Friday, 31 May 2013

Dua Mozaik-Ku

Suasana pagi ini melemparku ke dua sisi mozaik hidupku. Ketika dosen dengan semangat -45 menjelaskan tentang berbagai pupuk tanaman. Aku tak memperhatikan, mungkin salah. Aku lebih sibuk dengan perasaan sendiri, menghayati suasana yang berkelindan dari hembusan angin dan bunyi-bunyian. Menikmati pikiranku yang meniti masa-masa silam. Kadang, bingung itu menyapa, akhir-akhir ini aku begitu merindukan waktu lalu.

Wush.... Angin yang bersensasi 'aneh' menyapu wajah. Aneh, karena angin ini seolah membawa rasa, angin ini seolah pernah menyapa di waktu lalu, angin ini seperti membawa pesan dari cerita masa silam. Ya, aku merasakan angin yang sama seperti yang kurasakan di tengah ladang jagung, di kampung halaman. Angin ini membuatku seakan memandang luas ladang jagung orangtuaku. Membuatku melihat kembali tubuh kecilku yang duduk di bawah rumpun pisang yang hidup di tengah ladang, menunggu Bapak-Ibu bekerja, memakan bekal, lalu tidur-tiduran sambil menikmati hembusan angin seperti yang datang pada pagi ini. Angin ini juga sama dengan yang kurasakan ketika bersama sahabat kecilku. Angin yang menerbangkan rambut kami ketika bersepeda menjelang matahari tenggelam. Angin ini membawa rasa yang dalam, rasa rindu kampung halaman, rasa ingin mencecap masa lalu kembali, ketika aku bisa menikmati setiap keindahan tanpa merisaukan masa depan.

Lalu, bunyi-bunyian itu menggema dari panggung acara puncak Ulang Tahun Diploma IPB. Nyanyian dengan aroma islam menyusup telinga, merambah ke dalam hati. Gema dan alunannya melempar diriku kembali ke suatu tempat, tempatku menempuh pendidikan tiga tahun lamanya. Pesantren tercinta. Aku kembali melihat diriku dan puluhan santriwati menyebar di segala ranah kawasan santriwati, pada Minggu pagi. Menenteng sapu lidi, tong sampah, pel, dan gunting bunga. Sebagian membersihkan masjid, kamar mandi, tempat wudhu, lobi, lapangan basket, tangga, teras, taman, bawah pohon, pembuangan sampah, lapangan takraw, teras, halaman dan asrama. Semua sibuk dengan tugas masing-masing. Aku dan empat orang temanku lah yang membagi lokasi-lokasi tersebut untuk seluruh santriwati. Biasanya, aku juga ikut menyapu daun-daun kering di taman, di tepi jalan. Lalu apa hubungannya dengan bunyi-bunyian itu? Tentu saja ada. Alunan lagu-lagu Islam itulah yang selalu menggema dari menara masjid kami di pagi Minggu. Terkadang juga diganti dengan alunan ayat Al-Quran atau ceramah agama. Lagu-lagu, alunan ayat-ayat suci, dan ceramah yang menggema hingga ke pojok-pojok pesantren itulah yang kurasakan pagi ini. Aku rindu suasana itu, dan tentu saja aku rindu teman-temanku di sana.


Kadang, keperihan yang kita rasakan sekarang, membawa kita begitu merindukan masa silam. Ini sebuah keniscayaan. Meskipun, nantinya masa sekarang pun akan menjadi hal yang dirindukan, ketika kita telah meninggalkannya di belakang. Dulu pun bukan tanpa masalah, dulu pun tak semua indah, sama seperti sekarang. Setidaknya, ini mengingatkanku untuk menikmati waktu yang dijalani. Semua berharga, semua adalah mozaik-mozaik yang berserak, kita harus mengumpulkannya, menyusunnya dengan periode yang tak instan. 

So, tak perlulah meratapi keadaan. Right?


Have just written in class discussion#10:42 am# Saturday# busy class# :-)

Tuesday, 28 May 2013

Terlalu Mudah Menghakimi

Sombong, angkuh?
Dua kata yang disanding-sandingkan dengan cela sifat seseorang. Biasanya, dua kata itu digunakan untuk menyebut mereka yang tak ramah, senang membanggakan diri, dan selalu merendahkan semua yang di sekelilingnya.
Hm....ini definisi lama, menurutku. Karena kini, dua kata itu juga dilemparkan bagi mereka yang pendiam, tak suka ber-haha-hihi, malas berbasa-basi, tak pandai berekspresi, tak pandai merayu sana-sini, de el el.
Terkadang, aku bingung menerjemahkannya. Apa makna kedua kata itu?

Aku bisa menceritakan sebuah kisah, tentang seseorang. Ia gadis biasa, tak cantik, tak juga kaya. Semua itu tidak masalah, tak mengapa. Namun, sejak kecil julukan 'Sombong, angkuh' sudah menempel pada dirinya. Setiap waktu ia memikirkan alasan orang-orang mencela begitu. Ia menyadari, ia kurang mampu bersosialisasi, malas membuat sensasi, seperti kebanyakan. Lalu apa itu sombong? Angkuh? Hanya karena ia tak bisa berkenal akrab dengan yang lebih tua atau yang lebih muda. Ketika yang lain mengangkat kakak, mengangkat adik, ia tidak. Tak punya cerita tentang pesona anak anak manusia untuk dinikmati bersama. Ia membosankan.

Dari sini, aku bisa menyimpulkan. Sungguh yang menjadi kebenaran mayoritas itu taklah mutlak benar. Masih ingat bukan pada kisah anak aneh di kereta. Ketika seorang anak kecil berteriak riang kepada Ayahnya "Ayah! Awan itu mengejar kita!", "Ayah! Pohon-pohon di tepi jalan itu mengikuti kita". Sang Ayah hanya tersenyum penuh kasih. Namun, dua orang yang duduk di samping mereka, memandang heran. Tak tahan lagi, mereka bertanya kepada Ayah dari bocah itu "Kenapa anak Anda tidak dibawa ke Rumah Sakit saja? Dia aneh!"
Sang Ayah justru tersenyum, mengelus rambut anaknya. Dengan wajah bahagia ia menjawab "Kami baru saja pulang dari Rumah Sakit, penglihatannya kembali hari ini setelah buta sejak lahir"
Kedua orang yang bertanya tersentak, tersentuh.

Ya, begitulah. Kadang manusia terlalu cepat membuat kesimpulan tanpa referensi. Terlalu senang menghakimi sendiri.

So, jangan peduli kata orang! Tentu saja jika kita yakin berada pada ruang yang benar.

Have just Written in the 'Feed Formulation' Class, 9:44 am. Thanks for reading.

Sunday, 26 May 2013

Semoga Engkau Segera Berjilbab, Sahabatku....

"Wahai Nabi! Katakan kepada istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka' yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59).

Aku ingin menceritakan sedikit tentangnya, tentang seorang gadis yang saat ini berada di pulau yang berbeda denganku. Kisahnya telah kuurai sedikit pada tulisan yang lalu, dan sekarang aku ingin menyambungnya.

Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku dan dia berpisah di persimpangan jalan. Aku melanjutkan ke sekolah agama dan dia ke sekolah umum. Perbedaan ini membuat banyak perbedaan lainnya. Aku harus berjilbab karena tuntutan peraturan dan dia masih bebas dengan model-model rambutnya. Ketika itu, aku masih belum mengetahui esensi jilbab yang menempel di kepalaku, malahan aku merasa jilbab hanya menjadi penghalang untuk tampil trendi. Rambutku yang panjang pun harus tersimpan dan tak bisa dipamerkan.

Aku memang terpaksa masuk sekolah agama, biarpun begitu, aku tetap menaati peraturan. Aku menjadi anak rumahan yang tidak banyak ulah dan tentunya berjilbab.

Bagaimana dengan dia? Dia begitu bahagia dengan sekolahnya, teman yang banyak dan seragam yang bagus. Ketika sekolah, dia juga mengenakan jilbab namun ketika jalan-jalan ia bebas ingin bergaya seperti apa. Aku iri, tapi mau bagaimana lagi.

Ia tak lagi punya banyak waktu bersamaku. Ia lebih senang dengan temannya yang sejalan. Aku tak lagi bisa menjadi sahabat yang asik baginya, tak bisa diajak curhat tentang pacar atau laki-laki yang dikagumi. Hubungan kami terus menjauh. Aku iri ketika ia memilih jalan-jalan bersama temannya yang lain daripada aku. Aku ingin marah padanya karena aku tidak lagi mendapatkan kebersamaan seperti dulu. Tak ada menyerok ikan, tak ada memanjat pohon rambutan, tak ada mencari damar, dan tak ada semuanya. Aku merindukannya meski aku bisa melihatnya setiap hari.

