Saturday, 23 September 2017

Surat Ke-Sekian Untukmu

Untuk siapakah ucapan selamat darimu itu? Aku di sini sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Tak sedang dengan siapapun. Sudah berapa banyak suratku yang kau baca, tapi ternyata kau belum mengenalku terlalu banyak. Aku tak akan mengulang dosa menjalin hubungan seperti yang dulu pernah aku dan kau lakukan saat kita duduk di bangku sekolah atas. Aku bersama orang lain, demikian pula dirimu. Biarlah itu menjadi catatan lampau yang kelak bisa diceritakan sebagai pelajaran.

Lelaki itu, meski kukatakan aku jatuh cinta padanya, tapi ia tak memiliki keberanian untuk mengambil keputuasan besar dalam waktu singkat. Jadi sejak malam itu, aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi dengannya. Berat pada mulanya, tapi aku punya Allah yang Maha Penyayang. Ketika kita meninggalkan suatu perkara buruk karena Dia, maka tidak perlu lagi cemas, karena Dia yang akan mengurus selebihnya.

Lalu untukmu, aku bersyukur menjadi wanita yang hidup dalam hatimu. Terimakasih karena sejauh ini kau bisa menjaganya dengan istimewa. Tidak mengumbar apapun pada siapapun sebelum kau mampu  mengikrarkan janji tanggung jawab. Sungguh aku tak pernah berhenti mengagumi satu hal ini tentangmu.

Sudahlah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya telah kembali seperti sedia kala. Cukup kau baik-baik saja hingga kemudian menyelesaikan urusanmu dengan baik, semua itu sudah cukup membuatku bahagia. Sesekali kita bisa saling menulis surat, mengetahui kabar hati masing-masing.

Kurasa, itu sudah cukup mewakili kata paling romantis bagi sepasang manusia seperti kita.

Thursday, 7 September 2017

Tak Perlu Khawatir Berlebihan

Lihatlah meski telah kukatakan aku jatuh hati pada pria lain, tetap saja aku membaca semua suratmu. Aku bukan wanita bodoh yang tak paham apapun, tapi menjadi naif, itu adalah sebuah pilihan.

Kamu benar. Setia pada satu hati akan membuatmu jauh lebih mulia, menikmati dan mensyukuri apa yang kita miliki saat ini akan jauh lebih terhormat, tapi kita tidak pernah punya kendali untuk menggerakkan hati agar tetap pada satu tujuan atau berbelok ke sembarang arah.

Cintaku padamu. Meski itu telah terhapus oleh beberapa nama, tapi ia selalu ada. Jauh sebelum orang lain mengungkapkan padaku tentang betapa mereka berharap padamu, aku telah menyimpannya terlebih dahulu. Kamu mungkin tak pernah menyangka sejak kapan perasaan itu dimulai. Dan kisah tentangmu, adalah satu-satunya yang tak diketahui oleh orang-orang terdekatku. Kamu hanya ada di dasar perasaan, terkadang naik ke permukaan dan terkadang tertindih oleh hal-hal baru di atasnya. Tapi satu hal yang harus kamu garis bawahi, ia tak pernah hilang.

Terkadang aku menanti sesuatu darimu yang mampu meyakinkanku untuk bertahan. Bertahan meletakkanmu di permukaan perasaan. Tapi semakin hari kunanti, kamu semakin khusyuk dengan bahasa yang hanya kamu sendiri mampu memahaminya. Aku tak butuh sebuah pengakuan, pesan singkat, atau rekaman suara. Yang aku harapkan hanyalah sebuah tanda yang jelas bahwa kamu akan datang padaku, dan aku boleh menunggumu. ─░tu saja.

Jika kamu mampu setia dengan perasaanmu padaku, maka sungguh kesetiaan itu tidak akan mengingkarimu. Bukankah kamu pernah mengatakan padaku bahwa mungkin kita tidak bisa membersamai seseorang yang selalu disebut dalam doa, melainkan membersamai seseorang yang selalu menyebut kita dalam doanya. Jika kamu percaya akan hal itu, maka jangan khawatir. Hatiku tidak akan pergi terlalu jauh. ─░nsyaAllah.

