Wednesday, 10 January 2018

Besarnya Kasih Sayang Allah


وعن أبي العباس عبد الله بن عباس بن عبد المطلب رضي الله عنهما، عن رسول الله، صلى الله عليه وسلم، فيما يروى عن ربه، تبارك وتعالى قال‏:‏ ‏"‏ إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك‏:‏ فمن همّ بحسنة فلم يعملها كتبها الله تبارك وتعالى عنده حسنة كاملة، وإن هم بها فعملها كتبها الله عشر حسنات إلى سبعمائه ضعف إلى أضعاف كثيرة، وإن هم بسيئة فلم يعملها كتبها الله عنده حسنة كاملة، وإن همّ بها فعملها كتبها الله سيئة واحدة ‏"‏ ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Abul Abbas, yaitu Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, radhiallahu 'anhum bahwa Rasulullah صلى الله عليه و سلم dari Allah tabaraka wa ta'ala  (hadist qudsi), beliau bersabda:

Sesungguhnya Allah Ta'ala itu mencatat semua kebaikan dan keburukan, kemudian menerangkan yang sedemikian itu (yakni mana-mana yang termasuk hasanah dan mana-mana yang termasuk sayyi 'ah).

Maka barangsiapa yang berkehendak mengerjakan kebaikan, kemudian tidak jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah yang Maha Suci dan Tinggi sebagai suatu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya, dan barangsiapa berkehendak mengerjakan kebaikan itu kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah sebagai sepuluh kebaikan di sisi-Nya, sampai menjadi tujuh ratus kali lipat, bahkan dapat sampai menjadi berganda-ganda yang amat banyak sekali.

Selanjutnya barangsiapa yang berkehendak mengerjakan keburukan kemudian tidak jadi melakukannya maka dicatatlah oleh Allah Ta'ala sebagai suatu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya dan barangsiapa yang berkehendak mengerjakan keburukan itu kemudian jadi melakukannya, maka dicatatlah oleh Allah Ta'ala sebagai satu keburukan saja di sisi-Nya." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan:

Hadis di atas menunjukkan besarnya kerahmatan Allah Ta'ala kepada kita semua sebagai ummatnya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم .

Renungkanlah wahai saudaraku. Semoga kami dan Anda diberi taufik (pertolongan) oleh Allah hingga dapat menginsyafi kebesaran belas-kasihan Allah dan fikirkanlah kata-kata ini.

Ada perkataan 'Indahuu (bagi-Nya), inilah suatu tanda kesungguhan Allah dalam memperhatikan hal itu itu. Juga ada perkataan kaamitah (sempurna), ini adalah untuk mengukuhkan artinya dan sangat perhatian padanya. Dan Allah berfirman di dalam kejahatan yang disengaja (dimaksud) akan dilakukan, tetapi tidak jadi dilakukan, bagi Allah ditulis menjadi satu kebaikan yang sempurna dikukuhkan dengan kata-kata "sempurna". Dan kalau jadi dilakukan, ditulis oleh Allah "satu kejahatan saja" dikukuhkan dengan kata-kata "satu saja" untuk menunjukkan kesedikitannya, dan tidak dikukuhkan dengan kata-kata "sempurna".

Maka bagi Allah segenap puji dan karunia. Maha Suci Allah, tidak dapat kita menghitung pujian atas-Nya. Dan dengan Allah jualah adanya pertolongan.

-Dari kitab Riyadhus Shalihin Bab Niat

Perumpamaan Antara Manusia & Syetan

Permisalan antara kamu & syetan itu seperti seorang yg sedang menggiling biji-bijian yang baik. Lalu datang seorang dengan membawa batu, kerikil, & kotoran; meminta kepada orang itu agar diikutkan dalam penggilingan.

Jika orang itu menolak permintaan tersebut & tidak menggiling batu tersebut, ia akan mendapat hasil gilingan yg bermanfaat. Tetapi jika ia memenuhi permintaannya, lalu mencampurkan gilingan biji-bijian dengan batu, kerikil, & kotoran, maka akan menjadi rusaklah biji-bijian itu dan segala yang keluar dari penggilingan itu pun menjadi rusak~

-Ibn Qayyim al Jauzy رضي الله عنه

Nasihat untuk Muslimah

*Tulisan ini 100% saya copy dari blog www.abuzuhriy.wordpress.com yang isinya ماشاء الله semoga Allah melimpahkan kebaikan dunia akhirat kepada penyusunnya. Jazakallah khairan untuk ulasan yang demikian lengkap dan insyaAllah sangat bermanfaat. (InsyaAllah link hidup ke pemilik tulisan ini akan segera saya hubungkan begitu blog terhubung via PC).

Kita BANYAK SEKALI dapati, seseorang ikhwan/akhwat, yang SANGAT BERMUDAH-MUDAHAN dalam berkomunikasi dengan AJNABIY/AJNABIYYAH TANPA ALASAN YANG DIBENARKAN SYARI’AT.. Ucapan-ucapan seperti: “assalamu ‘alaikum ya ukhti..” atau “apa kabar ukhti?” atau bahkan perkataan “ya ukhti, besok datang ke kajian nggak?” atau perkataan basa-basi yang tanpa ada rasa malu baik itu ikhwan atau akhwat.. apalagi SAMPAI berpuisi-puisi, menggambarkan perasaan hatinya kepada seorang akhwat yang ia tertarik padanya!?