Semua berlanjut hingga kami beranjak ke pendidikan yang lebih tinggi. Aku melanjutkan ke pesantren dan ia melanjutkan ke SMA. Di pesantren, lambat laun aku mulai mencintai jilbabku. Aku tak lagi melepasnya ketika keluar rumah. Ia masih sama seperti dulu, masih dengan rambutnya yang tergerai lembut dan pakaian trendi.

Kita hanya bertemu setahun sekali, karena letak pesantrenku yang sangat jauh dari pulau kecil kami. Aku selalu berharap ia mau mengikuti langkahku, menutup aurat. Aku tak pernah sekalipun mengingatkannya, aku hanya tetap istiqomah mengenakan jilbabku. Aku juga tetap menyayanginya, mencoba membantu apabila ia sesekali menceritakan masalahnya. Aku memahami dirinya, aku tahu sepak terjang dan perjuangan hidupnya yang tak ringan, aku tahu ini hanya soal waktu. Aku tak perlu berceramah padanya, cukuplah aku perlihatkan keteguhanku berjilbab.

Sekarang, aku menjalani semester dua di Kota Bogor, dan ia harus banting tulang di pulau sana, Tanjung Pinang. Keadaan mengubur mimpinya untuk mengecap bangku perkuliahan. Terakhir kita bertemu Juni 2012 lalu, ia mengantarkanku ke dermaga. Melambai tangan saat boat yang kutumpangi menuju tengah laut. Ia memakai jilbab ketika itu, aku bahagia sekali, karena itu artinya ada cahaya dan keinginannya untuk berjilbab.

Kemaren malam, 26 Mei 2013, ia mengirim pesan singkat (sms), memintaku untuk membelikannya buku-buku. Nanti ia akan mengganti uangnya dengan cara dititipkan lewat kakaknya yang pulang ke pulau kecil kami, lebaran nanti. Ia sendiri tidak bisa pulang, tidak mendapat cuti kerja. Aku tahu itu pasti berat baginya, tapi seperti ceritaku dulu, ia adalah wanita tertegar yang pernah kukenal.

Sungguh aku menangis ketika membaca sms darinya. Aku tahu ia tidak memiliki hobi membaca, apalagi yang dipesannya adalah dua buku motivasi dan satu buku islam tentang muslimah. Kenapa aku menangis? Cermatilah, dua buku motivasi? Aku menyimpulkan ia sedang dalam keadaan rapuh saat ini, terlebih beberapa waktu lalu ia menceritakan perihal kebingungannya pada masa depan dan jalan hidup yang abu. Aku bisa merasakan hal itu, sebagaimana dulu ketika kecil, aku ikutan sakit saat ia sakit dan sebaliknya. Andai kita bisa bersama.

Hal kedua yang membuatku menangis adalah buku tentang muslimah yang dipesannya. Untuk buku yang satu ini, aku akan menghadiahkan buku milikku yang berjudul 'Hijab I'm in Love' karya Oki Setiana Dewi. Semoga ia juga akan segera memahami perintah Allah pada surah Al-Ahzab ayat 59 lalu berjilbab dengan sempurna.

Malam ini aku kembali mengenang masa lalu kami, masa kecil kami. Semoga Allah memberkahimu dan memberkahiku, memberkahi keluarga kita. Amin...

Selesai ditulis pukul 12:32 dini hari.
Bogor, 28 Mei 2013

Thursday, 23 May 2013

Kisah Inspiratif: Bocah Pembeli Ice Cream

Kisah inspiratif ini terjadi sudah lama sekali, sekitar tahun 1930-an. Ketika itu harga es krim sundae masih terbilang murah. Suatu hari, seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun mendatangi kedai kopi sebuah hotel dan duduk di satu meja. Seorang pelayan menaruh segelas air di depannya.
"Berapa harga es krim sundae?" tanya bocah itu.
"50 sen," jawab si pelayan.
Bocah itu mengeluarkan kepingan uang dari kantong celananya dan menghitungnya.
"Hmmm... Kalau es krim yang biasa berapa?" tanyanya lagi.
Saat itu, sudah banyak pelanggan yang menunggu untuk dilayani. Dan si pelayan menjadi tidak sabar.
"35 sen," jawabnya dengan kasar.

Bocah itu menghitung uangnya sekali lagi dengan hati-hati.
"Aku pesan yang biasa saja," lanjutnya.
Tak lama kemudian, si pelayan membawa pesanan bocah itu dan menaruh bonnya di meja, lalu dia pergi. Setelah menghabiskan es krimnya, ia membayar ke kasir dan pergi.

Ketika si pelayan hendak membersihkan meja yang tadi dipakai bocah itu, ia kaget dan mulai menangis. Di samping piring tempat es krim terselip dua koin bernilai 5 sen dan lima koin bernilai 1 sen. Inilah alasannya bocah tadi tidak jadi memesan es krim sundae karena ia ingin memberikan uang tips yang layak kepada si pelayan.

Bukankah kita sering kali bersikap seperti pelayan tadi? Selalu cepat menghakimi orang lain. Selalu melihat suatu keadaan atau kejadian dari satu sisi saja. Sesuatu yang tampak tidak baik di satu sisi belum tentu tidak baik juga di sisi yang lain. Seperti pada cerita di atas, tindakan si bocah yang membuat si pelayan jengkel ternyata berujung pada maksud dan niat yang baik. Dan, sayangnya, si pelayan terlambat menyadarinya. Nah, sebelum kita mengalami hal yang sama seperti pelayan tadi, mari belajar untuk memahami suatu kejadian atau seseorang dari berbagai sisi, sehingga kita bisa mengambil tindakan atau mengeluarkan perkataan yang tidak akan kita sesali di kemudian hari.

Sumber : http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/kisah-bocah-pembeli-ice-cream-sundae.html?m=1

Cerita inspiratif: Andai Aku Punya Email

Seorang lelaki melamar pekerjaan sebagai office- boy di istana. Staf istana mewawancarai dia dan memberi tugas membersihkan lantai sebagai tesnya.
"Kamu diterima," katanya. "Berikan alamat e- mailmu dan saya akan mengirim formulir untuk diisi dan pemberitahuan kapan kamu mulai kerja."  
Lelaki itu menjawab, "Tapi saya tidak punya komputer, apalagi e-mail."
"Maaf," kata staf itu.
"Kalau kamu tidak punya e-mail, berarti kamu tidak hidup dan tidak bisa diterima bekerja."

Lelaki itu pergi dengan harapan kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya dengan sedikit uang di dalam kantongnya. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi ke pasar & membeli 10 kg tomat. Ia menjual tomat itu dari rumah ke rumah (door-to-door).

Kurang dari 2 jam, dia berhasil melipatgandakan modalnya. Dia melakukan pekerjaan ini tiga kali, dan pulang dengan membawa uang yang cukup untuk hidup beberapa hari. Dia pun sadar bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara ini.  Ia mulai pergi bekerja lebih pagi dan pulang lebih larut. Uangnya menjadi lebih banyak 2x sampai 3x lipat tiap hari.

Dia pun membeli gerobak, lalu truk, dan akhirnya ia memiliki armada kendaraan pengiriman sendiri. Lima tahun kemudian, lelaki yang tekun dan pekerja keras itu sudah menjadi salah satu pengusaha makanan terbesar. Ia mulai merencanakan masa depannya bersama keluarga dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.

Ia menghubungi broker asuransi. Sang broker pun menanyakan alamat e-mailnya. Lelaki itu menjawab, "Saya tidak punya e-mail." Sang broker bertanya dengan penasaran.
"Ah anda pasti bercanda, mana mungkin anda bisa sesukses ini kalo e-mailpun anda tak punya?".

Lelaki itu menjawab, "Ya saya memang tidak pintar, tapi saya telah membangun ini semua dengan impian dan kerja keras". "Anda tidak punya e-mail, tapi sukses membangun sebuah usaha besar. Bisakah Anda bayangkan, sudah jadi apa Anda kalau punya e-mail?"
Lelaki itu menjawab, "Ya, saya akan menjadi office boy di istana"

Sumber: http://berbisnis-di-rumah.blogspot.com/2012/06/cerita-sukses-jangan-pernah-mengukur.html?m=1

Friday, 17 May 2013

'Cinta Versi Monyet'

romantis nyaa..... hihi
Cinta. Bahkan anak SD pun tau tentang satu kata ini. Kita yang mengaku dewasa pun memberi nama cinta versi anak ingusan:"Cinta Monyet". Mengapa bisa cinta monyet? Mungkin dulu yang memberi nama ini adalah orang yang dekat sekali dengan primata itu sehingga paham dengan cinta versi monyet. Entah juga, aku hanya menerka. Intinya cinta main-main, itu saja.