Aku tidak pernah menyebutmu dalam doa. Jujur saja. Aku tak pernah menyebut sebuah nama dalam doaku. Tapi sekarang aku akan berdoa semoga dirimu selalu berbahagia.

Sunday, 3 September 2017

Tidak Cukup Sekadar Cinta




Hari ini sahabatku Mariam tengah duduk di ujung sebuah kursi panjang, di bawah pepohonan musim gugur. Di bawah kakinya, dedaunan berwarna kuning, oranye, hingga cokelat berserakan tertiup angin yang berhembus perlahan. Tak banyak orang di taman itu, karena langit sudah mulai menghitam dan tampaknya agan segera turun hujan. Tapi Mariam, perempuan yang tubuhnya dilapisi jaket panjang dan selembar kerudung hitam panjang itu seperti enggan beranjak. Matanya yang kulihat selalu bercahaya kini terkesan redup. Sepertinya ia tengah didera sesuatu yang begitu menyakitkan.

“Mariam.” Sapa sambil mengambil tempat di sampingnya.

Ia sedikit kaget. Begitu tahu yang datang adalah aku, dia mencoba untuk tersenyum lembut.

Masing-masing kami tak bersuara hingga beberapa menit ke depan. Wanita ini hanya diam, seolah kedatanganku bagaikan selembar daun yang berguguran di depan matanya. Tak berarti. 

Tidak. Kurasa bukan itu alasannya. Aku mengenal Mariam. Perempuan anggun yang baik paras dan budi pekertinya. Ia bukanlah jenis orang yang senang mengabaikan orang lain, terlebih aku yang notabene mengenalnya sejak kecil. Pasti ada sesuatu yang begitu menganggunya.

Tiba-tiba, sesaat kemudian ia menangis dan memelukku erat.  Aku membiarkannya sambil berusaha ikut merasakan separah apakah kesedihan dalam dadanya.

“Ada apa, Mariam?” tanyaku.

Ia menghapus air mata. “Aku mencintainya, Alena. Sangat mencintainya. Tapi tak ada yang bisa kulakukan selain mengucapkan kalimat perpisahan padanya.”

“Siapa?”

“Lelaki yang kuceritakan padamu tempo hari.” jawabnya sambil terisak.

“Kau bilang dia bukan tipemu. Kau jenis orang yang serius, sementara dia tidak. Kau dewasa dan dia kekanak-kanakkan, meskipun umurnya telah masuk 27 tahun bulan lalu. Kenapa bisa kau jatuh cinta padanya secepat ini?” Aku tidak habis pikir.
Lelaki itu, tentu saja aku tahu. Aku tahu segala kisah cinta Mariam yang pernah kandas. Aku tahu tentang sekeping hati yang hancur di dalam rongga dadanya. Aku tahu ketulusannya ketika mencintai seseorang, namun ketulusan itu selalu berujung menyakitkan. Tapi sungguh demi Tuhan, aku tidak menyangka dia akan jatuh cinta secepat ini. Lelaki yang awalnya hanya ingin belajar bahasa Inggris bersamanya demi persiapan untuk tes IELTS beasiswa ke Canada tahun depan, lelaki yang setiap mengirimi pesan whatsApp selalu saja dipenuhi emoji ala anak remaja, lelaki yang bahkan saat Mariam marah ia justru datang sambil membawa selembar kertas berisi soal-soal bahasa Inggris dan berkata ‘Can you help me?’, lelaki yang selalu saja menjawab dengan kalimat ‘yes and okay’, lelaki menyebalkan, dan entah apa lagi ia menyebutnya.

“Beginilah perempuan, Alena. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta, tapi akan butuh waktu seumur hidup untuk melupakan. Sejak kehilangan Mustafa pada tahun 2015, kali ini aku merasa benar-benar kembali melihat hari yang dipenuhi bunga-bunga. Lelaki kekanak-kanakkan itu ternyata mampu mencuri hatiku dengan begitu lembut, tanpa disadari. Aku jatuh cinta pada segala kepolosan yang dia miliki. Aku sedikit tenteram saat tahu kali ini dia juga mencintaiku. Tapi cinta saja tidak cukup bagi dua orang untuk bertahan.”

