Monday, 20 November 2017

Pentingnya Menuntut ─░lmu Bagi Seorang Muslim [Described by Fiction]

Malam ini kota Sarajevo masih mengepulkan uap dingin. Siapapun tidak akan sanggup keluar tanpa mengenakan pakaian berlapis-lapis atau jaket yang benar-benar hangat. Terlebih Aisiya.

Kali ini perempuan Indonesia itu keluar sendirian. Tadi ketika ia tiba di hostel sekitar pukul lima sore, kamarnya kosong. Ia tidak tahu keberadaan James, apalagi wanita Amerika yang bahkan belum sekali pun terlihat batang hidungnya.

Langkah kaki Aisiya yang perlahan terus berjalan menyusuri sungai Miljacka. Sekitar 300 m di depan sudah terlihat jembatan Latin yang berada di depan museum Sarajevo 1878-1918 atau yang dikenal dengan museum Austria-Hongaria. Hanya terpisah oleh jalan yang konon disana lah Franz Ferdinan terbunuh, hingga kemudian disebut-sebut sebagai asal muasal perang dunia pertama. Tapi pikiran Aisiya tidak sedang tertuju pada jembatan, museum, atau bahkan Franz Ferdinan.

Sama sekali tidak.

Apa yang berkecamuk dalam kepalanya saat ini begitu rumit. Ia merasa, semakin banyak ilmu yang diketahui justru dirinya semakin terlihat demikian bodoh. Seperti tadi siang ketika ia turut menjadi makmum di Masjid Gazi Hurev dengan Mustafa sebagai imamnya, ia dibuat heran karena rukuk, berdiri i’tidal, sujud, dan duduk antara dua sujud yang dilakukan Mustafa sangat lama. Masing-masing bisa memakan waktu satu menit sendiri.

Usai shalat, begitu melihat Mustafa meninggalkan Masjid, Aisiya segera membuntuti. Ia tak mau berdiam diri dalam kebingungan. Mustafa kemudian mengajaknya singgah di sebuah warung kecil dan memesan makan siang sederhana. Untuk dirinya sendiri, sekaligus wanita yang dipanggilnya Rahma. Di sanalah Mustafa menjelaskan panjang lebar.

“Rahma, engkau tahu mengapa banyak sekali permusuhan yang terjadi antara kaum Muslimin saat ini? Muslim yang satu mengkafirkan Muslim lainnya? Muslim yang membetulkan hal-hal bid’ah, namun justru kemudian diberi stempel wahabi, sehingga dimasukkan ke dalam golongan orang yang sesat?”

Asiya tak perlu berpikir panjang demi pertanyaan Mustafa itu, “Karena memang orang yang senang membid’ahkan sesuatu itu tidak pantas hidup di tengah masyarakat. Mereka mengganggu ketenteraman kaum Muslimin. Orang lain ingin beribadah malah diberi stempel bid’ah, kan ini namanya menghalang-halangi manusia dari kebenaran.”

Mustafa tersenyum. Ia menarik cangkir teh, kemudian menyeruputnya dengan tenang.

“Aku tidak ingin menghakimimu. Tapi biarkan aku memberimu beberapa penjelasan.” Ia mengambil jeda, “Rahma, ibadah tidak bisa dilakukan hanya dengan berlandaskan semangat dan perasaan. Seseorang yang sedang bersemangat tetap harus menunaikan shalat Subuh sebanyak 2 rakaat, meskipun ia sanggup menunaikan sebanyak 10 atau 12 rakaat. Apabila kamu mengerjakan shalat Subuh lebih dari 2 rakaat, maka itu adalah bid’ah. Tahu kenapa?”

“Karena shalat Subuh lebih dari 2 rakaat itu tidak ada landasannya.” Jawab Aisiya mudah.

“Benar.” Sambung Mustafa. “Karena Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan kita agar shalat seperti beliau shalat. Dan beliau menunaikan shalat Subuh cukup dengan 2 rakaat. Ini artinya, suatu ibadah akan dikatakan bid’ah alias tidak sah apabila tidak ada tuntunan dari Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Lalu, jika aku mengajakmu berhaji di sini, di Sarajevo, apakah engkau setuju?”

“Tentu tidak. Haji itu harus di Masjidil Haram. Harus berthawaf mengelilingi Kakbah.” Aisiya menampakkan wajah sebal.

“Nah sekali lagi engkau benar. Suatu ibadah tertentu memang tidak sah apabila tempatnya salah. Jika seseorang berhaji di Sarajevo, itulah bid’ah. Termasuk mereka yang beribadah seperti membaca Al Quran di kuburan. Itu tidak benar. Karena kuburan bukan tempat untuk beribadah. Selanjutnya, jika aku shalat Subuh pada pukul 8 pagi, apakah menurutmu itu benar?”

“Itu shalat Dhuha.”

“Iya, dan shalat Subuh pada waktu itu dengan alasan sengaja sudah pasti shalatnya tidak sah karena waktunya tidak sesuai tuntunan. Sama saja hukumnya bagi seorang Muslim yang berpuasa pada hari-hari tertentu yang tidak ada tuntunannya sama sekali, maka puasanya tidak sah.

Jadi, Rahma, penting sekali bagi seorang Muslim untuk menuntut ilmu, terutama ilmu fiqh, sehingga ia bisa mengetahui mana yang sesuai ajaran Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam, mana yang hanya merupakan adat istiadat, dan mana yang hanya berupa amalan-amalan imam tertentu namun tanpa dasar dari Rasulullah. Dan penting pula bagi seorang Muslim untuk memperhatikan sumber ilmu tersebut dan memastikan kebenarannya. Apakah riwayatnya benar-benar sampai kepada Rasulullah? Apakah sumbernya sahih atau tidak?  

Belajar kepada seorang ahli ilmu agama yang bodoh atau buku-buku yang bodoh sama artinya dengan membiarkan kita beribadah dalam kebodohan seumur hidup. Kebodohan ummat Islam di zaman ini adalah karena kebanyakan mereka belajar praktek ibadah dari buku-buku yang tidak jelas sumbernya, sementara buku tersebut berlimpah di pasar-pasar. Sehingga kaum awam mempelajari lalu mempraktekkannya dan menganggap itu sudah benar.