Apakah kalian hendak melakukan Pe-De-Ka-Te ala kaum fasiq DENGAN cara-cara “islami”.. Ataukah kalian mengatakan “akh, ini kan ukhuwwah islamiy semata” kita katakan: “JUJURLAH PADA DIRIMU.. engkau ini sedang melakukan PEMBENARAN atau tidak?!” Lagian, komunikasimu dengan ajnabiyyah (sebagaimana dicontohkan diatas) juga TIDAK DIBENARKAN OLEH SYARI’AT..

Fatwa Ulama tentang hal ini

Fatwa Lajnah Daa-imah tentang pertemanan pria dan wanita (yang bukan mahram)

Pertanyaan,

“Apa hukum persahabatan atau perkawanan dengan lawan jenis menurut hukum syariat dengan pengertian ada seorang gadis yang memiliki sahabat laki-laki atau sebaliknya? Perlu diketahui bahwa jalinan persahabatan yang dibangun keduanya adalah persahabatan yang “sehat”. Semua orang mengetahui, bukan persahabatan yang dilakukan sembunyi-sembunyi.”

Jawaban Lajnah Daimah,

“Persahabatan dengan lawan jenis adalah termasuk perbuatan yang sangat haram dan kemungkaran yang sangat-sangat mengerikanTidak boleh bagi seorang perempuan untuk berkawan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Demikian pula sebaliknya. Hal tersebut terlarang karena hal itu adalah sarana menuju pelanggaran terhadap berbagai aturan Allah yang mengatur etika hubungan dengan lawan jenis dan awal langkah menuju zina”.

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Abdullah bin Ghadayan, Shalih al Fauzan, Abdul Aziz Alu Syaikh dan Bakr Abu Zaid.

(Sumber: Fatawa Lajnah Daimah juz 17 hal 67-68; dikutip dari artikel ustadz aris)

Syaikh ibnul ‘Utsaimiin tentang komunikasi ikhwan akhwat yang saling surat-menyurat

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu berkata:

“Tidak boleh bagi seorang lelaki, siapapun dia, untuk surat-menyurat dengan wanita ajnabiyah. Karena hal itu akan menimbulkan fitnah. Terkadang orang yang melakukan perbuatan demikian menyangka bahwa tidak ada fitnah yang timbul. Akan tetapi setan terus menerus menyertainya, hingga membuatnya terpikat dengan si wanita dan si wanita terpikat dengannya.

Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan,

“Dalam surat-menyurat antara pemuda dan pemudi ada fitnah dan bahaya yang besar,sehingga wajib untuk menjauhi perbuatan tersebut, walaupun penanya mengatakan dalam surat menyurat tersebut tidak ada kata-kata keji dan rayuan cinta.”

(Fatawa Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin, 2/898; dinukil dari artikel “tidak ada pacaran islami”)

Syaikh Abu Said al Jazaa-iriy tentang batasan-batasan dialog terhadap lawan jenis (yang bukan mahram)

Pertanyaan, “Apakah seorang mahasiswi dibolehkan untuk bertanya dan ngobrol dengan dosen laki-laki padahal dosen tersebut tidak mengajarnya? Apa tolak ukur interaksi lawan jenis yang diperbolehkan?”

Jawaban Syaikh Abu Said al Jazairi,

“Seorang mahasiswi diperbolehkan untuk bertanya kepada dosen laki-laki meski dosen tersebut tidak mengajarnya dengan beberapa syarat:

– Pertama, adanya kebutuhan untuk bertanya

– kedua, adanya jaminan aman dari godaan lawan jenis

– ketiga, menghindari sikap-sikap yang bisa menyebabkan orang lain berburuk sangka (misal, duduk berdua sambil mojok dll, pent)

– keempat, tidak ada ketawa-tawa dan guyonan.

Seorang laki-laki diperbolehkan untuk berbicara dengan perempuan yang bukan mahramnya mana kala ada keperluansemisal jual beli, berobat, keperluan untuk persidangan atau persaksian di pengadilan dan semisalnya di samping ada jaminan aman dari godaan lawan jenis dan tidak berdua-duan.

Syarat-syarat di atas ditetapkan dalam rangka melindungi individu dan masyarakat dari kerusakan moral. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النسا

‘Tidaklah kutinggalkan setelahku suatu godaan yang lebih membahayakan laki-laki dibandingkan godaan wanita’[HR Bukhari dan Muslim]”

(Sumber:http://www.abusaid.net/index.php/fatawi-sites/225-2009-04-18-18-39-45.html; dikutip dari artikel ustadz Aris)

Syaikh Abdurrahman bin Abdullah as Suhaim tentang pertemanan dengan lawan jenis di facebook

Pertanyaan,

“Apa hukum meng-add anak-anak dalam daftar pertemanan atau menyetujui permintaan pertemanan di FB?”

Jawaban:

Boleh jadi yang dimaksudkan dalam pertanyaan adalah meng-add lawan jenis dalam daftar pertemanan FB.

Jika demikian yang dimaksudkan makahukumnya adalah tidak boleh [baca: haram] karena selama orang itu masih hidup maka dia tidak bisa dipastikan selamat dari godaan karena demikian hebatnya godaan lawan jenis maka terdapat peringatan keras mengenai bahwa godaan wanita.

Ibnu Abbas mengatakan,

[خُلِق الرَّجُل مِن الأرض فَجُعِلَتْ نِهْمَته في الأرض ، وخُلِقَتْ المرأة مِن الرَّجُل ، فَجُعِلَتْ نِهْمَتها في الرَّجُل ، فاحبسوا نساءكم]، أي : عن الرجال

“Laki-laki itu tercipta dari tanah maka dia sangat bernafsu terhadap tanah. Sedangkan wanita [baca: Hawa] itu tercipta dari laki-laki [baca: Adam] maka dia sangat bernafsu dengan laki-laki. Oleh karena itu cegahlah wanita untuk berhubungan dengan laki-laki”.

