Wednesday, 29 January 2014

My Fashion Design: First


Percaya gak sih kalau aku tu suka ngegambar? Kuharap sih gak percaya, coz aku sendiri jarang banget ngegambar. Tapi gak tau kesambet jin cantik dari mana, pagi ini aku ngegambar lagi. Tanganku kaku banget. Jadi, inilah dia hasil gambarku pagi ini, ceritanya pengen ngedesain baju buat dipake sendiri.

Fashion Trend: Edisi Terbaru Indah Nada Puspita yang Bikin Iri (by Moshaict)

Nah, ceritanya kan aku itu juga suka sama fashion (meskipun gak fashionable), tapi seneng aja gitu lihat foto-foto mereka yang trendy-trendy dengan aneka model pakaian. Aku juga sering berkunjung ke blog-blog fashionista, kayak punyanya Mbak Dian Pelangi dan Mbak Indah Nada. Bahkan blognya cewek-cewek bule pun sering kujelajahi.

Tuesday, 28 January 2014

Negeri Cincin Api: Negeri Surga di Balik Neraka


Berkenaan dengan tema Negeri Cincin Api: Berkah atau Bencana? yang terkandung dalam artikel berjudul Saat Bencana: Ibu Pertiwi Menangis? di www. darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena begitulah seharusnya masyarakat negeri ini mengambil sikap.

Wednesday, 22 January 2014

Sebuah Catatan Kecil Tentang 'The Climb'




Ain't about how fast I get there
Ain't about what's waiting on the other side
It's the climb
( Miley Cyrus - The Climb )

Bait lagu di atas mengingatkanku akan satu hal. Penghayatan dalam sebuah proses. Bukankah kita lebih senang melihat seorang JK Rowling di sebuah acara interview buku internasional?

Saturday, 18 January 2014

Copy-Paste: Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra



 Diambil 100% dari: Warteg Gaziantep


Sumber: klik di sini
Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

KEB di Mataku





Yeah, sebelum aku curhat tentang perasaanku pada KEB, aku mau ngasih pengumuman dulu nih, ujian STATISTIKA-ku akhirnya terlewati juga. Soal nilai itu mah belakangan, yang penting kepalaku udah nggak sesak lagi mikirin angka-angka nggak jelas itu. Let say, alhamdulillah—kibas-kibas lantai.

Hmm...KEB? Sebenarnya aku join dalam grup ini baru sekitar satu bulan lebih beberapa hari gitu. Nah, karena masih junior jadi aku memutuskan untuk menulis hal-hal yang memang aku tahu aja, nggak sotoy, so berdasarkan apa yang aku rasain dalam rentang waktu yang masih seumur toge itu.

KEB itu tempatnya wanita-wanita hebat. Inilah kesanku saat pertama kali masuk ke dalam grup ini. Wanita dari berbagai suku, berbagai usia, berbagai profesi, berbagai kesibukan, namun tetap menyempatkan diri menuliskan kisahnya maupun menulis hal-hal lainnya, untuk dibagi pada orang lain. 

Nggak kebayang kalau nanti aku udah berkeluarga. Pasti deh buanyak banget pekerjaan yang harus diemban seorang istri, terlebih seorang ibu. Memastikan makanan tersedia untuk suami dan anak, memastikan pakaian dan rumah bersih dan rapi, belum lagi soal menyuapi anak, mengajak mereka bermain, de es be. Pasti rempong banget. Dan di tengah-tengah kesibukan seperti itu, pada tahu nggak, kalau blog mak-mak di KEB itu selalu update. Wow! Bahkan aku yang kerjaannya cuma ngurus body sendiri aja, cuma mampu posting beberapa tulisan perbulannya.

