Monday, 28 November 2016

Pertemuan di Mostar, Bosnia herzegovina [Fiction]




Kita duduk di sebuah cafe yang berdiri di sudut jalan utama kawasan Old Town, Mostar. Dua cangkir kopi duduk manis di depan kita, belum tersentuh. Sementara di luar sana, para turis hilir mudik tanpa henti. 

Ini pertengahan musim gugur, waktu yang membuat Mostar menjelma putri cantik incaran manusia di seluruh dunia. Bayangan dedaunan yang berwarna oranye jatuh di atas sungai Neretva yang membelah kota, menciptakan warna-warni air paling menakjubkan.

Aku merapatkan jaket tebal yang kupakai. Suhu sudah mulai jatuh. Lalu kau, sejak tadi kau masih saja khusyuk memandang ke luar jendela di samping kita. Pandanganmu tertuju pada menara minaret Masjid Koki Pasha yang berjarak sekitar 100 meter dari cafe ini. Masjid itu bergaya Ottoman, demikian pula desain menaranya. Mungkin kau sedang berpikir, andai masjid-masjid di Indonesia memiliki menara seperti itu, pasti keindahannya akan menyihir. Atau mungkin kau sedang berpikir, tahun berapakah masjid beserta menaranya ini dibangun?

Ah, entahlah. Sejak tadi aku hanya bertanya-tanya. Sejatinya aku tak pernah tahu apa yang tengah kau pikirkan.

“Masjid itu dibangun pada tahun 1557 oleh arsitek Kodza Mimar Sinan.“ kataku memecah kesunyian.

Kau memandang ke arahku sesaat, kemudian menarik cangkir kopi, mengaduknya, kemudian menyesapnya sedikit.

“Kenapa kau menyukai Bosnia Herzegovina?” kamu bertanya. Semua ini pasti karena kemaren akulah yang memaksa kita bertemu di sini. Demi pertemuan ini, kau harus menempuh jarak 7 jam penerbangan dari Belgia, negara tempatmu berkuliah. Tapi kau sedikit beruntung, karena aku sendiri harus menempuh puluhan jam penerbangan dari Indonesia, lalu mendarat di istanbul, baru kemudian melanjutkan penerbangan ke Sarajevo, ibu kota Bosnia. 

“Aku tidak tahu. Tapi sejak pertama kali aku tahu tentang negara ini, hatiku bergetar tiap kali namanya disebutkan. The law of attraction, kau tahu itu?” tanyaku.
Kau tersenyum tipis, “Hukum tarik-menarik seperti yang diagungkan dalam buku paling fenomenal 10 tahun lalu, The Secret. Bernarkan? Ternyata itu juga bekerja padamu.” Kau menjawab dengan nilai sempurna.

Ya, hukum tarik-menarik. Sebuah hukum semesta yang paling kuyakini, terlebih setelah kedatanganku ke Bosnia. Hukum ini mengatakan bahwa apapun yang kita pikirkan, kemudian diyakini dalam hati, maka suatu saat akan menarik kejadian persis seperti yang kita pikirkan tersebut. Karena itu pula para orang tua jaman dulu selalu mewanti-wanti putra-putri mereka agar tidak berpikiran yang macam-macam. Karena bisa dikatakan, pikiran yang diyakini adalah doa yang sewaktu-waktu bisa menjelma kenyataan.

“Tepat sekali. Seharusnya aku tidak perlu lagi bertanya hal sekecil itu pada seorang kandidat master.” Gurauku.

“Jangan berlebihan.” Kamu menyanggah sebelum lanjut bertanya, “Lalu Law of Attraction seperti apa yang membawamu ke Bosnia?”

Aku menarik cangkir kopi Italia di hadapanku, mengaduknya santai sambil menjawab pertanyaanmu. “Aku selalu berpikir sekaligus meyakini bahwa suatu hari aku akan datang ke negara ini. Padahal kala itu aku sama sekali tidak tahu cara yang akan kutempuh untuk bisa ke sini. Dan akhirnya, Bosnia sendiri yang menarikku untuk datang. Negara ini yang memanggilku untuk datang. Besok aku akan bicara soal bukuku yang kedua di KBRI Sarajevo. Apa kau bisa datang?”

Kau menggeleng. “Aku akan kembali ke Belgia malam ini. Dosen pembimbingku mendadak ingin bertemu besok sore.”