Tidak ada satu pun orang yang mengingkari bahwa laki-laki itu cenderung kepada wanita dan sebaliknya. Sedangkan setan itu berjalan di dalam tubuh manusia di pembuluh darahnya sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi. FB adalah media yang tidak aman dari godaan”.

Fatwa di atas disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdullah as Suhaim.

(Sumber:http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=186405#post186405; dikutip dari artikel ustadz Aris)

Maka kita memohon taufiq kepada Allaah, agar dilapangkan hati untuk meniti jalan yang selamat, serta menjauhi syubuhat dan hal-hal yang haram. Aamiin.

Wahai ukhti muslimah, ketahuilah! bahwa wanita adalah FITNAH TERBESAR bagi lelaki!

Dan untuk ukhti muslimah.. Maka ketahuilah, bahwa dirimu, adalah SEBESAR-BESARNYA FITNAH BAGI LELAKI.. sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah kutinggalkan suatu FITNAH yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita”

(HR Bukhari dan Muslim).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ

“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita”

(HR Muslim)

Maka ini bukan hanya menjadi pelajaran bagi wanita untuk menjaga diri mereka, tapi juga pelajaran bagi pria untuk menjaga diri mereka agar tidak menjatuhkan diri mereka kepada fitnah yang besar!!

Contohilah bagaimana Allah dalam KitabNya MENGABADIKAN KELUHURAN AKHLAQ dua orang perempuan yang bertemu dengan Nabi Musa ‘alayhis salaam dalam peternakan:

قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”

(al Qashash: 23)

Faidah yang pernah diajarkan ustadz firanda berkenaan ayat ini: “Lihatlah bagaimana RASA MALU yang ada pada kedua wanita tersebut.. mereka TIDAK INGIN IKHTILATH (bercampur-baur) dengan para lelaki di peternakan.. Maka mereka menunggu hingga para peternak lelaki tersebut selesai, baru mereka mengambil susu dari kambing-kambing tersebut!”

Maka dimanakah Rasa malu KAUM MUSLIMAH disaat ini!?

Maka dimanakah rasa malumu wahai wanita muslimah? wahai wanita yang meninginkan surga? wahai wanita yang bersaksi bahwa dirinya seorang yang beriman lagi tunduk? wahai wanita yang Allah tinggikan harkat dan martabat mereka dengan penjagaan yang ketat?!

Tidakkah engkau melihat ratu-ratu dunia? adakah sembarang orang yang menyentuhnya? adakah sembarang orang yang dapat berbicara dengannya? TIDAK!

Ketahuilah Allah telah menjaga wanita muslimah LEBIH dari penjagaan manusia kepada ratu-ratu dunia!

Tidakkah engkau melihat berlian? adakah engkau melihat berlian dijalan-jalan? bukankah tidak sembarang orang yang dapat melihatnya?

Ketahuilah Allah menjaga wanita dari kehinaan!

– dengan memerintahkan mereka untuk tetap dirumah-rumah mereka..

Allah berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.”

[QS Al-Ahzab: 33]

Ditafsirkan oleh Qatadah: “Yaitu dengan KELUAR RUMAH; kemudian berlenggak-lenggok, bersikap manja, dan bertingkah..”; berkata Mujahid: “Yaitu KELUAR RUMAH, kemudian berjalan diantara laki-laki (tanpa ada rasa malu)..” berkata Muqatil ibn Hayyan: “Yaitu Meletakkan kerudung dikepalanya, tapi tidak diikatnya (yaitu TIDAK BERHIJAB DENGAN SEMPURNA), terlihat anting, kalung, dan lehernya.. semuanya nampak”

[lihat tafsiir ibn katsiir]

– dengan memerintahkan mereka untuk menutup aurat mereka dengan sempurna apabila keluar rumah..

yang mana hanya mahram mereka saja yang dapat melihat mereka (itupun hanya yang biasa tampak), yang hanya suami mereka yang dapat melihat diri mereka seutuhnya!

Allah berfirman

:ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ

“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu’.”

[Q.S. Al-Ahzab: 59]

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ

“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan.”

[HR. Abu Daud no. 4014, dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani]

Sabda beliau yang lain:

أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ

“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”

[HR Ahmad dan lainnya; dishahiihkan Syaikh al Albaaniy dalam Shahiihul Jaami’]

– dengan memerintahkan mereka untuk menjaga komunikasi mereka dengan yang bukan mahramnya.. Yaitu dengan memperantarai TABIR/HIJAB antara diri mereka dengan ajnabiy..

Allah berfirman:

وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” [QS Al-Ahzab: 53]

– dengan memerintahkan mereka untuk TIDAK MELEMBUTKAN SUARA mereka kepada yang bukan mahramnya, agar tidak timbul keinginan jelek dari orang yang BERPENYAKIT DIHATINYA!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

Maka janganlah kalian tunduk dalam ucapan hingga berkeinginan jeleklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (Al-Azhab: 32)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullahu berkata:

Pertama: seorang wanita tidak boleh berbicara dengan lelaki yang bukan mahramnya (ajnabi) kecuali bila dibutuhkan dan dengan suara yang tidak membangkitkan syahwat lelaki. Juga si wanita tidak boleh memperluas pembicaraan dengan lelaki ajnabi melebihi kebutuhan.

