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam jelas sekali melarang Muslim untuk makan dan minum sambil berdiri. Jika kita tak berhijab, kita tak akan malu pada orang lain, karena beranggapan orang-orang tersebut tidak tahu kita Muslimah atau bukan. Tapi ketika kita berhijab, secara otomatis semua akan tahu bahwa kita Muslimah.

Contoh lainnya saat kita akan memasuki sebuah rumah makan. Apabila rumah makan tersebut ternyata menyajikan makanan haram, paling tidak ada sekuriti atau orang yang akan memberi tahu. Karena apa? Karena kita berhijab. Tapi jika tidak? Maka tak akan ada yang menegur karena tak ada yang tahu pasti kita Muslim atau bukan.

Lalu yang kedua adalah: shalat! Perbaiki shalat kita. Jika selama ini shalat masih sering di akhir waktu, maka mulai sekarang mari kita memberikan perhatian lebih dalam masalah ini. Aku mengakui bagian ini cukup sulit, karena perkara shalat dan kekhusyukan selalu berbanding lurus dengan keimanan dalam dada. Oleh karena itu, marilah rutin menghadiri majelis ilmu, kajian, atau ceramah agama. Jika tak ada waktu untuk mendatangi orang yang ‘alim, maka carilah alternatif lain, misalnya dengan mendengarkan dari radio atau youtube. Kegiatan seperti ini, insya Allah, akan menambah keimanan kita. Ya, seperti baterai ponsel, keimanan kita pun butuh untuk selalu di-charge. Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah menyinggung tentang hal ini.

Nah, ketika keimanan kita membaik, insya Allah masalah shalat di awal waktu, bahkan juga shalat sunnah, tidak akan terasa sebagai beban lagi. Kita akan bahagia menunaikannya. Menikmatinya. Justru menanti datangnya waktu-waktu shalat. Insya Allah.

Hal ketiga adalah: akrabi Al Quran. 

Seorang Muslimah yang sering membaca Al-Quran tidak mudah silau dengan gemerlapnya dunia. Sudah menjadi kecenderungan kaum wanita untuk menyukai harta benda, perhiasan bagus, sepatu dan pakaian indah serta barang-barang mewah lainnya. Tak jarang wanita juga sangat khawatir pada penampilan fisiknya, sehingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempercantik diri. Jika tidak waspada, hal-hal semacam itu akan membuat kita tergelincir menjadi pecinta dunia dan tidak menempatkan cinta pada Allah sebagai cintanya yang utama. Semuanya itu tidak akan terjadi jika Muslimah yang bersangkutan mengetahui ajaran-ajaran dalam Al-Quran.

Al-Quran juga membuat seorang Muslimah untuk selalu menjaga kebersihan dan kesucian dirinya, yang akan berdampak pada kehidupan keluarga dan rumahnya. Sehingga seorang Muslimah yang selalu membaca Al-Quran akan menghindari kehidupan yang bebas tanpa batasan, menghindari pamer kemewahan, menghindari gaya hidup boros dan sangat peduli untuk menjaga kebersihan dirinya dan lingkungannya seperti firman Allah Swt dalam Surat Al-Bqarah ayat 222;

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Pengetahuan akan isi Al-Quran juga menjaga seorang Muslimah dari kebiasaan memanfaatkan waktu dengan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti jalan-jalan ke mall hanya untuk melihat-lihat barang di etalase, membeli barang-barang sebenarnya tidak diperlukan, nonton sinetron dan acara gosip di televisi, ngobrol berjam-jam di telepon, menghadiri pesta-pesta mewah untuk menaikkan gengsi dan kegiatan tak berguna lainnya.

Seorang Muslimah yang suka membaca Al-Quran sangat paham bahwa waktu sangat berharga dan harus diisi dengan aktivitas yang bernilai pahala, seperti menghadiri pengajian, menuntut ilmu atau membaca buku-buku yang bermanfaat. Pada akhirnya, Al-Quran akan menyelamatkan Muslimah dari berbagai penyakit sosial.

Para muslimah yang memiliki bekal pengetahuan tentang Al-Quran akan menyebarkan pengetahuannya itu pada orang lain, pada keluarga dan masyarakat lewat interaksinya dalam berbagai kegiatan sosial. Para muslimah itu menjadi pelopor terbentuknya sebuah keluarga yang kuat karakter islamnya, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan masyarakat yang islami.

Semakin seorang Muslimah mempelajari Al-Quran, ia makin sadar bagaimana harus bertatakrama sebagai seorang Muslimah. Ia sadar untuk menutup auratnya dan memilih busana yang dikenakannya dan bagaimana ia harus merias diri. Ia tahu bagaimana berbicara dengan laki-laki yang bukan muhrimnya atau sekedar melontarkan humor dalam pergaulan sehari-hari.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Ahzab:33)

Baiklah, cukup sekian tulisan malam ini. Semoga ada manfaat yang bisa dipetik darinya. Marilah saling mendoakan agar Allah memperkuat keimanan dalam dada kita, semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan khusnul khatimah, dan semoga Allah meridhai kehidupan kita di dunia dan akhirat. Aaamiiin... insya Allah.

“Telah merasakan manisnya iman, siapa yang ridha Allah sebagai Rabnya, dan Islam sebagai agamanya dan ridha Muhammad sebagai nabi dan rasul.” (HR. Muslim).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...