Belum lagi tidak sedikit pula yang belajar praktek ibadah hanya sekadar dari hafalan lisan para pendahulunya, sementara ia tidak bisa memastikan apakah lafadznya sudah benar atau tidak. Dan satu lagi masalah penting, kebanyakan kaum Muslimin yang non Arab saat ini, mereka membaca lafadz-lafadz tanpa memahami maknanya. Akibatnya ibadah mereka kering. Tidak memiliki ruh apalagi sampai memberinya kekuatan untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga tidak sedikit manusia yang hatinya lalai, bahkan ketika ia sedang menunaikan shalat.

Rahma, meskipun seluruh masyarakat menganggap sesuatu itu baik, tapi untuk urusan ibadah, kita harus kembalikan kepada Al Quran dan Al Sunnah. Tidak bisa hanya dengan bermodalkan tradisi turun menurun, buku-buku yang tidak jelas nasabnya, atau penilaian pribadi. Ibadah itu tidak sama dengan urusan duniawi. Selagi ada tuntunan dari Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam, maka wajiblah kita mengikutinya.

Contohnya zikir pagi dan sore, ilmu mengenai apa yang harus dibaca sekaligus berapa hitungannya, semuanya sudah pernah diajarkan Rasulullah. Tidak perlu kita berlelah-lelah menambah amalan yang tidak pernah diajarkan.

Lalu untuk berdzikir dengan kalimat tayyibah atau kalimat-kalimat lain yang merupakan pujian untuk Allah, silakan lakukan sebanyak-banyaknya dan jangan pula kita sok tahu menetapkan jumlah dan waktunya. Karena Al Quran sendiri telah memerintahkan agar kita menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya, baik ketika berdiri, duduk, maupun berbaring.

Kau tadi bertanya soal lamanya rukuk, sujud, dan lain-lain yang kulakukan iya, kan?”

“Jawabannya sederhana, karena Rasulullah dahulu melakukan semua itu—rukuk, berdiri setelah rukuk, sujud, duduk antara dua sujud—dengan jumlah waktu yang relatif sama. Apabila beliau ingin berdoa panjang di dalam sujud, berarti beliau pun memanjangkan waktu rukuk dan lain-lain. Tadi aku ingin berdoa cukup panjang di dalam sujud, jadi aku pun memanjangkan yang lainnya.”

“Dan tasyahudmu kenapa lama sekali?” tanya Aisiya lagi.

“Itu karena aku berdoa sebelum salam.”

“Doa sebelum salam?”

“Kau tidak tahu?” kali Mustafa menampakkan wajah heran.

“Setahuku tidak ada doa dalam tasyahud. Setelah shalawat adalah salam. Begitu yang selama ini kupelajari.”

“Rahma, ada dua momen di dalam shalat dimana kita dianjurkan untuk berdoa, yaitu saat sujud dan tasyahud. Suatu hari Rasululullah salallahu ‘alaihi wassalam pernah mendengar seseorang membaca shalawat, kemudian hamdalah dan memuji Allah, lalu mengucapkan shalawat nabi. Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam bersabda padanya, ‘memohonlah, tentu engkau akan dikabulkan; dan mintalah, tentu engkau akan diberi.’ Dan seperti yang kita ketahui, isi dari tasyahud adalah pujian kepada Allah dan shalawat nabi. Setelah itu kita dianjurkan untuk berdoa. Adapun untuk lafadz-lafadz doa, kita bisa memilih dari lafadz-lafadz yang pernah digunakan Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Karena doa-doa beliau semuanya singkat namun memiliki makna yang luas. Biasanya mencakup permintaan dunia dan akhirat. Tapi kita juga diperbolehkan untuk berdoa dengan doa-doa yang sesuai dengan kondisi kita saat itu”

Aisiya diam selama beberapa saat. Bukankah ini benar-benar ilmu baru baginya? Kini ia sadar betapa lalai dirinya. Bahkan urusan shalat yang merupakan ibadah pertama yang akan dihisab saja masih banyak yang tidak ia ketahui. Sejauh ini ia sudah merasa puas dengan hafalan bacaan shalat yang ia pelajari ketika kecil di surau, tanpa pernah mengoreksinya lagi, “Jadi inilah mengapa seorang Muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu.” Gumamnya dipenuhi perasaan bersalah.

“Ketahuilah, Rahma. Sesungguhnya iblis itu 1000 kali lebih takut kepada orang yang berilmu dibandingkan seorang ahli ibadah tapi bodoh. Ali ibn Abi Thalib rhadiallahu anhu pernah mengatakan, ‘Ada dua jenis manusia yang merusak agama, yaitu ahli ibadah yang bodoh dan alim yang melakukan dosa’. Kau ingin dengar sebuah cerita?”

“Ceritakanlah.”

Pria Turki itu memulai bercerita bahwa dahulu ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang begitu tekun beribadah di atas sebuah bukit. Suatu hari sang ahli ibadah ini jalan-jalan di sekitar bukit dengan niat bertafakur. Di sela-sela berkeliling ini, dia melihat sesosok manusia berjalan sementara tubuhnya mengeluarkan bau yang sangat busuk. Maka ahli ibadah ini segera menjauh agar terhindar dari bau busuk tersebut. Iblis kemudian menampakkan diri dalam bentuk laki-laki saleh dan memberi nasehat. Iblis berkata kepadanya, “Sungguh amal-amal kebaikanmu tidak dihitung di sisi Allah ta’ala.”

Ahli ibadah bertanya, “Mengapa?”

Iblis menjawab, “Karena engkau enggan mencium bau anak cucu Adam yang semisal denganmu.” Maksudnya karena sebelumnya si ahli ibadah menghindari lelaki yang berbau busuk.

Ucapan iblis yang berwujud lelaki shaleh itu membuat ahli ibadah begitu sedih. Hingga kemudian iblis pura-pura kasihan dan memberinya nasehat, “Jika engkau ingin agar Allah mengampuni kesalahanmu, saya akan memberi nasehat kepadamu agar engkau mencari tikus gunung. Lalu engkau gantungkan bangkainya di lehermu seraya beribadah kepada Allah sepanjang hidupmu.”