“Lalu kenapa kalian harus saling meninggalkan?”

Mariam manunduk. “Tak ada yang bisa diharapkan dari hubungan ini, Alena. Dia meskipun dewasa, tapi ia tak cukup berani untuk mengambil langkah besar. Bahasa Inggris-nya masih sangat buruk, meskipun dia telah lolos tes beasiswa. Setahun ini dia akan fokus untuk persiapan IELTS, dan dia bilang kehadiranku justru menganggunya. Tidak bisa fokus, selalu teringat dan sebagainya. Aku tahu dia tidak bohong. Dia tak pernah berbohong. Dia begitu polos untuk bisa berbohong. Lalu mulai Agustus tahun depan ia akan berangkat ke Kanada, belajar selama 2 tahun di sana. Dia tidak siap untuk menjalin hubungan serius dengan izin agama dan negara dalam rentang waktu itu. Terlebih jarak antara aku dan dia begitu jauh. Dia tidak akan seberani itu mengambil keputusan, meskipun ia memiliki cinta yang besar. Di lain sisi, aku tidak ingin menjalin sebuah hubungan haram seperti yang sempat ia sarankan. Meski hanya melalui telepon. Lagipula, rasanya aku tak akan bisa menunggu hingga 3 tahun kemudian. Lihatlah, cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua anak manusia, Alena. Mungkin mudah bagi mereka yang tak memegang prinsip, tapi bagiku yang tak mau lagi jatuh pada hubungan di luar pernikahan, cinta seperti ini menjadi sebuah cobaan yang sangat sulit.”

“Bersabarlah. Kau telah mengambil langkah yang benar. Jika ia memiliki cinta yang tulus padamu, suatu saat ia akan kembali padamu insya Allah. Jika dia tidak kembali, maka itulah wajahnya yang sesungguhnya. Itulah ketetapan terbaik dari Tuhanmu.” Aku berusaha memberikan ketenangan sambil memeluknya.

“Kisah perjuangan tentang melupakan Mustafa akan kembali terulang mulai dari hari ini, Alena. Aku terjatuh dua kali ke dalam lubang yang sama.”

Hujan menjatuhkan tetes pertamanya dari langit. Aku dan Mariam segera beranjak meninggalkan kursi panjang itu, membiarkannya sendirian diterpa angin dan kedinginan.

05/09/2017

Friday, 1 September 2017

Welcome 22

Saturday, 19 August 2017

A Letter of Pains




Mendung menggantung di langit kota. Angin di luar seperti berkejaran menggoyangkan segala yang mereka lalui. Aku yang seharian ini mengurung diri di apartment, akhirnya memilih untuk berjalan keluar. 

Aku sengaja keluar di tengah cuaca seperti ini, karena sejak dulu aku menyukai langit mendung yang disertai angin. Cuaca yang cukup sebagai wakil dari segala perasaan yang menyakiti batinku selama ini. 

Angin menerpa wajah dan hijabku ketika pintu apartment terbuka. Aku merapatkan jaket, menutup pintu, menuruni tiga buah anak tangga, kemudian berjalan ke arah kiri. Daun-daun berwarna oranye hingga kecokelatan berserakan di mana-mana. Kakiku yang terbungkus sepatu boot bertumit terdengar ketukannya tiap kali menyentuh aspal, menjadi irama perjalanan.

Aku tak peduli pada orang-orang yang berjalan cepat di sekitar jalan ini. Yang kuinginkan adalah bercengkerama dengan segenap luka dan kepedihan yang terus terkurung dalam hati, seolah mereka tak punya jalan keluar. Andai hidup ini seperti dalam film, tentu semuanya akan lebih mudah. Nyatanya tidak! Nyatanya sampai saat ini tak ada satu ungkapan pun yang bisa kuucapkan pada orang lain betapa hatiku begitu sakit. Betapa hati ini wujudnya telah memar dan berdarah. 