Setiap manusia mempunyai dua wadah dasar yang relatif sama; waktu dan fisik. Tapi hanya orang yang mampu mengelola keduanya, itulah yang memberikan hasil yang berbeda. [HM. Anis Matta, Lc]

Sepertinya mak-mak di KEB memahami benar yah kalimat di atas, bahwa nggak ada alasan buat nggak kreatif, nggak ada alasan buat nggak eksis, nggak ada alasan buat nggak berprestasi, dan tentu saja nggak ada alasan buat nggak menulis. Karena setiap orang pasti dianugerahi waktu dan kesehatan dari Tuhan, hanya saja nggak semua mampu memanfaatkan dua anugerah tersebut. Walhasil ketika ditanya soal prestasi, buanyak sekali alasan yang meluncur dari lisan mereka.

Coba deh bandingin mak-mak KEB dengan IRT biasa. Ketika IRT hanya sukses di rumah tangga, maka mak-mak KEB juga sukses di lingkungan tetangga, eh. Maksudnya mak-mak KEB punya prestasi lebih. Datang ke acara gede, lalu menerima hadiah jutaan atau gadget keren (walau biasanya masih berupa kertas berisi tulisan doang, hihi hapal bener), lalu salaman sama orang-orang terkenal, foto bareng, dan terakhir fotonya mejeng di blog, dilihat orang banyak. Keren, kan? Selain itu mak-mak KEB juga udah banyak yang sering memenangi lomba blog, hadiahnya lumayan loh biasanya, nah pastinya sang suami makin cinta dong (nggak sering-sering nagih uang belanja soalnya, hehe). Banyak deh nilai plus yang kulihat dari mak-mak di KEB.

KEB itu profesional. Mau tahu buktinya? Nih, salah satunya.



Banyak mak-mak di sana yang bersemangat ngasih tahu member yang lain bahwa ada beberapa mak yang memenangi perlombaan. Meskipun dirinya sendiri nggak menang, bisa bantu nge-share aja senengnya udah ngalahin sensasi ditraktir baso dua mangkok, lho! Nah, udah gitu, beberapa menit kemudian, langsung tuh berkerubung mak-mak yang lain di komentar, mengucapkan selamat dan sebagainya. Padahal kebanyakan juga ikutan lomba yang sama. Nggak ada deh yang namanya saling hujat dan menghina tulisan yang jadi juara. 

Dari yang rempong sampai yang juara! KEB itu kayak gambar ke-3 and ke-4!
KEB itu kampus tanpa jam kuliah. Ini nih salah satu kelebihan KEB di mataku. Ketika kampus sesungguhnya hanya menyajikan materi yang bersifat bukualistis banget (duh, bahasa apa itu?), KEB justru mengajarkan banyak pelajaran kehidupan padaku. Aku belajar masak melalui tulisan mak-mak di sana, aku jadi tahu rasanya jadi seorang ibu, aku jadi  tahu betapa bahagianya sang ibu ketika sang anak memberikan kejutan ulang tahun padanya, aku jadi tahu suka-duka, tangis-tawa, jungkir-balik ketika menjalani kehidupan rumah tangga, dan banyak lagi. Tentunya ini sangat berguna untuk menyiapkan mentalku menghadapi masa-masa yang toh nantinya juga bakal datang (sambil menebak-nebak wajah suamiku nanti, apakah seperti Leonardo D’Caprio? Justin Bieber? Orlando Bloom? Hoho, jengjeng! Lupakan saja).

Hmm...lantaran sekarang udah pukul 19.06 dan aku belum makan siang plus belum makan malam, jadi aku cukupkan dulu, yah! Ntar insya Allah ditambahin lagi. Aku mau hang out dulu sama temen-temen kontrakan, cari makan di warung baso bantolo (ah gaya banget nyebutnya ‘hang out’). Yang je to the las, I am proud became a member of KEB.



http://www.blogpingtool.com

Monday, 13 January 2014

Copy-Paste: Cintaku Berlabuh di Turki




Cerita berikut kuambil 100% dari WP-nya Mbak Riezka, muslimah Indonesia yang menikah dengan pria Turki. Sekarang Mbak Riezka ini tinggal di Istanbul (Kota Impian-ku). Nah, buat yang mau baca semua cerita Mbak Riezka, silakan mampir ke WP-nya ya...