Si ahli ibadah bodoh inipun kemudian menuruti nasehat iblis tersebut. Ia memburu tikus gunung kemudian mengalungkan ke leher. Dia pun terus menerus beribadah dengan membawa najis selama enam puluh tahun sisa umurnya.

“Baik, Rahma. Kurasa diskusi kita cukupkan sampai di sini.” Mustafa mengandaskan kopinya. “Dan untuk selanjutnya, jika kau masih ingin berdiskusi, silakan membuat janji dengan wanita yang namanya ada di dalam kartu ini. Dia adik perempuanku yang tinggal di Mostar, sekitar 129 km dari kota ini. Kurasa kau akan menulis tentang Sebrenica, karena kota itu merupakan kata kunci dari pembantaian 22 tahun silam. Insya Allah Syaheeda bisa menemanimu ke sana.”

Mustafa mengeluarkan sekeping kartu nama berwarna putih, lalu meletakkan tepat di samping cangkir kopi Aisiya.

“Terimakasih untuk diskusi dan ilmu sepanjang kebersamaan kita.” Aisiya berdiri, sedikit merendahkan tubuh dan menundukkan kepala sebagai penghormatan.

“Yang baik datangnya dari Allah dan yang buruk dari kebodohan diriku sendiri. Semoga Allah memberkahi perjalananmu dengan ilmu dan pemahaman. Selam aleykum wa rahmatullah.”

“Waalaikumussalam wa rahmatullah.”

Mustafa merapatkan jaket dan segera berlalu meninggalkan warung mungil itu. Langkahnya santai namun pasti. Dan pandangan Aisiya masih belum bisa beralih hingga sosok itu hilang di persimpangan.

Matanya kemudian tertuju pada selembar kertas yang tergeletak manis di atas meja. Aisiya memungutnya, mengeja lamat-lamat setiap baris hurufnya.

Syaheeda Melek Yayla

Di bawah nama tersebut tertulis: (Founder and Head of Organizations)

Kemudian di bagian kiri tertulis sebuah nama LSM: Zehra (Muslimah of Bosnia—Education & Empowerment Center)

Satu lagi fakta yang membuat Aisiya berdecak kagum. Ternyata adik perempuan Mustafa ini bukan muslimah biasa-biasa saja.



*Sebagai penulis saya hanya ingin menambahkan kalimat "Wallahualam". Segala kebenaran milik Allah semata. Saya hanya berusaha membantu untuk menyederhanakan masalah ini dalam bentuk yang mudah dipahami. Semoga kita diberi pertolongan oleh Allah ta'ala agar mampu mengamalkan Kitabullah dan Al Sunnah, semoga niat kita untuk membantu pekerjaan amar ma'ruf nahi munkar tidak terkotori oleh nafsu dan cita-cita duniawi yang begitu murah. Aku berlindung kepada Allah dari dua keburukan ini. Semoga ada kebaikan yang bisa diambil oleh pembaca sekalian. Dan semoga kita diberi pertolongan oleh Allah untuk mengamalkan segala kebaikan yang pernah dibagikan kepada manusia lainnya, karena manusia yang paling merugi di akhirat kelak adalah mereka yang berilmu namun tak bisa mengamalkannya. Dan semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan manusia yang merugi dalam amalnya. 




Wednesday, 8 November 2017

Jangan Bersedih untuk Sesuatu yang Belum Pasti Datang



Untukmu, siapapun dirimu kelak, semoga adalah engkau yang beramal salih dan berilmu pengetahuan. Dan aku selalu meminta kepada Allah, ketika telah tiba masanya, agar Dia Menganugerahkan ketenteraman padamu akan aku dan padaku akan engkau.

Apa yang harus dicemaskan tentang masa yang akan datang padahal tinta catatan telah kering? Semuanya sudah terangkai rapi dalam sebuah kitab yang bahkan telah selesai sebelum bumi, langit, dan enam masa dalam penciptaannya. Manusia hanya memiliki peran sebagai pelaksana takdir. Kita berupaya, kemudian bertawakkal.

Pada perasaan yang dititipkan, upaya kita adalah menjaganya agar tidak keluar dari fitrahnya yang suci, tidak menyalahi aturan, dan tidak menjadikannya sebagai penyebab dosa hati dan khayalan. Upaya kita adalah berdoa kepada Yang Maha Mencintai, agar ia menganugerahi kita sesuatu yang baik berdasarkan pengetahuan-Nya yang luas. Adalah menyebut namamu dalam doa, akhir-akhir ini begitu takut untuk kulakukan. Bahkan nabi Nuh alaihissalam pernah mendapat teguran ketika ia berdoa untuk putera yang dicintai, hingga akhirnya ia memohon ampunan dan berlindung kepada Tuhan-Nya dari meminta sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya.

Sebuah syair menyebutkan bahwa cinta yang benar itu selalu mengajarkan adab-adab percintaan. Bagi mereka yang menjaga adab-adab tersebut, maka merekalah yang kelak akan memetik berkah dan sakinnah seperti yang telah dijanjikan. Namun bagi yang mengingkari, memperturuti hawa nafsu, maka baginya adalah cinta yang hina sebagai sumber penderitaan.

Tidak ada seorang pun manusia yang diciptakan sempurna dengan kebaikan-kebaikan kecuali Rasul-Nya, tapi kita dianugerahi akal agar terus belajar, memperbaiki segala yang keliru, serta meminta keikhlasan dari keluarga, sahabat, karib kerabat, kenalan, yang dulu pernah kita ambil haknya atau disakiti perasaanya. Hari ini adalah waktu terbaik untuk menjadi lebih baik. Dan untuk hari esok yang masih berada di alam ghaib, biarlah ia datang dengan sendirinya. Tak perlu kita memanjangkan angan-angan yang justru hanya akan menambah kesedihan.