Tidak masalah. Kau memang selalu sibuk. Keberadaanmu saat ini saja sudah membuatku sangat bersyukur. Aku bahkan hampir tak percaya kau mau meluangkan waktu, tenaga, sekaligus uang untuk sekadar bertemu sebentar denganku.
Aku melihat ke luar jendela. Di sana, di kejauhan, mataku menangkap Stary Most yang berdiri dengan anggun. Sebuah jembatan bergaya klasik yang dibangun pemerintahan Turki Ustmani pada abad ke-16. Jembatan itu adalah saksi peristiwa demi peristiwa yang pernah terjadi di Bosnia Herzegovina, khususnya di Mostar ini. Saat peperangan pada tahun 1992-1995, jembatan itu pernah hancur akibat keserakahan tentara Serbia. Tapi kini, jembatan itu telah direnovasi, keindahannya tidak pudar sedikit pun. 

“Hmm, apakah The Law of Attraction juga berlaku padaku sekarang? Buktinya kau telah menarikku datang ke negara ini.” tanyamu polos, membuatku ingin tertawa.

“Mungkin saja.” jawabku. “Kau tahu kenapa?” aku balik bertanya.

Kau diam sejenak, lalu menggeleng, dan menjawab, “Entahlah.”

“Karena sejak bertahun lalu aku berpikir sekaligus sangat yakin bahwa engkau akan datang padaku. Tidak peduli seberapa jauh kakimu telah melangkah.” Aku mengatakan sebuah rahasia tanpa ragu.

Aku melihat ke arahku beberapa saat, sebelum akhirnya menunduk pada cangkir kopi berwarna cokelat tua di hadapanmu. “Biarlah semuanya berjalan apa adanya dahulu.” Katamu datar.

Ya, benar. Memang itulah yang terbaik. Lagipula selama ini aku tidak pernah menuntut apapun darimu. Aku bahkan tak tahu bagaimana kabarmu selama di Belgia. Terkadang di suatu sore yang indah, aku jadi khawatir, khawatir di benua yang terpisah jutaan mil sana kau bertemu dengan seorang wanita yang berhasil menarikmu. Aku khawatir kita tak pernah lagi bisa bertemu atau suatu saat ada satu hal yang mengahalangi kita untuk bertemu.

“Habiskan kopimu. Kita datang ke sini tidak hanya untuk duduk seperti ini, kan? Di luar sangat indah.” Kau berseru, beranjak, lalu membayar dua cangkir kopi yang menemani siang ini.

Aku menamatkan tegukan terakhir kopiku. Lalu memungut tas dan mengejarmu keluar.

“Segarnya...” desisku lirih seraya menghirup udara dalam-dalam.

Kau tersenyum tipis meski pandanganmu lurus ke depan. Kita berjalan beriringan menuju Old Bridge atau yang lebih dikenal dengan Stari Most, jembatan paling impresif di area Old Town ini.

“Semoga ini bukan pertemuan yang terakhir.” Katamu.

“Semoga.” Aku menyahut. Tersenyum. Kalimat terakhirmu begitu menenangkan.

Sore nanti kita berpisah. Aku akan ke Sarajevo untuk acara besok, lalu ke Turki selama dua minggu, dan kembali ke Indonesia. Sementara engkau akan terbang ke Belgia nanti malam, kembali melanjutkan kesibukan di kampus. Selebihnya adalah tentang waktu dan takdir. 

List Destinasi Wisata di Bali!

Wah, tidak terasa yah sudah memasuki akhir tahun! So, apakah Anda sudah memiliki rencana untuk menghabiskan liburan akhir tahun dengan orang-orang tersayang? Atau masih bingung memilih tempat sebagai lokasi liburan? Beberapa destinasi yang ada di bawah ini, barangkali bisa menjadi alternatif  Anda untuk berlibur di pulau Dewata Bali. Pastikan dulu Anda mencari penginapan dan hotel di Traveloka untuk kenyamanan Anda selama di sana!

Sumber: pexels.com

Sunday, 27 November 2016

Sekadar Lelucon

Senja ini kotaku basah. Hujan turun sejak pagi, tanpa henti, meski tidak begitu lebat. Kini, aku berdiri di tepi sebuah selat yang tak lagi biru. Pantulan lampu-lampu kota yang mulai dihidupkan menjelma kilauan minyak di atas air.

Kau ada di sampingku. Diam. Kita sama-sama memandang jauh ke depan, ke sebuah kota di seberang selat, ke menara-menara Masjid yang bersiap mengumandangkan azan.

