Macau Episode 4: Sejarah, Belanja Murah, dan Restoran Halal

Macau Episode 4

“History is a people’s memory, and without a memory, man is demoted to the lower animals”—Malcom X


Betapa tegasnya Malcom X membuat kalimat mengenai pentingnya sejarah, sehingga menurutnya apabila tanpa sejarah, manusia turun derajatnya menjadi binatang yang paling lemah. Meskipun sedikit berlebihan, kurasa ia ada benarnya. Sebuah peradaban maju yang kita ada di dalamnya saat ini tidak mungkin tercipta begitu saja, selalu ada sejarah sebagai latar belakang. Bahkan bumi dan jagat raya ini pun memiliki sejarah penciptaannya. Ada kalanya sejarah itu telihat lebih terang, atau sebaliknya ia tampak muram dan menyedihkan. Namun bagaimana pun ia, sejarah adalah tempat manusia untuk mengambil pelajaran. 

Hari itu setelah mengunjungi Coloane, kami bertolak menuju reruntuhan gereja Saint Paul. Itu adalah tempat yang kenyataannya sangat jauh dari ekspektasiku. Sungguh sangat ramai sekali, mungkin inilah kalimat yang cocok untuk mendeskripsikannya. Turis berwajah segala macam bangsa ada di sana. Dari yang  hidungnya terlalu pesek hingga kemancungan, sangat pendek hingga tinggi menjulang, kurus hingga gemuk sekali, dan para bayi hingga nenek-kakek semuanya lengkap. Rasanya tidak akan bisa mengambil foto tanpa background manusia saat di sana, kecuali kalau berkunjung malam hari lewat pukul 12. 


Itu benar-benar hanya reruntuhan, sebatas dinding bagian depan yang masih menyisakan kesan kemegahan. Aku sempat membayangkan betapa indahnya ia saat masih utuh dulu. Ia dibangun sekitar tahun 1602-1640 dan terbakar pada tahun 1835. Di sampingnya juga terdapat reruntuhan Universitas St.Paul, yang merupakan universitas Barat pertama di Timur yang memiliki banyak program akademik.


Berjalan kaki sebentar dari reruntuhan Gereja Saint Paul, kita akan sampai di Museum Macau yang berada di dalam benteng. Barang pecah belah bersejarah, senjata, rumah-rumah, dan miniatur-miniatur Macau tempo dulu ditampilkan dalam Museum Macau.  

Lalu setelah melewati pintu keluar, pandanganku disambut taman yang dikelilingi pepohonan rindang. Meriam-meriam berwarna hitam duduk jemawa di sekeliling pelataran. Inilah Mount Fortress, benteng pertahanan bangsa Portugal di Macau.


“Dulu di sini ini pernah terjadi perang lho ya. Antara Portugal dan Belanda, sekitar tahun 1622. Belanda kalah, terus kabur ke Indonesia. Dia ambil rempah-rempah dari Indonesia.” jelas Pak Alan saat kami duduk di salah satu sudut pelataran.


Angin semilir membuat suasana siang itu semakin menyenangkan. Dari sela-sela benteng, kulihat Macau menghampar di bawah sana. Laut-laut yang mengelilinginya, gedung-gedung tingginya, dan perumahan penduduk yang di beberapa tempat masih terlihat seperti kawasan kusam.


Setelah puas menikmati Macau dari ketinggian, kami berjalan turun menuju Senado Square. Jubelan manusia di sepanjang jalan membuat udara sedikit sesak. Aku menyukainya karena mataku bisa melihat wajah-wajah antar bangsa. Tapi tidak satu pun kulihat ada wanita yang menggunakan kerudung, kecuali kami bertiga (aku, Zahra dan Mbak Puput). Kurasa promosi tentang Macau belum begitu efektif di negara-negara mayoritas muslim, mungkin karena image ‘gaming’ yang masih melekat kuat. Berbeda dengan Malaysia yang setiap sudutnya dipenuhi wanita-wanita Arab berpakaian hitam. Ini adalah tantangan besar untuk MGTO pastinya. Namun untuk pengunjung berwajah Barat, jumlahnya sudah tidak terhitung jari. 

Di Senado Square, kita akan menemui satu blok yang khusus menjual baju. Bentuknya seperti di pasar-pasar tradional Indonesia, jadi harganya sangat miring. Ada juga kedai-kedai yang menjual makanan khas, kedai-kedai makanan, dan supermarket. Kami berbelanja oleh-oleh di sana sebab harganya sangat terjangkau. Di salah satu pelataran, ada juga musisi jalanan yang memainkan alat musik. Banyak orang mengelilinginya hanya untuk melihat.