Untuk engkau yang tengah bersedih dan takut akan kehilangan, semoga pesan ini sampai kepadamu. Masa sekarang adalah apa yang ada di sekitarmu, di hadapanmu, dan apa yang akan engkau kerjakan satu detik ke depan. Itulah yang harus diupayakan sebaik-baiknya. Jika engkau tengah bersama orang tuamu, maka bahagiamu adalah dengan berbakti kepadanya, mendengarkan, dan membantu mereka. Jika engkau tengah berlayar di lautan, maka bahagiamu adalah dengan memandang birunya air, percikan di kaca jendela, ikan-ikan yang mungkin sesekali berlompatan, atau ketika memandang daratan yang hijau di depan sana. Jika engkau tengah menuntut ilmu, maka bahagiamu adalah ketika engkau mampu menghafalkan sebaris pengetahuan, menyelesaikan sebuah tugas, atau ketika menyibukkan diri dengan bacaaan-bacaan.

Apa yang ada padamu hari ini, itulah sumber bahagiamu. Sebaliknya, jika ia hanya berupa angan-angan, maka tidak ada jaminan apakah engkau akan sampai padanya atau binasa sebelum itu. Jadi tak perlu pula engkau menghabiskan waktu untuk bersedih karenanya. Kecuali pada bencana yang pasti akan terjadi, seperti kematian. Semua manusia sepakat bahwa tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati, dan masalahnya tak ada seorang pun yang tahu kapan ia akan datang. Jadi untuk sesuatu yang pasti, adalah kebodohan apabila kita tidak bersiap-siap setiap waktu. Selain dari maut dan petaka setelahnya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Berbahagialah seperti burung yang keluar dari peraduannya di pagi hari tanpa memikirkan kemalangan apa yang akan menimpanya sepanjang hari itu. Selama kita bertakwa kepada Allah, maka pada hakikatnya kita adalah manusia yang aman dan berbahagia.

Butuh waktu lama untuk belajar tentang hal ini. Engkau yang berlayar tanpa gelombang, pasti sulit untuk memahami. Namun salah juga apabila aku menghakimi bahwa hidupmu tidak pernah ditimpa kesulitan, karena setiap manusia memiliki ujiannya masing-masing. Jadi bersabarlah. Tulisan ini juga kutujukan untuk diriku sendiri. Insya Allah bagi orang-orang yang bersabar, ada pahala dan kebahagiaan setelahnya. Setelah ini, aku tak ingin mendengar berita apa-apa tentangmu kecuali kebahagiaan-kebahagiaan. Semoga Allah menetapkan hati kita di atas iman dan Islam, dua nikmat yang apabila diambil, maka tak akan pernah ada penggantinya. Semoga engkau hidup dalam ketaatan dan keberkahan.

Friday, 3 November 2017

[Fiksi] Pertemuan dengan Racheel Hudson



Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun—HR Muslim No. 2674

Tak sampai 15 menit, empat orang lelaki tersebut berhenti di depan sebuah pintu rumah yang sederhana. Mereka membunyikan bel beberapa kali. Tak lama muncul dari balik pintu tersebut seorang lelaki yang kira-kira berumur 49 atau 50 tahun. Tubuhnya sedang, tidak tinggi dan tidak juga pendek, jenggotnya menggantung hingga sekitar satu jengkal di bawah dagu, lalu di atas kepalanya bertengger manis sebuah kopiah putih. Penampilan yang tidak jauh berbeda dengan tiga orang sahabat Mustafa.

Setelah menjawab salam, lelaki tersebut mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk. Ia sempat memandang heran pada Aisiya. Syukurnya Mustafa segera menjelaskan sehingga senyuman ramah pun merekah di bibir si tuan rumah. Ia kemudian seperti memanggil seseorang di dalam rumah, dan tak lama muncul seorang perempuan mengenakan gamis cokelat, kerudung dan niqab hitam. Perempuan inilah yang menjemput Aisiya, bahkan menggapit tangannya untuk masuk ke dalam rumah.

Aisiya dibawa masuk ke sebuah ruangan khusus. Berbeda dari ruang tamu yang terletak paling depan. Tapi di ruangan ini juga terdapat sofa.

“Ahlan wa sahlan. Silakan duduk. Ini adalah ruang tamu khusus untuk wanita. Kau pasti heran.” Ucap wanita tersebut dengan bahasa Inggris yang sempurna. Ia tahu bahwa tamunya tersebut pasti kebingungan dan bertanya-tanya ruangan apakah ini, mengapa harus dipisah dan sebagainya.

Perempuan tersebut membuka niqab, dan sempurna lah rasa takjub Aisiya begitu mengetahui bahwa wajah di balik niqab tersebut seindah bulan purnama. Bibirnya yang selalu tersenyum, wajahnya yang selalu bercahaya seolah-olah ia adalah wanita paling bahagia di dunia ini.

“Namaku Racheel Hudson. Usiaku saat ini 38 tahun. Sudah tidak muda lagi. Tentu saja.” Katanya memperkenalkan diri dengan ramah.

Aisiya duduk. Ia masih sulit untuk menguasai diri.

“A... kau bukan orang Bosnia asli?” tanya Aisiya sedikit gugup.

“Aku lahir dan besar di Australia. Kami—aku dan suamiku—bertemu di kota Sydney pada tahun 2005, menikah di sana, lalu kemudin aku ikut suamiku ke negara ini pada tahun 2010.”

“Kau terlahir sebagai Muslim?”

“Nope.” Jawabnya masih dengan wajah ramah. “Aku masuk Islam pada tahun 2004 di Sydney. Alhamdulillah.”

“Kau mengenakan niqab mulai saat itu?” Aisiya masih dikejar rasa penasaran.

“Nope.” Wajahnya sedikit muram kali ini. “Aku berhijab tahun 2005. Niqab ini baru kukenakan sejak 3 tahun lalu, setelah aku dan suamiku sama-sama mendalami Islam. Alhamdulillah.”

“Tapi niqab bukan sebuah kewajiban bagi seorang Muslimah.” Sanggah Aisiya.

Wanita berdarah Australia itu tersenyum. Indah sekali. “Iya. Oh aku belum tahu siapa namamu?”

“Aisiya Rahmawati. Aku orang Indonesia. Umurku 22 tahun.”