Aku masih menantimu bicara. Tadi kau bilang ingin bertemu, tapi begitu kita di sini, kau hanya bisu.

"Apa yang paling melelahkan bagimu?" Tanyamu tanpa sedikit pun melihatku.

Jadi, kau hanya bertanya hal remeh temeh seperti ini? Aku tidak habjs pikir.

Dan, apa tadi? Melelahkan? Ah, kau tak usah bertanya. Rata-rata manusia sama. Mungkin kau juga. Apalagi kalau bukan, "Berharap pada sesuatu yang tak pasti." Jawabku tanpa keraguan.

Bibirmu tersenyum getir. Aku tahu.
"Lalu apa yang paling menguatkanmu?" Tanyamu lagi.

Aku masih tak perlu berpikir untuk jawaban ini, "Berharap pada Tuhan" kataku.

Kau mengangguk satu kali, kemudian menengok ke arahku.

"Kalau kau sudah tahu jawaban keduanya, sebaiknya mulai sekarang, kau jangan lagi berharap pada yang tidak pasti, melainkan berharap lah pada Tuhan." Kau mulai menceramahiku seperti biasa.

"Aku menggantungkan harapan-pada sesuatu yang tidak pasti itu-kepada Tuhan." Sambungku cepat.

Kau tertegun sejenak. Tapi kemudian kau menggeleng, tertawa kecil.
                                            
Kau pikir ucapanku hanya lelucon?

Kini kau mendekat, mengusap kepalaku layaknya seorang Ayah yang paling bijaksana.

"Kau tak bisa menyatukan keduanya. Percayalah."

Aku mendelik pada wajahmu yang Lebih tinggi beberapa senti dariku.

"Tapi aku bisa. Karena itu pula terkadang aku merasa lelah selelah-lelahnya, dan terkadang pula merasa semangat sesemangat-semangatnya."

"Dalam hal?"

"Mencintaimu." Jawabku polos.

Lagi-lagi kau tertawa, seolah baru saja mendengar ucapan lucu dari seorang bocah kecil.

"Kau sungguh-sungguh?" Tanyamu lagi.

"Tidak. Aku hanya bercanda." Aku menjawab dengan wajah datar. Kusingkirkan tanganmu, lalu aku memilih untuk berbalik arah, pergi.

Sejak dulu kau tidak pernah berubah. Bagimu, apapun yang Keluar dari bibirku ini adalah omong kosong, guyonan, sejenis itu. Dan mungkin memang beginilah seharusnya, seperti pembicaraan kita sore ini, anggap saja semua hanya lelucon. Dan satu lagi, mulai hari ini aku akan menarik diri dari hidupmu, mungkin selamanya. Semoga kau tetap bisa menganggap kepergianku sebagai lelucon juga, dan kau bisa tertawa.

Saturday, 26 November 2016

Zainab binti Muhammad: Kisah Cinta Beda Agama Putri Rasulullah SAW



Jika ditanya tentang kisah cinta paling inspiratif dalam Islam, semua orang pasti akan menjawab kisah cinta Yusuf dan Zulaikha, Muhammad SAW dan Khadijah, atau Fathimah dan Ali bin Abi Thalib. Kisah ketiga pasangan ini selalu disebut-sebut dalam banyak tulisan. 

Zulaikha yang sangat mencintai Yusuf selama bertahun-tahun, Muhammad SAW yang tetap bersedia menikahi Khadijah meski jauh lebih tua darinya, dan Fathimah dan Ali yang diam-diam saling mencintai. Melihat bagaimana mereka akhirnya dipersatukan dalam ikatan pernikahan, mejadikan kita sadar betapa kuasa Allah membuat skenario indah untuk setiap hamba-Nya di muka di bumi ini. 

Muslimah, Inilah Hal-Hal yang Harus Dilakukan ketika Patah Hati

Hal-Hal yang Harus Dilakukan ketika Patah Hati


My dear Muslimah, pernahkah kamu mengalami kekecewaan mendalam disebabkan oleh cinta? Ketika selama ini kamu habiskan waktu untuk mengamatinya dari kejauhan, diam-diam menyebut namanya dalam doa, tidak pernah berani untuk menyapa, namun di dalam hati tersimpan sebuah impian besar, suatu saat ia akan datang ke rumahmu untuk sebuah niat mulia bersamamu, yaitu pernikahan. 

