Friday, 20 January 2017

Kehilangan Jejak

Barusan aku membuka arsip percakapan lama kita di salah satu media sosial. Percakapan yang terjalin sejak beberapa tahun lalu, dan ternyata sudah banyak yang berubah. Pada beberapa hal, aku jadi malu karena waktu itu telah banyak mengarang pertanyaan. Kesannya seperti ingin mencari perhatian atau menciptakan pembicaraan antara kita. Kabar baiknya dulu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu kamu bisa memanggilku dengan panggilan akrab, bisa bertanya kabar, bisa datang menjenguk, bisa mengucapkan selamat ulang tahun, sementara sekarang tidak lagi. Aku sendiri tidak paham apa yang menyebabkan semua tak lagi sama.

Beberapa hal ada yang tak kupahami, tapi setelah aku berpikir panjang, aku mulai mengerti mengenai semua yang terjadi hari ini. Beberapa wanita hanya menanti kepastian, mungkin juga aku. Tahu kenapa? Karena kami berbeda dengan para lelaki. Bagi kalian, waktu adalah mendewasakan, sementara bagi kami adalah rangkaian kesempatan. Terlewat sedikit, semua bisa jadi terlambat. Meski semuanya adalah ketetapan Tuhan, tetap saja menanti yang tak pasti adalah penyiksaan, juga buang-buang waktu. Bagi beberapa wanita, kepastian itu bukan berarti harus dengan sebuah ikatan. Cukup bagimu dengan memberi sedikit keyakinan saja, bahwa yang kamu harapkan adalah dia, sehingga dia juga bisa menjaga hati untukmu. Sesederhana itu. Sehingga semua akan jadi lebih mudah. Bila tak ada kejelasan, itu akan menyulitkannya dalam melangkah, terlebih untuk menetapkan keputusan.

Tapi, lupakan saja. Lelaki yang baik adalah seperti apa yang kau lakukan hari ini. Dan aku menghargainya. Tidak ada yang salah atas setiap tindakanmu, juga tak ada yang perlu diperbaiki. Jika kamu tak menulis, itupun tak mengapa. Hanya saja faktanya, aku kesulitan memperoleh kabar tentangmu. Mencari ke sana-sini, meskipun aku paham itu sama sekali tak baik. Setidaknya aku menunjukkan bahwa aku peduli, peduli pada perasaan yang sejak awal kuputuskan untuk dipelihara. Hanya itu.

Wednesday, 18 January 2017

Seorang Teman Dekat

Terimakasih. Malam ini kamu membuatku bisa merasakan kehangatan seorang teman. Ternyata kamu juga sama dengan wanita sebaya kita kebanyakan. Entahlah, rasanya aku ikut bahagia tiap kali kamu menceritakan tentang sesuatu bernama perasaan. Tentang pembicaraan apapun bersama ibumu dan selalu berujung pertanyaan tentang 'siapa dia?'. Aku jadi ingin tertawa ketika ibumu memohon agar kamu sedikit merubah penampilan, atau sedikit memperhalus tutur bahasa. Lalu kamu pun selalu mencari seribu satu alasan untuk berkilah. Di saat cerita begini, aku seperti satu-satunya teman baikmu di dunia ini. Kau juga menyarankan agar aku kembali menjalin silaturrahim dengan semua orang yang pernah membantuku di masa lalu, beramah-tamah dengan mereka, terutama pada guru-guru.

Aku tidak melupakan mereka, tak satu pun, percayalah. Hanya saja aku punya kesulitan dalam menghadapi orang. Bahkan aku sendiri bingung bagaimana caranya menjalin sebuah komunikasi yang hangat. Jangankan pada mereka, pada nenek kakek saja aku canggung. Sudah beberapa kali aku berkonsultasi pada ahlinya, tapi tak satu pun paham bahwa aku dalam masalah. Jika aku bisa memilih, aku ingin jadi sepertimu yang akrab dengan siapa saja.

Kamu tahu, untuk sekadar berkunjung ke rumah tetangga, aku harus menunggu Ibu. Kenapa? Karena aku takut. Aku takut orang tidak mau bicara padaku, aku takut kehadiranku mengganggu, aku takut diacuhkan. Padahal aku sangat paham bahwa semua hanya dusta. Ketakutan ini hanya bermain dalam kepalaku saja. Kenyataannya, mereka selalu menanyakan tentangku pada bapak ibu, kapan aku pulang? Kenapa tak pernah berkunjung? Dan lain-lain.

Tiap kali berkenalan dengan orang asing, aku pasti mewanti-wanti sedini mungkin agar mereka paham kondisiku yang seperti ini. Mungkin semua sebab trauma di masa kecil. Kisah yang lumayan menyesakkan, bahkan aku menangis tiap kali mengenang. Biarlah bagian ini jadi ceritaku saja.

Dokter bilang, 'Ingatanmu tak mungkin bisa menjangkau masa kecil di umur 7 atau 8. Buktinya kau bisa lulus kuliah tanpa hambatan, berarti tidak ada masalah dengan komunikasi.' Ya, itu kata kebanyakan orang yang mengaku ahli di bidangnya. Mereka tak paham tentang ketakutanku setiap hari. Dan ini tak mudah. Soal ingatan yang tak mampu menjangkau, kata siapa? Aku bahkan ingat saat masih di ayunan, saat duduk di tengkuk Bapak, saat bicaraku belum lancar. Lalu sejak saat itu, aku jadi malas dengan orang-orang yang mengaku psikolog, dokter spesialis kejiwaan, atau sejenisnya.

Cukuplah dulu. Oh iya kini, aku sudah bisa menamaimu sebagai seorang teman dekat.

Tuesday, 17 January 2017

Bukan (Fiksi)

Langit sore ini tampak sangat gelap. Tak ada matahari dan cahaya kuning emas di ufuk Barat, karena sejak pagi mendung betah sekali menggantung di langit kota.

Aku yang saat ini tengah duduk di sebuah kursi panjang menghadap selat, hanya diam, menikmati senja yang nyeri. Kamu duduk di samping, juga tanpa suara.

"Apa yang kamu pikirkan?"tanyamu memecah hening.

Aku sedikit bergeming, tapi kemudian untuk beberapa menit ke depan, aku tetap kesulitan merangkai jawaban.

"Maaf. Mungkin aku memutuskan berhenti. Tak ada yang bisa diharapkan dari perasaan seperti ini. Kau tahu, ketika sebuah perasaan mampu dikalahkan oleh harga diri, maka tak akan ada lagi harapan. Seperti laut di depan kita, seperti itulah aku yang tak menyimpan harapan apa-apa lagi. Aku sudah tahu rasanya luka, kecewa, dan jika semua itu kembali terulang, aku akan merasa berdosa pada diri sendiri." Kataku pada akhirnya. "Aku mengasihani hatiku." Lanjutku lirih. Sungguh, detik ini aku hanya ingin menangis.

"Tak bisakah kau sedikit bertahan?"

Aku menggeleng. Kini kelopak mata terasa mulai basah.