“Oke, baik, Aisiya. Masya Allah namamu mengingatkanku pada salah satu wanita terbaik penghuni Surga, yaitu Aisiya binti Muzahim, istri Firaun. Semoga Allah memberimu berkah atas nama yang demikian indah.”

“Aamiiin insya Allah. Terimakasih.” Aisiya tersipu.

“Insya Allah.” Sambung Racheel. “Baik, Aisiya. Kamu pasti ingin tahu alasanku mengenakan niqab, kan? Padahal tidak ada satu ayat pun dalam Al Quran yang mewajibkan Muslimah untuk mengenakannya. Kamu benar. Niqab memang tidak wajib, namun aku senang mengenakannya. Dan aku berharap semoga ini bisa menjadi salah satu hujjahku kelak di hadapan Allah ketika ditanya, ‘Bagaimana caramu menjaga amanah wajah dan tubuh yang telah Kutitipkan padamu selama hidup di dunia?’. Alasan kedua karena aku ingin mengikuti teladan dari para wanita saliha terdahulu yang ketika turun perintah hijab, mereka seketika menarik kain-kain yang ada di sekitar mereka untuk kemudian ditutupkan ke seluruh tubuh sehingga mereka terlihat seperti gagak-gagak hitam. Alasan ketiga aku memilih niqab karena ini bertentangan dengan nafsu seorang wanita yang selalu ingin menampakkan kecantikan di depan umum demi mendapatkan pujian. Niqab juga melindungi hati-hati wanita yang bisa saja iri melihat kecantikan wanita lain. Insya Allah semoga Allah meluruskan niat di dalam hati.”

Aisiya tak bisa berkata-kata. Hatinya diliputi keharuan mendengar kesaksian luar biasa muslimah mualaf yang duduk anggun di sampingnya kini. Ia merasa malu. Sungguh. Kecantikan yang miliki sama sekali tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan paras jelita teman barunya ini. Tapi lihatlah betapa teguh wanita ini memenjarakan nafsu. Sementara dirinya, meskipun telah berhijab, mengenakan gamis longgar, tapi tetap saja sibuk memoles wajah ketika akan keluar rumah. Dan benar apa yang diucapkan Racheel, ia ingin semua orang di luar nanti akan melihat paras ayunya kemudian memberikan pujian.

“Oh, Aisiya. Aku sampai lupa kalau suamiku juga kedatangan tamu. Kau bisa menunggu di sini sementara aku menyiapkan jamuan di dapur, atau kau juga boleh ikut bersamaku.”

“Aku ikut denganmu.” Seketika Aisiya berdiri.

Racheel menggandeng tangan Aisiya menuju dapur yang hanya terpisah dinding beton kasar dari ruang tamu untuk wanita. Rumah ini sederhana sekali. Hanya terdiri dari dua buah ruang tamu, dua kamar tidur, dan satu dapur di bagian belakang. Tak ada furniture yang mewah. Semuanya terlihat sangat sederhana, termasuk meja makan dengan enam buah kursi di ruang dapur. Meski sederhana, namun jelas sekali semuanya tampak bersih dan tertata rapi. Tak ada satu pun foto yang terpajang di dinding, hanya beberapa lukisan kaligrafi dan beberapa kerajinan tangan.

“Racheel, maaf, kalian tidak memiliki anak?”

“Alhamdulillah Allah mengamanahi kami dua orang anak. Yang pertama bernama Hassan, usianya 8 tahun. Sekarang sedang di rumah neneknya di Butmir. Sedangkan yang kedua bernama Safiye, usianya baru dua tahun. Dia sedang tidur di kamar. Nanti kau bisa melihatnya.” Racheel menunjuk kamar di bagian depan. Senyuman di wajahnya berbinar, seolah mengatakan bahwa ia sangat bahagia.

“It will be my pleasure to see your little princess.” Aisiya tak kalah bahagia.

Dua wanita itu kemudian sibuk menyiapkan jamuan selama 30 menit ke depan. Aisiya membantu apa yang mampu ia lakukan, sementara Racheel yang meracik hingga bahan-bahan makanan tersebut menjadi sebuah hidangan.

“Olahan daging ini dikenal masyarakat Bosnia dengan nama cevapcici. Bisa dari daging sapi atau domba. Yang kubuat sekarang adalah daging domba. Kau sudah pernah mencicipi cevapcici sebelumnya?”

Aisiya menggeleng dengan senyuman polos.

“Insya Allah kau akan mencicipinya siang ini.”

Gadis Indonesia itu semakin riang. Ia memperhatikan setiap gerak tangan Racheel dalam mengolah daging tersebut. Mulai dari proses pencampuran bumbu dengan bawang bombai, bawang putih, merica, garam, dan paprika bubuk, kemudian membentuk daging cincang menjadi lonjong pipih, hingga membakarnya di atas tungku. Setelah matang, cevapcici diletakkan di atas piring besar, kemudian siap dihidangkan bersama roti bundar, yoghurt, dan irisan bawang bombai. Tidak lupa Racheel menyeduh beberapa cangkir kopi Bosnia.

Setelah semuanya siap, Racheel memanggil suaminya untuk mengangkut semua hidangan tersebut ke ruang tamu depan. Masih ada dua porsi cevapcici dan dua cangkir kopi yang tersisa di atas meja makan. Tentu saja itu adalah bagiannya dan Aisiya.

“Silakan duduk, Aisiya. Semoga kau suka dengan hidangan sederhana ini.” Wanita asal Autralia itu menarik kursi untuk tamunya.

Dua wanita itu duduk berhadapan. Setelah membaca basmallah dan doa, mereka mulai menyantap hidangan tersebut.

“Hmm... ini enak sekali. Meskipun dibakar, tapi daging ini tidak kering saat digigit. Dan rasanya sangat gurih. Kau dianugerahi tangan yang sangat berbakat, Racheel.” Puji Aisiya tulus.