###

Tinggal di luar negeri merupakan salah satu do’a yang saya panjatkan ketika di depan ka’bah pada saat umrah, Maret 2010 lalu. Memang impian saya sejak kecil untuk pergi ke luar negeri yang memiliki empat musim. Agar bisa merasakan salju, pikir saya polos waktu itu. Entah itu melalui rizki dari pekerjaan dengan keringat saya sendiri, melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, atau mungkin menikah dengan masyarakat lokal yang memungkinkan saya tinggal dan menetap dinegara lain. Aplikasi demi aplikasi beasiswa telah saya lewatkan, dan beberapa interview pekerjaan untuk di luar negeri pun telah saya jalani, tapi tidak ada satupun yang lolos. Saat itu Allah belum berikan jalan, pikir saya. Suatu hari nanti, pasti. InshAllah.

Tak terasa sudah dua tahun saya ucapkan do’a padaNya, ternyata ada suatu tawaran lain, bukan melewati beasiswa, maupun tawaran pekerjaan. Tawaran ini datang dari salah satu pria berkebangsaan Turki yang direkomendasikan oleh ustad-nya, untuk menikah melalui proses Ta’aruf dengan masyarakat negara lain, dengan tujuan mempersatukan ummah. MashAllah. Setelah beberapa proses dan melalui konsultasi dengan murabbi kami masing-masing, Ia memutuskan untuk melamar dan menikahi saya melalui orang tua saya di Jakarta. Alhamdulilah, dengan melalui proses panjang selama 3 bulan, semua berjalan lancar tanpa ada halangan satupun. Pada Juli 2012, dengan wali nikah Ayah saya  sendiri dan pemberi nasihat Bapak (saya menyebutnya dengan Angku) Taufik Ismail, tokoh legendaris dalam bidang kesusastraan, yang memang masih merupakan kerabat dekat kami.


Pernikahan kami di Jakarta, Juli 2012

Selain mengadakan resepsi pernikahan di Indonesia, kami juga mengadakan resepsi pernikahan di Turki. Di salah satu masjid milik jema’at suami saya, kami melangsungkan resepsi pernikahan untuk kedua kalinya. Tamu perempuan dan laki-laki dipisah diperayaan kali ini. Salah satu hal menarik yang saya suka dari pernikahan di Turki adalah hadiah pernikahan yang mayoritas berupa emas dan uang, digantungakan pada slayer di  kedua pengantin. Para tamu yang hadir memberi selamat kepada pengantin ke atas panggung serta juga mengantukan uang dan emas.


Adat Pernikahan di Turki

Lembaran baru pun dimulai, saya mengikuti suami untuk pindah ke Istanbul. Suami saya dilahirkan, menempuh pendidikan dan  hingga sekarang bekerja di Istanbul, salah satu kota terbesar dan terpadat di Turki. Kota Istanbul dibelah oleh Selat Bosphorus menjadi dua bagian, bagian Eropa dan Asia (disebut juga Anatolia), sehingga kota ini sering disebut kota dua benua, kota yang menjadi titik bertemunya peradaban barat dan timur. Kami sendiri bertempat tinggal di Umraniye Belediyesi, merupakan salah satu wilayah padat penduduk di Istanbul bagian Asia.

Kota Istanbul ini dahulunya merupakan kota umat Katolik Orthodox, yang disebut juga Konstatinopel. Umat Katolik Orthodox menduduki konstatinopel pada tahun 330–1453 Namun, pada tahun 1453, pemuda 21 tahun bernama Fatih Mehmet II, menaklukan Kota ini dibawah kerajaan Islam Ustamaniyah. Seperti yang dijanjikan Rasulullah, Konstantinopel pasti akan ditaklukkan kalian, sebaik-baiknya panglima adalah panglima penaklukan itu, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan itu” (HR. Ahmad). Setelah penaklukan tersebut, kota cantik yang sering disebut kota sejuta masjid ini merupakan kota yang mayoritas berpenduduk muslim. Di kota ini, banyak bangunan bersejarah, tidak hanya untuk umat Islam, tetapi juga untuk umat Katolik Orthodox. Salah satunya adalah bangunan Hagia Sophia. Bekas masjid yang dahulunya merupakan gereja Orthodox paling agung pada zamannya, tetapi saat ini telah menjadi Museum.