"Bertahan untuk luka? Tidak. Aku tak mau lagi membaca kisah sendiri tentang luka dan kecewa. Butuh waktu lama untuk sembuh, dan sungguh, aku tak mau coba-coba lagi. Andai aku bisa jadi seperti mereka. Aku ingin sekali menganggapmu sebagai teman biasa, dengan begitu tak perlu ada beberapa hal bernama malu, canggung, atau menghindar. Andai tak ada sesuatu bernama perasaan, tentu semua akan lebih mudah untuk dijalani. Suatu perubahan itu harus dipaksa, dan mungkin sekarang saatnya untuk benar-benar memaksa berubah."

"Kenapa?" Kau bertanya dengan suara lirih.

"Seandainya pun aku ditakdirkan dengan pernikahan sebelah tangan, aku ingin lelaki itu yang mencintaiku. Bukan sebaliknya. Aku tak mau jadi tokoh yang berkorban. Bagaimana pun, lambat laun aku pasti akan jatuh hati padanya."

Kulihat kau tersenyum tipis, dipaksakan. "Maksud pertanyaanku tadi, kenapa kamu jadi seperti ini? Apakah ada sesuatu yang menyakiti?"

Aku menggeleng. "Tidak. Tapi ada sesuatu yang selama ini tak kupahami, dan sekarang, rasanya aku mulai paham. Selama ini aku salah sangka. Salah pemahaman. Karena kenyataannya, bukan aku alamat suratmu."

Sunday, 15 January 2017

Terimakasih, Putri Kecilku

Terimakasih karena kau pernah memberiku kesempatan untuk mengasuhmu sejak umur 3 bulan.

Terimakasih, waktu itu kau biarkan tangan ini memandikanmu, memakaikan pakaian indah, menyapu minyak dan bedak, kemudian mendandanimu.

Terimakasih, waktu itu kau biarkan matamu terlelap di tanganku.

Terimakasih, waktu itu kau bersedia makan dari suapanku.

Terimakasih, waktu itu kau telah merangkak sambil tertawa saat menyambutku pulang kerja, kemudian menangis saat kutinggalkan.

Terimakasih, telah membuatku tahu rasanya menjadi seorang ibu.

Aku jadi tahu apa itu khawatir ketika engkau tak kunjung bisa berjalan dan bicara. Ketika gigimu tak kunjung mau tumbuh.

Aku jadi tahu apa itu air mata ketika engkau sakit, jatuh, atau terluka.

Dan sekarang aku tahu, tahu sekali, bagaimana rasanya rindu ketika harus berjauhan denganmu.

Aku berharap aku punya kesempatan kedua untuk kembali tinggal di sisimu, bermain bersamamu, menggendongmu, mengangkatmu ke angkasa, menyaksikan kau menangis dan tertawa. Lalu waktu akan berlalu dengan indah...

Saturday, 14 January 2017

Niqab Sharing



A sister from Brooklyn. Credit to: @elamraniiman

Dulu, aku beranggapan bahwa para wanita yang mengenakan niqab di negara-negara seperti Indonesia, adalah wanita yang ngotot. Buat apa harus bersusah payah menutup wajah, belum lagi harus menerima pandangan sinis orang-orang, sementara hal itu tidak diwajibkan dalam Islam? Kenapa mereka tidak bisa ber-Islam dengan sederhana saja, tidak fanatik? Lihatlah, mereka justru menyusahkan diri sendiri. Di beberapa negara, seperti Prancis dan Belgia, niqab ini dilarang oleh negara. Tapi para Muslimah di sana tidak mau seketika menanggalkan niqab, sebaliknya mereka menggelar aksi agar niqab dilegalkan. Hey, girls, why you make these all become complicated? Islam is easy! If the goverment don’t allow you to wear niqab, then put it off! Quran and Hadist never ask you to cover all of your face and hands, right? Just wear the simple hijab, I mean you may take the big size of hijab and then let your face and hands be uncovered. 

Problem solved!

Ya, that was me! Ya, itu dulu!

Tapi, akhir-akhir ini, aku disadarkan oleh maraknya para Muslimah mualaf dari Eropa, Amerika, bahkan Rusia, yang memutuskan mengenakan niqab. Kita bisa lihat bagaimana cara Muslim di negara-negara Barat tersebut berdakwah di area publik. Mereka menyebarkan brosur tentang Islam, memberikan penjelasan kepada orang-orang di jalanan, bahkan menggelar ‘try to wear niqab’ bagi para wanita yang ingin menjajal bercadar. 


Kemudian di instagram, aku juga mengikuti beberapa Muslimah Barat yang bercadar (kebanyakan adalah para Mualaf), lalu memperoleh banyak pencerahan dari caption foto yang mereka bagikan. Kini aku mulai paham mengapa mereka begitu gigih mempertahankan niqab. 

Niqab adalah wujud kesempurnaan dari kepatuhan kepada Allah swt, dimana semakin teguh iman seseorang, maka semakin pula ia ingin menyempurnakan kepatuhan tersebut. Bagi seorang Muslimah, adakah yang lebih tinggi untuk dijadikan sebagai bukti kecintaan kepada Allah melebihi niqab? Jika aku ditanya tentang hal ini, jawabanku adalah tidak ada! Ketika seorang Muslimah telah mengenakan niqab, itu artinya ia benar-benar telah mengaplikasikan salah satu ikrarnya di setiap shalat, yaitu ‘Sesunggunya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan Penguasa Alam’ dengan sempurna.

Kenapa aku berpendapat seperti itu?

So look at me! Aku adalah Muslimah berhijab panjang, alhamdulillah. Tapi jika kamu memintaku untuk bercadar, bisa dipastikan aku harus berpikir dulu selama berminggu-minggu. Kenapa? 

Karena aku takut.

Aku takut orang-orang tidak bisa melihat senyumku lagi, wajahku lagi. Aku takut tidak bisa memamerkan make up lagi. Dan aku juga juga tidak bisa memakai aneka model gamis lagi. Kan sekarang lagi nge-trend gamis syari warna-warni, lucu-lucu, ditambah renda dan bunga-bunga. Nah, kalau aku bercadar, maka aku harus say good bye forever pada semua itu.

Jadi kesimpulannya, meski aku sudah berhijab panjang, apakah aku sudah terlepas dari yang namanya tabarruj? Kenyataanya belum. Aku masih ingin berdandan untuk menarik perhatian orang, masih ingin dipuji ‘aduhai, teduhnya wajahmu’, dan seterusnya. 

Tapi apa jadinya jika aku mengenakan niqab dengan pakaian keseharian berwarna gelap? Tentu semua itu tidak lagi bisa kudapatkan. Pada poin inilah aku bisa membuat kesimpulan, bahwa wanita yang benar-benar berniqab adalah wanita yang benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jala. Ia tidak lagi peduli pada pujian manusia, karena ridho Allah adalah segala baginya. 

“Bagaimana perasaanmu saat mengenakan ini?” seorang Muslimah asal Kuwait (berniqab) menanyai seorang wanita bule yang kini sudah berniqab rapat. Ini adalah pembicaraan di sebuah area publik, dimana Muslimah asal Kuwait ini mempersilakan siapa saja wanita yang ingin mencoba niqab.