Hari berganti, hingga sekian bulan bahkan tahun, cinta ini tetap tersimpan rapi di dalam hati. Bagimu melihat dia tersenyum, mendengar kabar tentang prestasi-prestasinya, mengetahui hidupnya selalu dilimpahi kebahagiaan, adalah hal terindah yang juga membuatmu bahagia. Senyumnya adalah senyummu juga. 

Thursday, 24 November 2016

Selamat Ulang Tahun, Masa Lalu...

Ketahuilah, aku bahagia tiap kali menerima panggilanmu.

Aku bahagia saat kita kembali menceritakan masa lalu. Tentang 10 hari perkenalan sekaligus pertemuan pertama dan terakhir kita. Kemudian sejak saat itu, takdir memisahkan kita dengan ribuan kilometer jarak, juga lima tahun waktu.

Dan yang paling membahagiakan adalah ketika bersamamu, kamu begitu menjaga dan memuliakanku. Kita tak pernah berpegangan tangan, iya kan? Kita tak pernah bertatapan. Kita juga tak pernah jalan berdua. Tapi kala itu aku begitu percaya pada ketulusanmu.

Tahukah, saat itu aku pernah berdoa pada Tuhan, meminta agar engkau jadi yang pertama dan terakhir.

Hingga kemudian, tepat di malam lebaran, bertahun silam, aku meminta agar semuanya diakhiri. Ya, umurku memang baru 16 tahun saat itu, tapi rasanya apa yang kupikirkan telah jauh melampaui angka itu.

Aku takut Tuhan tidak meridhoiku. Aku takut Tuhan menimpakan murkanya tidak langsung padaku, melainkan pada kedua orang tuaku. Jadi, sebenarnya, itulah alasan yang paling benar. Itulah alasan yang hingga sekarang selalu kamu pertanyakan.

Jadi, tak perlulah kamu selalu merasa pernah menyakiti. Sama sekali tidak. Berhentilah merasa bersalah. Sejak awal kita memulainya dengan tujuan benar, dan alhamdulillah Tuhan menjagaku dari sesuatu yang menyesatkan. Sampai sekarang aku bersyukur pada keputusanku kala itu. Meskipun di masa-masa itu, bahkan hingga satu tahun lamanya, aku masih terus merindukan suaramu. Ya, begitulah, iblis memang selalu memperindah segala sesuatu yang berujung dosa. Lagi-lagi aku bersyukur, di tahun kedua, kamu sama sekali telah lenyap dari hatiku, kecuali hanya sebagai seseorang yang kuhormati.

Tadi malam, aku kembali mendengar suaramu. Betapa luar biasanya Tuhan memutar balikkan jalan hidupku. Dulu aku sama sekali tidak mau kembali ke kota ini, tapi kemudian, entah angin apa yang menggerakkan hatiku untuk datang kembali. Aku bahkan menetap untuk setahun ke depan. Lalu ternyata, kau hanya berjarak dua atau tiga kilo dari sini.

Dulu kamu sempat ingin mengunjungiku di Bintan, tapi kemudian Allah membatalkan rencana itu. Katamu nomorku tidak aktif ketika kamu telah sampai di Batam. Tapi seingatku, seharian penuh aku menunggu kabar apakah kau jadi datang atau tidak. Sedangkan untuk meneleponmu, aku sama sekali tidak mau. Begitulah, lagi-lagi Allah belum menginginkan kita bertemu. Kala itu aku hanya berdesis lirih, jika kita ditakdirkan bertemu, maka akan ada jalannya sendiri.

Setiap kita berkomunikasi, meski hanya singkat, aku bahagia mendengar semua impianmu yang begitu murni. Aku bahagia mendengar kegiatanmu yang sibuk. Kamu sudah kuanggap sebagai saudara laki-laki yang selalu kuharapkan kebahagiaannya.

Sekarang di sini lah kita. Takdir selalu berjalan tanpa bisa kita rencanakan. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, tapi aku selalu berdoa untuk kebaikanmu.

Apakah aku masih mengharapkan kebersamaan denganmu?

Entahlah. Aku sendiri bingung dengan hatiku. Aku tidak tahu mana dermaga tempatku untuk berlabuh nantinya. Setahuku, hingga detik ini, aku selalu menghargaimu sebagai seseorang yang pernah begitu kukasihi di masa lalu.

