Monday, 27 February 2017

Mendung, dan Percakapan Manis




Langit mendung, angin bertiup menggugurkan dedaunan kering, dan aku menyukai suasana ini. Entah mengapa, sejak dulu aku menyukai langit yang kelabu. Sebaliknya, aku tak begitu suka pada intensitas cahaya matahari yang terlalu tinggi dan panas. Percaya atau tidak, aku selalu menutup gorden rumah di waktu pagi. Tahu kenapa? Karena rumahku menghadap ke Timur sehingga matahari pagi terasa ganas sekali menerobos ke dalam. Andai bisa memilih, aku ingin matahari tak perlu bersinar terik sepanjang tahun. 

Dulu, semasa kuliah, hatiku terasa begitu bahagia ketika mendung dan angin datang bersamaan dengan aku yang sedang  berjalan kaki. Aku senang menyusuri trotoar pada saat-saat seperti itu. Aku suka ketika pakaianku beterbangan kemudian aku bisa bersedekap sambil berjalan. Kalau sudah begitu, aku akan membayangkan diriku berjalan di sebuah jalanan yang diapit pepohonan meranggas, di tepian musim gugur. Mungkin di salah satu jalan di desa kecil Transylvania, menuju kastil Dracula bermenara lancip yang terkenal itu. 

“Bukankah itu menyenangkan? Maksudku menjadi seseorang yang suka berkhayal?” tanyaku padamu. 

Kau tersenyum sambil menggelengkan kepala, kemudian menarik cangkir cappucino, menyeruputnya sedikit.

“Mengapa Transylvania? Kenapa kau tidak menghayalkan sebuah jalanan desa di Inggris misalnya? Kurasa akan lebih menyenangkan. Aku pernah mengunjungi desa Castle Combe, sekitar 40 menit naik kereta dari Bristol, dan rasanya tidak ada tempat di dunia ini yang lebih klasik dari itu. Jadi sekali lagi, kanapa harus Transylvania?”

Sesaat aku membuka mulut. Pertanyaan ini sungguh di luar dugaan. Tapi kemudian aku tersenyum, lalu menopang dagu dengan kedua tangan. Jika kau melihat mataku saat ini, pasti keduanya sedang bersinar terang, seterang mimpi tentang Transylvania.

“Karena aku menyukai sejarah. Kau boleh percaya atau tidak, aku adalah pecinta nomor wahid tentang sejarah kekhalifahan Turki Ustmani. Dan di Transylvania, di sanalah berdiri kastil Dracula yang merekam sejarah mendebarkan, memiliki desain klasik, juga beratmosfer mencekam. Tiga hal ini menjelma sihir tersediri bagiku.”

Kau terlihat berpikir selama beberapa saat.

“Lalu apa hubungan antara Turki Ustmani dan Dracula?”

Sekarang aku bisa tertawa. Untuk pertama kalinya aku merasa wawasanku berada satu tingkat di atasmu.

“Selama ini kau pasti terlalu fokus dengan buku-buku ilmiah.” Kataku cemberut. “Seharusnya kau sudah tahu tentang fakta Dracula yang meregang nyawa di ujung pedang Muhammad Al Fatih. Jangan bilang kau juga tidak kenal siapa itu Muhammad Al Fatih.”

“Aku tahu. Tadi hanya ingin membuatmu sedikit senang saja.” Kini giliran kau yang tersenyum mengejek. Tapi aku tidak akan percaya begitu saja. 

“Kalau begitu... ceritakanlah!”

Kau mengawali cerita dengan senyuman istimewa. Kenapa istimewa? Karena siapapun yang melihatnya pasti tak akan tega marah berlama-lama. Lalu kau mulai menjelaskan dengan detail dan bahasa yang indah mengenai siapa itu Muhammad Al Fatih. Mendengar penuturanmu, aku seperti merasa sosok Al Fatih ada di meja ini, kemudian duduk dan memperhatikan kita berdua seraya tersenyum kebapakan. Ah, lagi-lagi aku berkhayal!

Kemudian ceritamu berlanjut tentang hubungan antara Al Fatih dan Dracula saat mereka berdua sama-sama belajar di bawah pengasuhan guru yang sama, seorang Sheikh yang ‘alim sekaligus penasehat Sultan. Kau terus bercerita dengan runut, jelas, dan tentu saja berdasarkan pengetahuan yang benar.

“Faktanya Dracula memang mati di tangan Al Fatih. Tapi kita tidak boleh lupa satu hal, bahwa sejarah adalah milik mereka yang menang. Dracula boleh kalah saat itu, tapi kemudian sejarah mencatat, pada akhirnya kekhalifahan Turki Ustmani runtuh di bawah kekuasaan Barat. Mereka—orang-orang Barat—yang tak menyukai Ottoman, bisa dengan leluasa menukar sejarah. Lalu para generasi penerus didoktrin melalui film-film yang menceritakan kehebatan manusia penghisap darah alias Dracula. Bukan main, mereka menjadikan sosok kejam itu sebagai tokoh utama. Dan kau pasti tahu film Dracula Untold, kan? Lihatkah bagaimana lihainya mereka memutar balikkan fakta.”