“Liberated. Dengan pakaian seperti ini aku merasa orang-orang saat berbicara padaku, maka mereka akan fokus pada mataku, kemudian mereka akan mendengarkan dengan baik apa yang kukatakan. Tidak justru memperhatikan tubuh, kecantikan wajah, atau rambutku. It’s amazing!” 

Aku sendiri pernah merasakan seperti apa rasanya menjadi wanita berniqab, tepatnya ketika bekerja di perusahaan Jepang satu tahun lalu. Karena ruang kerjaku ada di lantai Clean Room, jadinya dituntut untuk mengenakan jump suit, hijab seperti ninja, dan masker, sehingga yang terlihat hanyalah mata. Begitu keseharian aku bekerja dan berinteraksi dengan rekan yang lain. Namun percayalah, kondisi pakaian yang seperti ini justru membuatku sangat nyaman. Saat sedang tidak begitu banyak kerjaan, terkadang aku bercerita panjang lebar bersama beberapa engineer and teknisi di sana. Aku bebas tertawa, mengeluarkan pendapat, dan sebagainya. 

Berbeda jika aku ada di luar. Mau bicara saja harus berpikir ratusan kali dulu. Why? Karena aku tidak begitu nyaman saat keseluruhan wajahku diperhatikan oleh lawan bicara. Kesimpulannya, aku lebih nyaman berkomunikasi ketika aku mengenakan masker dan hijab ninja. Rasanya lebih bebas dan tidak perlu terlalu pusing untuk bereskpresi. 

Di Indonesia sendiri, kuperhatikan, niqab sudah mulai memasuki era trend. Lihat saja beberapa waktu yang akan datang. Terbukti dari mulai maraknya toko online yang berjualan abaya dan gamis lebar yang dilengkapi cadar, bahkan beberapa toko online mulai meng-import design gamis longgar para Muslimah Prancis yang mengenakan niqab. Hanya saja, masih banyak juga masyarakat kita yang memandang niqab sebagai sesuatu yang aneh. Stempel ekstrimis, istri teroris, penculik bayi, dsb masih belum bisa hilang. Ini karena memang beberapa pelaku kriminal ada yang sengaja memanfaatkan niqab untuk menyembunyikan identitas mereka. But it is the reality that we can’t deny.

Aku sendiri, untuk saat ini, belum mengenakan niqab. Beberapa waktu lalu aku sempat mendatangi salah satu pesantren tahfidz Quran yang menurutku cukup berkualitas, tapi para wanitanya diharuskan berniqab. Bapak sempat memintaku untuk lanjut menghafal di pesantren ini nantinya setelah pengabdian, hanya saja aku masih berkilah sebab niqab tersebut.

“Apa yang salah dengan cadar?” tanya Bapak. Dan aku tidak bisa memberikan jawaban.

Tidak ada yang salah dengan cadar. Justru aku sangat menghormati para wanita yang sungguh-sungguh bercadar karena Allah ta’ala. Yang salah adalah imanku yang tak kunjung meningkat ini. Semoga Allah memperteguh iman kita, dan menjaga kita agar selalu beristiqomah di jaman akhir yang mengkhawatirkan seperti sekarang.

Bapak, tiap kali menelepon beberapa waktu terakhir, seringkali mengingatkan tentang kondisi umat saat ini. Memprihatinkan. Seperti kita sedang melakukan penyambutan untuk beberapa peristiwa besar di penghujung akhir jaman. Semoga Allah selalu melindungi kita, memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang kembali dengan hati ridha lagi diridhai-Nya. Semoga Allah selalu menjaga kelurusan niat di dalam hati kita. Memilih berhijab syari atau berniqab, semuanya kembali pada penilaian masing-masing. Allahummaj 'al khaira 'umrii wa khaira ‘amalii khawaatimahu wa khaira ayyaamii yauma liqaa ika.

Monday, 9 January 2017

Karena Kasihan?





“Di dunia ini, ada beberapa hati yang benar-benar tidak ingin disakiti, namun untuk membuatnya tersenyum, engkau justru akan melukai diri sendiri.”

Malam ini aku bertemu Alena. Kami duduk di sebuah cafe yang menghadap selat tempat kapal-kapal pesiar hilir mudik. Dari sini, kami bisa menyaksikan deretan lampu di seberang sana. Cahayanya yang jatuh di atas air menciptakan warna-warni menakjubkan.

Di atas meja, duduk dua gelas teh panas yang disajikan dalam gelas berbentuk tulip, dan dua piring dessert berbahan kacang almond menjadi pelengkap. 

“Ada apa, Mariam? Aku melihatmu murung sepanjang hari ini.” tanya Alena padaku.

Aku menggeleng, berusaha tersenyum. “Aku mengenal seorang lelaki, Alena. Dia temanku semasa sekolah dasar. Seorang mualaf. Dulunya dia beragama Budha, dan alhamdulillah sekitar 3 tahun lalu ia memutuskan ber-Islam. Keluargaku tahu tentangnya, karena memang rumah kita tidak begitu jauh. Dulu, semasa ia belum Muslim, saat liburan akhir semester yang bertepatan dengan Idul Fitri, biasanya kami sama-sama pulang. Dan meskipun ia bukan Muslim, ia selalu menemaniku silaturrahim ke rumah guru-guru kami dulu. Ia sering bertanya padaku tentang Islam, dan aku menjawab berdasarkan apa yang kutahu.  Lalu, ketika ia menelepon dengan pembukaan sebuah salam, air mataku hampir saja menetes. Ada keharuan yang tiba-tiba datang. Tapi setelah itu, kami jarang berkomunikasi. Ia fokus dengan kuliahnya, dan aku fokus dengan kuliahku. Hingga kami sama-sama berhasil menyelesaikan pendidikan satu tahun lalu.” Aku mengambil jeda. Pandanganku yang pias tertuju pada selat yang berubah menyedihkan—di mataku.

“Lalu?” Alena mulai tidak sabar.

“Satu tahun terakhir kami kembali menjalin komunikasi. Meskipun aku tak pernah memberikan balasan panjang atau perhatian lebih dalam setiap komunikasi kami, tapi aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Hingga malam tadi semuanya terjawab. Awalnya hanya bermula dari pertanyaan kecilnya, ‘Kapan kamu menikah?’. Tapi kemudian pertanyaan itu justru berujung ia yang berterus terang. Ia mengaku mengharapkanku. Katanya agar bisa menguatkan Islam-nya. Tapi jika tidak berjodoh, dia akan mengikhlaskan.”

Mata Alena membesar. “Kau sungguh-sungguh, Mariam?”

Aku mengangguk.

“Lalu kau jawab bagaimana?” tanya Alena lagi.

Sejenak aku diam. Akhir-akhir ini aku dibingungkan oleh tawaran-tawaran yang aku sendiri tidak mengerti cara menanggapinya. Baru saja beberapa hari lalu, saat perjalanan menuju kota ini, seorang teman Ayah menawarkan apakah aku tertarik dengan putranya. Artinya sudah dua orang teman dekat Ayah yang menawarkan sebuah ikatan keluarga. Tapi lagi-lagi, aku tak bisa membuat keputusan tegas. Kini aku paham betapa rumit menjadi seorang wanita usianya mulai merangkak di atas kepala dua.