Hmm.... Itu tadi prolog. Aku sendiri bukan ahlinya, bahkan hingga kini aku belum paham akan hakikatnya. Yang ku tahu cinta yang sempurna-selain cinta dari yang Maha Mencintai-adalah cinta Ayah dan Ibuku. Aku belum pernah menjumpai orang lain yang memperlakukanku sebagaimana Ayah dan Ibu memperlakukanku. Dari mereka, aku bisa melihat cinta itu. Cinta yang tak pernah sirna hingga kini.

Aku tak marah ketika Ayah membiarkanku berangkat seorang diri ke Pulau Jawa. Justru, aku melihat cinta di sana. Ketika Ayah meminta maaf dengan kata-katanya yang membuatku meneteskan air mata, ketika ia menepuk pundakku untuk menguatkan saat boat akan beranjak meninggalkan Pulau Kecilku, ketika ia menanyakanku pada kakak kelas yang akan menjemputku. Aku tak marah ketika aku sakit dan mereka tak datang menjenguk seperti orangtua yang lain. Justru aku menemukan cinta di sana. Ketika Ibu menangis di ujung telepon, ketika Ayah mengatakan ia mendoakanku semalam penuh, ketika mereka bercerita tak bisa tidur karena mencemaskanku, ketika mereka memiliki perasaan tidak enak dan mimpi buruk tentangku pada beberapa hari terakhir. Lihatlah, cahaya-cahaya cinta itu. Itulah yang tak kutemukan pada orang lain. Itulah cinta versi sepanjang masa edisi manusia.

Cinta. Aku juga pernah memiliki kisah cinta versi monyet seperti yang kusindir di awal. Bukan saat aku duduk di Sekolah Dasar, melainkan ketika aku menjalani masa-masa akhir di Pesantren. Lalu mengapa aku juga menamainya dengan Cinta Monyet? Karena cinta itu hanya main-main, semu dan menyesatkan. Aku menganggap cinta edisi pacaran adalah Cinta Monyet, mau umur berapapun mereka yang berpacaran. Anda tak suka? Mudah, jangan lanjutkan membaca.

Cinta. ya, memang indah cinta versi monyet. Jadi, biarkan kuceritakan sedikit tentang cinta versi monyetku itu padamu. Aku mengenal laki-laki itu dalam waktu 10 hari. Ia duduk di semester II bangku perkuliahan ketika itu. Kebetulan ia sebagai tutor kami pada pelatihan pertanian organik di sebuah Universitas Negeri nomor satu di Provinsiku. Ia paling tampan, paling tinggi, paling cool, paling sopan, paling rajin, paling rapi, paling-paling deh (berdasarkan referensi satu tahun lebih lalu). Semua temanku mengaguminya, diam-diam akupun begitu. Tapi, aku tidak pernah bisa mengekspresikan ketertarikanku. Aku malah sebisa mungkin tidak bertatap muka langsung dengannya. Why? Because i was so nervous. Ya, itulah awal bunga-bunga cinta versi monyetku. Kami hanya memiliki percakapan beberapa potong saja selama dalam kurun 10 hari itu. Kekaguman di antara kami hanya tampak dalam diam, diam namun aku merasakannya. Kisah itu terasa semakin indah saat masa pelatihan usai. Aku kembali ke Pesantren dan ia kembali pada kesibukan kampus. Tapi, semua berlanjut di dunia maya dan seluler. Hingga, persetujuan diantara kami pun terjadi. Pacaran. Ah, sebenarnya aku kurang suka mendengar kata itu, apalagi ketika sadar bahwa akupun pernah menjalaninya. Tapi, tak apalah. Aku ingin mengabadikan kisah ini dalam tulisan. Memang indah rasanya memiliki pacar, tapi semua semu, sementara. Sama seperti ceritaku yang hanya bertahan tiga bulan saja. Cerita itu berakhir pada malam Idil Fitri. Menangis? Ya, waktu itu. Menyesal? Ya, menyesal karena aku jadi memiliki catatan pacaran dalam sejarah hidupku. Tapi, aku bersyukur, kita tak pernah bertatap muka apalagi berjabat tangan ketika masa 3 bulan indah itu. Ia hanya meninggalkan bayangan yang kuambil dari kenangan 10 hari itu. Tak ada boneka, buku, terlebih bunga yang kuberikan ataupun ia berikan. Setidaknya begitu. Dan setidaknya lagi, bukan aku yang mengucap cinta pertama kali dan bukan ia yang mengakhiri cerita ini. Memang perih, tapi setidaknya aku tidak menanggung malu.

Hingga kini, percakapan kami di jejaring sosial masih ada tersimpan. Aku tak berniat menghapusnya. Biarlah, sebagai arsip bukti sejarah hidup. Sebagai bahan cerita suatu waktu kelak.
Jadi, cinta itu apa? Berikut cinta menurut Jalaludin Rumi.

"Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta"

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri.” Juga sabda Rasulullah, "Barang siapa ingin mendapatkan manisnya iman, maka hendaklah ia mencintai orang lain karena Allah.” (HR Hakim dari Abu Hurairah)”.

Saya tak sanggup mendefinisikan cinta. Namun, aku berani menyimpulkan bahwa ceritaku bersamanya selama 3 bulan itu bukan cinta. Cinta tidak akan membuatku lupa diri dengan menghabiskan waktu senggangku hanya untuk membayangkannya, cinta tak akan membuatku lalai melaksanakan kewajibanku karena menjawab telepon darinya, cinta tak akan membuatku menjalani hubungan tanpa akad yang tak disukai-Nya. Cinta tak akan membuatku mencinta tanpa dasar cinta kepada-Nya. Itu bukan cinta. Itu hanya racun yang menjelma menjadi madu. Merusak perlahan.

Berbahagialah kalian yang istiqomah tidak pernah sekalipun menjalin ikatan tanpa akad itu. Bagi yang memiliki kisah sama sepertiku, tenanglah. Dia Maha Mencintai, Dia menerima apapun keadaan kita selagi kita memiliki niat untuk berubah. Cinta memang harus dijemput, namun bukan dengan mengikat tanpa akad.
Inilah ceritaku, mana ceritamu?

Tuesday, 14 May 2013

Sepiring Cita dengan Tiga Potong Video Inspiratif dari Dosenku

"Saya ingin kalian semua menjadi pengusaha nantinya, semuanya" Begitu ucapan Pak Henry, dosen mata kuliah Kualitas Air di akhir kelas hari ini. Selasa, 14 Mei 2013 di salah satu Kelas Kampus Pascasjana IPB Baranang Siang.

"Ini adalah kali terakhir saya masuk ke kelas ini, oleh karena itu saya ingin memberikan yang spesial di akhir kelas"

Ya, beliau memutar tiga video untuk kami. Video pertama adalah video lucu yang bercerita tentang seorang Pak Guru yang mengajarkan antonim kepada dua orang muridnya, seluruh dialog using NGAPAK language, guys. Kurasa video ini sudah familiar sekali. Aku sendiri sudah berkali-kali menontonnya dari ponsel adikku. Bahkan, adikku sampai hafal dengan dialog yang membuat sakit perut itu.

"Video tadi sederhana sekali, sekilas hanya seperti kartun komedi. Tapi, ada hal yang bisa kita ambil. kuasailah komunikasi, agar orang lain paham dengan apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan"

Video kedua adalah video Pak Mario Teguh yang memberi petuah di sebuah acara TV (saya lupa nama acaranya). Pak Mario tampil berbeda sekali. Yap, karena itu adalah acara komedi. Di belakang Pak Mario berdiri saja, berjejer manis Si Raditya Dika dan komplotan komedian lainnya (eh, Bang Dika masih kurus lho. Maklum arsip awal tahun 2012). kembali ke Pak Mario, kali ini ada gelang hitam melingkar di pergelangan tangannya.

"Wah, fleksibel sekali seorang Pak Mario" Pikirku

Pak Mario tetap menyihir dengan kalimat-kalimatnya, namun spesialnya semua petuahnya disampaikan dengan mengejutkan. Ya, karena semua dibuat super duper nguakak.

Bang Radit dan komplotannya saja tertawa sampai kejang-kejang. Aku sendiri tak mampu mengingat apa yang sudah disampaikan Pak Mario. Bentar ya, aku mikir dulu.

Aha! Ini dia! Suara dan penampilan itu sungguh berpengaruh pada chemistry seseorang. Contoh nih, ada seorang laki-laki tinggi, atletis, cakep, bule, pake jas, eh....ketika ngomong, suaranya kayak cewek India lagi nyanyi. Melengking, bok. Cucok. Kan gak banget ya?

Ini namanya gak seimbang.

Pokoknya super deh, kalau penasaran mangga dicari di youtube. Tapi, maap saya gak bisa ngasi key word ya. Saya lupa atuh. Pokoknya inspiratif sekali, meskipun ada kakak tingkatku yang mengatakan "Hidup itu tidak semudah ucapan Mario Teguh" (sambil mikir  dengan gaya ala Einstein).