“Mengapa kau terlalu pintar? Seharusnya kau tidak perlu tahu cerita ini, sehingga akulah yang akan menceritakannya padamu.” Aku berucap kecewa.

“Aku tidak pintar. Percayalah. Aku hanya senang membaca apa yang kau senangi. Sejak pertama bertemu denganmu, aku tahu kau menyukai segala sesuatu tentang Ottoman. Aku hanya ingin menjadi teman diskusi yang baik. Bagimu.”

Kali ini wajahku berubah mengasihani sesuatu.

“Kau tak perlu melakukan itu. Bersama bukan berarti kau harus menyukai segala sesuatu yang kusukai. Demikian pula aku yang tak harus menyukai segala sesuatu yang kau sukai juga.”

Tapi kau menggeleng.

“Tidak. Sejak aku memutuskan bersama denganmu, aku juga memutuskan bahwa kita akan melakukan apa-apa yang kau sukai, dan apa-apa yang kusukai, bersama-sama. Itu hal sederhana. Lagipula hati manusia tidak pernah rumit. Sistem di dalam hati kita sudah terprogram begitu baik. Mereka akan spontan menyukai segala sesuatu yang disukai oleh orang-orang yang kita sukai. Ah, kenapa bahasanya jadi rumit begini.” Kau menyengir kesal.

Aku tertawa. Bagiku itu tadi lucu. 

Menyukai segala sesuatu yang disukai oleh orang-orang yang kita sukai.

“Aku suka makan risoles yang disiram mayones, yoghurt, dan saos tomat. Bagaimana, kau bersedia menyukainya juga?” tanyaku.

“Kecuali yang itu.” Jawabmu datar, tak ada toleransi.

Monday, 13 February 2017

Istanbul, Kesaksian sebuah Kota




Aku tidak ingat berapa kali aku telah jatuh cinta pada seorang lelaki. Mungkin dua, mungkin tiga. Yang kutahu, meski tidak bisa dikatakan indah, cintaku kali ini berbeda dari yang lain. Cinta yang membawaku ke kota ini, ke negara ini. Cinta yang membuatku merasa begitu dekat dengan warna-warni bangunan tua yang ada di sekelilingku kini, dengan cahaya berkilauan yang jatuh pada birunya Bosphorus dan Marmara, dan pada kawanan gagak laut yang terbang rendah bersama suara klakson kapal-kapal yang merapat di pelabuhan.

Kedatanganku ke negara ini bukanlah untuk sebuah pembuktian cinta, melainkan hanya ingin melihat kenyataan tentang seseorang yang kucintai. Selain itu, aku juga datang untuk menunaikan sebuah cinta yang selama ini mekar begitu indah di dalam hati. Ya, aku telah jatuh cinta pada kota klasik ini sejak umurku 14 tahun, sejak cinta pada lelaki itu belum tumbuh di hatiku sedikit pun.

Sekarang aku sedang duduk di sudut sebuah cafe bernama Boon Restaurant and Cafe yang terletak di pinggir Golden Horn bagian Cingelkoy, Istanbul. Saat pertama kali aku mendorong pintunya, sudah bisa kupastikan bahwa restoran ini menjadi favorit para Turis mancanegara. Lihat saja di bagian kiriku, semua yang duduk di sana adalah orang-orang berparas Barat dengan bahasa Prancis. Lalu di depanku, ada sepasang muda-mudi yang asik bercengkerama dengan bahasa Inggris dengan si lelaki berlogat Turki, dan yang perempuan berlogat Cina. Aku menerka keduanya adalah sepasang kekasih yang menjalin hubungan jarak jauh. Lalu setelah sekian lama, mereka bertemu di cafe ini. Atau mungkin apabila aku salah, bisa saja wanita Cina itu memang sedang menempuh pendidikan atau bekerja di negara ini.

 Angin dingin menusuk tulang masih berembus dari selat Bosphorus, padahal sekarang sudah masuk musim Semi. Aku merapatkan jaket, kemudian melirik layar ponsel. Suhu 13 dejarat celcius. Ah, ini masih tergolong sangat dingin bagi aku yang terbiasa hidup di wilayah tropis.

Seorang pelayan laki-laki berseragam hitam putih menghampiriku. Sebuah notes lengkap dengan pulpen ia genggam rapat-rapat. Ia hanya tersenyum setelah memberi ucapan selamat sore, lalu bersiap-siap untuk menuliskan pesananku.

“Cay dan buah yang disiram minyak zaitun.” Kataku.

“Apa ada yang lain?” ia bertanya dalam bahasa Inggris.

Aku menggeleng kecil, lalu berseru dengan sedikit bahasa Turki. “Yok. Itu sudah cukup.” 

“Evet. Pesanan Anda akan segera datang.” Katanya dengan senyuman ramah. 