“Sulit, Alena. Di satu sisi hatiku sama sekali tidak tersentuh olehnya. Dia hanya kuanggap sebagai seorang teman. Namun di sisi lain, aku kasihan padanya.”

“Kalau begitu katakan padanya dengan tegas, bahwa dia tidak boleh mengharapkanmu lagi!” Kini Alena memberikan sebuah saran dengan serius.

“Kenapa?” Aku tidak mengerti.

Alena mendekap kedua tanganku, “Mariam sayang, kau tidak boleh menerima seseorang karena kasihan. Hubungan seperti itu justru akan menyiksa dirimu dan dirinya. Percayalah. Pernikahan bukan perkara main-main—yang apabila kau tak suka—kau bisa mengakhiri dengan mudah. Aku dan Ahmet menikah karena kami saling mencintai. Karena itu pula kami sanggup menghadapi segala macam ujian dalam rumah tangga. Jika kamu menerima dia karena kasihan, maka hubungan kalian selanjutnya akan mudah diruntuhkan. Kau tahu kenapa? Karena kau tidak punya cinta sebagai pondasinya!”

Aku tertunduk. Sungguh, aku sendiri tidak menyukai diriku yang seperti ini. Sejauh ini teman-teman mengenalku sebagai seseorang yang mudah kasihan, tidak tegaan, hingga seringkali mengorbankan kebahagiaan sendiri demi kebahagiaan orang lain. Aku benci diriku yang tidak mampu tegas.

“Kau benar, Alena.” Ucapku lirih.

Air mataku kini sudah hampir luruh. Inilah yang paling aku takutkan. Inilah kenapa sejak awal aku selalu tidak mau memberi kesempatan. Inilah kenapa aku pilih menghindar. Karena ternyata di dunia ini ada beberapa hati yang benar-benar tidak ingin disakiti, namun untuk membuatnya tersenyum, engkau justru akan melukai diri sendiri.

Friday, 6 January 2017

...

Sahabatku, bisakah kau bantu aku mengurangi penyesalan yang kian hari kian pekat? Bisakah kau bantu aku menuntaskan rindu yang kian hari kian sesak?

Aku rindu padamu, pada anak yang sudah seperti anakku, pada kakakmu, pada sahabat-sahabat kita yang setia. Kini aku baru tahu, aku sama sekali hancur jika tanpa orang-orang seperti kalian di sekelilingku. Pada air mata yang jatuh di setiap malamnya, pada pundak yang sakit di setiap kewajiban dan beban yang semakin bertambah, pada teman yang bahkan tak sudi melihat bahwa ada aku di sampingnya, pada tempat yang menyimpan cerita masa lalu, sungguh--detik ini--aku merasa muak!

Aku ingin pulang saja. Seperti aku menyerah pada perjuangan yang belum dimulai. Tapi apa lagi harapan bagi sebuah hati yang rapuh? Apa lagi harapan untuk waktu yang terasa begitu enggan bergerak maju? Jika dulu bersamamu, satu tahun seperti satu hari, maka ini satu hari adalah seperti satu tahun.

Mungkin ini hukuman. Bagiku. Yang katanya tak pandai bersyukur. Mungkin ini adzab, karena aku pernah pergi seketika, meninggalkan semua janji kita.

Sahabatku, ayolah kita pulang bersama. Aku lelah sendirian di tanah orang. Akhir-akhir ini ketakutan seperti terus mencengkeram ubun-ubunku. Rasanya kampung halaman jauh lebih menenteramkan. Atau, aku bisa kembali di dekatmu, kemudian semua kepedihan ini akan usai.

Kini semua di depanku adalah gelap. Di sekelilingku adalah singa yang tinggal menunggu waktu, untuk menghabisiku tanpa sisa. Aku gelap. Benar-benar gelap.

Kemaren di pelabuhan, orang tua kita mengantarkan kami yang sama-sama akan berangkat, aku dan kakakmu. Aku yang akan menuju kota hantu ini, dan kakakmu yang akan menuju kotamu yang bercahaya. Kau tahu, dua kota ini berlawanan arah. Satu ke Timur, dan satu ke Barat. Rasanya, waktu itu, aku ingin ikut kakakmu saja. Lalu di sepanjang perjalanan itu kami akan bercerita, tertawa, sedih, atau menangis bersama. Maka hidup ini akan berlalu dengan indah.

Jika aku mengatakan padamu, aku suka dengan kesendirian. Ketahuilah itu adalah dusta. Pada kenyataannya, sepanjang jalanku yang sendiri itu, aku dihantui oleh cemas dan takut. Kota ini menakutkan, menyakitkan! Dan aku seperti menunggu kematian!

Sahabatku, bantulah aku dengan doamu, semoga waktu bisa melaju. Semoga Tuhan mendekatkan kita dengan pertemuan dan kebersamaan. Semoga kita bisa segera belanja bahan-bahan dapur bersama, ke pantai dan duduk bersama, pulang kampung bersama, dan apapun bersama.

Aku lelah. Sungguh lelah. Aku lelah pada semua permainan. Kau boleh bilang aku menyerah. Tapi inilah aku yang tak setegar terlihat. Inilah aku yang pesimis dan tak bisa jalan beriringan dengan mereka, dengan mereka yang angkuh dan ingin menang sendiri. Aku tak dibesarkan dengan ambisi agar tampak unggul dari yang lain. Aku tak pernah diajari untuk pura-pura bisa segala, padahal hanya tahu satu. Aku lebih suka kalian, kamu dan teman-teman kita di sana, yang setara, yang berjalan bersama, yang apa adanya.

Tapi sudahlah. Untuk apa menyesal? Takdir yang membawaku ke kota hantu adalah takdir-Nya. Mungkin ada hikmah yang belum kulihat wajahnya. Mungkin Tuhan punya sesuatu untukku. Mungkin...

Thursday, 5 January 2017

Sebuah Penyelesaian




Ini adalah kali kedua aku menulis tentangmu. Semoga kamu membaca yang pertama. Aku sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba malam ini aku teringat tentangmu, kemudian berniat untuk membuat sebuah penyelesaian yang melegakan tentang kita. Aku berharap, di sana, secara diam-diam, kamu tetap rajin berkunjung ke halaman ini dan membaca tulisanku.

Untukmu, percayalah aku sangat menghargai setiap perasaan yang dihadiahkan untukku. Sekecil apapun itu, terlebih yang besar dan istimewa. Aku tidak pernah melupakan setiap nama yang singgah dalam hidupku, tentu saja nama-nama yang memiliki niat tulus padaku. Di sini, meski hati tak bisa membersamaimu, aku selalu berdoa untukmu, untuk semua nama-nama itu. Aku mendoakan kalian, yang terbaik untuk kalian, untukmu juga. 