Video ketiga adalah video motivatif. Berbahasa Inggris. Intinya menceritakan tentang sikap banyak orang. ketika kecil, kita berani bermimpi.

"Aku ingin jadi pilot!"

"Aku ingin jadi ini, jadi itu!"

"Aku tidak takut pada ketinggian!"

Namun setelah dewasa kita berubah menjadi sosok pengecut dan mudah terpengaruh sehingga ide-ide kreativ yang kita miliki hanya berbuah sia-sia. Why? Because we had no action!

Setelah video ketiga selesai, Pak Henry selanjutnya berbicara seputar dunia kewirausahaan dan mengaitkannya dengan ketiga video yang telah kami tonton.

Pengusaha?

Bagiku, mereka adalah sosok yang berani, tangguh, dan berpikir berbeda. Ya, aku setuju dengan ucapan Pak Henry tentang mereka, para pengusaha itu. Mereka yang berjuang mati-matian di tahun pertama dan kedua hingga kestabilan pada tahun keempat dan kelima. Pada tahun keenamlah mereka panen. Mereka bisa bersedekah lebih banyak, bisa mengajak Ayah-Ibu ke Tanah Suci, bisa menyekolahkan Adik-Adik, bisa memberikan pekerjaan untuk orang lain, bahkan bisa sampai bosan memegang uang. Hihi

Benar guys. Bukankah Nabi Muhammad SAW adalah seorang pengusaha? Beliau adalah pengusaha jujur yang sukses. Bahkan Beliau memberikan mahar pada Khadijah berupa 100 ekor unta yang senilai dengan 1,2 M. Waw....!!!

Wah, jadi pengen membuka usaha. Tapi usaha apa ya? Pabrik mie sagu instan, peternakan puyuh pedaging, kebun sayur, kebun bunga atau perikanan? Waw, waw, semuanya aja deh! (ciri-ciri orang rakus). Hehe Alhamdulillah saya udah punya coret-coretan. Sekarang lagi belajar buat kesono nya. Doain yaa...

Ya, tepuk tangan bergemuruh. Membahana ke langit-langit kelas. Super sekali Pak Henry. You are the inspiring lecturer. So thankful....

(Maap kalau bahasanya rada aneh. Nulisnya sambil merem-melek ngantuk. Soalnya kalau nunggu besok keburu lupa deh. Hihi)

Saturday, 11 May 2013

"Si Pembuat Awan" dari Belanda



Terkadang ketika duduk seorang diri dengan suasana hati yang tepat, imajinasi kita akan terbang ke tempat-tempat yang tidak terjangkau. kita membayangkan sedang menyusuri lorong klasik dengan awan putih yang menggantung di samping kiri dan kanan, atau ingatan kita terlempar ke masa kecil, ketika kepala mendongak ke langit. Kita tersenyum dengan mata berbinar, menunjuk awan, memiripkan awan-awan itu dengan mainan, kelinci ataupun bunga. Ada satu poin yang sama pada kedua deskripsi di atas. Apa itu? Itu adalah awan. Ya, awan selalu disejajarkan dengan hayalan, fantasi, dramatic scene, dan keanggunan.
Gambar 1. Berndnaut Smilde

Syahdan, hampir setiap orang mengagumi atau setidaknya pernah mengagumi awan putih. Namun, semua itu hanya sebatas kekaguman yang sungguh sulit direalisasikan. Kita harus terjun payung atau naik ke puncak gunung untuk menyentuh awan dan berfoto di antara kedramatisannya. Lalu, kenapa tidak berpikir untuk membawanya ke dalam toples atau ruangan? Oh ini sedikit tidak efisien. Bagaimana kalau membuatnya saja? Nah, this is a nice idea. Inilah space yang dilihat Berndnaut Smilde, seniman dari Amsterdam, Belanda. Ia tau betapa banyak orang yang ingin menikmati keindahan awan, ia tau bahwa mengantongi awan dari atas sana untuk di bawa ke bumi akan menguras biaya dan waktu, maka ia mengambil satu peluang, yaitu membuat awan.

Gambar 2. nimbus cukurkuma hamam
Dalam salah satu video tentang Smilde di youtube, kita bisa melihat seniman tampan itu menyemprotkan air untuk mengatur kelembapan dari hand sprayer ke udara. Ia juga memanipulasi suhu ruang dan pencahayaan seoptimum mungkin. Selanjutnya mesin asap yang menempel di dinding akan menyemburkan kepulan asap tebal. Aha, itu dia! Dalam beberapa saat, terbentuklah awan putih yang menggantung dramatis di tengah ruangan, momen singkat ini yang Smilde manfaatkan untuk mengambil foto-foto dari berbagai angel. Ia juga memberi nama setiap awan yang berhasil dibuat, seperti nimbus d'aspremont, nimbus cukurkuma hamam dan banyak lagi. Karya ini tentu sangat menggebrak dunia seni di seluruh dunia. Tak ayal, Smilde pun kemudian harus menampilkan awan dan pameran foto awan buatannya di banyak negara. Diantaranya di Ronchini Gallery di London , Galleries SFAC di San Francisco dan di Land of Tomorrow di Louisville, Kentucky. Awan buatan seniman kelahiran Groningan, 1978, inipun disebut sebagai "Best inventions of the year 2012" oleh majalah Time.
Gambar 3. Nimbus NP3

Gambar 4. Nimbus D’Aspremont

Awan buatan tersebut memang hanya bisa bertahan beberapa detik. Namun, justru dengan begitu ada rasa yang tercipta bagi setiap orang yang melihatnya. Karena disanalah diajarkan untuk menikmati sesuatu yang singkat dengan sepenuh hati. Di sanalah tercipta seni, keindahan yang dirindukan.
"I'm interested in the ephemeral aspect of the work" Ucap Smilde ketika diwawancarai.

Gambar 5. Nimbus II

Gambar 6. Nimbus green room II, 2013

Awan buatan ini tidak hanya mewujudkan hayalan banyak orang, tidak hanya melambungkan nama Smilde, tidak hanya mewangikan negara Belanda, namun memberikan pelajaran kepada banyak orang. Sesuatu yang tinggi, tidak tersentuh, bukan berarti tidak bisa diwujudkan.Smilde juga mengajarkan kita untuk tidak melupakan hal-hal yang ada disekeliling kita, sesederha apapun itu. 'Using his daily surrounding as spaces as inspiration' begitu kalimat yang tertulis pada sebuah artikel di www.dailymail.co.uk untuk mendeskripsikan sang pionir Berndnaut Smilde. Semoga kita bisa mengambil inspirasi dari karya ini dan segera bisa memiliki karya menakjubkan.

Referensi:
http://www.thisiscolossal.com/2012/12/artist-berndnaut-smilde-brings-the-weather-indoors-with-his-temporary-nimbus-clouds/

http://www.youtube.com/watch?v=1XKXlZgqr_I

http://www.washingtonpost.com/blogs/arts-post/post/artist-berndnaut-smilde-creates-indoor-clouds/2012/03/13/gIQA7yAT9R_blog.html
 

http://www.ronchinigallery.com/archives/artists/berndnaut-smilde

Thursday, 9 May 2013

A Testimony : 9 Summer 10 Autumn Movie

Halo sahabat semua, Rabu 8 Mei kemaren aku berkesempatan menoton film yang banyak diperbincangkan beberapa minggu terakhir. Film yang berjudul sama dengan novel yang kubahas sebelumnya '9 Summer 10 Autumn'. Awalnya aku memilih untuk ikut nobar yang diadakan oleh sebuah lembaga swasta pada hari Minggu, 12 Mei. Karena pada hari itu seluruh pemain dan Mas Iwan Setyawan juga didatangkan ke Cimema XXI Bogor Trade Mall. Tapi, aku tidak bisa menolak saat teman-teman mengajakku pada hari Rabu.

Setelah menonton film  yang disutradarai Ifa Isfansyah (sutradara terbaik festival film Indonesia 2011) ini, saya jadi paham alasan film ini menjadi topik pembicaraan yang segar beberapa waktu terakhir. Semua media sosial selalu mendiskusikannya. Ucapan-ucapan apresiasi juga tampak membanjir di twitter Mas Iwan dan Ihsan Tarore. Film yang menggugah dan motivatif. Aku sendiri sangat mengagumi peran Alek Komang sebagai Bapaknya Mas Iwan. Seorang Bapak yang begitu bangga dengan kelahiran anak lanang satu-satunya. Seorang Bapak yang merasakan kerasnya hidup sebagai supir angkot di Kota Batu. Seorang Bapak yang mengungkapkan cintanya dengan caranya sendiri. Mas Iwan yang penakut, senang main di dapur, adalah alasan mengapa Sang Bapak tidak menaruh bangga padanya. Bahkan saat Mas Iwan mendapat ranking 1 di kelas dan diterima di jurusan statistika IPB melalui jalur PMDK, Bapaknya tak bangga. karena Bapaknya hanya menginginkan anak lanangnya menjadi laki-laki pemberani, itu saja. Biarpun begitu, Bapaknya Mas Iwan selalu berusaha memenuhi keinginan Mas Iwan.