Tak ada kalimat apa-apa lagi dari bibirku selain sebuah senyuman kecil. Setelah pelayan itu pergi, mataku segera berputar menyaksikan lanskap Istanbul yang terlihat jelas dari tempatku duduk kini. Jembatan Bosphorus berada tepat di depan, mungkin berjarak tidak sampai satu kilometer. Meskipun Hagia Sophia dan Blue Mosque di kejauhan sana hanya tampak pucuk-pucuk kubah dan menaranya saja, yang kusaksikan kini tetaplah Istanbul. Sihir indahnya tidak pernah berkurang dilihat dari sisi mana pun. 

Sebuah kapal pesiar melintas di tengah Selat, barangkali menuju Emononu dekat Old Town atau yang dikenal sebagai area Fetih. Deru mesin dan klakson kapal-kapal bersatu padu dengan suara ringkikan gagak laut yang terbang di segenap penjuru laut. Aku memejamkan mata, berharap ruh kota ini semakin merasuk lebih jauh ke dalam jiwa. 

Di sinilah peradaban demi peradaban pernah berjaya. Di sini pula seorang panglima Islam yang telah membuatku terkesima berjuang dengan begitu menawan. Aku membayangkan seolah semuanya ada di depan mataku. Kapal-kapal kekhalifahan Ustmani yang mengarungi selat dengan layar-layar terkembang seumpama bukit yang menjulang ke langit, dan permadani-permadani aneka warna yang dijual di bawah atap melengkung. Bahkan dalam khayalan pun, semua itu terlihat indah.

Banyak orang yang pernah datang ke kota ini mengatakan jatuh cinta. Ada yang jatuh cinta pada orang-orangnya, pada panggilan shalat yang berpendar dari seribu masjidnya, pada sejarahnya, pada bangunan-bangunannya, dan pada laut yang mengelilinginya. Tidak sedikit pula yang mengatakan kota ini adalah kampung halaman mereka, meskipun baru berkunjung ke sini dua atau tiga kali saja. Demikian pula aku. Ini adalah kunjungan pertama, namun aku sudah merasa seperti di rumah sendiri. Bertahun-tahun lamanya aku bermimpi untuk menjejakkan kaki di kota ini, di negara ini, hingga akhirnya Allah mengabulkan impian tersebut.

“Hi. Ini pesanan Anda. Enjoy your meals.” Pelayan tadi datang lagi. Senyumnya merekah sambil menurunkan pesananku.

“Tesekkur ederim.” Aku berucap lirih. Tanpa sebuah senyuman.

Ia mengedipkan mata seraya menjawab, “Rica ederim.” Kemudian kembali berjalan menjauh.

Teh yang disajikan dalam gelas berbentuk tulip menarikku untuk segera menyeruputnya. Nikmat sekali bisa minum teh di tengah udara sedingin ini. Orang-orang di sekelilingku masih asik berbincang satu sama lain, terkadang terdengar tawa di antara mereka. Berbeda denganku, suhu seperti sekarang tentu sudah hangat bagi mereka, jadi kajet dan syal saja sudah cukup. 

“Halo. May I sit here?” sapaan ini membuat aku menengadah seketika.

Seorang gadis bertubuh jangkung telah tersenyum sangat lebar untukku. Tubuhnya terbalut overcoat berwarna biru donker dengan syal tebal berwarna merah muda melilit lehernya. Wajahnya yang manis terlihat kecil dan balutan hijab tebal berwarna tosca. 

Aku tersenyum, menunjuk kursi sebagai isyarat bahwa ia boleh duduk di sana. 

“Kakiku masih sakit. Tadi aku terpleset karena salju yang masih menumpuk di sisi-sisi jalan. Padahal sudah pakai sepatu musim dingin terbaik yang kupunya.” Tanpa basa-basi ia langsung saja bercerita. Tangannya sibuk memukul kecil kakinya yang terbungkus boot kulit tinggi mencapai lutut.

“Siapa namamu?” tanyaku tidak tertarik untuk menimpali ceritanya.

“Oh,” ia seperti baru sadar bahwa kami belum berkenalan. Tangannya yang terbungkus kaos berwarna merah muda dijulurkan, “I am Alena Muslimovic from Bosnia  and Herzegovina. Tepatnya aku tinggal di Sarajevo. Lain kali kau wajib datang ke sana.” Ia langsung memperkenalkan diri panjang. “Dan kamu?”

“Aku Elsa Zhanzabila from Indonesia.” Kataku.

“Just it is?” 

Aku mengernyit, memahami pertanyaannya. Dan oh, mungkin dia ingin sebuah perkenalan lengkap seperti yang sudah ia ucapkan sebelumnya. Mau tidak mau aku kembali memperkenalkan diri, “I am Elsa Zhanzabila from Indonesia. Tepatnya aku tinggal di pulau Bintan, sekitar 2 jam dari Singapura via ferry. Jika kau ingin melihat banyak pulau dan pantai yang indah, lain kali kau wajib datang ke sana.”

“Okay it’s perfect. Halo Elsa. Nice to meet you.”

Sesaat aku dibuat terheran-heran pada keramahan perempuan ini. Dalam hati aku sudah menyangka yang tidak-tidak. Bagaimana kalau dia ini seorang scam city? Kudengar banyak scam city yang berkeliaran di Istanbul. biasanya mereka akan mengincar turis dengan trik mengajak berkenalan.