Untuk saat ini aku hanya ingin kenikmati pelayaran. Jika nanti kita bertemu lagi, semoga itu adalah pertemuan yang suci. Jika tidak, aku tidak mempermasalahkan apapun. InsyaAllah sudah ada ketetapan yang terbaik.

Dirimu atau dirinya, aku hanya berharap ia adalah seseorang yang bisa menenteramkan hati kedua orang tuaku. 

Oh iya, selamat ulang tahun.

Aku masih mengingatnya, kan? Begitulah dalamnya dulu aku telah jatuh cinta.

Semoga hidupmu selalu berbahagia dan penuh rahmat.

Wednesday, 23 November 2016

A Part of Novel Project





Pagi hari di penghujung tahun 2008, mendung menggelayut hitam di langit kota Ann Arbor. Gerimis malam tadi membuat jalanan basah. Jaket-jaket dirapatkan. Payung dibuka. Orang-orang semakin mempercepat langkah mereka.

Naela terbangun sekitar pukul delapan lebih. Pengaruh obat tidur ditambah obat bius yang disuntikkan seseorang malam tadi membuat tidurnya melebihi batas. Saat matanya terbuka, pandangannya masih kabur. 

Ia berusaha mengingat kejadian terakhir yang dialami, termasuk mengingat apakah itu kamarnya sendiri atau bukan. 

Hampir lima menit ia berusaha mengumpulkan kesadaran, hingga akhirnya ia dikejutkan oleh semua kenyataan yang ada di depan matanya. 

Kamar itu bukan miliknya, tempat tidur juga bukan, dan tubuhnya yang terbungkus selimut kenapa bisa tanpa pakaian? Keterkejutan Naela semakin menjadi-jadi saat ia mendapati setumpuk pakaian yang bertumpuk di atas sofa, termasuk kerudung biru muda yang tadi malam masih menempel di kepala. 

Dadanya terasa sangat sesak, bahkan ia kesulitan untuk bernapas. Matanya perih, tapi tidak menangis. Berkali-kali ia berseru bahwa semua itu hanya mimpi dan ia akan segera bangun. Tapi semakin ia berusaha untuk menenangkan diri, semakin ia sadar bahwa semua itu bukan mimpi. Itu adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi, benar-benar harus ia hadapi di dunia nyata.

Ia beranjak sambil membawa serta selimut untuk menutupi tubuh. Ada rasa perih dan nyeri yang amat sangat saat ia berjalan. Ia mondar-mandir seperti orang gila, kemudian menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tidak ada siapa pun di kamar itu selain dirinya sendiri. Tidak ada benda apapun yang ditinggalkan sang lelaki kecuali seprei yang kusut dan sedikit noda di sana. 

Pagi itu Naela tidak lagi ingat bahwa ia belum shalat Subuh. Itu adalah puncak kehancuran yang membuat hidupnya tidak ada gunanya lagi. Seperti orang gila dia meninggalkan hotel, berjalan tersaruk-saruk di bawah gerimis, menangis menuju apartemen. Pakaiannya basah. Dingin menggigit, namun ia tidak peduli. Rasanya semua manusia di kota itu sangat kejam padanya, hingga saat kondisi yang seperti itu tak ada satu pun yang sudi menghampiri. Satu dua orang yang berpapasan hanya melemparkan pandangan aneh tanpa berniat untuk bertanya apapun. 

Saat melintas di sebuah jembatan, sempat terbersit dalam pikiran Naela untuk lompat ke bawah. Lantas tidak akan ada lagi rasa sakit, dendam, marah, dan malu yang harus ia tanggung. Mungkin sore nanti salju pertama akan turun. Jantungnya akan cepat berhenti bersama tubuh yang membeku. Lalu mayatnya yang kaku akan ditemukan orang-orang beberapa jam kemudian. 

Laki-laki itu pasti akan hidup dengan rasa bersalah saat melihat jasadmu. Dia tidak akan hidup tenang. Ayo, lompatlah Naela! Untuk apa lagi kamu hidup dengan noda seperti ini? Kamu mau pulang ke negaramu dengan bangga seperti para perantau lainnya? Cuih, kamu pikir kamu sama dengan mereka yang suci? Di mana mukamu? Lalu bagaimana jika kamu mengandung anak setan itu, apakah kamu sanggup melahirkan dan membesarkannya? Cepat, lompatlah!” suara yang entah dari mana asalnya berkeliaran dalam kepala Naela.