Keluarga Mas Iwan dalam Film
Jangan kaget kalau Ihsan Tarore, sebagai Mas Iwan bergaya cucok banget dalam film ini. Gaya berjalan melenggang dan tas yang cewek banget. Ia memang dituntut memerankan sosok Mas Iwan yang menurut anggapan Bapaknya adalah laki-laki penakut dan klemar-klemer. Pemeran Mas Iwan kecil oleh Shafil Hamdi Nawara. aku rasa sudah pas. Anak yang lucu, menggemaskan dan tepat.
Si Bayek: Mas Iwan Kecil Oleh Shafil Hamdi Nawara
Seperti cerita aslinya, Mas Iwan mencapai puncak kesuksesannya di New York, kota yang gemerlap dan penuh dengan kebisingan. Namun jangan harap penonton akan disuguhi New York dengan kebisingannya, yang ada justru sebaliknya, New York terkesan sepi dan lengang. Tepat sekali untuk menggambarkan batin Mas Iwan yang sepi. Dalam film ini, aku sempat meneteskan air mata beberapa kali, yaitu ketika Bapaknya Mas Iwan menjual angkotnya, ketika Mas Iwan mengatakan 'Bapak tidak bisa memilih siapa yang tepat menjadi anak Bapak, sama seperti aku yang tidak bisa memilih siapa yang tepat menjadi Bapakku', dan ketika Mas Iwan dengan bangga mengatakan 'I will going home' di subway kepada seorang laki-laki negro.

Film ini mengingatkan kita akan satu hal bahwa kebahagiaan itu sederhana, kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa membaginya dengan keluarga tercinta. Itulah alasan Mas Iwan meninggalkan jabatannya di New York. Ia kangen keluarganya di Kota Apel. Hari-harinya di New York menjelma penuh kesepian dan kebekuan.
Ihsan Tarore sebagai Mas Iwan
What's funny?

Wah, ini greats question. Lucu, tapi cuma buat kita aja. Karena ada beberapa latar yang diambil di Bogor, di depan kosan lebih tepatnya. Warung bakso bantolo, tempat biasa beli mie ayam, bakso atau es, disulap menjadi warung pecel lele. Gang depan kosan juga jadi eksis banget. Kampus Gunung Gede tempat kita biasa kuliah plus kelas yang sering kita pake juga masuk dalam film ini. Jadi, ada sensasi tersendiri gitu. Hehe
Di antara kelebihan film ini, aku memiliki catatan kecil perihal kekurangannya. Aku merasa kehadiran Mas Iwan kecil di New York kurang sempurna. Di novelnya, jelas sekali diceritakan betapa anak kecil berseragam merah putih itu begitu berarti bagi Mas Iwan, menemani kesepian Mas Iwan. Meskipun ia hanyalah ilusi,tapi dalam film kedekatan keduanya tak ada ditampilkan. Justru Ihsan lebih sering berkata dengan kalimat bernada tinggi dengan anak itu.

Biar begitu, you should to watch it, guys! It is a nice movie. It touchs our deep heart. It teach you about family, about hard working, about loneliness. Enjoy this movie with your friends or your families on weekend, then find the point.

Sebuah Rasa : I Almost Forgot

Malam ini sebenarnya sudah kuagendakan untuk tidur lebih awal, seharian penuh kegiatan cukup padat dan lumayan melelahkan. Sepulang praktikum dan piket kandang bebek pukul 15.00 WIB, aku dan beberapa teman langsung hunting kontrakan, walaupun cuma muter-muter Lodaya tapi kuhitung-hitung kita sudah berjalan sejauh 2 km lebih. Sesampai di kontrakan pukul 17.30 WIB. Kaki pegal semua. Capek so pasti.

Aku bersukur sekali karena besok hari libur, meski besok adalah waktuku dan beberapa teman mengunjungi LBSM Parung, aku tak peduli. Toh, aku tetap memiliki pagi yang lebih santai daripada pagi-pagi dihari kuliah. Tapi, perasaan senang itu sedikit meluntur ketika mendengar teman-teman dari ruang lain akan datang untuk sebuah rapat kepanitiaan . Aku sendiri telah berencana dari awal untuk tak terlibat dalam kepanitiaan, aku mau bantu-bantu sewaktu hari H saja. Itu pikirku. Semua bukan tanpa alasan, ahir-ahir ini aku memang memiliki masalah dengan kesehatan dan mood. Aku sedang berada pada titik terjenuh, ogah. Aku hanya menanti waktu pulang kampung. Itu saja. Bahkan kuliahpun sejujurnya aku ogah-ogahan belakangan ini. Ternyata rencanaku ini tidak terealisasi, aku dimasukkan menjadi anggota divisi acara. Timku hanya beranggotakan lima orang saja. Aku jadi tak tega. Jujur, aku baru tau kalau aku berada di divisi ini saat Rapat malam ini, Rapat ke-3 kalau tak salah.

Bukan persoalan kontrakan baru yang tak kunjung ditemukan, bukan pula persoalan divisi acara yang ingin aku uraikan dalam tulisan ini. Itu bukan masalah, kontrakan tidak akan terlalu sulit dan aku pasti akan bekerja kok di divisi asal tunjuk ini. Jadi, leave it. Tak penting. Aku hanya ingin menguraikan tentang mereka, kawan sejawat seangkatan dari ruang lain. Entahlah, aku selalu lupa bahwa kami berjumlah 40 orang. Jika ditanya tentang sebab, aku punya dua alasan, yang pertama adalah ruang dan yang kedua adalah program pendidikan. Ruang membuat kami tak bisa selalu berpapasan dan bertegur sapa. Ruang membuat kami tak memiliki cukup waktu untuk sekedar berbincang ringan. Mungkin Anda bisa membantah dengan kata dan kalimat basi yang sejujurnya membuatku mual. 'Manfaatkan waktu ketemu'-lah, 'jarak itu bukan masalah' dan lain-lain. Sejatinya itu hanya kalimat dari bibir orang-orang yang ingin terlihat solutif, sok memimpin atau apalah Anda menyebutnya. Basi, ya basi. Hanya indah terdengar, seperti sebuah solusi. Tapi taukah, itu tak lebih dari kicauan beo, berlalu tanpa sisa, tanpa bekas.

kenapa? Anda marah? Sudahlah, untuk apa marah jika memang Anda merasa tak pernah mengeluarkan kalimat basi itu.
Iya friends, mereka berkoar-koar tentang solusi, tapi kenyataannya semua tak semudah mengucapkan kalimat. Di satu ruang, kami hidup berkoloni, punya kegiatan sendiri. di satu ruang lainpun begitu. Lalu, ada ruang dan ruang lain yang membentang di antara keduanya. Apa mungkin kedua dunia itu bisa membaur tanpa cela. Sempurna akrab, kata mereka. Tak bisa kawan, bahkan di buku biologi pun membahas masalah isolasi jarak ini. Pikirkanlah.

Sebab yang kedua adalah persoalan program study. Aku sulit menjelaskan, tapi faktanya ini mempengaruhi. Ah, sekali lagi aku tak mampu mengurainya, nanti akan terlalu banyak yang akan menghujaniku dengan panah-panah tajam mereka. Aku malas, cari aman saja.

Intinya, aku sering lupa bahwa kami berjumlah 40. Aku lupa bahwa kami dianggap satu kelompok. Aku baru menyadari bahwa aku memiliki 39 teman lainnya dalam kelompok ini saat kita berkumpul saja. Selebihnya tidak. Mau diapakan? Jangan lagi memaksa, kalau ingin mencari solusi paksaan silahkan. Dengan syarat, jelas dan pasti. Jika tak mampu, usah berkoar. kalian ingin tau solusi jelas dan pasti itu seperti apa, pindahkan saja ruang yang satu kemudian masukkan ke ruang yang satunya lagi. Ini yang paling real. Mudah bukan aku menuliskan? Coba saja lakukan, mudahkah?