“Halo.” Balasku pendek.

Alena segera melambaikan tangan pada seorang pelayan. Secangkir kopi Turki dan special baklava menjadi pilihannya. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan bersedekap, dan menatap ke arahku seolah ia sedang berpikir keras mengenai suatu hal. Meskipun sedang menunduk sambil memainkan gelas teh, aku tetap bisa merasakan kalau sedang diperhatikan.

“Selama aku hidup, kaulah satu-satunya orang Indonesia yang sangat tidak ramah yang pernah kutemui.” Ucapnya.

“Sorry?” aku mengkonfirmasi apa yang barusan ia ucapkan.

“Iya. Kau tidak ramah.” Katanya lagi seraya menganggukkan kepala. “Ayo, ceritakan padaku. Apa tujuanmu datang ke Istanbul? Kuperhatikan kau sedang dilanda masalah besar lalu melarikan diri ke sini. Berharap mendapatkan ketenangan. Benarkah?”

Aku tersenyum kecil. “Kau salah, Alena. Kedatanganku ke mari bukan untuk lari dari apa pun. Aku akan berkunjung ke suatu tempat di negara ini untuk sebuah alasan.”

“Ya, aku juga datang ke Istanbul karena suatu alasan. Make it clear, Elsa. Apa alasanmu? Hmm...” Ia berpikir sejenak. “Cinta? Benarkah? Kurasa itu.”

Ah, kuakui wanita ini memang pandai. Entah itu memang pandai mengamati orang lain atau ia hanya menerka, yang jelas apa yang ia katakan memang benar. Kuanggukkan kepala tanpa semangat, menunduk, melihat gelas teh.

Senyum lebar Alena merekah bersamaan dengan wajah tidak percayanya. “Oh, really? Kalau begitu biarkan aku ikut bersamamu.” Ia berkata seolah tanpa beban.

Tawaran Alena hanya kusahut dengan sebuah ejekan, “Kau gila.” 

Ia tertawa kecil dan baru berhenti ketika pelayan menyajikan menu yang sudah ia pesan. Setelah menyeruput kopi, ia kembali bicara, “Serius, Elsa. Biarkan aku ikut denganmu.”

“Tidak ada yang bisa menjamin kau tidak akan merepotkanku. Lagipula kita baru saja berkenalan. Siapa tahu kau seorang buronan internasional. Aku tidak mau dapat masalah hanya karena menerima permintaanmu itu.” Ucapku sungguh-sungguh.

Sepertinya Alena tidak main-main dengan ucapannya. Ia merogoh tas kulit berwarna hitam yang sejak tadi ia dudukkan di bawah kakinya. Tak berapa lama, ia sudah menggenggam sebuah dompet lalu mengeluarkan semua kartu yang menurutnya pantas untuk diperlihatkan. Kartu kependudukan, surat ijin mengemudi, paspor, empat buah ATM, dan dua buah kartu kredit, kini sudah berjejer di atas meja. 

“Kalau masih belum cukup juga, aku akan menunjukkan blog pribadiku agar kau percaya. Blog itu cukup terkenal di Bosnia sana. Dan aku juga perempuan bersih, sedikit pun tidak ada masalah dengan polisi. Setelah melihat keadaanmu dan mendengar tujuanmu datang ke negara ini, tiba-tiba aku tertarik untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Apakah kalian akan punya sebuah happy ending? Percayalah, aku tidak akan menyusahkanmu. Aku juga punya uang untuk membayar ongkosku sendiri. Dan... uhm, aku juga sedang butuh sebuah kesibukan saat ini. Okay, are we deal?” katanya sambil memungut kembali semua kartu yang sudah ia tunjukkan.

“Baiklah. Dan jangan pernah menyusahkanku. Jika kau mati di tengah perjalanan, jangan pernah berharap aku akan mengurus jenazahmu.”

Matanya membelalak. Namun kemudian ia tertawa, “Ucapanmu ngeri sekali. Kurasa kamu tidak punya banyak teman di dunia ini.”

“Jangan sok tahu.” Kataku lirih.

“Baik-baik.” Alena mengangkat kedua tangannya. “Kalau begitu, sekarang ceritakanlah. Bagaimana kau bisa berkenalan dengan lelaki itu?”

Aku menunduk semakin dalam. Jari-jariku sedang memegang potongan kiwi, tapi tidak berniat untuk memakannya. Perkenalan? Sebuah perkenalan yang tidak istimewa. Bahkan mungkin menurut kebanyakan orang, perkenalan ini akibat ulahku sendiri. Jadi nanti, bila aku menerima kenyataan pahit, aku tidak pernah punya alasan untuk menyalahkan siapa pun. Karena aku sendirilah yang mencari-cari jurang agar orang lain bisa mendorongku jatuh ke dalamnya, menemui kematian.