Kedua: Melembutkan suara yang dilarang dalam Al-Qur’an adalah melunakkan suara dan membaguskannya sehingga dapat membangkitkan fitnah. Oleh karena itu, seorang wanita tidak boleh mengajak bicara lelaki ajnabi dengan suara yang lembut. Ia tidak boleh pula berbicara dengan lelaki ajnabi sebagaimana berbicara dengan suaminya, karena hal tersebut dapat menggoda, menggerakkan syahwat, dan terkadang menyeret kepada perbuatan keji. Sementara itu, telah dimaklumi bahwa syariat yang penuh hikmah ini datang untuk menutup segala jalan/perantara yang mengantarkan kepada hal yang dilarang.

Adapun perubahan suara si wanita karena malu tidaklah termasuk melembutkan suara. Wallahu a’lam.

(Jaridah al-Muslimun no. 68, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hal. 689-690; dari artikel majalah akhwat)

Tapi apa yang kita dapati dengan mereka terutama di dunia maya ini !!!?

– dengan memerintahkan mereka untuk MENUNDUKKAN PANDANGAN serta MENJAGA KEMALUAN MEREKA..

Allah berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.

(QS. An Nuur [24] : 31).

Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan Atho’ bin Abi Robbah bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.

(Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amr Abdul Mun’im Salim; dari rumaysho)

Tidakkah engkau ingin kemuliaan ini wahai wanita muslimah?

Ketahuilah bahwa Allah berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.

(Faatir: 10)

Sehingga tidak ada jalan lain untuk mulia, melainkan dengan meniti jalanNya yang lurusataukah engkau malah hendak mengikuti kehinaan orang-orang kaafir dengan label “kebebasan”?!

Ketahuilah Allah berfirman tentang orang-orang kaafir:

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.

(Al-Mujaadila: 20)

Maka akankah engkau memilih jalan kemuliaan (yaitu Jalan yang telah Allah tetapkan)? ataukah malah engkau memilih jalan kehinaan (yaitu jalannya orang-orang kaafir)?

Tidak ada satupun orang berakal yang akan memilih jalan kehinaan kecuali orang-orang yang telah hilang akalnya, atau orang-orang yang hawa nafsunya menguasai akalnya, sehingga ia seperti layaknya orang yang hilang akal, bahkan lebih jelek daripada orang yang hilang akalnya!

Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang berakal!

Jauhilah SEGALA HAL yang menjerumuskan kita kedalam zina

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

(QS. Al Isro’ [17] : 32)

Imam asy Syawkaniy dalam tafsirnya mengatakan bahwa berdasarkan ayat ini,segala hal yang menjadi perantara menuju PERZINAAN maka itu haram. Demikian juga dijelaskan syaikh as-sa’diy:

”Larangan (Allah) untuk mendekati zina lebih jelas/tegas daripada larangan perbuatan zina itu sendiri. Hal itu dikarenakan larangan tersebut juga meliputi larangan terhadap seluruh sebab yang menurus kepada zina dan faktor-faktor yang mendorong perbuatan zina

[Taisir Kariimir-Rahman]

Maka berdasarkan ayat ini:

– Komunikasi antara ikhwan dan akhwat TANPA ADA ALASAN YANG DIBENARKAN SYAR’I = Haram; apalagi sampai bercanda, atau bahkan sampai saling merayu!! Maka ini lebih parah lagi kemungkarannya!

– Apalagi kalau IKHTILATH (campur baur) TANPA ADA ALASAN YANG DIBENARKAN; maka inipun Haram. Atau bahkan, sengaja ber-ikhtilath dalam rangka menikmati ikhtilath ini; yaitu sengaja menjatuhkan diri padanya tanpa ada keperluan, atau bukan dalam kondisi darurat.. maka ini lebih parah lagi.

– Apalagi kalau sampai KHALWAT (berdua-duaan) baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung inilah yang kita dapati di internet…

Bahkan telah ada larangan khusus akan hal ini dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam:

Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.

(HR. Bukhari, no. 5233)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ

Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.” 

(HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)

– Apalagi sampai bersentuhan, berpelukan dan seterusnya!

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَأَنْ يَعْمِدَ أَحَدُكُمْ إلَى مِخْيَطٍ فَيَغْرِزُ بِهِ فِي رَأْسِي أَحَبُّ إلَيَّ مِنْ أَنْ تَغْسِلَ رَأْسِي امْرَأَةٌ لَيْسَتْ مِنِّي ذَاتَ مَحْرَمٍ

Salah seorang di antara kalianmenusukkan jarum hingga menancap di kepalaku, itu lebih aku senangi daripada seorang wanita yang bukan mahramku mencuci/membasuh kepalaku

[Hadits SHAHIIH Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 4/2:341 no. 17604].

Dalam riwayat lain:

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ تَمَسَّهُ امْرَأَة لا تَحِلُّ لَهُ

“Seandainya kepala seseorang di tusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

(Hadits hasan riwayat Thobroni dalam Al-Mu’jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam Musnad: 1283 lihat Ash Shohihah 1/447/226)

Berkata Syaikh Al Albani rahimahullah:

“Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya, termasuk masalah berjabat tangan, karena jabat tangan itu termasuk menyentuh.”

[Ash Shohihah 1/448]

Sesungguhnya segala keharaman ini, sudah dijelaskan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam sabdanya:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak.

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى

Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan.

وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُه

Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”

(HR. Muslim)

Akan tetapi Islam tidak hanya melarang, tapi juga memberikan solusi akan hal ini… Dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ

“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.”