Macau Fisherman’s Wharf.dan Taste of India Restaurant

Usai berkeliling Senado Square sore tadi, rombongan langsung diantar menuju Grand Prix Museum dan Wine Museum. Setelah hampir setengah jam, perjalanan dilanjutkan menuju Macau Fisherman’s Wharf.

“Woho, ada Kolosium di Macau.” Seru Alex. Ia adalah orang yang paling sering terkagum-kagum di antara kami. Selain Kolosium, ia juga pernah berkata “gila” untuk mengekspresikan kekagumannya pada Venetian. Baru tahu kalau ternyata kanal-kanal di sana pernah dijadikan lokasi syuting drama Korea Boys Before Flowers. Tidak hanya itu, lobi Venetian yang memiliki bentuk melengkung, bercahaya emas, dan dipenuhi lukisan-lukisan pun sempat membuatnya tak habis pikir, “Itukan Europe banget…!” serunya. Tentu saja foto-foto yang dipost-nya di instagram seketika menerima belasan ribu like dan ratusan komentar, secara dia adalah storygrafer cukup famous. 


Aku sendiri tidak menyangka Macau Fisherman’s Wharf akan semegah dan seluas itu. Kolosium yang dibangun sangat besar, meskipun tidak setinggi dan sebesar yang ada di Italy. Jika Kolosium di Roma dahulunya digunakan sebagai arena adu binatang atau adu tahanan dengan binatang, Kolosium di Macau dibangun sebagai tempat belanja. Namun, saat kamu menunjukkan foto di depan kolosium palsu ini, pastilah semua orang akan percaya jika kamu mengaku berada di Roma.


Semua orang sibuk dengan kamera masing-masing, hanya aku dan Mas Fahmi yang mengikuti Pak Alan, karena batrai kamera kami habis. Setelah berbelok ke kanan, sampailah kami di jalan lurus yang entah berakhir di mana. Lebarnya hanya sekitar 3 meter, di kanan dan kirinya berdiri bangunan-bangunan bergaya Eropa. Restoran, butik, salon, dan sebagainya ada di sepanjang jalan tersebut. Namun malam itu, kebanyakan sudah tutup. Ada sebuah jalan lagi yang berbelok ke kiri, di ujung jalan tersebut aku bisa melihat danau luas yang bercahaya warna-warni, pantulan dari cahaya gedung-gedung. Di sana angin bertiup sangat kecang, dan tentu saja dingin menggigit.


Saat semua rombongan telah berkumpul dan Bu Ningsih juga sudah datang, kami masuk ke restoran yang sudah dipesan. Taste of India, ini adalah restoran bersertifikat halal pertama di Macau. 

“Do you want our apple juice?” seorang pelayan laki-laki berhidung mancung menunjukkan botol berwarna hijau, mirip minuman beralkohol.

“Is it contain alcohol?” tanya salah satu dari kami.“No…it is halal. We give you halal foods and drinks.” Jawabnya sambil tersenyum, kemudian menuangkan ke dalam gelas masing-masing kami.Malam itu kami menghabiskan waktu satu jam lebih di restoran tersebut. Sang pemilik adalah wanita yang memiliki kecantikan Asia, sama sekali tidak mirip artis India. Tidak kusangka ia dan Bu Ningsih sudah saling mengenal.


Seafood, tumis sayuran, kari daging, ayam, semacam perkedel, lempengan-lempengan putih seperti yang sering dilihat dalam film India, sup tomat, dan banyak lagi yang aku tidak tahu nama aslinya. Selama di Macau, aku memang kurang cocok dengan rasa masakan mereka, mungkin karena lidah khas Indonesia yang harus banyak bumbu dan asin. Tapi, setelah mencoba ayam ala restoran ini, lidahku langsung memberi nilai 8 dari 10. Bumbu khas India yang agak aneh menurutku hanya terasa di sup tomat dan kari. Tapi itu bukan masalah, karena akhirnya dihabiskan juga.

Saat kami akan meninggalkan restoran itu, satu kompi orang India datang untuk makan malam. Para wanita menggunakan sari dan laki-lakinya menggunakan kemeja resmi. Ah, ini sepertinya para pejabat atau Tuan Tanah di India, pikiran jahilku menerka. Dan seperti saat melayani kami, pelayan di restoran itu juga menyambut kompi India tersebut dengan ramah. Okay, sekarang aku hanya bisa masuk restorannya saja, tapi insya Allah suatu hari nanti aku juga bisa datang ke negara mereka dan berfoto dengan Sharukh Khan (haha).


Episode 1 baca di sini
Episode 2 baca di sini
Episode 3 baca di sini
Episode 5 baca di sini

Macau Government Tourist Office Representative in Indonesia
Twitter: @macauindonesia
Facebook: MGTO Indonesia
Website: http://id.macautourism.gov.mo/