Sunday, 12 February 2017

Brosur Lembaga Tahfidzul Quran As Syifa Subang

Friday, 10 February 2017

NOVEL COVER WILL BE


Monday, 30 January 2017

Masakan Ibu

Ibu,
Mengapa waktu kebersamaan kita hanya ada di masa kecilku?
Mengapa seorang anak perempuan dewasa tidak bisa tinggal bersama ibunya setiap saat?

Ibu,
Dua hari ini aku sakit. Bahkan untuk bangkit dari tempat tidur rasanya payah. Seperti biasa, masa-masa sulit selalu menghadirkan kerinduan padamu. Jika aku di rumah, Ibu pasti sudah menungguiku, memijiti kepala dan tanganku, membuatkan sayur bening hangat, kemudian menyuapiku. Sekarang aku hanya bisa menangis saat meneleponmu. Orang-orang di kampung kita boleh saja berkesimpulan aku adalah wanita mandiri, bisa kemana-mana sendiri, tapi faktanya aku tak sekuat itu. Aku juga tak pandai menyimpan sendiri tiap kali aku sakit atau sedih. Setidaknya, mendengar suaramu dan Bapak yang khawatir di ujung telepon, mampu membuatku tenang, mengingatkan bahwa masih ada orang yang sangat peduli pada kesembuhanku.

Ibu,
Aku ingin sekali makan sayur bening atau sup sayuran buatanmu yang masih hangat. Sejak pagi tadi lidahku terasa pahit sekali, dan semua yang kumakan terasa hambar. Bahkan sejak tadi malam aku terus membayangkan, 'andai Ibu ada di sini'.

Ibu,
Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu. Tapi aku masih sungkan untuk membaginya denganmu. Perihal kekhawatiranmu dan Bapak akhir-akhir, sudahlah jangan lagi dipikirkan. Aku baik-baik saja dengan pilihan ini. Umurku masih 21, jadi katakanlah pada Bapak agar ia tak perlu risau urusan yang satu ini. Satu atau dua tahun lagi, sepertinya tidak akan begitu lama. Mengapa harus terburu-buru menetapkan pilihan, kan?

Semoga Ibu dan Bapak dianugerahi umur yang panjang. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat, cahaya, dan kasih sayang-Nya pada kalian.

Monday, 23 January 2017

Mengintip Kehidupan Wardatul Ula, Muslimah Asal Aceh yang Menempuh Studi di Turki



Sahabat Muslimah, mulai hari ini aku juga akan menulis kisah Muslimah baik Indonesia maupun dari negara-negara lain, yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua. Sebagai pembuka, inilah kisah pertama yang aku pilihkan dan ditulis khusus untukmu. InsyaAllah bermanfaat.

Wardatul Ula: Mahasiwi Asal Aceh yang Tengah Menempuh Studi di Tanah Ustmani
Namanya Wardatul Ula dan lebih senang dipanggil Lala. Bagi yang pernah membaca buku ketiga Hanum Rais ‘Berjalan di Atas Cahaya’, tentu sudah tidak asing lagi dengan gadis lahiran Aceh, 1 Januari 1992 ini. Selain pengalaman Hanum Rais sendiri, buku tersebut juga dilengkapi cerita oleh dua wanita lain, yaitu Tuti Amaliah yang bertahun-tahun tinggal di Vienna, dan Lala yang saat ini berkuliah di Turki. 

Jangan jadi Muslimah Nyebelin Teman Kosan hanya Karena 3 Hal Ini!



My dear Muslimah yang salihah, sejauh ini pernah nggak punya teman kosan, berhijab, tapi sifatnya ngeselin banget? Bisa jadi pernah, bisa jadi juga orang tersebut adalah dirimu sendiri. Jadi untuk mengetahui apakah dirimu subjek atau objek, yuk check the list bellow!



1. Ada Makhluk Ghaib yang Ikut Memakai Peralatanmu

Ini pasti sering dialami oleh kamu yang pernah/sedang tinggal bersama satu atau beberapa Muslimah dalam satu kamar, yang biasanya harus berbagi kamar mandi, meja rias, dan kulkas. Pernah nggak mendapati sabun mandi atau pasta gigimu habis dengan begitu cepatnya, padahal menurutmu, selama ini nggak menghabiskan sebanyak itu? Yah, semacam ada makhluk halus yang ikutan gosok gigi bareng kamu. 

Begitu juga dengan kosmetik seperti parfum, krim pelembab, dan lain-lain, kadang sampai bertanya-tanya, ‘Kok cepet banget habisnya?’. Bahkan kejadian serupa juga dialami makanan yang sudah dibuka dan disimpan dalam kulkas. Saat pertama dimasukkan, biskuit tim-tam mu berjumlah enam, besoknya tinggal lima. Hari ini kripikmu masih setengah plastik, dua hari kemudian tinggal seperempat.

Akhirnya kamu pun mengambil tindakan pencegahan, yaitu  membawa kotak sabunmu keluar kamar mandi, memasukkan kosmetik ke dalam lemari, dan tidak lagi menyimpan makanan yang sudah terbuka ke dalam kulkas. Kamu pun bertekad untuk pindah kamar di bulan atau tahun selanjutnya, karena itu tadi, ada makhluk yang diam-diam ‘nebeng’ tanpa modal sedikit pun. 