Terkadang aku iri pada orang lain ketika mereka mendapati cinta sebagai sebuah anugerah terindah. Sementara yang kudapatkan adalah: cinta merupakan petaka terbesar yang membuat hidupku tak tentu arah. Jika ditanya apa dosaku? Maka jawabannya hanyalah karena aku berani jatuh cinta satu kali. Mungkin aku yang tak tahu diri, karena telah menjatuhkan hati ke jurang yang paling dalam sehingga tak ada jalan keluar untuk menariknya kembali. Hati itu, di dasar jurang yang paling gelap, merintih sendirian, kedinginan, kesakitan, dan segala penderitaan lainnya. Tak ada yang tahu, dan mungkin tak ada yang mau tahu! Hhh... lagipula siapa yang mau peduli dengan sepotong hati yang tak lagi utuh?

Aku tahu ini tak benar. Aku tahu semua ini terjadi akibat kecintaanku pada Allah ta’ala yang belum sempurna. Tapi bisakah Tuhan, jika Engkau membantuku menarik kembali hati itu seraya aku menyempurnakan cinta kepada-Mu?

Wajah kuhadapkan ke langit yang hitam. Mendung-mendung di atas sana berjalan seumpama asap, menuju ke suatu tempat. Setelah hampir 20 menit berjalan, sampailah aku di tepian sebuah selat. Jika biasanya air di selat ini begitu tenang, tidak dengan hari ini. Airnya memercik ke segala sisi, membasahi bebatuan di pinggirnya. 

Aku duduk di sebuah kursi panjang. Sendirian. Selama beberapa saat aku memandangi selat di depan, pada kapal-kapal yang entah ingin ke mana atau dari mana. Gagak-gagak putih terbang di segenap penjuru kota. Suara ringkikan mereka terdengar senada dengan angin yang mulai gemuruh.

Satu air mataku jatuh, dan aku tak mau menghapusnya. Aku mengeluarkan sebuah buku berwarna cokelat, juga sebuah pulpen. Meski di kepala ini belum ada ide tentang apa yang harus dituliskan, namun jari-jariku lebih dulu menyentuhkan pulpen itu ke atas kertas.

Mustafa.

Sebuah nama yang indah. Sekaligus menyakitkan. 

Sebuah nama yang ingin sekali tak kukenal, tapi justru terus kudoakan.

Sebuah nama yang menjadi musim semi di hati, namun juga menjadi musim paceklik yang mematikan.

Mustafa. 

Aku berharap—saat ini—bisa mengintip sedikit saja kehidupanmu di sana. 

Apakah sudah ada malaikat kecil di antara kalian?

Aku ingin tahu apakah doa-doa yang selama ini kulangitkan kepada Allah agar kau selalu berbahagia, telah dikabulkan? 

Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kulakukan agar berbahagia sementara mereka yang datang namun bukan engkau, pada hakikatnya adalah tidak ada? 

----

Thursday, 17 August 2017

Nasehat M Quraish Shihab

 

Keberuntungan kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.

Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan. Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera. 

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu. Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol. Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.
Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya.

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala nya. 

Monday, 24 July 2017

Salaman ya Umar Al Faruq



Hari itu kota Mekah panas menyengat seolah dari celah-celah setiap butiran pasirnya mengeluarkan uap dari tungku perapian. Meski begitu, kegiatan manusia seperti tak pernah ada habisnya. Aku menyaksikan orang berduyun-duyun kemudian berkumpul di tepian kota Mekah, di sebuah lapangan gersang yang membara. Di lapangan itu tertancap beberapa puluh tiang yang digunakan untuk membelenggu para budak yang memeluk agama baru, Al Islam. Para petinggi kaum Qurays Mekah yang juga merupakan para tuan dari budak-budak itu sebagian berdiri mengawasi, sebagian lagi mencambuki para budaknya. Sebagian kecil dari penonton yang notabene adalah para penganut agama nenek moyang itu tertawa, seolah mereka sedang menyaksikan sekawanan binatang hina yang pantas untuk dijadikan korban cambukan. Sebagian lagi menonton dengan perasaan haru, tak tega, dan tentu saja: ketakutan. Apa yang mereka saksikan siang ini adalah serupa ancaman bahwa siapapun yang mengikuti agama baru, maka harus siap menerima penyiksaan serupa.