(Shahiih; HR. Ibnu Majah)

Beliau juga bersabda:

مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnul Qayyim berkata,

”Hubungan yang tanpa didahului pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”

Semoga Allah menunjuki kita semua diatas jalan yang benar, serta menjadikan hati kita lembut (tunduk kepada kebenaran dan tidak sombong), dengan menerima kebenaran dan menitinya.. aamiin

Semoga bermanfaat

Tuesday, 9 January 2018

Bergabung dengan Madzhab-madzhab Atheis (Ilhad) dan Kelompok-kelompok Jahiliyah

Pertama Ikut bergabung dengan madzab-madzab (paham-paham) atheis seperti komunisme, sekulerisme, materialisme dan paham-paham kufur lainnya adalah kufur dan keluar dari Islam. Jika orang-orang bergabung dengan paham-paham tersebut mengaku Islam, maka ia termasuk nifaq akbar (kemunafikan besar). Karena sesungguhnya orang-orang munafik itu mengaku Islam secara lahiriyah, tetapi secara batiniyah (sesungguhnya) mereka bersama orang-orang kafir. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al- Baqarah: 14).

Artinya:"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata, 'Bukankah kami (turut berperang) besertamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, 'Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?' " (An-Nisa': 141).

Orang-orang munafik penipu, masing-masing mereka memiliki dua wajah; wajah untuk menghadapi orang orang beriman dan wajah untuk berpaling pada kawan-kawannya dari kalangan orang-orang atheis. Mereka juga memiliki dua lisan; lisan yang secara lahiriah diterima oleh umat Islam dan lisan yang mengungkapkan tentang rahasia mereka yang tersembuyi. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al-Baqarah: 14).

Mereka berpaling dari al-Qur'an dan as-Sunnah dengan mengolok-olok dan merendahkan para pengikutnya. Mereka enggan tunduk terhadap hukum kedua wahyu tersebut karena merasa bangga terhadap ilmu yang mereka miliki, padahal memperbanyak ilmu tersebut tidak bermanfaat, kecuali malah menambah keburukan dan kesombongan. Karena itu, engkau melihat mereka senantiasa mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan wahyu yang nyata.

AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (Al-Baqarah: 15).

Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan agar kita bergabung dengan orang-orang beriman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar."(At-Tau-bah: 119).

Madzab-madzab atheis tersebut adalah madzab-madzab yang menyimpang, karena didirikan di atas kebatilan. Komunisme misalnya, mengingkari wujud Pecipta Subhanahu waTa’ala dan memerangi agama-agama samawiyah. Barangsiapa rela dengan akalnya untuk hidup tanpa akidah serta mengingkari kepastian hukum-hukum akal, maka berarti ia menafikan akalnya. Lalu sekulerisme mengingkari agama-agama dan hanya bersandar kepada materi yang tidak memiliki orientasi dan tujuan dalam hidup ini, selain kehidupan hewani. Kapitalisme yang dipentingkan hanya mengumpulkan harta dari mana saja, tanpa memperdulikan halal-haram, kasih sayang dan cinta kepada orang-orang fakir dan miskin. Dasar perekonomiannya adalah riba yang berarti memerangi Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, dan karenanya negara serta pribadi menjadi hancur dan menghisap darah rakyat miskin. Karena itu, setiap orang yang berakal, apalagi yang memiliki sedikit iman tak mungkin rela hidup berdasarkan madzab-madzab ini, hidup tanpa akal, agama, tujuan yang benar yang senantiasa diupayakan dan di pertahankan. Madzab-madzab ini masuk ke negara-negara Islam saat mayoritas mereka kehilangan dien yang lurus dan terdidik di atas kelalaian serta hidup sekedar menjadi penurut dan pengekor.

kedua Bergabung dengan kelompok-kelompok Jahiliyah serta fanatik terhadap rasialisme adalah suatu kekufuran dan kemurtadan dari Islam. Sebab Islam menolak fanatisme dan kebangkitan Jahiliyah.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (Al-Hujurat: 13). 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ غَضِبَ لِعَصَيِبَّةٍ.

"Tidak termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme (Ashabiyah), tidak termasuk golongan kami orang yang membunuh karena ashabiyah, dan tidak termasuk golongan kami orang yang marah karena ashabiyah." (HR. Muslim). 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عَصَبِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِاْلآبَاءِ، إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ أَوْ فَاجِرٌ شَقِيٌّ، النَّاسُ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ، وَلاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلىَ عَجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى.

"Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang celaka. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam (non Arab) kecuali dengan takwa." (HR. at-Tirmidzi dan lainnya)

Hizbiyah (fanatik kelompok) inilah yang memecah belah umat Islam, padahal Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan kita bersatu dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa serta melarang berpecah belah dan berselisih. Allah Subhanahu waTa’alaberfirman,

Artinya:"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103).

Sesungguhnya Allah Subhanahu waTa’alamenginginkan agar kita menjadi satu kelompok (jamaah, hizb) yang satu, yaitu hizbullah yang beruntung. Tetapi, dunia Islam setelah itu diinvasi oleh Barat, baik secara politik maupun budaya, sehingga mereka tunduk kepada ashabiyah darah, ras/gender dan tanah air serta mereka percaya itu sebagai perkara ilmiah, realita yang diakui dan fakta yang pasti, sehingga mereka tidak bisa lagi menghindar daripadanya. Lalu rakyatnya dengan semangat menghidup-hidupkan ashabiyah tersebut yang sudah dipadamkan oleh Islam, mereka terus menyanyikan dan menghidupkan syi'ar-syi'arnya serta bangga dengan masa sebelum kedatangan Islam, padahal itulah masa yang oleh Islam selalu dinamai dengan Jahiliyah. AllahSubhanahu waTa’ala memberi nikmat kepada umat Islam untuk keluar dari masa Jahiliyah dan menganjurkan mereka agar mensyukuri nikmat tersebut.