“Diam...! Kumohon diamlah! Aku tidak akan pernah bunuh diri...!!!” jeritnya di atas jembatan yang kosong. 

Seandainya para laki-laki yang tega menodai wanita itu mengerti betapa berat beban lahir dan batin yang harus ditanggung korbannya. Masihkah mereka mementingkan nafsu sesaat yang keindahannya tidak bersisa? Hingga kiamat pun mereka tidak akan pernah mengerti, kecuali jika Tuhan berkenan mengubahnya menjadi wanita. Karena sejak dulu, hati wanita selalu berlebihan dalam memaknai sesuatu. Ia bisa sangat bahagia karena hal sederhana, atau sangat kesakitan karena hal sederhana pula. 

Tapi hari itu, semua orang sepakat bahwa Naela tidak sedang mengalami hal sederhana. Karena itu akan menjadi noda yang melekat sampai akhir hidupnya nanti. Itu adalah noda yang akan dipakai seperti ia memakai nama sendiri.

***

*Saya sudah pernah mengirimkan naskah novel setebal 400+ halaman ke sebuah penerbit mayor yang bisa dibilang nomor satu di negeri ini, dan tiga bulan kemudian saya menerima jawaban dari mereka. Ya, seperti kebanyakan penulis pemula, naskah pertama ditolak. Mereka bilang ceritaku masih bisa dikembangkan lagi. 

This is the copy of their comment, "Ide cerita naskah Anda menarik dan ditulis dengan baik sekali. Perjuangan perempuan dalam menghadapi tantangan dalam hidupnya selalu dapat memotivasi perempuan lain untuk menjadi lebih baik. Namun sayangnya, ide, teknik penulisan, dan amanat yang baik saja belum cukup untuk menjadikan agar sebuah karya dicintai para pembaca. Dibutuhkan racikan pas antara unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik lain, serta sudut pandang yang khas dan mampu memberikan keistimewaan satu naskah dari naskah lain. Naskah 'Musim Kesabaran' masih memiliki banyak ruang pengembangan untuk kemudian akan dicintai dan senantiasa dinikmati para pembacanya. Bila memang kita tidak berjodoh untuk bekerja sama kali ini, kami tetap membuka kesempatan selebar-lebarnya untuk kesempatan lain di masa mendatang."

Dan setelah naskah kubaca kembali, yes they are true, untung saja naskah itu dikembalikan, jika tidak aku pasti malu saat dibaca orang lain. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Now I am working in editing, also revise some chapters. Bahkan sekitar 70% cerita saya rubah. Setelah dibaca ulang, saya sampe berseru, "Duh Sofi, tulisan kamu kok hancur begini??? Banyak hal gak penting kamu masukkan." 

Yes, sekarang sudah hampir setahun dan naskah tidak kunjung rampung *tears. Doakan ya sahabat semua. Saya sengaja bekerja keras agar kelak naskah ini bisa diterbitkan oleh penerbit mayor, that's why saya gak mau asal nulis untuk kemudian diterbitkan sendiri melalui self publishing. Apapun yang terjadi harus tetap semangat menulis. Penolakan hal yang biasa. I need a year just for writing my first experience. Hehe...

Hope you enjoy a part of my novel. *Novel yang ide ceritanya, juga nama tokoh utamanya, sudah dibuat sejak jaman di pesantren.


Kutunggu di Menara Surga [Fiction]



Sahabat, malam ini sebuah mimpi singgah dalam tidurku. Di sana, di mimpi itu, aku menyaksikan kita duduk di atas selendang yang terbentang di tengah padang berbunga putih. Padang yang teduh berlangit biru dengan kawanan burung menghiasinya. 

Aku melihat keranjangmu yang penuh dengan bunga daisy bermahkota putih. Harumnya semerbak, keharuman yang tak pernah sekali pun kucium di dunia. Aku juga melihat dua pasang bocah berumur tiga atau empat tahun sedang berlarian. Mengejar kupu-kupu. Tawa mereka seumpama nyanyian para peri yang tak pernah bosan didengar. 