Di sana, di balik kerumunan para masyarakat Mekah, aku menyaksikan seorang pemuda yang matanya begitu tajam, namun dari mata yang sama itu pula tampak dua buah naungan yang meneduhkan. Hari ini ia mengenakan baju gamis berwarna cokelat terang dan kain sorban berwarna senada yang menjuntai dari belakang kepalanya. Ia masih begitu muda, tapi sosoknya sejajar dengan para petinggi Qurays yang sebagian besar sudah mulai sepuh. Ia masih begitu muda, tapi tak ada satu pun masyarakat Mekah yang meragukan kebijaksanaannya. Ia masih begitu muda, tapi setiap orang yang berpapasan dengannya selalu menaruh hormat. Ia disegani karena ilmu dan kebijaksanaan. Ia juga ditakuti karena keberanian dan keteguhan hati.

Apa yang terjadi di kota Mekah saat ini juga merupakan buah pikirannya. Dialah yang mengusulkan agar setiap kaum mengurusi kaumnya masing-masing. Dia pula yang mengusulkan agar siapa pun yang memiliki saudara yang masuk Islam maka harus memberikan tekanan kepada saudaranya tersebut hingga mereka bersedia murtad. Terlebih urusan tuan yang memiliki budak-budak Muslim. Hukuman yang diberikan harus lah lebih keras lagi.
“Muhammad tidak pernah membedakan antara yang kaya dan yang miskin, tuan maupun budak, bangsawan maupun rakyat biasa. Ia memperlakukan dan memuliakan mereka dengan derajat yang sama. Ikuti lah hal itu, Wahai Kaum Qurays. Perlakukan lah siapa pun yang masuk Islam dengan sama kerasnya, baik mereka adalah budak atau anakmu sendiri.” Ucapnya di suatu siang nan terik, di tengah kaumnya.
Syahdan, setelah ucapan tersebut, semua orang kembali pada keluarganya, kaumnya, sahabat terdekatnya, dengan semangat berkali lipat. Penyiksaan dan tekanan terhadap mereka yang berani masuk Islam menjadi dua kali lebih berat.

Dialah Umar Ibn Khattab. Pemuda cerdas dari bani Adiy yang sejak masih belia sudah disegani oleh seluruh penjuru kota. Pemuda yang kelak akan menjadi pemimpin Islam, agama yang saat ini begitu ia musuhi.

Kebencian Umar kepada Muhammad sangat berbeda dengan kebencian para petinggi kafir Qurays lain. Jika para petinggi kafir Qurays membenci Muhammad dan agama barunya karena takut posisi mereka terancam, derajat mereka turun, dan sejenisnya, maka Umar membenci Muhammad karena ia menyaksikan umat yang semakin hari semakin berselisih. Ia menganggap Muhammad telah memecah belah ummat yang dahulu hidup saling menjaga toleransi. Kini lihat lah kota Makkah, lihat lah betapa banyak ayah yang membelenggu putranya sendiri, tuan yang mencambuki bahkan membunuh budaknya, dan orang-orang  yang memutuskan hubungan darah dengan saudaranya. Umar muak melihat semua ini!

Tapi sekali lagi, Umar tak seperti para petinggi Qurays yang lain. Di balik sosoknya yang kaku dan teguh pendirian, tersimpan sebuah mutiara bersih yang menyimpan jutaan hikmah. Jauh di dalam hatinya ia berkali-kali memuji Muhammad dan para sahabatnya. Seperti siang itu, ketika ia menyaksikan Abu Bakar berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk membebaskan pada budak yang disiksa tuannya, Umar berkata lirih, “Sungguh baik Abu bakar. Sungguh baik Abu Bakar.”

Hari berganti. Ternyata siksaan dan tekanan yang mereka berikan kepada kaum Muslimin tidak pernah mampu menghentikan perkembangan agama baru itu. Islam justru semakin menarik hati banyak orang, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib.