Aku masih mengingat tiga hari kebersamaan kita di masa training pembekalan sebelum kita dibagi di departemen masing-masing. Bukankah waktu itu kita duduk bersebelahan? Yang kusimpulkan dari tiga hari itu adalah dirimu yang sopan, selalu shalat tepat waktu, dan ramah. Hmm... meskipun bisa dikatakan kamu pemalu sekali, mungkin itu hanya berlaku untukku. Buktinya, salah satu teman kita sering bercerita tentangmu yang periang, yang tidak pernah kehabisan cerita, yang selalu melontarkan gurauan garing—namun justru itulah yang membuatnya tertawa geli.

Aku juga masih ingat saat bulan-bulan pertama perkenalan, kamu ingin bermain ke rumahku. Waktu itu aku berbohong. Kukatakan padamu bahwa aku harus menemani sepupu keluar kota, mungkin kamu bisa datang ke rumah di lain waktu. Justru aku menyarankan kamu untuk berkunjung ke rumah teman-teman perempuan yang lain. Sekarang kau tahu kan betapa aku tidak peka? Sungguh, waktu itu aku belum bisa menangkap maksudmu. Aku beranggapan kamu menilai sama diriku dan teman-teman perempuan lain. Yang perlu kamu tahu, waktu itu, dan peristiwa seperti ini acapkali berulang, adalah tentang ketakutanku untuk memberikan kesempatan. Sejauh ini, aku sengaja menutup pintu rumahku, dan hanya membuka bagi ia yang sejak awal sudah menyentuh hatiku saja. Aku kesulitan menerima saran teman-teman untuk membuka kesempatan bagi yang lain, untuk coba-coba dulu. Tidak, aku bukan tipe seperti itu. Bagiku, jika di awal aku tidak menemukan sesuatu yang menyentuh hati, maka itu tetap tidak akan ditemukan di waktu selanjutnya.

Aku adalah seseorang yang jujur, termasuk dalam hal menulis. Aku tak begitu suka dengan gaya bahasa yang membuat orang lain pusing menerjemahkan. Bagiku, menulis itu adalah sebuah kejujuran. Jadi, meskipun aku menciptakan setting di negeri antah berantah, tetap saja isi tulisan tersebut adalah kejujuran. Dan mengenai dirimu, kutegaskan di sini, bahwa bukan berarti dirimu tidak baik. Tidak sama sekali. Justru teman-teman kita selalu memuji-mujimu. Mereka semangat sekali menyatukan kita. Tapi bagaimana lagi, aku sudah berusaha menuruti nasehat mereka. Aku sudah berusaha membangun komunikasi dengan membalas semua pesan singkatmu. Hanya saja, hingga pada detik paling akhir, semuanya tetap tak berhasil. Pada titik itu pula, aku mampu membuat sebuah kesimpulan, bahwa hati setiap manusia bukanlah milik mereka. Bukti paling nyata adalah ketika akal kita menghendaki untuk mencintai seseorang, namun hati tetap kokoh menolak.

Biarpun begitu, hingga detik ini, aku masih ingat saat jam makan siang dan kita saling melihat meski terpisah beberapa baris meja. Aku masih ingat warna botol minummu. Aku juga masih ingat siapa teman-temanmu. Di ujung sana, kau selalu makan dengan kepala menunduk. Sesekali kau bicara dengan teman-temanmu. Sesekali kau melihat ke arahku. Pada mulanya, aku sama sekali tak tahu kalau kau sering melihat ke mejaku, hingga akhirnya seorang teman memberi tahu. Dan sejak itu, aku mulai memperhatikan dari kejauhan.

Aku juga masih ingat saat sesekali kamu turun ke ruang kerjaku di lantai bawah untuk instalasi sistem jaringan di perangkat baru. Kadang, aku sengaja segera keluar. Kau tahu, seluruh teman-teman satu ruang kerjaku selalu menyebut-nyebut namamu. Bahkan salah satu engineer di ruanganku membuat sebuah nyanyian yang isinya adalah namamu.

Baiklah, semua itu telah tertinggal di masa lalu. Pada akhirnya, aku telah menghapus satu-satunya media komunikasi kita. Rasanya tidak baik jika kita mempertahankan komunikasi, meski hanya sebuah komunikasi antar teman. Semua justru akan menyulitkanmu untuk melangkah dan mengambil keputusan. Akan lebih baik apabila kamu tak tahu kabar tentangku. Dengan begitu semua akan jadi lebih mudah.

Dulu kamu sempat menceritakan impian untuk membuka sebuah usaha di bidang pertanian atau peternakan, kan? Meskipun saat itu aku tertawa mendengarnya, bagaimana mungkin seorang anak teknik memiliki mimpi menjadi petani atau peternak? 

Kurasa kau hanya mencari bahan pembicaraan. Bahkan kau sampai mencari-cari informasi tentang kampusku. Soal usaha, wujudkan lah itu. Waktu itu kau juga sempat meminta pendapatku untuk memilih, kira-kira usaha apa yang sebaiknya dimulai dalam waktu dekat. Tapi hingga detik ini, aku masih belum menemukan jawaban. 

Saranku, sebaiknya kau jangan terlalu banyak berpikir. Jika ingin memulai usaha, maka mulailah. Selebihnya kau bisa menyempurnakan sambil jalan. Tidak ada yang tiba-tiba sempurna, semua butuh proses. Jadi, tak apalah bersakit-sakit di awal. Itu hal biasa. Yang kau butuhkan hanyalah tekad, niat, dan keteguhan hati. Satu lagi, semoga kau tak pernah melupakan Tuhan. Seperti yang pernah kuucapkan padamu dulu, sebaiknya kau tetap rajin bersedekah. Hal itu akan membantumu mendapatkan rejeki yang berkah. Kau tahu apa perbedaan antara rejeki yang berkah dan yang tidak? Rejeki yang berkah itu akan cukup memenuhi semua kebutuhan meskipun jumlahnya sedikit. Sebaliknya, rejeki yang tidak berkah akan selalu tidak cukup meskipun jumlahnya besar.

Baiklah, tulisan ini jadi sangat panjang. Semoga hidupmu selalu berbahagia dan dilimpahi keberkahan. Di sini aku selalu mendoakanmu, doa untuk seorang saudara yang istimewa. Semoga enam bulan kebersamaan kita tetap akan dikenang sebagai kenangan yang baik, tidak menyisakan luka ataupun kekecewaan. Tenang saja, semua takdir manusia sudah ditulis di sebuah kitab yang terpelihara. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan.

Istanbul


Sunday, 1 January 2017

(Cerpen) Kisah Cinta dari Andalusia


Hari sudah merangkak menjelang siang. Saat seorang laki-laki duduk di atas kuda putih kesayangan sambil menyusuri jalanan berkerikil di antara kebun anggur yang subur. Namanya, Ahmad Abu Walid. Seorang pengembara yang tidak jelas asal usulnya. Ia berkelana dari desa satu ke desa lain, dari negeri satu ke negeri lain. 

Laki-laki itu mengenakan topi terbuat dari sorban yang melilit di kepala. Soal rupa, usah ditanya. Hampir tidak terlihat bentuk hidung dan bibirnya karena tertutup jambang yang sangat semak dan tak terawat. Dua-tiga orang yang berpapasan selalu menatap aneh hingga kepala mereka memutar ke belakang. Ada khawatir yang menggelayut di hati para penduduk itu, takut laki-laki itu penyamun, orang jahat, atau apalah.