Naluri seorang mukmin adalah hendaknya ia tidak menyebut tentang Jahiliyah, baik masa silam maupun yang terdekat kecuali dengan perasaan kebencian, ketidaksukaan, kemarahan dan hati yang menggeram. Bukankah seorang bekas penghuni penjara yang disiksa kemudian dilepaskan, lalu ketika diceritakan hari-hari penahanannya, penyiksaan dan penghinaan terhadap dirinya hatinya begitu menggeram menahan luapan amarah. Dan bukankah seorang yang telah sembuh dari sakitnya yang parah dan lama bahkan hampir saja ia mati pada hari-hari sakitnya itu, lalu ketika diingatkan ia menjadi gundah hati dan wajahnya pucat pasi? Sungguh wajib dipahami bahwa hizbiyah-hizbiyahtersebut adalah suatu adzab yang diturunkan Allah atas orang-orang yang berpaling dari syariatNya dan mengingkari agamaNya. AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Katakanlah, 'Dia yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain."[i/] (Al-An'am: 65). 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ.

"Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak memutuskan hu-kum dengan Kitabullah, maka Allah akan menjadikan siksaan di antara mereka." (HR. Ibnu Majah).

Sesungguhnya fanatik terhadap golongan-golongan menyebabkan ditolaknya kebenaran yang ada pada orang lain, sebagaimana keadaan orang-orang Yahudi, yang kepada mereka Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kepada al-Qur'an yang diturunkan Allah,' mereka berkata, 'Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.' Dan mereka kafir kepada al-Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedangkan al-Qur'an itu adalah (Kitab) yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka."(Al-Baqarah: 91).

Juga sama dengan keadaan orang-orang Jahiliyah yang menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada mereka, karena fanatik dengan apa yang ada pada nenek moyang mereka.

Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah,' mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'." (Al-Baqarah: 170).

Para pengikut hizbiyah tersebut ingin menjadikan hizbiyahnya sebagai ganti dari Islam yang telah dianugerahkan AllahSubhanahu waTa’ala kepada manusia. 

*note dari pemilik blog: the basic foundation of Islam are tauhid and akidah. If we learn these two by the right way, inshaAllah jalan selanjutnya akan lebih terbuka dan jelas. Sebaliknya, jika sejak awal kita salah dalam memaknai tauhid dan akidah, maka akibatnya kita tak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil dengan jelas, padahal perbedaan keduanya sebagaimana dikatakan oleh Umar ibn Khattab ra adalah seperti perbedaan malam dan siang. Namun untuk masalah ashabiyah di atas, bukan berarti kita bisa seenak hati menentang pemerintah demi terwujudnya sebuah negara Islam, karena hal ini sudah dipatahkan oleh beberapa hadis shaheeh dari Rasulullah salallahu 'alaihi wa salam yang meminta kita untuk mematuhi pemimpin, bahkan pemimpin zhalim sekali pun  (contohnya korupsi), selama pemimpin tersebut tidak memerintah rakyatnya berbuat maksiat dan pemimpin tersebut tidak menghalangi rakyatnya dari jalan Allah. Selama kita bisa beribadah dengan tenang, bebas ke masjis, bebas berdakwah, bebas mengadakan kajian-kajian, maka tidak ada alasan kuat bagi kita untuk menentang pemimpin yang sebelumnya kita sendiri yang sudah memilihnya. Artinya kita telah berbaiat kepada pemimpin tersebut. Meskipun demikian, ummat Islam sebaiknya membuang jauh-jauh fanatisme golongan seperti yang kita lihat di negara kita hari ini. Begitu banyak organisasi-organisasi, kelompok-kelompok, dll yang mengatakan mereka adalah yang paling benar, sebaliknya menghujat kelompok lain. Pelajari lagi Al Quran dan Sunnah, jangan bosan berdoa meminta petunjuk jalan yang lurus kepada Allah, buka hati kepada petunjuk, inshaAllah akan dibukakan tabir yang selama ini menutupi kita dari kebenaran. Jangan lupa, Rasulullah telah mengabarkan bahwa Islam kelak akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di neraka dan hanya ada 1 yang di syurga. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk mempelajari mana di antara sekian banyak golongan tersebut yang benar-benar berada di jalan yang dulu ditempuh oleh Rasulullah, sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin. Dan satu hal lagi, jangan lupa bahwa golongan yang benar di akhir zaman ini sudah pasti yang paling dimusuhi, difitnah, tidak disenangi, karena Rasulullah juga sudah mengabarkan bahwa di zaman fitnah (ujian, cobaan, guncangan, merebaknya perkara syubhat, syahwat, dan makruhat), siapa saja yang berpegang teguh pada tali agama Allah adalah seumpama menggengam bara api. Intinya let's back to the Quran and Sunnah. Tempuhlah jalan orang-orang yang sudah legal mendapatkan ridho Allah, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat. Wallahualam...

"Allahummahdini wassaddidni, allahumma inni as alukal huda wassaddad."

Bergabung dengan Madzhab-madzhab Atheis (Ilhad) dan Kelompok-kelompok Jahiliyah

Pertama Ikut bergabung dengan madzab-madzab (paham-paham) atheis seperti komunisme, sekulerisme, materialisme dan paham-paham kufur lainnya adalah kufur dan keluar dari Islam. Jika orang-orang bergabung dengan paham-paham tersebut mengaku Islam, maka ia termasuk nifaq akbar (kemunafikan besar). Karena sesungguhnya orang-orang munafik itu mengaku Islam secara lahiriyah, tetapi secara batiniyah (sesungguhnya) mereka bersama orang-orang kafir. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al- Baqarah: 14).

Artinya:"(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata, 'Bukankah kami (turut berperang) besertamu?' Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, 'Bukankah kami turut memenangkanmu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?' " (An-Nisa': 141).