(Ditulis Minggu malam, 5 Mei 2013)

Tuesday, 7 May 2013

Go to Back


"Pergilah untuk kembali. Mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apapun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal"

Aku menemukan aforisme di atas pada lembaran bagian akhir sebuah buku. Aku tertarik dengan kalimat tersebut sejak awal membacanya. Aforisme ini mengingatkanku pada beberapa potongan kisah. Masih ingatkah dengan kisah Santiago dalam The Alchemist. Di sana diceritakan tentang pengembaraan Santiago untuk menemukan harta karunnya di piramida. Akhirnya, berangkatlah ia meninggalkan Spanyol, meninggalkan kawanan domba-dombanya. Ia memulai langkah. Hingga akhirnya, ia menemukan harta karun tersebut di akhir cerita. Namun, bukan harta karun itu yang menakjubkan, melainkan proses Santiago menemukan, perjalanannya. Terakhir, ia kembali ke titik awal. Titik awal bukan berarti mutlak tempat dimana kita tumbuh besar, karena bisa jadi titik awal itu adalah titik yang telah memautkan jiwa, titik perkembangan kemuliaan dan lainnya. Yang pasti, titik awal Santiago adalah oase di tengah gurun pasir, dimana hatinya tertambat pada seorang gadis bernama Fatima.


Berbeda dengan Santiago, kisah Iwan Setyawan yang menduduki jabatan bergengsi di sebuah perusahaan New York memilih titik awalnya adalah keluarga. Pilihan yang kupikir akan sama denganku. Ia memilih mengundurkan diri untuk pulang ke titik awal.

Ketiga, adalah Hanum Salsabiela. Ia memilih Makkah sebagai titik awal itu. Titik awal perkembangan Islam. Disanalah ia merapat, membuang sauh dari perjalanan panjang.

Berbicara tentang titik awal, maka tidak akan lepas dengan perjalanan, pengembaraan, pencarian dan pengelanaan. Apakah Islam melarang umatnya berkelana? Tidak, Rukun Islam ke-5 buktinya. Allah memerintahkan kita mengunjungi bagian bumi-Nya yang lain. Hal ini pula yang diucapkan Santiago kepada penjual gelas.

Ya teman, mengembaralah. Tinggalkan kampung halaman untuk melihat tempat-tempat lain. Kamu akan menemukan ilmu dan keajaiban. Ini adalah sebuah keniscayaan. Merantaulah untuk kembali ke titik awal.

Dutch: No Impossible and Trivial, Yes Capable and Humble

"What would life be if we had no courage to attempt anything?"
Aforisme Vincent Van Gogh di atas saya rasa telah mengurat nadi pada diri orang Belanda. Mereka terkenal dengan keberaniannya untuk mencoba hal-hal yang dianggap mustahil ataupun terlalu sepele oleh orang lain. Keberanian itu mengantarkan orang-orang Belanda pada penemuan-penemuan yang menakjubkan. Tidak hanya itu kerendahan hati dan keberanian mereka berterus terangpun membuat kita angkat topi.

Anda tidak percaya? Percaya sajalah, saya punya cukup bukti. Baik, Anda pernah mendengar sebuah kendaraan dengan nama PAL-V (personal air and land vehicle)? Ini bukan kendaraan seperti bajaj, melainkan sebuah mobil terbang yang dulunya hanya ada dalam film-film animasi. Dulu, orang-orang hanya bisa mengagumi gambarnya saja, tak bisa benar-benar menyentuhnya, apalagi mengendarainya. Impossible. Namun, no impossible for Dutch. Dengan dipimpin Robert Barnhoom dan Marteen Wilning, mereka berhasil mewujudkannya. Kini, manusia bisa menyentuh dan mengendarai PAL-V, mobil terbang tak lagi sebatas hayalan dalam film animasi. So, tidak mustahil jika Anda bertekad ingin mewujudkan sapu terbang seperti yang ada dalam film Harry Potter. "Jika kamu mampu membayangkan, kamu akan mampu mewujudkan".
Gambar 1. PAL-V

Selain itu, orang Belanda juga telah membuktikan bahwa hal sepele dan murah meriah justru mengantarkankan pada keberhasilan gemilang. Yang benar? Saya tidak bercanda kawan. Andre Geim dan rekannya membuktikan. Ia mendapat penghargaan nobel pada tahun 2010 atas temuan yang bermodalkan selotip. Awalnya tidak ada yang mengetahui cara mengisolasi karbon pada grafit, namun Geim justru menemukannya dengan teknik yang begitu sederhana. Sang Pionir Geim tidak hanya mengajarkan agar kita tidak mengabaikan hal-hal kecil, ia juga mengatakan bahwa kita tidak harus kuliah di universitas lapis satu untuk menghasilkan sesuatu yang mengagumkan. Belajar di mana saja dan lakukan yang terbaik karena setiap orang akan mendapat bayaran sesuai dengan kerja kerasnya.
"Saya tak peduli apakah rekan kerja saya seorang mahasiswa ataukah profesor, asalkan dia mau bekerja keras dan efisien, semua orang adalah kolega saya" Ucap Geim yang mencerminkan kerendahan hatinya.
Gambar 2. Andre Geim

Kerendahan hati orang Belanda juga bisa kita temui di kelas-kelas belajar. Para mahasiswa diberikan lampu hijau untuk bertanya atau menyanggah saat dosen menjelaskan materi. Tenang saja, para dosen tidak akan marah.Enjoy it, guys! Tak hanya itu,dosen-dosen di Belanda juga terkenal capable dan humble. Mereka sangat berterus terang.
"I don't know about the answer, maybe i'll search about it as well and i can give it back to you by email" Begitu ucapan mereka untuk mengakui ketidaktahuannya.
Gambar 3. Welcoming all of your opinion, Guys!

Selain itu, para pionir Belanda juga terkenal ulet dan sabar. Kita semua mengenal Leeuwenhoek sebagai orang pertama yang mengobservasi bakteri. Ia menemukan makhluk super kecil itu dari mikroskop buatan sendiri. Kendati mikroskop sudah ditemukan sebelum ia lahir, ia tidak menggunakannya. Ia justru dengan sabar dan cermat menggosok lensa sendiri. Akhirnya ia mampu menghasilkan mikroskop yang jauh lebih baik. Ia juga bukanlah ilmuwan berpendidikan tinggi, ia hanya tamat Sekolah Dasar dan bekerja sebagai pegawai kotapraja, meskipun begitu ia terpilih menjadi anggota ilmiah pada tahun 1680 dan sebagai anggota Akademi Ilmu Pengetahuan di Paris.
Gambar 4. Van Leeuwenhoe's microscope
kisah-kisah inspiratif para pionir Belanda tersebut hendaknya menjadi bahan adopsi bagi kita. Dengan begitu, maka keberhasilan gemilang bukanlah hanya omong kosong belaka.

Referensi:
http://internasional.kompas.com/read/2010/10/08/02395929/Meraih.Nobel.Bermodal.Selotip
http://www.history-of-the-microscope.org/anton-van-leeuwenhoek-microscope-history.php
http://singularityhub.com/2012/08/03/pal-v-one-the-car-plane-thats-easy-to-fly-and-cheap-%E2%80%93-were-kidding-about-the-cheap-part/
ionagrace.wordpress.com/2011/09/12/studi-di-belandatentu-saja01-yuk-mengintip-suasana-kelas-di-belanda/

Thursday, 2 May 2013

Pagi Ini Antara Baranang Siang dan Dramaga

Aku memilih kata 'antara' bukanlah untuk mengungkapkan cerita tentang dua jiwa yang terpisah ruang, bukan pula kata untuk menggambarkan perbedaan keduanya. Ini hanya sekadar sebuah perjalan. Perjalanku di pagi Jumat menuju kelas kuliah dan praktikum yang lumayan menelan waktu. Aku hanya ingin bercerita apa yang tertangkap indera penglihatan dan pendengaranku dari balik kaca angkutan hijau yang kutumpangi. Ini 'hanya' tentang rasa yang singgah, terkadang meninggalkan bekas dan tak jarang hanya berlalu tanpa jejak.

Jadi, biarkanlah aku bercerita tentang mereka, mereka yang singgah pagi ini dalam rasa. Mereka yang terus berwajah mendung, terlebih saat jalanan merangkak karena padatnya kendaraan, mereka yang pagi-pagi sekali sudah merelakan waktu, duduk di depan stir dan memanggil-manggil setiap manusia yang berwajah menunggu di tepi jalan. Aku tertarik dengan kisah mereka karena aku merasa sudah panjang jalan yang mereka lalui, pastilah banyak cerita juga yang telah terekam dalam perjalanan itu. Mereka yang lebih banyak lengah kala panggilan cinta-Nya berpendar dari setiap menara dan corong-corong. Mereka tak peduli, jalanan membuat hati mereka jauh lebih tenteram karena seratus meter saja orang-orang yang menumpang akan memberinya rupiah, lebih menjanjikan daripada janji-janji kitab suci yang entah kapan baru akan tertunaikan. Mereka tanpa sadar telah mengingkari perjalananya sendiri. Betapa seharusnya mereka memahami hakikat perjalanan. Mereka membawa manusia yang semuanya bertujuan. Bahkan kendaraan yang mereka kendalikan pun bertuliskan asal dan tujuan jalan. Mereka hanya melupakan satu, mereka lupa bahwa hidup juga sebuah perjalanan. Perjalanan menuju pemberhentian abadi. Mereka terus mengumpulkan rupiah untuk kebahagiaan keluarga di rumah, di pemberhentian. Tapi mereka lupa mengumpulkan pundi-pundi kebahagiaan untuk nanti, sesampai di tujuan sesungguhnya.