“Aku senang kau menyukainya. Kelak setelah menikah, kau pun akan belajar banyak seputar dapur. Dan yang terpenting bagi seorang Muslimah adalah meniatkan semua pekerjaan rumah kita sebagai ibadah kepada Allah, termasuk menyiapkan makanan. Kau tahu, dulu aku tak suka memasak. Suamiku, Ismail, justru dia yang lebih sering menyiapkan makanan. Tapi kemudian setelah aku mendalami Islam, paham betapa besar kemuliaan yang bisa didapatkan oleh seorang Muslimah melalui aktivitas di rumah-rumah mereka, semakin hari aku merasakan kebahagiaan ketika memasak.”

“Kau tidak bosan di rumah terus? Kau tidak bermimpi punya karier seperti wanita-wanita jaman sekarang?”

“Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman, dan surga bagi orang-orang kafir. Namun bagi orang-orang beriman, Allah melimpahkan sakinnah dalam penjara-penjara tersebut. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, sakinnah ialah sesuatu yang sangat istimewa meliputi ketenangan, ketenteraman, rahmat, kesejahteraan, dll, yang diturunkan Allah bersama-sama dengan para malaikat. Allah dan Rasul-Nya lebih ridho ketika seorang wanita berada di rumahnya, mendidik anak-anaknya, dan aku lebih senang memilih sesuatu yang diridhai Allah dan Rasul-Nya dibandingkan kampanye duniawi kaum kapitalis. Tapi bukan berarti aku menyalahkan para Muslimah yang memiliki karier, Aisiya. Tidak. Ini hanya pilihanku sendiri dan aku telah mengungkapkan alasannya. Aku juga sering keluar rumah. Setiap 3 hari sekali, Ismail menemaniku berbelanja kebutuhan dapur. Dia mengantarku apabila ada kajian-kajian Muslimah yang ingin kudatangi. Dan seminggu sekali kami akan berkunjung ke rumah mertuaku di Butmir.”

“Kau pernah membaca A Thousand Splendid Suns karya penulis asal Afghanistan, Khaled Hosseini? Novel ini menggambarkan jelas betapa tertekan kehidupan wanita Muslimah dalam rumah-rumah mereka.”

Racheel mengangguk. “Aku membacanya satu tahun sebelum memeluk Islam. Dan karena hal itu pula aku selalu bertanya pada teman-teman wanitaku yang beragama Islam. Tapi semuanya tidak bisa memberikan jawaban memuaskan. Hingga kemudian Allah mempertemukanku dengan seorang Muslimah asal Polandia di tahun 2003, namanya Cecylia. Dia tidak memberikan jawaban langsung, melainkan memberiku hadiah satu buah Al Quran terjemahan dan satu buah kitab yang berisi hadist-hadist. Ia memberikan catatan khusus ayat dan hadist mana yang harus dibaca terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku tersebut. Dan satu hari setelahnya aku sudah mendapatkan jawaban jelas. Kau sungguh tidak tahu mengapa dua tokoh utama dalam novel tersebut, yaitu Mariam dan Laila, mengalami kehidupan yang demikian tersiksa?”

Aisiya menggeleng. “Suaminya, Rasheed, telah meminta mereka mengenakan niqab saat keluar rumah. Tidak berbeda dengan Ismail yang memintamu mengenakan niqab. Jika kau bisa merasakan bahagia, lalu kenapa dua wanita tersebut tidak?”

“Aku berlindung kepada Allah dari perkara yang tidak kuketahui hakikatnya. Tapi yang bisa kukatakan sekarang, demi Allah, Ismail tidak sama dengan Rasheed. Dan Ismail tidak pernah memaksaku mengenakan niqab. Jika kau membaca novel itu dengan teliti, kau akan tahu dimana letak kesalahan-kesalahannya. Mereka memang meminta istri-istri mereka mengenakan niqab, bahkan sampai mata mereka pun ditutup. Tapi perhatikan sekali lagi, mereka tak paham apapun tentang agama ini, Aisiya.

Seorang suami yang paham tentang Islam, mereka tak akan berbuat zalim kepada istrinya. Tak akan mengoleksi majalah-majalah pembangkit syahwat. Tak akan menghina dan menyakiti hati istrinya. Tak akan melarang anak perempuan untuk menuntut ilmu. Seorang suami yang paham tentang Islam, ia akan memuliakan istrinya seumpama sebuah perhiasan yang terpelihara.

Jika kau membaca novel itu sekali lagi, kau akan tahu bahwa novel tersebut tidak menggambarkan kehidupan Islam yang sebenarnya. Khaled hanya menuliskan kehidupan orang-orang Muslim di Afghanistan sana yang ternyata—dalam novel itu—kebanyakan salah dalam mamahami dan mengamalkan Islam. Aku tidak tahu apakah benar seperti itu kondisi di Afghanistan ketika di bawah pemerintahan Taliban.”

Aisiya mengangguk-angguk.

“Kamu seorang jurnalis, Aisiya. Dan kamu juga seorang Muslim. Pesanku sebagai seorang sahabat, niatkan lah semua aktivitas kita untuk Allah semata, termasuk tulisan yang nantinya akan kamu rangkai. Bertakwa lah kepada Allah, ingat bahwa nanti setiap kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan di dunia ini pada yaumil hisab.

Jangan pernah berpikir bahwa satu bait tulisan yang dibaca orang lain terbebas dari pengadilan akhirat. Bahkan meskipun itu hanya beberapa patah kata, sama saja kelak di hadapan Allah. Apabila tulisan tersebut memberikan manfaat bagi orang lain, insya Allah ia akan bernilai kebaikan. Tapi jika tulisan tersebut menyesatkan orang lain, membuat orang lain berangan-angan kosong, apalagi sampai membayangkan maksiat, dan bahkan mendorong orang lain melakukan maksiat, maka tulisan tersebut akan bernilai keburukan dan dosa. Bahkan bisa jadi sang penulis akan menanggung dosa para pembaca yang ia sesatkan.”

“Insya Allah. Terimakasih atas nasehatmu, Racheel. Aku tidak akan pernah melupakannya.” Mata gadis Indonesia itu telah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan mendapatkan nasehat seperti ini dari seorang wanita Australia. Nasehat yang bahkan tak pernah ia dapatkan selama di Indonesia.