Orang-orang munafik penipu, masing-masing mereka memiliki dua wajah; wajah untuk menghadapi orang orang beriman dan wajah untuk berpaling pada kawan-kawannya dari kalangan orang-orang atheis. Mereka juga memiliki dua lisan; lisan yang secara lahiriah diterima oleh umat Islam dan lisan yang mengungkapkan tentang rahasia mereka yang tersembuyi. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali pada setan-setan mereka, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok'." (Al-Baqarah: 14).

Mereka berpaling dari al-Qur'an dan as-Sunnah dengan mengolok-olok dan merendahkan para pengikutnya. Mereka enggan tunduk terhadap hukum kedua wahyu tersebut karena merasa bangga terhadap ilmu yang mereka miliki, padahal memperbanyak ilmu tersebut tidak bermanfaat, kecuali malah menambah keburukan dan kesombongan. Karena itu, engkau melihat mereka senantiasa mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengan wahyu yang nyata.

AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (Al-Baqarah: 15).

Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan agar kita bergabung dengan orang-orang beriman,

Artinya:"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar."(At-Tau-bah: 119).

Madzab-madzab atheis tersebut adalah madzab-madzab yang menyimpang, karena didirikan di atas kebatilan. Komunisme misalnya, mengingkari wujud Pecipta Subhanahu waTa’ala dan memerangi agama-agama samawiyah. Barangsiapa rela dengan akalnya untuk hidup tanpa akidah serta mengingkari kepastian hukum-hukum akal, maka berarti ia menafikan akalnya. Lalu sekulerisme mengingkari agama-agama dan hanya bersandar kepada materi yang tidak memiliki orientasi dan tujuan dalam hidup ini, selain kehidupan hewani. Kapitalisme yang dipentingkan hanya mengumpulkan harta dari mana saja, tanpa memperdulikan halal-haram, kasih sayang dan cinta kepada orang-orang fakir dan miskin. Dasar perekonomiannya adalah riba yang berarti memerangi Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, dan karenanya negara serta pribadi menjadi hancur dan menghisap darah rakyat miskin. Karena itu, setiap orang yang berakal, apalagi yang memiliki sedikit iman tak mungkin rela hidup berdasarkan madzab-madzab ini, hidup tanpa akal, agama, tujuan yang benar yang senantiasa diupayakan dan di pertahankan. Madzab-madzab ini masuk ke negara-negara Islam saat mayoritas mereka kehilangan dien yang lurus dan terdidik di atas kelalaian serta hidup sekedar menjadi penurut dan pengekor.

kedua Bergabung dengan kelompok-kelompok Jahiliyah serta fanatik terhadap rasialisme adalah suatu kekufuran dan kemurtadan dari Islam. Sebab Islam menolak fanatisme dan kebangkitan Jahiliyah.

Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (Al-Hujurat: 13). 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ غَضِبَ لِعَصَيِبَّةٍ.

"Tidak termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme (Ashabiyah), tidak termasuk golongan kami orang yang membunuh karena ashabiyah, dan tidak termasuk golongan kami orang yang marah karena ashabiyah." (HR. Muslim). 

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عَصَبِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِاْلآبَاءِ، إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ أَوْ فَاجِرٌ شَقِيٌّ، النَّاسُ بَنُوْ آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ، وَلاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلىَ عَجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى.

"Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang celaka. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam (non Arab) kecuali dengan takwa." (HR. at-Tirmidzi dan lainnya).

Hizbiyah (fanatik kelompok) inilah yang memecah belah umat Islam, padahal Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan kita bersatu dan saling tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa serta melarang berpecah belah dan berselisih. Allah Subhanahu waTa’alaberfirman,

Artinya:"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." (Ali Imran: 103).

Sesungguhnya Allah Subhanahu waTa’alamenginginkan agar kita menjadi satu kelompok (jamaah, hizb) yang satu, yaitu hizbullah yang beruntung. Tetapi, dunia Islam setelah itu diinvasi oleh Barat, baik secara politik maupun budaya, sehingga mereka tunduk kepada ashabiyah darah, ras/gender dan tanah air serta mereka percaya itu sebagai perkara ilmiah, realita yang diakui dan fakta yang pasti, sehingga mereka tidak bisa lagi menghindar daripadanya. Lalu rakyatnya dengan semangat menghidup-hidupkan ashabiyah tersebut yang sudah dipadamkan oleh Islam, mereka terus menyanyikan dan menghidupkan syi'ar-syi'arnya serta bangga dengan masa sebelum kedatangan Islam, padahal itulah masa yang oleh Islam selalu dinamai dengan Jahiliyah. AllahSubhanahu waTa’ala memberi nikmat kepada umat Islam untuk keluar dari masa Jahiliyah dan menganjurkan mereka agar mensyukuri nikmat tersebut.

Naluri seorang mukmin adalah hendaknya ia tidak menyebut tentang Jahiliyah, baik masa silam maupun yang terdekat kecuali dengan perasaan kebencian, ketidaksukaan, kemarahan dan hati yang menggeram. Bukankah seorang bekas penghuni penjara yang disiksa kemudian dilepaskan, lalu ketika diceritakan hari-hari penahanannya, penyiksaan dan penghinaan terhadap dirinya hatinya begitu menggeram menahan luapan amarah. Dan bukankah seorang yang telah sembuh dari sakitnya yang parah dan lama bahkan hampir saja ia mati pada hari-hari sakitnya itu, lalu ketika diingatkan ia menjadi gundah hati dan wajahnya pucat pasi? Sungguh wajib dipahami bahwa hizbiyah-hizbiyahtersebut adalah suatu adzab yang diturunkan Allah atas orang-orang yang berpaling dari syariatNya dan mengingkari agamaNya. AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:"Katakanlah, 'Dia yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain."[i/] (Al-An'am: 65). 