Ya, aku memimpikan kita. Aku memimpikan sebuah hari yang begitu indah, yang berbahagia, yang tenteram, yang jauh dari segala kebisingan dunia. Hanya ada aku dan engkau, dan anak kita. Aku juga melihat engkau menuangkan teh ke dalam cangkir keramik berwarna hijau, lalu memberikannya padaku. Kita minum bersama, mengenang kembali masa kecil yang telah jauh tertinggal.
Engkau bertanya, “Ingatkah dirimu saat kita berlarian di antara ladang jagung? Ketika para burung terbang terbirit-birit saat kita kejar?”
Aku tertawa. “Tentu saja. Pasti burung-burung itu menganggap kita seperti dua orang makhluk jahil yang ingin memakan mereka.”
“Apa kabar ladang jagung kita?” Tanyamu dengan mata menerawang.
“Sudah tak ada lagi ladang jagung di sana. Semua berubah jadi kebun kelapa. Tapi aku masih bisa melihat bekas-bekas telapak kaki kita di sana. Aku masih melihat rumpun daisy kuning yang berbunga, yang dulu selalu kita kumpulkan untuk membuat mahkota. Semoga Tuhan menjadi saksinya, kebun orang tua kita adalah surga yang pernah kurasakan selama hidup di dunia. Semoga Tuhan menjadi saksinya, kaulah sahabat sejatiku, sahabat laksana peri yang dilahirkan untuk bersamaku.”
Satu tetes air matamu jatuh, “Dan kau pun begitu. Semoga Tuhan memberkahi kebun-kebun orang tua kita. Semoga rahmat dan barokah tumbuh seumpama tunas-tunas yang menembus tanah setelah redanya hujan.”
Aku mengamini doanya. Ya semoga. Kami sama-sama diam, menghirup aroma wewangian yang memenuhi padang ini, juga sesekali menyesap teh yang mulai dingin. Dua bocah kecil yang tadi sibuk berlarian di antara rumpun-rumpun bunga, kini berlarian ke pelukanku, dan pelukanmu. Mereka sama-sama menunjukkan telapak tangan, lalu dua ekor kupu-kupu bersayap biru tua melepaskan diri. Mereka terbang rendah, kemudian meninggi, semakin tinggi, dan hilang.
“Kapan Ayah, Kakek, dan Nenek, datang kemari, Bu?” tanya putriku yang bermata bulat bercahaya.
“Iya, kapan, Bu?” tanya putramu yang berpipi empuk.
Aku dan kamu tersenyum. Kita mengalihkan pandangan pada puncak-puncak bukit di kejauhan.
“Mereka akan datang. Sebentar lagi.” Katamu.
Aku menyambung sambil menarik putriku ke atas pangkuan, “Kita tunggu mereka sambil bermain, ya?”
Putriku mengangguk. Kugelitiki perutnya dan ia pun tertawa. Selama putri kecilku tertawa, mataku kembali menatap pegunungan di kejauhan. Aku teringat dia yang kutinggalkan, yang hingga saat ini masih begitu setia mencintai kami, aku dan putriku.
“Kamu merindukannya?” tanyaku dengan mata yang mulai basah.
Dua anak kita berlarian. Baru saja ada sekawanan merpati putih yang turun di padang ini, dan anak-anak kita mulai menyerbu mereka. Ah, seperti kita dulu.
Sekarang setelah pandanganmu kembali padaku, kusaksikan matamu yang mulai kabur. Kamu tersenyum untuk menguatkan diri, bersiap menjawab pertanyaanku.
“Setiap saat aku merindukannya. Setiap saat aku meminta pada Tuhan agar ia dianugerahi kehidupan yang berbahagia. Aku berharap Tuhan sudi mengumpulkan kami lagi, nanti. Juga mengumpulkanmu dengannya lagi.”
Detik ini, wajah ia yang kukasihi seperti hadir di petala langit. Ia tersenyum lalu memejamkan kedua mata, seakan berkata bahwa ia sudah ikhlas pada kepergian kami. Seolah ia berkata, “Jangan khawatir, aku akan selalu setia pada cinta kita. Meski kau tak lagi si sampingku.”

Duhai laki-laki yang baik hatinya, yang selama aku bersamanya, yang kurasakan adalah ketenteraman. Yang tak pernah menggoreskan luka di hatiku. Yang selalu memuliakanku dan aku pun begitu memuliakannya. Yang memperlakukanku laksana permata paling berharga di dunia. Yang terkadang juga bermanja seolah aku lah yang lebih tua. Yang terkadang menangis dan bersandar di bahuku. Semoga, di mana pun kamu berada, Tuhan selalu memberkati langkahmu. Hiduplah dengan berbahagia, dan aku akan menantimu di istana bermenara biru di kehidupan ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...