Ahmad Abu Walid, dibalik topi yang sudah tidak jelas warna aslinya itu ia menatap hamparan desa baru yang membentang indah di depan. Belum pernah ia memasuki sebuah desa sesegar ini. Rambatan anggur dengan buahnya yang segar bergelayutan. Petani-petani dengan pakaian indah memetik buah-buah yang telah masak, mengumpulkan ke dalam keranjang-keranjang rotan. Ia membiarkan kudanya berjalan lambat, berirama pada setiap langkah yang menapak di atas kerikil.

Kuda putih yang ia tumpangi berhenti, tentu saja atas perintah laki-laki yang menjadi tuannya. Seorang gadis memanggil-manggil. Laki-laki itu memperhatikan dari balik topi. Gadis dengan baju lusuh penuh tambalan. Topi lebar yang ia pakai pun sobek di sana sini. Wajahnya dipenuhi penyakit kulit yang memberikan kesan buruk rupa.
“Tuan, saya menjual susu domba segar. Sudikah tuan membelinya?” Tawar gadis itu sambil menunjukkan keranjang yang hanya dipenuhi lima botol susu.
Lama laki-laki menjawab. Sengaja membuat gadis itu menunggu.
“Saya akan membeli semuanya.” Ucap laki-laki itu yang membuat gadis penjual susu terperanjat kaget sekaligus bahagia. Segera ia memasukkan lima botol susu miliknya ke dalam kantung dari kulit domba, lalu menyerahkan kepada pembeli yang duduk di atas kuda. Sebagai imbalan, gadis itu menerima sepuluh keping uang Andalusia.
Laki-laki itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan sang gadis yang memandang hingga hilang di kejauhan. Kini ia memasuki kawasan rumah-rumah penduduk desa itu. Rumah-rumah yang begitu indah dengan bunga-bunga bugenvil aneka warna yang berbunga lebat. Masing-masing rumah juga memiliki kereta kuda.

“Keindahan yang sungguh memikat.” Ucapnya tidak mampu menyembunyikan kekaguman. Ia sudah singgah di banyak negeri, melihat puluhan kastil, namun tak ada yang terlihat sesempurna ini di matanya. Di tengah kesibukan mengagumi rumah-rumah itu, sebuah kereta kuda berlalu di sampingnya. Laki-laki itu mengalihkan perhatian, mengamati wajah samar di balik tirai tipis yang terpasang di jendela kereta kuda. Wajah seorang wanita jelita. Dengan kesal laki-laki itu menghempaskan tangan di atas kepala kudanya, hingga hewan itu meringkik, karena ia tak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Meskipun begitu ia tetap duduk diam di atas kudanya, memandangi kereta kuda yang membawa si jelita hingga hilang di ujung pandangan.

Laki-laki itu tetap berjiwa pengelana. Walau desa indah itu sempurna memikat hati, ia tetap melanjutkan perjalanan. Malam harinya ia sudah berada beratus-ratus kilo dari desa indah yang ada di Andaluasia. Ia menyewa kamar dengan harga murah, sekadar untuk istirahat lalu besok kembali menyusuri jalan-jalan yang berdebu di musim panas. Ahmad baru memejamkan mata beberapa puluh menit ketika sebuah mimpi singgah dalam lelapnya. Ia melihat seorang gadis dengan kecantikan seperti para peri. Kecantikan tiada bandingan dan terlihat sangat jelas. Mata bulat bercahaya, alis hitam yang terlukis sempurna, dagu menggantung, dan bentuk wajah berbentuk bulat telur. Wanita itu juga mengenakan selendang di atas rambut, menciptakan sihir yang tidak terceritakan. “Aku di sini untuk melengkapimu, Tuan Ahmad Abu Walid.” ucap wanita itu seraya tersenyum.  Anehnya, laki-laki itu seolah tak punya suara untuk sekedar menanyakan nama si gadis. Hingga ia perlahan hilang bersama kabut yang semakin mengecil. Sambil menggapai-gapai, ia terus memanggil-manggil si gadis hingga terbangun dari mimpi. 

Mimpi yang membuatnya gundah. Wajah gadis itu masih tersisa jelas, juga suaranya yang terus terdengar. Ahmad keluar dari kamar sempit, menaiki kuda menuju puncak bebatuan. Ia pandangi malam dengan kerlip lampu desa-desa di bawah sana sambil mencoba melupakan wajah si gadis dalam mimpi. 

Pagi-pagi sekali Ahmad sudah jauh meninggalkan desa tempatnya bermalam. Begitu terus, hingga waktu membawanya ke musim panas kembali. Ia sudah memiliki uang cukup banyak di kantung, hasil dari bekerja di toko sepatu milik orang Moor. Ia bisa menggunakan uang itu untuk lima bulan perjalanan. Tapi, entah mengapa. Sejak ia melihat gadis jelita dalam mimpinya, laki-laki itu menjadi aneh. Ia memiliki kesenangan untuk selalu menatap malam, merenungkan banyak hal. Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada gadis yang datang dalam tidurnya? Begitukah yang dilakukan setiap laki-laki apabila mereka sedang merindukan wanita pujaannya?

Entah mengapa pula, musim panas membawa angin rindu dari desa indah yang tertinggal begitu jauh di belakang. Meski sudah berulang kali mencoba menahan kata hati yang mendesak-desak, pada akhirnya Ahmad menyerah. Firasat mengatakan bahwa gadis jelita yang ada dalam mimpinya adalah gadis yang ada di balik tirai kereta kuda yang pernah ia lihat. Mungkin ini petunjuk Tuhan.

Jadilah, walau sudah beratus-ratus kilometer desa itu tertinggal di belakang. Laki-laki itu memutuskan memutar arah. Sama seperti pertama kali datang, ia tetap bersama kuda putih kesayangan. Tapi sekarang, pakaian yang ia kenakan tak sekusam dulu. Ia membeli beberapa pakaian di tengah perjalanan. Cinta membuatnya ingin terlihat lebih baik. Walau ia tak tahu, apakah cinta itu memang ada di desa yang kini didatanginya untuk kedua kali. Tak ada perubahan pada desa itu, tidak seperti dirinya yang sedikit mau berubah. Begitu juga dengan penduduk yang berpapasan dengannya. Mereka tak sekali pun mau tersenyum. Mungkin karena wajah laki-laki itu masih menyeramkan. Tapi mereka tak lagi memandangi hingga wajah mereka memutar ke belakang. Hey, itu sebuah perubahan.
“Tuan! Tuan dengan kuda putih!”
Ahmad menghentikan kudanya, masih di tempat yang sama seperti setahun yang lalu, tempat ia membeli lima botol susu domba. Laki-laki itu menunggu sang gadis mendekati kudanya sambil mengamati dari balik topi. Mencari perubahan. 