Bagaimana rasanya, nggak enak kan kalau barang-barang kita digerogoti diam-diam seperti itu? Pastinya sebel tingkat dewa. Sedihnya kamu nggak bisa negur temanmu langsung, karena nggak ada bukti sama sekali. Atau jika pun ada bukti, kamu pasti segan buat ngomong jujur. 

Nah, sekarang kamu sudah tahu kalau diperlakukan seperti itu nggak enak. Jadi aku harap kamu bukan Muslimah yang bisa menjelma ‘makhluk halus’ bagi teman kamarmu. Menjadi seorang Muslimah tidak hanya cukup dengan selembar hijab di kepala, melainkan juga harus belajar sedikit demi sedikit memperbaiki perilaku sehari-hari. Bayangkan seandainya teman kamarmu seorang Non Muslim. Ketika dia berkumpul dengan sesamanya, ia nggak hanya akan men-judge dirimu, melainkan juga agamamu. Itu sudah pasti. 

So, berlakulah jujur di mana pun dan kapan pun. Meskipun hanya satu kali olesan bedak, itu tetap saja mencuri. Jika kamu benar-benar dalam keadaan terdesak, misalnya kamu baru ingat kalau sabunmu habis padahal tubuhmu sudah disiram air, bolehlah kamu panggil temanmu dan katakan kamu ingin meminta sedikit sabunnya. Aku jamin dia nggak akan nolak. 


2. Di Belakang Pesonanya, Ada Joroknya!
 
Pernah nggak kamu satu kosan dengan Muslimah yang tenar banget di luar sana, disukai banyak orang, modis, wangi, tapi saat di kosan dia justru sebaliknya? Habis makan nggak pernah mau nyuci piring dan hanya ditumpuk di pinggir wastafel, nggak pernah mau bantu-bantu ngepel, dan nggak pernah mau buang sampah. Hanya saja untuk urusan pribadi, seperti pakaian dan lemari, dia ini selalu rapi plus perfeksionis. Pokoknya kalau dia show up di kampus atau kantor, nggak akan ada yang bisa menebak tabiat joroknya, yang mungkin, hanya Allah dan kamu yang tahu. 

Kamu pun menggerutu, “Huh mending juga aku, biar di luar dibilang kucel, nggak pinter dandan, nggak populer, tapi di kosan nggak pernah nyusahin orang. Kenapa sih mereka nggak pada tahu kelakuan buruknya?”

Nah, sekarang kita tukar posisi, kalau kamu merasa pernah berlaku seperti ini pada teman kosanmu, sebaiknya segera hentikan. Ingat, teman kosanmu bukan pembantu. Status kamu dan dia sama. Lagian apa susahnya mencuci piringmu sendiri begitu selesai makan? Semakin kamu menumpuknya, semakin kamu malas untuk mencuci. Ujung-ujungnya temanmu yang mencuci, karena saat dia ingin makan, nggak ada lagi piring bersih yang tersisa.

Jika kamu bisa tampil sempurna di luar sana, kenapa nggak bisa tampil sempurna untuk orang-orang terdekatmu? Okelah, mungkin kamu menganggap teman kosanmu bukan teman dekat. Tapi mau nggak mau, memang mereka orang-orang terdekatmu. Secara ikatan emosional bisalah dikatakan bukan, tapi secara fisik, setiap hari kamu hidup berdekatan dengan mereka. 

Hidup di kosan nggak bisa kamu samakan seperti hidup di rumah. Biasanya tabiat seperti ini dimiliki mereka yang terbiasa hidup enak, punya asisten rumah tangga, sehingga nggak pernah beres-beres rumah sejak kecil. Yang ia paham hanya trend mode, merek gadget terbaru, dan tren memakai hijab. Jadi begitu ngekos, ia masih belum bisa merubah kebiasaannya. 

Sekarang coba posisikan dirimu sebagai korban (si teman yang tersiksa itu), bagaimana rasanya kalau tiap hari harus mencuci piring yang nggak pernah kamu pakai? Ikut mencicipi makanannya juga kagak, eh kebagian bersih-bersih. So, it is the time for you to change your habbit. Muslimah yang baik itu nggak hanya berpenampilan baik di luar, namun juga pada orang-orang di sekitar.
Nah untuk kamu yang punya teman kamar sejenis ini, kamu bisa bicarakan baik-baik dengannya. Suruh aja dia mencuci piringnya dengan terang-terangan, jangan justru membicarakan dia di belakang. Aku sendiri pernah punya pengalaman dengan teman jenis ini, dan aku memilih untuk berkata jujur padanya. 

Alhamdulillah perlahan-lahan dia mau berubah. Membicarakan dia di belakang justru akan memperburuk keadaan. Nanti semua penghuni kosan akan mengucilkannya dan nggak berselang lama, dia pasti akan pindah kosan dan memutuskan tali silaturrahim denganmu. Itu bukan solusi yang baik.