saya berlatar belakang Hagia Sophia

Selain itu ada juga bangunan bersejarah islam, salah satu masjid cantik yang dibangun pada ke-khalifaan Ustmaniyah, pada tahun 1609-1619, yaitu masjid Sultan Ahmet, yang dikenal juga dengan Blue mosque. Masjid yang mempunyai enam menara dan berinterior dalam didominasi dengan warna biru dan merah ini terletak tepat bersebrangan dengan Museum Hagia Sophia.

Sebagai bekas ibukota kerajaan islam Ustmaniyah, penduduk Turki 99,8% mayoritas beragama muslim, dengan ber-madzabkan Imam Hanafi. Namun, karena pengaruh westernisasi dari kultur Eropa, dan juga gerakan sekularisasi dari pemerintahan terdahulu, banyak penduduk Turki  yang melepaskan identitas keislamannya. Istilah Indonesia-nya adalah ‘Islam KTP’. Ya, banyak sekali seperti itu. Saya pun sempat kaget pertama kali tiba disini. Dalam bayangan saya, Turki adalah negara yang islami,  dimana seluruh wanitanya memakai khimar atau hijab, dan juga dibalut dengan abaya hitam menitupi seluruh tubuhnya, seperti wanita-wanita muslim di Timur Tengah. Ternyata, peleburan kultur barat dan timur begitu nyata disini. Banyak wanita anggun berhijab, berbalutkan gamis modern dan elegan khas Turki yang disebut pardesϋ serta wanita yang memakai baju serta hitam panjang dan hanya menampakkan hidung dan mata. Namun sayangnya, banyak pula wanita yang bisa dibilang setengah telanjang, yang hanya berpakaian tank-top, rok super mini dan ber-make-up tebal.


Gamis modern Turki yang elegan dan anggun
Negara Turki tidak luput dengan sejarah Islam yang panjang, kota-kota tua yang telah berdiri dari ribuan tahun, seperti kisah Nabi Ibrahim As yang terhindar dari api oleh kekejaman raja dari kerajaan Namrud, terjadi pada kota Şanlıurfa, Turki Tenggara. Selain itu, Negara ini juga merupakan negara penting, yang tercatat dalam hadits umat islam, tentang hari akhir, disebutkan bahwa, salah satu tanda hari akhir adalah sungai tigris dan eufrat akan mengering. Kedua sungai ini mengaliri beberapa kota yang berada di timur turki.


Masjid Sultan Ahmet yang dikenal juga dengan sebutan Blue Mosque

Meskipun saya harus beradapatasi dengan budaya Turki yang cendrung berbeda dengan budaya Indonesia, Alhamdulillah, saya mendapatkan kemudahan. Ada beberapa kultur yang saya sukai disini, yaitu kultur silaturahmi dan kekeluargaan di Turki luar biasa, dalam hal menjamu tamu, MashAllah. Seperti yang diajarkan Rasulullah, mengagungkan tamu adalah suatu yang dianjurkan. Dalam adat bertamu orang Turki, biasanya kita disuguhkan appetizer (makanan pembuka), yaitu çorba (soup), main menu (hidangan utama), setelah hidangan utama selesai, dilanjutkan dengan makanan penutup, seperti pudding, baklava, kue yang sangat manis, atau pastel (disini menyebutnya Börek ) ditemani dengan teh hitam (çay) khas Turki dengan teko yang khusus. Tentu saja itu semua belum lengkap tanpa dihidangkannya buah-buahan sebagai penutup. Adat bertamu di Turki itu biasanya cukup lama, biasanya 3-5 jam. Jadi, jangan heran kalau disini bertamu bisa sampai jam 1 pagi.