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ.

"Dan selama pemimpin-pemimpin mereka tidak memutuskan hu-kum dengan Kitabullah, maka Allah akan menjadikan siksaan di antara mereka." (HR. Ibnu Majah).

Sesungguhnya fanatik terhadap golongan-golongan menyebabkan ditolaknya kebenaran yang ada pada orang lain, sebagaimana keadaan orang-orang Yahudi, yang kepada mereka Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kepada al-Qur'an yang diturunkan Allah,' mereka berkata, 'Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.' Dan mereka kafir kepada al-Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedangkan al-Qur'an itu adalah (Kitab) yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka."(Al-Baqarah: 91).

Juga sama dengan keadaan orang-orang Jahiliyah yang menolak kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada mereka, karena fanatik dengan apa yang ada pada nenek moyang mereka.

Artinya:"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah,' mereka menjawab, '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'." (Al-Baqarah: 170).

Para pengikut hizbiyah tersebut ingin menjadikan hizbiyahnya sebagai ganti dari Islam yang telah dianugerahkan AllahSubhanahu waTa’ala kepada manusia. 

Pembatal Keimanan

Pembatal iman atau “nawaqidhul iman” adalah sesuatu yang dapat menghapuskan iman sesudah iman masuk didalamnya yakni antara lain:

1. Mengingkari rububiyah Allah atau sesuatu dari kekhususan kekhususanNya, atau mengaku memiliki sesuatu dari kekhususan tersebut atau membenarkan orang yang mengakuinya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempu-nyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al-Jatsiyah: 24)

2. Sombong serta menolak beribadah kepada Allah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembahNya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepadaNya. Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal shalih, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan me-nambah untuk mereka sebagian dari karuniaNya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripadaNya.” (An-Nisa’: 172-173)

3. Menjadikan perantara dan penolong yang ia sembah atau ia mintai (pertolongan) selain Allah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah’. Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuiNya baik di langit dan tidak (pula) di bumi? Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu).” (Yunus: 18)

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do’a yang benar. Dan berhala-berhala yang meraka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan do’a (ibadah) orang-orang itu, hanyalah sia-sia belaka.” (Ar-Radu: 14)

4. Menolak sesuatu yang ditetapkan Allah untuk diriNya atau yang ditetapkan oleh RasulNya.

Begitu pula orang yang menyifati seseorang (makhluk) dengan sesuatu sifat yang khusus bagi Allah, seperti ilmu Allah. Termasuk juga menetapkan sesuatu yang dinafikan Allah dari diriNya atau yang telah dinafikan dariNya oleh RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam.

Allah berfirman kepada Rasulnya: “Katakanlah, Dialah Allah, yang Mahaesa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-4)

“Hanya milik Allah asma’ husna , maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Al-A’raf: 180)

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65)

5. Mendustakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tentang sesuatu yang beliau bawa.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulNya); kepada mereka telah datang rasul-rasulNya dengan mambawa mu’jizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku adzab orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat kemurkaanKu.” (Fathir: 25-26)

6. Berkeyakinan bahwa petunjuk Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam tidak sempurna atau menolak suatu hukum syara’ yang telah Allah turunkan kepadanya, atau meyakini bahwa selain hukum Allah itu lebih baik, lebih sempurna dan lebih memenuhi hajat manusia, atau meyakini kesamaan hukum Allah dan RasulNya dengan hukum yang selainnya, atau meyakini dibolehkannya berhukum dengan selain hukum Allah.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak ber-hakim kepada thagut itu, padahal mereka telah diperintah meng-ingkari thagut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa’: 60)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

“Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 44)

7. Tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu tentang kekafiran mereka, sebab hal itu berarti meragukan apa yang dibawa oleh baginda Rasul Shalallaahu alaihi wasalam.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “…dan mereka berkata, Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya.” (Ibrahim: 9)

8. Mengolok-olok atau mengejek-ejek Allah atau Al-Qur’an atau agama Islam atau pahala dan siksa dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam atau seorang nabi, baik itu gurauan maupun sungguhan.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesung-guhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66)

9. Membantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang muslim.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi pemimpin yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesung-guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Maidah: 51)

10. Meyakini bahwa orang-orang tertentu boleh keluar dari ajaran Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan tidak wajib mengikuti ajaran beliau.

Allah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

11. Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajarinya serta tidak mau mengamalkannya.

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajdah: 22)

Inilah sebagian pembatal-pembatal iman yang paling nyata. Masih banyak pembatal-pembatal iman yang lain seperti sihir, menolak Al-Qur’an baik sebagian maupun keseluruhannya, atau meragukan ke-mu’jizatannya atau menghina mushaf atau sebagiannya, atau menghalalkan sesuatu yang sudah disepakati keharamannya seperti zina atau khamar, atau menghujat agama serta mencelanya.
Na’udzu billah min dzalik. Wallahu a’lam!

-Copied from Kitab Tauhid yang saya download di playstore. Sepertinya ini disusun berdasarkan kitab-kitab para ulama ahlussunah. Wallahu'alam.

Monday, 1 January 2018

Welcome 2018

2017 was the greatest year الحمد لله especially the last 3 months while I was starting to learn about Islam using a pair of true glasses. Resolusi untuk 2018 dan tahun-tahun selanjutnya adalah doa semoga Allah menetapkan hati di atas iman dan Islam kemudian wafat dalam iman dan Islam.

يا مقلب القلوب ثبت قلبى على دينك

"Wahai Rabb Maha Membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami di atas agama-Mu"

15 Rabiul Akhir 1439 H

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...