3. Kepo Akut = Penggosip Kronis

Aku sempat punya teman kosan seorang Muslimah berhijab, namun juga ratu kepo sejagat. Kepo atau yang diartikan sebagai ‘terlalu ingin tahu’ memang punya dua nilai, positif dan negatif. Misalnya kepo ingin tahu apa aktivitas terbaru sahabat kita yang tinggal di kota berbeda, dengan cara obok-obok facebooknya, tentu ini bukan masalah. Tapi kalau kamu sudah masuk ke tahap kepo akut, ini baru masalah. Kamu selalu ingin tahu apa yang dikerjakan temanmu, dengan siapa dia pergi, apa yang setiap hari dia lakukan di kamar, apa isi diary-nya, bahkan ingin tahu harga setiap barang-barang yang ia beli seperti sepatu, tas, dan hijab.

Memangnya ada Muslimah yang kepo akut seperti ini?

Jawabannya ada. Seperti yang kubilang, aku pernah satu kosan dengan Muslimah jenis ini. Jangankan tentang aku yang tinggal satu atap dengannya, ia bahkan tahu merek plus harga sepatu teman-teman kelas. Saat ada sesuatu yang mencurigakan, misal kita baru saja pulang dari bepergian sendiri, ia akan bertamu kamar (padahal biasanya nggak pernah) kemudian menyodorkan pertanyaan paket komplit. 

Ia akan sedikit kecewa begitu tahu kenyataan kita hanya pergi menghadiri talk show di kampus. Why? Karena sebelumnya ia sudah berekspektasi akan memperoleh berita besar, misal kita pergi dengan lawan jenis. Itu akan jadi modal menggosip bersama teman-temannya yang satu spesies.

Percaya atau nggak, seorang kepo akut itu biasanya juga penggosip kronis. Ini adalah dua bad habbits yang nggak bisa dilepaskan. Keduanya ibarat hidung dan upil. Selagi masih ada hidung, maka upil akan selalu ada. Begitu juga sifat ini, selagi kamu masih kepo akut, maka hobi menggosip pun nggak bisa hilang. Tapi bukan berarti kamu harus buang hidung juga. It’s just a term.

Nah karena sekarang kamu sudah tahu kalau kepo akut itu nggak baik, then it is one of the black points you should to change too. Rasa ingin tahu itu memang naluriah, tapi kalau sudah masuk dalam area ‘terlalu mencampuri urusan orang lain’, inilah yang nggak baik. Bagimu mungkin hanya sekadar have fun, tapi kamu nggak pernah tahu betapa terganggunya teman satu kosanmu. 

Meskipun kalian menempati kamar yang sama, tetap ada privasi masing-masing yang tetap nggak boleh dicampuri. Misalnya kamu punya teman yang hobi menulis, maka sebaiknya jangan pernah kamu coba-coba untuk melihat apa yang ia tulis di laptop, kecuali jika ia yang meminta. Apalagi sampai ke hal-hal sensitif seperti buku harian. 

Oh, ini larangan keras! Jangan sekali-kali kamu membuka diary-nya. Bagiku, seorang yang membaca diary orang lain tanpa ijin itu sama saja dengan mencuri. Ini adalah tindakan paling memalukan yang benar-benar harus kamu jauhi. Sekali lagi, hargailah privasi teman kamar atau kosanmu. Selagi bisa jagalah aibnya, jangan justru kamu korek-korek lalu disebarkan ke teman-teman yang lain. Ini akan jadi bencana untuk hubungan kalian ke depannya. 


Epilog...

Jadilah teman yang baik, andai belum bisa, setidaknya sejauh ini kamu sudah berusaha dengan cara memperlakukan orang-orang di sekelilingmu dengan baik. Mungkin hari ini dia kesal saat kamu nasehati untuk mencuci piringnya, untuk nggak keluar hingga larut malam. Dia berkata pada teman-teman dekatnya bahwa kamu terlalu cerewet. Mungkin hari ini dia belum bisa melihat ketulusanmu, tapi percayalah suatu saat kelak, saat kalian berjauhan, ia akan paham betapa kamu adalah teman terbaiknya. 

Sebuah hubungan yang baik, apakah itu pertemanan, persahabatan, semuanya nggak bisa dipelajari di bangku pendidikan mana pun. Jika kamu ingin memiliki ilmu tentangnya, maka kamu harus terjun ke dalamnya. Itu hal biasa jika di bulan hingga tahun pertama ngekos atau tinggal di asrama, kamu mengalami banyak kejadian buruk bersama teman kamar. 

Aku juga pernah seperti itu. Bahkan saat di pesantren, aku sangat ahli dalam urusan membuat teman pindah kamar hingga pindah sekolah. Masalahnya sepele, aku terbawa kebiasaan selama di rumah yang nggak bisa lihat kotor-kotor. Hanya saja kala itu, aku belum tahu cara mengajak teman dengan benar. Justru aku cerita ke sana ke mari, dan berujung pada kehancuran hubungan kami.

Aku belajar banyak tentang memahami teman, tentang bagaimana hidup rukun dengan teman sekamar atau sekosan, adalah dengan menjalaninya langsung. Buku dan tips-tips dari orang lain tetap nggak bekerja dengan baik bila kamu nggak mencobanya sendiri. Sekarang semakin bertambahnya waktu, setelah bertahun-tahun kehidupan seperti itu kujalani, akhirnya aku paham rumusnya.