Dalam hal karakteristik masyarakat Turki, umumnya, agak sedikit berbeda dengan orang Indonesia yang murah senyum. Mereka bukan tidak ramah, melainkan tidak terbiasa untuk saling tersenyum. Karakteristik orang Turki pun berbeda-beda. Banyak orang Turki yang sangat religius, tapi tidak sedikit orang Turki yang sangat sekular. Alhamdulilah, saya mendapatkan keluarga baru di sini yang sangat religius karena dalam keluarga ini dan keluarga religius di Turki lainnya, pergaulan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sangat dibatasi. Seperti halnya dalam bertamu, biasanya tuan rumah mempunyai dua ruang tamu, ruang tamu laki-laki dan ruang tamu perempuan. Ketika pertama kali merasakan hal ini, saya merasa canggung karena saya belum dapat berbicara dengan bahasa Turki dan mayoritas di ruang tamu bagian perempuan, sangat jarang yang bisa berbicara Bahasa Inggris dengan baik. Tetapi seiringnya waktu, sebagai seorang muslim, saya merasa sangat nyaman karena dengan di pisahnya tamu laki-laki dengan perempuan, membuat kita lebih leluasa, dan juga lebih terjaga dari pria yang bukan mahram kita. Alhamdullilah.

Turki termasuk negara yang memiliki empat musim; Musim Panas (Summer/Yaz) pada Juni-Agustus, Musim Gugur (Autumn/Sonbahar) pada September-November, Musim Dingin (Winter/Kış) pada Desember-Februari, dan Musim Semi (Spring/ İlkbahar) pada Maret-Mei. Sebagai orang yang lahir dan besar dinegara tropis, merasakan iklim yang begitu berbeda dengan kampung halaman untuk pertama kali itu adalah pengalaman yang mengesankan.

Musim Semi, musim yang paling banyak ditunggu masyarakat Turki, bukan hanya karena cuacanya yang bagus, tidak dingin dan tidak panas, di sekitar 17-25 derajat celcius, tetapi juga banyaknya bunga tulip bermekaran dimusim ini. Di musim semi ini, masyarakat Turki banyak yang memilih untuk piknik ke taman-taman dan cantik untuk menghabiskan waktu dengan keluarga, ada juga yang sekedar berjalan-jalan atau berolah raga di sepanjang taman.


Suasana Musim Semi di  Gulhane Parki
 
Selain itu, musim yang menjadi favorit saya adalah muslim dingin, alias winter, pada muslim dingin, suhu lebih rendah dari biasanya. Sekitar 0-5 derajat Celsius. Pada musim dingin tahun 2013 ini, sempat mengalami tiga kali hujan salju turun. Hujan salju biasanya turun selama 3-4 hari. Pada saat muslim salju, biasanya masyarakat Turki memakai sepatu boots, jaket tebal, topi kupluk dan tak lupa sarung tangan untuk mencegah kedinginan saat hujan salju turun.


Suasana Musim dingin di Depan Masjid Sultan Ahmet

Belum lengkap rasanya membicarakan Turki tanpa membicarakan makanan Turki yang terkenal di seluruh penjuru dunia, yap, Kebab Turki. Jenis Kebab di Turki itu ada bermacam-macam, dari doner kebab (seperti yang terkenal di Indonesia), Iskender Kebab, Durum kebab dan lain-lain. Cara penyajiannya pun berbeda-beda, Iskender kebab misalnya, penyajiannya dengan kuah tomat dan mentega cair yang gurih, dicampur dengan yogurt plain. Selain kebab, Turkish delight juga salah satu makanan khas Turki, biasanya, dijadikan souvenir. Dengan berbahan dasar tepung dan gula, berisi kacang-kacangan yang dibumbui air mawar, damar wangi, atau lemon. Bentuknya kubus kecil dengan taburan gula atau kelapa. Rasa kayu manis dan mint terkadang juga terasa dari makanan ini.