Kisah keislaman Hamzah yang menjadi bahan pembicaraan di seantero Makkah ini ternyata membuat Umar semakin gusar. Keesokan hari dengan kemarahan yang naik hingga ubun-ubun, Umar mengambil pedangnya. Ia sudah teguh untuk membunuh Muhammad, seseorang yang ia anggap sebagai pemecah belah kaum.
“Ya, Umar!” seseorang memanggilnya di tengah perjalanan. “Seorang lelaki berjalan tergesa-gesa dengan pedang terhunus, tentu ada urusan penting.” Ucap orang tersebut.
“Benar. Aku akan membunuh orang ini. Muhammad.”
“Kaumnya tidak akan membiarkanmu.”
Umar tahu itu, dia pun menjelaskan bahwa setelah membunuh Muhammad, ia akan menyerahkan diri ke Bani Hasyim untuk dibunuh juga. Dengan begitu semua kekacauan ini akan selesai. Mengorbankan dua orang akan lebih baik daripada kerusakan yang lebih banyak lagi, begitu Umar berpikir. Nyawa dibayar nyawa!
“Bukan kah sebaiknya engkau kembali pada keluargamu dan mulai mengurus mereka?” tanya orang tersebut sebagai isyarat bahwa ada dari keluarga Umar yang telah menjadi pengikut Muhammad.
Wajah Umar semakin berang. “Siapa dari keluargaku?”
“Adikmu Fatimah bintu Khattab dan adik iparmu Said ibn Zaid ibn Amr.”
Umar berputar haluan. Kini emosinya semakin mendidih. Ia berjalan cepat menuju rumah sang adik. Baru saja akan mengetuk pintunya, Umar berhenti. Ia diam. Dari dalam rumah, ia mendengar seseorang membaca. Itu jelas bukan syair yang biasa diucapkan bangsa Arab.

Beberapa saat kemudian ia memukul pintu Fatimah dengan keras.
“Fatimah! Ini Umar!”
“Umar? Engkau wahai saudaraku?” Pintu tersebut terbuka kemudian terlihat wajah Fatimah yang ketakutan.
“Aku mendengar ada seseorang yang membacakan sesuatu untuk kalian!”
“Demi Allah engkau tidak mendengar kecuali percakapan kami berdua.” Jawab Fatimah.
“Aku juga mendengar bahwa kalian telah berkhianat dan mengikuti agama Muhammad. Jangan bohong padaku!” Bentaknya.
“Ya Umar apa pendapatmu jika ada agama yang lebih baik darimu?” Said menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Jadi kau telah melakukannya!”
Umar seketika menyerang Said. Fatimah berusaha melindungi sang suami. Celakanya tangan Umar mengenai wajah Fatimah hingga wanita itu tersungkur hingga bibirnya berdarah. Masih belum tersentuh hatinya, Umar terus menyerang Said. Hingga akhirnya Fatimah mendekat, dengan mantap ia berucap dengan jelas “Kau musuh Allah. Apa kau akan memukuliku dan suamiku karena kami percaya pada ke-Esaan Allah? Lakukan lah semaumu! Tak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ya kami telah menerima Islam meski kau tidak menyukainya!”

