Monday, 21 April 2014

Resensi Novel: The Chronicles of Ghazi (Sebuah Kejujuran Tentang Sejarah yang Mengharukan)

Sumber: klik di sini
Di satu belahan bumi, lahir seorang lelaki yang kelak akan menjadi pemimpin terbaik kaum Muslim. Di belahan bumi yang lain, lahir pula lelaki yang akan menjadi salah satu manusia terkejam dalam sejarah.

Muhammad Al-Fatih dan Vlad III Dracula menjadi wakil dari pertarungan haq dan bathil. Antara Kesultanan Usmani dan Kerajaan Eropa Timur, dan takdir mereka sudah digariskan untuk berbenturan sejak kelahirannya. Dan ini adalah kisah mereka.

Novel yang memiliki judul asli The Cronicles of Ghazi, Perseteruan Hidup-Mati Dracula & Muhammad Al-Fatih ini ditulis oleh Ust. Felix Y. Siauw dan Sayf Muhammad Isa. Merupakan novel series yang menceritakan peperangan yang dipimpin dua anak manusia seperti yang dijelaskan di atas. Penceritaannya mudah dicerna karena bebas dari deretan tanggal dan tahun, sangat berbeda dengan buku sejarah seperti yang kita temui. Kenapa aku menyebutnya sebagai novel? Karena memang penyajian sejarah ini berbentuk novel, persis seperti kamu membaca novel heroik. Bedanya, ini adalah kisah nyata.

Perbedaan antara Kisah Fakta dan Fiktif

Kamu tahu apa perbedaan antara kisah fakta dan fiktif, meskipun kejadian yang dikisahkan sama-sama tentang peperangan? Dalam kisah fiktif, penulis bebas menentukan siapa yang akan menang, dan siapa yang kalah. Kebanyakan penulis selalu menyayangi tokoh utama yang dibuatnya, mereka memberikan masalah kepada tokoh utama, namun tak perlu cemas, tokoh utama jarang sekali berakhir tersiksa dan selalu menyelesaikan masalahnya. Pembaca tidak perlu khawatir.

Tapi pada kisah nyata, kamu akan merasakan sesak dan haru yang luar biasa. Belum lagi rasa penasaran dan was-was terasa begitu mencekam. Akankah pertempuran kali ini dimenangkan kaum Muslimin? Akankah Sang Sultan berhasil membunuh musuhnya, atau sebaliknya?
Sumber: klik di sini
Itulah yang kurasakan. Aku tak bisa menghilangkan rasa khawatir di setiap peperangan yang ditulis dalam novel ini. Jujur, jika aku penulisnya, dan kisah ini bukan fiktif, tentulah akan kumatikan semua tentara salib yang biadab itu. Tak kuizinkan seorang pimpinan Islam pun yang menjemput syahid dengan darah menggenang. Namun tidak bisa begitu, semua telah kejadian, aku hanya seorang pembaca yang harus menerima kenyataan.

Muslim di Suatu Masa

Novel seri #1 ini belum menceritakan peperangan antara dua lelaki di atas, masih bercerita tentang kejadian-kejadian sebelum itu, yang melatar belakangi lebih tepatnya. Yaitu, ketika masa-masa perluasan wilayah Ottoman ke Bosnia, Serbia dan Bulgaria; dilanjutkan dengan peperangan pasukan Usmani dalam mempertahankan Oryahovo dan Nicopolis. Kesedihan atas kekalahan Muslimin di Rovine dan Oryahovo, membuatku menangis berkali-kali. Tidak hanya itu, tingginya akhlak para pemimpin Muslim juga mengundang haru yang mendesak. 


Aku jadi merindukan Khilafah, merindukan pemimpin-pemimpin yang berperan sebagai perisai bagi segenap Muslim. Sedangkan sekarang, semuanya tak ada ada lagi. Khilafah tinggal sejarah, dan kini, setiap hari selalu ada darah muslim yang tumpah sia-sia, ada saja jerit pilu para wanita dan anak-anak yang tidak dihiraukan.

Siapakah yang Lebih Kejam?

Sebelum membaca kisah ini, aku terkadang alpa alasan ketika ada teman yang bertanya: mengapa Islam harus disiarkan dengan pedang, dengan kekerasan? Tapi sekarang, aku telah paham, Islam tidak sekalipun pernah disiarkan dengan kekerasan. Para pemimpin Islam kala itu selalu mengirimkan surat dengan baik-baik, meminta penguasa suatu wilayah menyerahkan tahtanya, atau mereka akan dibebaskan. Kedengarannya mengancam, ya? 

Tapi tahukah bagaimana menderitanya rakyat di bawah pimpinan kafir ketika itu? wanita tak ada harganya, kemiskinan di mana-mana, sementara para pemimpin kafir bermegah-megahan di istana. Kemudian pasukan Muslim datang dengan menawarkan kedamaian, apabila pemimpin kafir itu menyerahkan wilayahnya, mereka tidak akan diganggu, tidak akan dipaksa untuk memeluk Islam, gereja-gereja tidak dirusak, para pendeta tetap dimuliakan. Tidak berbeda saat pasukan Muslim menyerang suatu wilayah, tidak ada pendeta yang dibunuh dengan hina, wanita dan anak-anak dilindungi, dan gereja-gereja tetap utuh.