Tak semua. Memang tak semua. Tidak ada yang sempurna semua. Ini hanya rasa yang mengalir dari pandanganku saja. Tak perlu diperdebatkan, jika tak suka, lupakan saja.

Awalnya, aku ingin lebih menghayati mereka para penjual di tepi-tepi jalan atau para manusia belia-sangat belia- berpakaian sama kala senin-sabtu yang berderet rapi menunggu pengantar bayaran menuju tujuan, entah untuk belajar entah apa, aku tak bisa menerka.
Tapi, kurasa cerita para pengemudi angkutan itu lebih menarik.

Sekali lagi, ini hanya tentang rasa. Jangan diperdebatkan.

Just Want to Say: Thank You for Everything

Source: click here
Now, i'll tell you a story. An ordinary story. Just simple story between i and him. Don't think it same with a love story, it just a simple relation and makes smiles on my face everytime, when i read our conversation. Remember, just too simple conversation. Never there were any real talking. Just on social media site. Just it is.

I found his facebook one year ago. He didn't accept my requested quickly. He asked me many things by message before. I gave the answers honesty. I told that i love the season in Europe so much. I love autumn, winter and spring. That's 'cause we live in tropic area, which just have summer and rainy season. ya, he is staying in Europe now. Actually not all in Europe. May be i should not tell detail of him, about his own country, his study, his face, and etc. That's privacy.

Friend, i like his attitude. He is so friendly and has nice sentences of his writing. That why i felt happy with him. We shared about our subject study, our exams, our feeling and anything. He knew that i got a scholarship, i didn't know where he found it. He ever told about his pray, he said just praying on four time everyday. He felt difficult to woke up on the early morning to fajar namaz or subuh praying. But, he was promise to change it. I wish it will be better soon. He ever told about his accident, the accident made hard injury on his feet. He ever told about how difficult his exams and his classes, he ever told about the terror in his land, he ever told about his love to a country where he is studying now, he ever told about his activities in campus, he ever told about his favorite foods and movies. But, all of that stories were in the past. We have no conversation on last few month. His last story was about a girl who broke his heart. He didn't permit me to know anything about the girl. He didn't trust me.

I have printed our writing. I feel happy when read it. But, i know something now, that he never considered me as his close friend, actually i never know anything, all just lying. Our stories actually were not real. We have no 'say hello' lately although i was connecting on the internet and he also. 

Friend, i tell you for once again, it is not about love between two persons. It is just about our nice relation. I don't think about love, i want to share you a story only. I feel happy knew him, just for simple reason, he is so polite guy, he wasted many time just for told me stories about snow and Europe. I am so thankful for that. May be one time, we can meet and having a tea in a little shop, i just want to say 'thanks', no more, really. For him, I wish you best of luck on every activities. Don't forget to praying, at least for your own self. Thank you for everything, it is not about love, but it is about feeling from my deep heart.

I am not good in English, but i wish it can be understanding...

My Little Accident

ngeeeengg.....brum...brum...kotek...kotek
Aku mengayuh sepeda mini dengan membonceng temanku. Waktu itu sekitar pukul 16.00. Tujuan kami adalah kandang bebek. Ya, piket harian memberi pakan bebek (Oh bebek, secara tidak langsung, Anda-Andalah yang sebenarnya harus bertanggung jawab)
Itu adalah kali pertama aku mengendarai sepeda di Bogor (biasanya naek onta). Sudah lama aku tak bersepeda, semenjak lulus MTs. Aku senang sekali, Doraemon. Sepeda kami melaju. Wush....angin membuat kerudung kami berkibar-kibar seperti bendera (lebai, sungguh).
Aku dan temanku itu tertawa lepas (lebih cocok untuk kalimat anak kecil yang tertawa lepas dalam gendongan Ayahnya deh) menikmati sore tanpa menyadari akan ada kejadian naas di depan sana.
Ya sobat, sepeda itu semakin melaju tanpa aku mengayuhnya. Jalan menurun. Kami hanya tertawa hingga aku menyadari bahwa rem sepeda itu tak berfungsi sama sekali. Aku mulai panik. Kuminta temanku untuk melompat dari boncengan. Aku sudah yakin, ini pasti akan berakhir sakit. Di ujung sana ada pertigaan dengan bundaran pohon besar di tengah-tengahnya. Aku tetap tak menemukan cara untuk menghentikan laju sepeda. Sudah kucoba dengan cara menggesekkan kakiku di aspal, namun gagal. Aku semakin panik. Sepeda melaju lurus. Aku tak bisa membelokkan sepeda saat tiba di pertigaan. Sepeda itu melaju lurus, memotong jalan. Aku bisa menghindari satu sepeda motor yang melintas sebelum akhirnya sepeda itu menabrak tepian jalan. Aku terpental dan tidak mampu mengingat apa-apa lagi (tragis juga). Aku mengetahui kejadian selanjutnya dari teman yang kubonceng, ia menceritakannya padaku sepulang dari RS (masak iya, dia cerita waktu aku pinksun). Untunglah ia baik-baik saja (sok dewasa deh).

Ia bercerita, aku jatuh dalam posisi telungkup. Wajahku membentur batu. Hal ini membuat bibir kananku luka dan mengeluarkan banyak darah, pipiku juga memar lho. Orang-orang berbondong-bondong mendekati. Ada yang prihatin, marah, dan sebagainya. Namun, mereka tetap tak memberikan solusi untuk temanku yang kebingungan. Hampir setengah jam berlalu (kelamaan tuh) datanglah seorang Bapak yang mengendarai sepeda motor (kok bukan pangeran berkuda? Atau cowok cakep bawa mobil sih? Kayak di pilem gitu) dengan tegas Bapak itu menawarkan pilihan "Ini mau dibawa ke RS atau dibawa pulang? Ayo saya antar" Ucapnya (coba aja akhir kalimat si Bapak 'Ayo saya antar dan saya bayar biayanya' Hihi) Temanku memutuskan untuk membawaku ke RS PMI yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.

Aku baru sadar saat sudah dibawa masuk ke ruang UGD. Waw, banyak sekali darah yang memerahkan kerudungku (berasa di daerah peperangan). Seorang Dokter membersihkan lukaku. Meminta persetujuan untuk menjahit luka yang ada di bibirku.

"Kalau gak dijahit, darahnya keluar terus, nanti lukanya lama sembuh" Ucapnya manis (cakep lagi). Aku bingung. Ah, yang benar saja. Dijahit? Sakitnya kayak apa. Duh, seumur-umur disuntik aja aku tidak berani. Aku sudah membayangkan bibirku ditusuk lalu diikat dengan benang dijadikan layang-layang, hehe. Aku tak berani! (ya jangan diulang-ulang juga kali).

Hampir satu jam aku belum memberikan jawaban (untung gak keburu ditundung sama Mas Dokter). Teman-teman sekontrakan sudah berkumpul di luar (perhatian juga ya? Gak nyangka deh). Aku bingung, hingga akhirnya temanku masuk dan memberikan kekuatan (kayak di pilem-pilem robot gitu 'MEMBERIKAN KEKUATAN')

"Okay Dok. Do it" Kataku (yang ada hanya mengangguk ketakutan). Dokter itu seketika mengangkat tangan dan berucap "Alhamdulillah" (cakepnya naik jadi 100,00001%). Wah, seneng banget ni dokter melihat aku bakal menderita.

Semua peralatan disiapkan, gunting, suntikan, kapas (bukan kapak), jarum, benang, obat bius dan entah apa lagi, yang jelas suasana lebih terasa mencekam.

"Ready?" Tanya pak dokter sumringah, ia seperti menemukan mainan baru saja.

"O ready dok. Asal gak sakit aja" jawabku dalam hati. Lah.... Iya, aslinya aku hanya bisa memejamkan mata. Wong mau ngomong aja sakitnya minta tolong.

Okay guys! Pertama-tama dan paling utama, ambil suntikan bius lalu suntikkanlah di beberapa titik sekitar luka. Ini tidak sakit, sungguh. Hanya seperti digigit semut api bertaring. Hehe

Serius, tidak sakit. Applouse untuk Mas Dokter yang baik hati. Selanjutnya, darah akan semakin banyak keluar. So don't worry, it's too normal. Hanya perlu waktu sebentar hingga darah berhenti, efek obat bius cuy!