Sayang, tak ada perubahan sama sekali. Tak ada sedikit pun, gadis itu tetap berpakaian kumal dan memiliki wajah yang buruk, hal itu membuat Ahmad kecewa. Seharusnya setiap orang akan lebih baik dari waktu ke waktu.
“Saya senang Tuan kembali ke desa ini. Sudikah Tuan membeli susu-susu domba ini?” Tawar sang gadis buruk rupa sambil memperlihatkan botol-botol susu yang kini berpuluh-puluh jumlahnya. Sang laki-laki tersenyum di balik jambang lebat. Peningkatan jumlah botol susu? Hey, ini sebuah perubahan.
“Tentu saja. Saya akan membeli semuanya” Ia berseru, membuat si gadis begitu senang. Dengan cepat ia membungkus botol-botol susu dan menyerahkan kepada Ahmad. Sebagai imbalan, laki-laki itu memberi sekantung uang Andalusia.
“Ini terlalu banyak, Tuan.”
“Ambil saja.” Kata sang laki-laki lalu segera memacu kudanya berlari kencang.
“Tuan! Boleh saya mengetahui nama Anda?!!!” Teriak sang gadis.
“Ahmad Abu Walid!!!” Jawabnya terdengar samar bersama kepulan debu.
Tujuan laki-laki itu datang kembali ke desa ini belumlah terpenuhi, karena itu ia memacu cepat kudanya menuju rumah-rumah penduduk yang semakin indah, berharap bisa melihat wajah gadis jelita yang ada di dalam kereta setahun lalu. Ia menunggu di atas kudanya yang diam, mengamati setiap kereta kuda yang lewat.

Namun hingga matahari mulai merendah ke Barat, yang dinanti tak kunjung menampakkan wajah. Ia tak kecewa, terus setia menanti. Tak beberapa lama, ia melihat sosok gadis itu. Bukan lagi di dalam kereta kuda, melainkan di depan sebuah rumah. Ia terlihat begitu anggun dari kejauhan. Semakin yakinlah laki-laki itu bahwa si gadis jelita yang hadir dalam mimpinya adalah gadis yang kini dilihatnya. Gadis itu membawa keranjang di tangan lalu memetik beberapa buah apel yang merah di halaman rumah. Baru saja Ahmad berniat turun dari kuda untuk mengajak gadis itu berkenalan, si gadis sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Dan niat itu pun urung ia lakukan.  

Saat langit Barat mulai menyemburkan warna merah, Ahmad kembali melanjutkan perjalanan. Pertemuan tadi sudah cukup sebagai bekal hingga kunjungan tahun depan. Melihat sekilas sosok gadis itu sudah cukup baginya sebagai teman perjalanan. Kali ini tidak ada lagi cerita tentang perjalanan jauh, juga tidak ada negeri-negeri baru yang sangat ingin ia lihat, karena Ahmad sudah bertekad akan bekerja keras, mengumpulkan uang, membangun rumah indah lalu melamar gadis pujaannya. 

Sejak hari itu, ia memulai usaha sebagai penjual pakaian. Satu bulan pertama, usahanya masih biasa saja. Dua bulan kemudian, ia mulai memikirkan ide-ide baru untuk desain pakaian yang dijual. Karena pengalamannya bekerja di toko sepatu, kini pada bulan keempat usaha pakaian itu sudah begitu maju. Apalagi ia pandai berbicara dalam berbagai bahasa negeri lain, semakin banyaklah pembeli yang mendatangi tokonya. Para pembeli itu berasal dari kalangan bangsawan dan orang-orang istana. 

Memasuki bulan kesepuluh, nama laki-laki itu terkenal di seluruh pelosok negeri. Kekayaan yang dimiliki tak ternilai jumlahnya. Ia sudah membangun rumah yang memiliki keindahan mengalahkan istana yang ada di negerinya. Meskipun di tengah kesibukan mengurusi usaha pakaian, ia tetaplah merasa sepi. Setiap malam matanya tertuju pada langit gelap, berbintang, bulan sabit, hingga bulan penuh. Menghitung hari agar cepat sampai pada musim panas. Hingga akhirnya, waktu membawa Ahmad kembali pada kunjungan ketiga di desa yang sudah memikat hatinya. Ia sudah menyiapkan semua yang harus disiapkan.

Hari sedang merangkak mendekati siang saat itu. Saat seorang laki-laki duduk di atas kuda putih kesayangannya. Soal rupa, tidak usah ditanya. Wajahnya sungguh tampan tanpa jambang semak seperti dulu. Pakaiannya indah tiada tara, ia lebih memesona dari pangeran-pangeran yang dimiliki seluruh negeri. Setiap penduduk yang berpapasan dengannya pasti tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala, memberi penghormatan. Dialah Ahmad Abu Walid.

Ahmad berhenti, masih di tempat yang sama sepeti setahun dan dua tahun yang lalu. Tempat ia membeli susu domba kepada seorang gadis buruk rupa. Tapi, kali ini laki-laki itu berhenti tanpa panggilan dari sang gadis. Ia berhenti karena merasa seperti ada yang tidak sempurna pada kunjungannya kali ini. Ia diam di atas kuda, menunggu sang gadis penjual susu datang. Mungkin kali ini gadis itu terlambat. Hingga tiga jam kemudian, sang gadis belum juga menampakkan sosoknya. 

Ia memutuskan melanjutkan perjalanan menuju rumah-rumah penduduk. Hingga sampailah ia di depan rumah gadis jelita yang ia kasihi. Halaman rumah itu dipenuhi rangkaian bunga di sana-sini. Orang-orang berpasang-pasangan berdansa dengan gaun-gaun pesta yang indah. Sang laki-laki mulai memiliki firasat tidak nyaman. Ia memanggil seorang penduduk.
“Pesta apakah ini?” tanyanya.
“Pernikahan gadis tercantik desa ini. Lihatlah, mereka pasangan yang sempurna.” jawab laki-laki separuh baya yang Ahmad tanyai sambil menunjuk sepasang pengantin di tengah para tamu. Wanita jelita itu? Dia semakin jelita dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya.
Mendapati kenyataan itu, bagai terhempas ke jurang rasa sakit yang mendera hati Ahmad. Semua usaha yang sudah ia lakukan seakan hancur bertumpuk di dasar jurang yang dalam. Laki-laki itu melihat sekilas pada pasangan pengantin yang ditunjuk penduduk tadi, ya... memang pasangan yang sempurna. Kini, tinggallah penyesalan yang tersisa di hatinya. Andai saja ia lebih berani setahun yang lalu. Andai saja ia tidak perlu menunggu musim panas untuk melamar gadis itu. Andai saja. Andai saja. Andai saja. 

Ia melanjutkan perjalanan tanpa semangat, memutuskan ini adalah kunjungan terakhirnya di desa itu. Tak ada lagi yang diharapkan. Ia kembali pada kesibukan mengurusi bisnis pakaian. Kini tokonya telah membuka cabang di berbagai tempat. Banyak bangsawan yang menawarkan putri mereka, namun tak satu pun bisa menarik hatinya. Ia telah memiliki segalanya, tapi tak kunjung merasa bahagia. Setiap malam ia tetap bermain dengan wajah jelita itu, membayangkannya di tengah hembusan angin malam yang datang dari lembah-lembah. Begitu terus yang dilakukan Ahmad hingga musim panas kembali datang. Aneh, rasa rindu pada desa itu kembali hadir bersama aroma musim panas, membuatnya tak mampu menepati janji. Keesokan hari, ia memacu kudanya kembali ke desa itu. Entah ada apa di sana sehingga rindu itu selalu datang. Hatinya tertambat di sana, di antara kebun-kebun anggur yang subur. 