Selesai bersantap, mereka mencuci semua peralatan kotor. Kemudian Racheel mengajak Aisiya untuk melihat putrinya di kamar.

Gadis kecil itu ternyata sudah bangun dari tidur. Tapi dia tidak menangis. Matanya yang bulat bercahaya mengerjap-ngerjap, memandangi mainan yang digantungkan di atas ranjang bayi. Begitu wajah sang ibu muncul, bayi cantik itu seketika tertawa hingga menampakkan gusi yang baru ditumbuhi empat batang gigi.

Racheel mengangkat putrinya ke dalam gendongan, “Kau ingin menggendongnya?” Ia menawari Aisiya yang sejak tadi belum bisa melepaskan pandangan dari bayi berusia 2 tahun itu.

“Aku takut, Racheel. Seumur hidup aku tak pernah menggendong bayi.” Pekik Aisiya tertahan.

“Tak perlu takut. Safiye sudah tumbuh besar. Lehernya pun sudah cukup kuat. Jangan panik. Oke?”

Akhirnya Aisiya setuju. Dengan penuh kehati-hatian ia mengambil alih Safiye dari tangan Racheel. Beruntung Safiye adalah tipe bayi yang ramah. Ketika tangan Aisiya diulurkan, Safiye langsung menyambut dengan dua belah tangan yang diacungkan. Senyuman bayi itu merekah di antara rambutnya yang keriwil-keriwil bewarna kecokelatan.

“Masya Allah tubuhnya harum sekali. Seolah aku sedang memasuki sebuah taman mawar di puncak musim semi.” Puji Aisiya begitu ia mencium pipi Safiye.

“Iya aku mengolesinya dengan minyak mawar yang dibawa Ismail dari Turki. Kalau tidak salah ia membelinya di Isparta, sebuah kota di Turki yang terkenal dengan julukan ‘Kota Mawar’. Dari cerita Ismail, bahkan hingga kerudung dan tasbih yang dijual di sana pun beraroma mawar.” Jelas Racheel bersemangat. Ia mengajak Aisiya untuk duduk di sofa tidur yang tersedia di sudut kamar itu.

“Kau melahirkan kedua anakmu dengan proses normal atau operasi caesar?”

“Alhamdulillah normal.”

“Apakah sakit?”

“Tentu saja.”

“Karena itulah aku masih tidak siap untuk berumah tangga. Aku selalu membayangkan proses kehamilan hingga melahirkan yang sepertinya sakit sekali.” Ucap Aisiya sambil terus memperhatikan Safiye yang kini memainkan salah satu ujung kerudungnya.

“Aisiya. Aku bisa saja menunjukkan padamu berbagai hadist Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam perihal keistimewaan yang diberikan Allah kepada wanita yang sedang hamil hingga bersalin, bahkan sampai 40 hari pasca kelahiran. Tapi semua itu tidak akan ada bekasnya di dalam hati apabila kamu tidak bertakwa. Kunci segala hikmah dan kebaikan bisa menyentuh kalbu adalah ketika kita bertakwa kepada Allah seutuhnya. Hadirkan lah perasaan gembira ketika kamu shalat, ketika mengingat Allah. Apabila semua itu sudah mampu diraih, maka pertahankan lah dengan memperbanyak dzikir. Jangan lengah sedikit pun karena syaitan akan memanfaatkan kelengahanmu tersebut. Kemudian ketika itu semua telah mampu kamu kerjakan dengan ikhlas, bacalah berbagai hadist yang menerangkan tentang keistimewaan para wanita yang sedang hamil hingga melahirkan. Apakah kamu belum tahu bahwa ketika seorang wanita Muslimah hamil, maka seluruh malaikat akan memintakan ampun untuknya?”

Aisiya menggeleng. “Yang aku tahu, apabila seorang Muslimah meninggal saat melahirkan atau dalam rentang 40 hari setelah melahirkan, ia akan dianggap sebagai mati syahid. Tapi entahlah. Aku tak yakin. Bagaimana jika wanita tersebut seorang pendosa?”

“Aku tidak mengetahui perkara ghaib, Aisiya.” Racheel tersenyum. “Kita tidak pernah tahu siapa yang kelak akan mendapatkan ridho dan ampunan Allah. Tapi yang banyak diterangkan dalam hadist, selama orang tersebut tidak melakukan dosa besar dan syirik, insya Allah masih ada peluang baginya mendapatkan keistimewaan tersebut. Kamu ingin dengar sebuah cerita? Ini kisah nyata yang dialami oleh salah satu teman Ismail, suamiku.”

“Tentu saja. Ceritakanlah padaku.” Sambut Aisiya dengan riang.

Racheel, wanita Australia yang wajahnya bercahaya itu memulai ceritanya. Lelaki teman suaminya itu bernama Hamzah. Dia tinggal di sebuah desa terpencil sekaligus tertua  bernama Lukomir, bagian Tenggara Bosnia. Satu tahun lalu, tanpa ada sebab yang jelas, tiba-tiba saja Hamzah tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Istri, anak-anak, dan semua ahli keluarganya menjadi panik. Mereka mencari berbagai cara untuk membangunkan Hamzah, termasuk dengan mendatangkan seorang tabib yang masyhur di desa tersebut.

Setelah sekian lama mereka menunggu dengan resah, akhirnya Hamzah bangun dari pingsan. Begitu kesadarannya telah sempurna pulih, ia bercerita, “Dalam pingsanku tadi, aku seperti menyusuri sebuah jalan. Lalu aku berpapasan dengan satu per satu orang yang telah meninggal di desa ini. Tapi setiap kali aku memanggil, tidak ada satu pun dari mereka yang sudi menjawab. Bahkan mereka memalingkan wajah. Hal ini membuatku heran. Hingga beberapa lama kemudian, aku bertemu dengan almarhumah Salma.