Saat itulah kemarahan Umar melemah. Ia meninggalkan Said, kemudian ingin menghapus darah di bibir Fatimah, tapi adiknya itu justru memalingkan wajah dan berkata, “Jauhkan tanganmu dariku.”
“Jadi itu yang kalian baca tadi?” Umar melihat lembaran kulit unta yang semua disembunyikan Fatimah.
Tahu sang kakak akan segera mengambil lembaran yang menyembul tersebut, dengan cepat Fatimah menggenggamnya.
“Berikan padaku untuk kubaca.” Umar mengulurkan tangannya.
“Tidak akan.”
“Dengar. Aku mendengar bacaan itu dengan hatiku.”
Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari suami, Fatimah mengulurkan lembaran itu dengan hati-hati. Umar duduk dan mulai membaca.
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaaul husna.” (QS Thaahaa 1-8)
“Ini kah yang membuat kabur orang-orang Qurays?”
Fatimah dan Said hanya diam memandang. Hati keduanya diliputi perasaan haru. Umar melanjutkan bacannya,
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan yang hak selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan waktunya agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali jangan lah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.” (QS Thaahaa 14-16)
Umar terpaku. Ia melihat pada dua orang di hadapannya.
“Yang mengatakan ini harus disembah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya.”
Khabbab... Lelaki yang sejak Umar menggedor pintu tadi bersembunyi di balik pintu akhirnya keluar. Dia lah yang sebelumnya membacakan ayat-ayat Al Quran untuk Fatimah dan suaminya.
“Berbahagia lah, Umar! Aku berharap dengan tulus agar doa Nabi dikabulkan dengan memilihmu. Dia sallahu ‘alaihi wassalam pernah berdoa ‘Ya Tuhanku, beri lah dukungan kepada Islam dengan salah satu dari kedua orang ini yang lebih Engkau cintai, Abu Hakam ibn Hisham atau Umar Ibn Khattab.” Ucap Khabbab.
“Apakah beliau benar-benar mengatakan hal itu?”
“Demi Allah beliau mengatakannya.”
“Bawa aku bertemu Rasulullah dan para sahabatnya.”
Sejarah mencatat, setelah peristiwa di rumah Fatimah bintu Khattab tersebut, Umar langsung menemui Rasulullah sallahu’alahi wassalam dan bersyahadat di hadapan beliau. Ia cukup terkejut ketika mengetahui saudaranya, Zaid ibn Khattab, terrnyata juga telah lebih dulu masuk Islam.

Sekembalinya dari rumah Rasulullah sallahu’alaihi wassalam, Umar langsung mendatangi satu per satu petinggi kafir Qurays dan mengumumkan keislamannya.
Itu lah Umar. Maka dimulai hari itu, Makkah tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya. Masuk Islamnya Umar adalah bencana terdahsyat bagi para kafir Qurays. Ia begitu teguh berpegang pada Islam dan sunnah, tak takut pada siapa pun, zuhud dalam hal duniawi. Bagi Umar, perbedaan antara yang hak dan yang bathil adalah seperti perbedaan antara siang dan malam. Tidak ada tawar menawar!

Ketika Abu Bakar rahimahullah sakit keras dan merasa telah berada di penghujung hidupnya, beliau menunjuk Umar sebagai pengganti. Tidak seketika pilihan Abu Bakar rahumahullah ini disetujui para sahabat. Mereka tidak percaya Umar bisa memimpin dengan baik karena dikenal sebagai seorang yang keras dan kaku. Sementara Umar sendiri pun tidak begitu yakin pada dirinya sendiri. Setelah mendengar nasehat dari Abu Bakar rahimahullah mengenai Umar dan betapa istimewanya beliau di mata Rasulullah sallahu’alaihi wassalam, akhirnya semua setuju untuk berbaiat pada Umar ibn Khattab.

Malam pertama kepemimpinannya, Umar terus bermunajat kepada Allah subhanawata’ala, meminta agar diberikan pundak yang kuat, keteguhan hati, dan hatinya dilunakkan. Sesungguhnya ia pun begitu takut pada sikapnya yang keras dan kaku. 

Bagiku, Umar ibn Khattab merupakan salah satu sahabat Rasulullah salallahu’alahi wassalam yang sangat istimewa. Di bawah kepemimpinannya Islam menyebar hingga ke Palestina, Syria, dan Mesir. Dua imperium raksasa yang telah dibangun selama ribuan tahun, Persia dan Romawi, pun kemudian harus mengucapkan, “Selamat tinggal selamanya, wahai tanah Arab.” 

Celaka lah mereka yang telah berdusta tentang Umar. Celaka lah orang-orang yang telah menyebarkan segala berita buruk tentangnya. Semoga pemimpin ummat saat ini bisa meneladani seorang Umar ibn Khattab: seorang pemimpin yang tidak bisa tidur sebelum menyelesaikan masalah ummat. Semoga kelak kita akan dipertemukan dengan beliau rahimahullah, melihat wajahnya, dan mengucapkan salam untuknya. Rahmat dan salam untukmu ya Umar Al Faruq...
 
Ditulis dengan penuh cinta dan haru
Sofia







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...