Kembali ia berhenti sejenak di tempat ia biasa membeli susu domba. Entah kemana gadis itu. Mungkin ia telah pergi meninggalkan dunia yang menyakitkan ini. Laki-laki itu menambatkan kudanya di pagar, ia duduk merenung di bawah pohon zaitun sambil memandangi kebun-kebun. Saat resahnya benar-benar berada di ujung kesanggupan, saat itulah seorang laki-laki tua menghampiri, mengulurkan setangkai anggur masak.
“Seharusnya engkau tidak boleh bersedih karena cinta, Nak. Jangan terlalu merasa memiliki sesuatu jika kamu tidak mau merasakan sakitnya kehilangan sesuatu. Anggaplah semua yang diberikan padamu hanya titipan, perlakukan ia sebagaimana titipan, kamu merawatnya, menyayanginya sebatas titipan. Hingga jika ia pergi darimu, tak berlarut-larut lukamu. Kamu hanya bersedih karena merasa belum sempurna menjaga titipan itu. Cinta sejatinya kidung kebahagiaan yang membuatmu terus memperbaiki diri untuknya. Lepaskanlah... Jika ia adalah cinta sejati, ia akan pulang ke rumahnya pada waktu yang tepat.” Nasehat si laki-laki tua hingga membuat Ahmad meneteskan air mata tanpa sadar. Ia mengangkat kepala, ingin mengucapkan terimakasih untuk nasehat tak ternilai yang baru saja didengar. Anehnya, tak ada seorang pun di sampingnya. Laki-laki tua itu hilang seperti terbawa angin.
Maka mulai saat itu, Ahmad mulai belajar menunaikan nasehat laki-laki tua. Ia bertekad akan melepaskan cinta di hati dan menanti siapakah yang akan dititipkan kepadanya. Dengan tersenyum ia melanjutkan perjalanan. Berhenti beberapa detik di depan rumah yang mengadakan pesta setahun yang lalu. Mungkin gadis itu sedang hamil tua saat ini atau mungkin sudah memiliki seorang anak berumur dua bulan. Laki-laki itu tersenyum, mengabarkan bahwa ia telah menerima takdirnya. Ia kembali memacu kuda, menikmati perjalanan dengan melewati jalan yang berbeda dari biasa diambil. Tiba-tiba saja jiwa petualangnya kembali datang, ia rindu pada tempat-tempat baru.

Di tengah perjalanan, ia tertarik melihat sebuah restoran yang ramai. Ia turun dari kuda lalu segera masuk ke restoran yang sudah menarik perhatiannya. Semua orang yang duduk di sana memberi penghormatan padanya. Sungguh, ini adalah restoran dengan  keindahan tiada tara. Menariknya, tak hanya orang-orang berpakaian indah yang menikmati hidangan di sana, melainkan para petani dan pedagang biasa pun ramai yang singgah untuk menikmati hidangan.
“Tuan, saya senang Anda berkenan singgah kemari. Anda ingin memesan makanan apa?” Sapa seorang gadis dengan pakaian pelayan yang indah. Sang laki-laki mengenali suara itu. Suara yang sama seperti yang didengar dalam mimpi. Ia segera berdiri, memandang wajah gadis yang ada di hadapannya. Benar saja. Dialah gadis itu, gadis yang pernah dilihat dengan jelas di dalam mimpinya. Gadis yang memiliki kecantikan luar biasa.
“Siapa namamu?” Tanya sang laki-laki.
“Maryam Al Arudia.” Jawab gadis itu dengan wajah heran.
“Namaku Ahmad Abu Walid. Sudah lama  aku mencarimu.”
“Ahmad Abu Walid? Tuan, benarkah itu dirimu? Anda yang beberapa tahun lalu membeli semua susu domba yang saya jual?”
Sang laki-laki sungguh tak menyangka jika gadis yang selama ini ia rindukan adalah sang gadis penjual susu. Ia melihat kembali gadis itu dari bawah hingga ujung kepala. Gadis dari bangsa Moor dengan kain yang menutupi rambutnya, hanya wajah cantiknya yang terlihat. Memang benar, itu adalah gadis penjual susu. Kini ia tak lagi menderita penyakit kulit seperti dulu.
“Tuan Abu Walid, saya selalu menunggu kedatangan Anda. Saya ingin berterimakasih kepada Anda. Berkat uang yang Anda berikan, saya bisa membeli obat yang menyembuhkan penyakit kulit yang saya derita, lalu membangun restoran ini. Semua orang tidak lagi jijik melihat saya sehingga restoran ini cepat berkembang. Terimakasih, Tuan.”  Ucap gadis itu sambil menunduk memberi penghormatan.
“Tak perlu berterima kasih. Aku memikirkanmu sepanjang hari, Maryam.” Ucapnya berterus terang, membuat gadis itu membelalakkan mata, mencari-cari arah pembicaraan laki-laki di depannya.
Tanpa berniat membuat Maryam menunggu, Ahmad melanjutkan kalimatnya. “Aku jatuh cinta padamu. Maukah kamu menikah denganku?” Ia berucap dengan bibir bergetar dan kepala tertunduk.
Maryam menutupi wajah dengan kedua tangan, menjerit kecil. “Saya mencintai Anda sejak pertama kali memanggil Anda tiga tahun yang lalu.”
“Mengapa tidak kamu katakan hal ini sejak dulu?”
“Tidak, tidak akan saya lakukan. Saya yakin, Anda tidak akan memiliki perasaan yang sama jika saya mengatakannya saat itu. Saya merelakan Anda melanjutkan perjalanan, karena cinta sejati akan pulang ke rumahnya. Dengan begitu, saya memiliki waktu untuk memperbaiki diri. Saya yakin, semakin baik diri saya, semakin baik pula laki-laki yang akan dititipkan kepada saya hingga saya pantas untuknya dan ia pun pantas untuk saya.”
Sang laki-laki semakin mengagumi bijaknya gadis itu. Ucapannya mengingatkan kepada laki-laki tua misterius yang memberinya nasehat di kebun anggur, di bawah dahan-dahan zaitun.
“Aku laki-laki ke berapa yang datang melamarmu?” Tanya Ahmad sambil tersenyum bercanda.
“Ke-39.” Bisik Maryam malu-malu. “Tapi Anda tetap yang pertama di hati saya.” Tambahnya dengan senyuman indah.
Ke esokan harinya, digelarlah sebuah pesta pernikahan yang begitu indah. Seluruh penduduk diundang termasuk pasangan yang menikah setahun yang lalu. Pernikahan yang sempurna indah dan memberikan satu pelajaran berarti, bahwa cinta yang sejati akan datang pada mereka yang saling memantaskan diri. Di waktu yang tepat.


Ditulis sekitar 2 tahun lalu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...