Kalian pasti belum lupa siapa Salma. Tetangga kita itu. Wanita yang meninggal saat melahirkan sekitar 5 tahun lalu. Nah dalam perjalananku itu, aku melihat Salma, meskipun tak seketika aku mengenali sampai akhirnya dia menyebutkan siapa namanya, ‘Aku ini Salma. Tetanggamu dulu.’ Tapi yang membuatku tidak percaya, wanita ini memiliki wajah yang sangat jelita, sementara Salma yang kita ketahui bisa dikatakan tak memiliki paras yang istimewa. Karena dia meyakinkan bahwa dirinya benar-benar Salma, akhirnya aku menyerah dan percaya.

Dia mengajakku singgah ke rumahnya yang masya Allah sangat megah. Tapi sebelum itu, Salma mengajakku berkeliling taman di sekitar rumah tersebut. Di sana aku menyaksikan bunga-bunga yang keindahannya belum pernah kulihat di dunia ini.

Dia juga memberi tahuku sebuah rumah yang tidak kalah indahnya yang dibangun di samping rumahnya. ‘Rumah itu mau dijual. Kamu bisa membelinya’. Kukatakan padanya bahwa aku tidak mungkin sanggup membeli rumah seindah itu. Belum sempat aku melihat bagian dalam rumah Salma, alhamdulillah aku sudah sadarkan diri.”

Racheel mengakhiri ceritanya dengan senyuman. Ah, rasanya wanita ini memang selalu tersenyum. Bahkan saat ia sedang tidak tersenyum pun, orang lain akan memandangnya seolah ia sedang tersenyum. Pada point inilah Aisiya percaya hadist yang menyebutkan bahwa orang-orang yang menjaga shalatnya akan mendapatkan 10 kebaikan, salah satunya adalah memancarnya nur atau cahaya pada wajah, adalah benar.

“Kamu tahu, berdasarkan kesaksian Hamzah, perempuan bernama Salma ini, selama hidupnya tidak kelihatan terlalu tekun mengamalkan agama. Dia Muslimah yang biasa saja atau dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, ‘tidak saleha-saleha amat’. Hanya saja dia memiliki satu keberuntungan yaitu meninggal ketika melahirkan. Kamu boleh mempercayai cerita Hamzah ini atau tidak percaya. Semua kembali padamu. Tapi jangan pernah lupa Aisiya, seorang Muslimah yang berjuang susah payah melahirkan bayi yang berada dalam kandungan itu sama nilainya dengan seseorang yang berjihad di jalan Allah. Hanya ada dua kebaikan baginya, yaitu: menyaksikan seorang malaikat kecil penerus generasi yang menangis untuk memulai kehidupan, atau syahid dan hidup berbahagia selamanya di sisi Allah. Tapi sekali lagi jangan lupa, Allah tidak mengampuni dosa syirik dan beberapa dosa besar lain yang hanya bisa diampuni melalui jalan taubat. Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa-dosa tersebut.”

“Semoga Allah merahmatimu atas ilmu yang demikian bermanfaat. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Muslimah yang mengamalkan agama dengan baik sepertimu justru saat aku berada di tanah Eropa.”

Wa laa yuhithuuna bi syai in min ‘ilmihi illaa bi maasyaaa. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kudengar Ismail memanggil, sepertinya mereka akan segera ke Masjid. Kamu ikut mereka atau tetap di sini?”

“Aku datang bersama Mustafa dan harus kembali bersamanya pula.” Aisiya menyerahkan Safiye setelah mencium gadis kecil itu sebanyak tiga kali.

“Mustafa. Suamiku banyak bercerita tentang pria Turki yang satu ini. Kamu tahu, Aisiya? Mustafa itu telah banyak menerima tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai negara-negara maju karena kecerdasannya. Tapi dia memilih untuk mengabdikan diri di Bosnia. Kudengar dari Ismail pula, bahwa Mustafa selama 4 tahun terakhir tidak pernah meninggalkan shalat malam. Ia hanya tidur selama 3 jam saja. Tidak lebih.”

“Benarkah?” mata Aisiya membulat.

“Iya, benar! Biasanya dia tidur sebentar sebelum shalat Zuhur, karena tidur pada waktu ini adalah sunnah. Sementara shalat malam Mustafa sangat panjang. Dia bahkan bisa membaca berjuz-juz al Quran dalam satu rakaat. Akal manusia biasa tidak akan bisa memahami hal ini. Tapi yang seperti ini nyata terjadi. Ada banyak Muslim yang beribadah seperti ini. Bahkan tidak sedikit para tabi’in yang shalat Subuh tanpa memperbarui wudhu shalat Isha mereka. Dan itu mampu dipertahankan selama puluhan tahun hingga wafat.”

Aisiya bahagia mendengar hal ini. Ketakjuban dalam dadanya kini terasa sampai di puncak. Bagaimana mungkin lelaki itu sanggup menghabiskan malam hanya dengan tidur selama 3 jam? Sementara dirinya sendiri untuk bangun setengah jam sebelum azan Subuh saja sering terlewat.

Benar apa yang diucapkan Racheel, keistimewaan lelaki ini sangat sulit untuk dipahami akal. Keistimewaan ini pula yang justru membuat Aisiya merasa sedih. “Jika benar begitu, maka hanya bidadari yang pantas menjadi istrinya.” Spontan kalimat ini meluncur dari lisannya.

Racheel tersenyum lebar. Bisa dikatakan ia sedang tertawa kali ini. “Eh, kamu lupa ya kalau Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam saja beristrikan manusia?”

“Iya. Tapi bukan manusia hina sepertiku.” Sambung Aisiya polos, membuat lawan bicaranya mengernyitka dahi.

“Apakah itu artinya kamu tertarik untuk menjadi istri Mustafa?” selidik Racheel dengan wajah menggoda.

Gadis Indonesia itu baru sadar bahwa ucapan demi ucapannya tadi telah membimbing Racheel pada satu kesimpulan penting. Seketika wajahnya merona. Dia tidak menjawab apapun, tapi semua orang kini paham apa sebenarnya yang tersimpan di balik hatinya.


-Diambil dari Istanbul: Kesaksian sebuah Kota. Kisah tentang Hamzah yang bertemu dengan Salma adalah kisah salah satu penduduk di desa saya. Kisah nyata. Hanya saya mengganti nama tokoh dan tempatnya. Semoga bermanfaat ;)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...