Bandingkanlah dengan kerusakan perang yang dibuat oleh tentara salib. Mereka membunuh siapa saja dengan hina, baik itu wanita dan anak-anak tidak berdaya sekali pun. Mereka tidak sedikit pun menghormati para Imam dan tokoh-tokoh Muslim, justru menyiksa mereka hingga maut menjemput di tiang salib; rumah-rumah dan segala fasilitas mereka hancurkan hingga menyisakan sebuah negeri yang kelam dan sekarat.

Pemimpin dan Pertempuran

Selama perjalanan kisah dalam novel ini, kamu akan dikenalkan dengan seorang Sultan Usmani yang luar biasa, Beyazid. Putra dari Murad I (Sultan ke-3 Usmani) yang syahid di padang Kosovo. Kamu juga akan berkenalan dengan pemimpin-pemimpin Muslim lain yang tidak kalah luar biasanya, seperti Dogan Bey dan Hamed Bey.

Soal pertempuran, kamu akan menyaksikan keberanian dan ketangguhan para pemimpin Muslim di medan perang. Mereka sangat keras terhadap musuh, namun begitu lembut hatinya. Terimakasih untuk dua Ustadz yang telah menulis novel ini, terimakasih telah menghadirkan sejarah itu begitu jelas di depan mataku. Aku seperti menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana dingin dan sepinya padang-padang yang basah itu. Pada ringkihan kuda dan gema takbir yang membahana, pada gumpalan awan yang menurunkan gerimis tipis, pada angin yang menerbangkan debu yang lembab. Padang-padang, sungai, hutan, dan tembok Nicopolis yang menjadi saksi pertempuran antara haq dan bathil. Islam adalah agama yang besar dengan persatuan begitu kokoh, yang selalu memporak-porandakan benteng keberanian setiap musuh-musuhnya.

Pada peperangan di luar benteng Nicopolis, aku sempat membayangkan bahwa itu semua sangat mirip seperti peperangan dalam film The Lord of The Ring. Di mana pasukan musuh yang semula merasa begitu kuat, akhirnya lari terbirit-birit mendapati serangan puluhan ribu pasukan Muslim dari berbagai arah.

Akhirnya...

Novel ini sangat kurekomendasikan untuk dibaca teman-teman semua, begitu banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah. Membuatmu akan semakin mencintai Islam sebagai agama Rahmatan lil’alamin...

Meskipun aku tidak yakin apakah khilafah akan bangkit kembali di zaman yang sudah rusak ini, tapi sungguh aku akan berdoa, semoga Allah kembali menyatukan umat Islam seperti dulu. Di mana Muslim begitu dihormati,  ditakuti musuh-musuhnya, melingkupi rakyatnya dengan payung keadilan dan kesejahteraan. Insya Allah...

“Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia, menuju penyembahan hanya kepada Allah, Tuhannya manusia. Dan hanya kepada Allah saja. Kami datang untuk mengubah penindasan manusia menjadi keadilan Islam.” (Rabi’ah Ibn Amir, ketika menghadap Kaisar Persia untuk menyampaikan surat dakwah Rasulullah) [halaman pembuka].

13 comments:

  1. wah resensinya membuatku pengen beli bukunya, mba... memang bener Islam tidak disiarkan dengan pedang seperti yang sudah berabad-abad dipahami secara salah dunia barat... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, harus baca, saya rekomendasikan....

      Delete
    2. pinjam mba buku nya.,, saya cari susah sekali buku nya

      Delete
  2. ini ada di toko buku ya ka? pengen baca jugaaa..

    ReplyDelete
  3. keren juga resensinya :-) nanti sy suruh kakak sy untuk cepet2 nulis series ke-2, dijamin penasaran

    ReplyDelete
  4. i see that picture is awesome.....apalagi klo di jadiin kover novelnya.....
    sori butir.... aku nggak ngebaca resensinya soalnya belum selesai baca novelnya... :D hahahaha

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Assalamu'alaikum ukhti. Masya Allah, benar sekali bahwasanya itu memang membuat hati ini berdecak kagum dan terharu. Persahabatan, peperangan, perdamaian, keadilan, toleransi, penindasan, pembantaian, air mata, kekuatan do'a, serta keteguhan iman semua ada dalam novel fakta ini. Hati saya merasakan feel sesuatu yang tidak dapat dijelaskan saat membaca ini, yang jelas terharu dan emosional sekali bahasanya, sehingga membuat kita seolah-olah melihat kejadiannya di depan mata.

    Anti udah baca yang seri #2 dan #3?

    ReplyDelete
  7. "Meskipun aku tidak yakin apakah khilafah akan bangkit kembali di zaman yang sudah rusak ini,.."

    Khilafah pasti bangkit kembali, yakinlah. Rasulullah telah bersabda mengenai hal ini, ada hadits nya :). Tapi untuk waktunya, Wallahu a'lam bishshawwab..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...