Next agenda is.... Jait-menjait deh. Persis menjahit baju gitu. Okenya, ini sama sekali gak sakit. Kamu bakal merasakan benang yang berjalan mulus dijalan yang telah dirintis oleh jarum. Hmm....ada sensasi cool deh alias adem panas ketakutan. But, i'm sure, it's pretty simple and gorgeous sensation. You must try it (no, i wish not).

Udah gitu, benangnya tinggal diikat and beres deh. Paling-paling hanya perlu melewati satu penyuntikan lagi, yaitu suntik tetanus (bener kan tulisannya?). Suntikan yang satu ini cukup membuat merem melek-lah. Suntikan yang dalam dengan waktu lebih panjang. Dijamin bikin meringis! Hehe, kali ini sungguh aku berbohong, suntikan tetanus gak sakit kok. Cuma tergantung obat bius yang dipakai aja. Jadi, kalau mau masuk RS, pastikan itu adalah RS berkualitas agar proses pengobatannya juga tidak menyiksa (walau harus bayar mahal, sist).

Hmm....itulah dia sekelumit cerita pengalamanku yang menyakitkan. Pesanku untuk guys semua setelah membaca tulisan ini adalah:

- Periksa keadaan sepeda atau kendaraan lain yang akan anda kendarai sebelum bepergian.
- Jangan lupa berdoa (ini nih yang utama)
- the last, hindarilah jalan yang berbahaya.

I wish u all never feel what i felt. That's so frightening. Tapi, seru juga lho, kalau dokternya cakep and ramah pangkat lima (hehe, just a joke).

Yayaya, at least, selalu ada manfaat di setiap kejadian. You just to find it.

Thanks for reading :)

I and My Little Friend


Kali ini biarkan aku berkisah tentang seorang wanita. Hanya wanita sederhana, teman masa kecilku, sepupuku.

Cerita ini memang tak segemerlap bintang yang bisa kupuji-puji cahayanya, tapi bagiku, cerita bersamanya membentuk sebuah cahaya yang begitu terang, menerangi ingatan untuk sekedar menjenguk masa lalu. Kenangan bersamanya adalah cerita masa kecilku. Masa di mana aku benar-benar merasakan indahnya kehidupan.

Kami tumbuh bersama, ia lahir delapan bulan lebih tua dariku. Kebun kami bersepadan, rumahnya berjarak 100 m dari rumahku. Ia seperti anak Ayah Ibuku, dan aku seperti anak Ayah Ibunya. Kami begitu dekat. Setiap sepulang sekolah kami selalu menyerok ikan di parit, tertawa dan bahagia bersama ketika melihat ikan-ikan kecil berenang di toples kami. Ia pandai memanjat pohon, sedang aku tidak. Ia bisa memanjat pohon rambutan tinggi yang sedang berbuah masak sedang aku hanya menunggu di bawah pohon. Ya dari awal, ia memang pemberani.

Kami sering berenang di parit bersama selama berjam-jam hingga bibir membiru, jika sudah begitu Ibuku akan berteriak-teriak sambil membawa sebatang kayu, menyuruh kami naik ke daratan.

Setiap akhir pekan, kami akan bersepeda dengan kecepatan penuh menjelang maghrib menuju rumah kakaknya yang sudah berkeluarga. Kami senang tidur di sana saat hari libur karena mereka memiliki televisi warna. Kami juga senang karena rumahnya yang berada di tepi laut. Banyak angin.

Kami pernah berboncengan dengan sepeda tua menuju warung untuk membeli perlengkapan dapur yang disuruh Ibuku atau Ibunya, berboncengan dengan aku yang mengayuh dari belakang dan ia yang mengendalikan sepeda. Sepanjang perjalanan, kami bercerita penuh tawa.

"Kita ke pasar kayak gini, asyik juga" Ucapnya yang membuat kita mengakak. Yang benar saja, jarak antara pasar dan desa kami hampir 10 km dengan kondisi jalan yang tragis.

Banyak sekali kisahku bersamanya. Butuh waktu bertahun-tahun jika aku harus menulis kisah yang sempurna.


Oh iya, di wajahku ada bekas luka yang masih ada hingga kini. Itu karena ia pernah melemparkan pecahan beling ke wajahku. Ya, saat itu kami rebutan piring-piring mainan. Aku tidak mau piring dari batok kelapa dan tetap meminta piring yang terbuat dari pecahan kaca yang ada di tangannya, mungkin ia kesal, lalu dilemparlah piring-piringan itu ke wajahku. Duh, untung gak kena mata ya!

Aku sering berkhayal bersamanya. Biasanya saat kami sedang berjalan kaki pulang. Daripada krusak-krusuk suara sandal, mending kami bercerita kisah imajinasi. Kami sering berkhayal memiliki rumah sendiri. Pikirnya seru. Kan dulu.

Kami juga pernah berkebun. Menanam ubi kayu, tomat dan terong. Walaupun hasilnya mengenaskan, kami tetap senang.

Hal yang paling kusuka adalah saat kami berdiri di jendela gubuk setinggi 8 m yang ada di tengah ladang jagung. Kami senang menarik ompyong-ompyong pengusir babi dari sana. Di atas sana juga banyak angin, rambut kami berterbangan. Dari sana kami menyaksikan deretan tanaman jagung yang hijau hingga menguning. Wush.... Yang jelas di sana adem.

Saat jagung mulai berbuah muda, kami akan berkeliling mencari janten (jagung yang masih muda, belum berisi dan berbentuk ramping kecil) yang memiliki rambut terindah lalu kami mendandani janten-janten itu dengan rambut berbagai model. Ya, itulah boneka barbie kami.

Aku juga pernah berkeliling kebun bersamanya sambil membawa karung dan tergopoh-gopoh. Mencari damar. Lumayan 1 kg bisa dijual dengan harga Rp.500; Padahal panasnya minta ampun lho, belum lagi empuknya tanah gambut yang berkali-kali membuat kami terperosok. Serunya, kami sering menemukan sarang burung yang ada telurnya. Kan enak.

Kami juga sering mendengarkan radio bersama. Menanti lagu favorit sambil tidur-tiduran.

Aku yang mengajarinya naik motor. Pertama kali belajar, ia langsung berani membonceng aku dan adiknya dari rumahnya menuju rumahku. Walhasil, ia menabrak ranjang yang sudah tidak dipakai yang ada di bawah pohon di depan rumahku. Tapi, ia terus belajar. Berkali-kali jatuh ia tak ambil pusing. Kini, ia jago mengendarai motor sedang aku (gurunya) hanya berani membawa motor di jalan lurus dan sepi.

Kami sering ke jembatan. Memandangi lautan yang tenang dan kadang bergelombang. Di sana kami bercerita masa depan. Entahlah, kami hanya menerka-nerka waktu itu.

seandainya ia juga berhijab
Selesai Sekolah Dasar, kami jarang lagi bersama. Ia melanjutkan ke SMP bergengsi dan aku harus mengikuti perintah Bapak melanjutkan ke MTs swasta. Ia tumbuh menjadi wanita cantik. Kini, ia punya banyak penggemar laki-laki. Kami semakin jauh. Ia pun lebih memilih jalan-jalan bersama teman-temannya daripada aku. Duniaku tak lagi sama dengannya. Dari sini kami berpisah di persimpangan. Ia melanjutkan langkah di jalannya, dan aku di jalanku. Kita tak lagi sejalan.

Setamat MTs, aku melanjutkan ke Pesantren di Kota Provinsi. Ia melanjutkan ke SMA di Kecamatan. Setahun hanya dua kali aku pulang kampung. Kami semakin jauh. Kami tak lagi seperti dulu. Namun, aku tetap menyayanginya.

Ia wanita tegar. Ia tetap tegar saat masalah perceraian orangtuanya yang berlarut-larut, ia tetap tegar saat Ibunya harus menjadi TKW di Malaysia, ia tetap tegar saat sang Kakak tak menerimanya karena salah paham, ia tetap tegar dan memaafkan saat kakak ipar berusaha menodainya, ia tetap tegar saat harus dititipkan di tempat orang. Bahkan hingga kini, ia tetap tegar. Ia ingin kuliah. Tapi, nasib berkata lain. Sekarang ia bekerja di Bintan. Dulu, jika aku tidak mendapatkan beasiswa kuliah di IPB, aku pun ingin kerja bersamanya.

Sudah satu tahun lebih kami belum bertatap muka. Kita selalu berkirim pesan. Aku menceritakan kesahku padanya, begitu sebaliknya. Terakhir ia mengatakan bingung dengan masa depan. Aku menguatkannya dengan kalimat "Kenapa bingung? Masa depan itu misteri. Jalani aja yang ada sekarang dengan sungguh-sungguh!"

Dia sepupuku, sahabatku, masa kecilku. Aku menyayanginya hingga kini, aku di Pulau Jawa dan ia di tepian Sumatra.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...