Benar kata Muhammad Ali, sang legenda tinju dunia itu, bahwa “Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything.” –Pertemanan adalah hal yang paling sulit dijelaskan di dunia ini. Ia bukanlah sesuatu yang kamu pelajari di sekolah. Tapi jika kamu belum pernah mempelajari makna pertemanan, kamu pasti belum pernah mempelajari apapun.

Jadi mulai sekarang, luruskan niat terlebih dahulu, selanjutnya teruslah berusaha melakukan yang terbaik. Jadilah Muslimah yang menenteramkan, baik itu di luar maupun bagi orang-orang terdekatmu.

Lots of Love
Sofia




Sunday, 22 January 2017

Hidup dan Kehidupan

Photo @muslliiime
Mereka bilang, tak ada yang perlu disesali. Tapi bagaimana jika aku menyesal? 

Mereka bilang, kau tak akan bertumbuh di zona nyaman. Tapi bagaimana jika hanya di sanalah aku mendapat kekuatan?

Dalam hidup, ada beberapa pilihan spontan yang ternyata mampu mengubah haluan hidupmu dalam sekejap. Demikian pula aku. Pagi ini, pagi kemaren, bahkan setiap waktu, aku merindukan sebuah pulau yang pernah kutinggali setahun lalu. Pulau Bintan. Entah itu karena di sana aku memiliki dua orang sepupu, atau memang ada ikatan batin antara aku dan pulau itu, yang jelas pulau itu selalu membuatku rindu.

Tepat di penghujung Oktober tahun lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun yang ke-21, tiba-tiba dalam satu malam aku memutuskan untuk meninggalkan pulau itu. Jika ditanya alasan, aku tidak mengerti dengan jelas. Bahkan hingga hari ini aku masih bingung. Padahal hari-hari sebelumnya, banyak sekali teman kerja yang mengajakku mencari pekerjaan di kota yang lebih besar, dan aku kukuh menolak. Kukatakan pada mereka bahwa di pulau inilah hidupku, di sinilah aku akan membangun impian, di sinilah aku akan menghabiskan umurku ke depannya.

Jika diingat-ingat kembali, Bintan adalah pulau yang menjadi saksi dimana aku menjalani hidup begitu bersemangat. Aku memulai hari dengan shalat malam, kemudian shalat Subuh, membaca Al Waqiah, beres-beres rumah, mendandani anak sepupu, kemudian berjalan kaki ke tempat penjemputan bis kantor, bekerja dengan teman-teman yang menyenangkan, pulang sambil membaca Al Waqiah di dalam bis, kembali beres-beres rumah, menyuapi dan memandikan anak sepupu, kemudian bermain bersamanya hingga malam. Begitu teratur. Terjadwal rapi. 

Di hari Minggu, aku dan seorang sepupu yang lain akan berbelanja ke pasar, kemudian kita masak bersama sambil bercerita tentang masa lalu. Terkadang kami main ke pantai, sekadar duduk untuk bercerita hingga sore. Atau di Minggu yang lain, aku ikut bersama sepupu dan pacarnya jalan-jalan ke luar kota. Tidak ada rasa segan karena mereka berdua sudah kuanggap adik. Rasanya hidup begitu menyenangkan meskipun jika diingat kembali, semua kenyataan di sana tidak lah mudah. Pekerjaanku enam bulan di sana bukan pekerjaan bergengsi yang bisa dibanggakan pada banyak orang, tapi kehangatan teman-teman, saudara-saudara yang baik, juga impian yang jelas, membuatku kuat, sangat kuat. Tiap hari aku bersyukur, tiap hari aku begitu optimis bahwa impianku tinggal selangkah lagi.

Tapi semuanya berubah dalam semalam, bahkan aku tidak paham kenapa aku bisa di sini? Kenapa hidup ini berganti begitu cepat? Sepanjang 21 tahun aku hidup, inilah fase-fase kehidupan yang benar-benar tak kumengerti. 

Di sini, kesempatan itu memang lebih banyak, bahkan aku sudah bisa memulai usaha. Tapi satu hal yang tak kumiliki adalah kekuatan. Aku tak lagi menemukan diriku yang bersemangat seperti dulu. Sebaliknya, setiap hari selalu didera ketakutan. Terkadang aku seperti dicengkeram rindu yang sangat menyiksa, ingin kembali pulang ke Bintan. Aku berusaha sekuat semampuku agar tidak menyesal, tapi kian hari terasa semakin menyakitkan.   

Entahlah, ada apa di balik skenario ini? Kenapa dalam satu malam semuanya bisa berganti? Kenapa Allah membawaku ke tempat ini dengan cara begini? Kenapa waktu itu aku harus datang ke sini di hari Rabu? Kenapa bukan esok harinya atau minggu depannya? Semoga ada hikmah yang lebih baik. Semoga Allah mengganti semua yang telah kutinggalkan dengan ganti yang lebih baik.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...