Turkish Delight yang manis

Sampai di sini dulu kisahku, semoga tulisan ini dapat membantu teman-teman yang ingin mengetahui sedikit banyak tentang kebudayaan Turki, khususnya Istanbul. dan tidak lupa, saya tunggu teman-teman untuk berkunjung ke Istanbul. dan saya siap jadi guide nya ;)

Wasalam, Istanbul, Maret 2013
Riezka

Friday, 10 January 2014

Jurus Mengikuti Lomba Blog [Berdasarkan Pengalaman Pribadi Aja]



sumber: klik di sini

Bukankah ada banyak jalan menuju Roma?

Kalimat di atas begitu sering kita temui, terkadang melintas begitu saja di pendengaran dan tak jarang pula kita membacanya di sebuah tulisan atau kumpulan kata-kata bijak. Ada yang membenarkannya, ada juga yang tidak. Banyak yang mempercayainya, banyak juga yang tidak. Dan aku termasuk salah satu orang yang membenarkan sekaligus mempercayai kalimat tersebut. 

Di saat satu jalan tertutup bagimu, maka kamu harus menempuh jalan lain untuk meraih apa yang kamu mimpikan.

Setidaknya begitulah uraian yang bisa kubuat dari kalimat pembuka di atas. Ya, aku memang tidak bisa mendapatkan keuntungan seperti uang hadiah memenangi karya ilmiah nasional atau mewakili Indonesia untuk menjadi delegasi pertukaran pelajar antar bangsa. Simpelnya aku tidak bisa memanfaatkan study-ku saat ini untuk bisa eksis. Atau bahasa kasarnya aku sangat jauh dari predikat mahasiswa berprestasi. Meskipun dalam hati kecilku, niat untuk mengejar beasiswa study di negara orang itu terkadang menggebu-gebu. Hanya saja, entah mengapa, sejak penolakan-penolakan dalam hatiku terhadap jurusanku sekarang, niat itu seperti harus kupendam dulu. Justru cita-citaku saat ini, tahun depan PKL di peternakan puyuh—Slamet Quail Farm, ambil ilmu sebanyak-banyaknya dari peternak puyuh nomor wahid di Indonesia—Pak Slamet, kumpulkan link sebanyak-sebanyaknya, dan aku akan membuka usaha sendiri sekaligus mengabdi di Kepri. Aku berpikir, mungkin aku bisa mendapatkan beasiswa lagi jika aku benar-benar sungguh-sungguh, namun aku selalu takut tidak memiliki kesempatan untuk membahagiakan orang tuaku. Dengan membuka usaha, aku juga bisa kuliah, toh? Ya, walaupun tidak di universitas bergengsi di pulau Jawa ini.

Ya, sekarang aku tetap fokus juga untuk segera menyelesaikan perkuliahanku yang insya Allah tinggal 1,6 tahun ini. Setelah itu fokus membangun usaha—tentu saja aku tahu membuka usaha itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak sesimpel yang aku tuliskan, menyekolahkan adikku sampai perguruan tinggi, menghajikan Bapak-Mamak, baru setelah itu memikirkan pernikahan.

Untuk sekarang, karena kuliah tidak pernah memberikan harapan untuk keseharianku, aku tetap memiliki ‘jalan lain’ itu. Aku suka menulis, meskipun hanya amatiran. Aku memanfaatkan hobiku ini dengan menulis ke media massa dan blog. Saat ini aku hanya ingin bercerita soal pengalamanku menulis di blog—di media massa-nya kapan-kapan aja, ya. Aku membuat blog sekitar tahun 2011 lalu dengan meminjam laptop teman di Pesantren. Pesantrenku memiliki akses wifi gratis 24 jam, jadi para santri bisa online kapanpun di kamar masing-masing. Di kelas XII, hampir semua teman-temanku memiliki laptop, dan tentu saja aku belum. Aku tidak pernah punya keberanian meminta pada orangtuaku. Jadinya blog-ku jarang update
 
Sumber: klik di sini
Selanjutnya saat duduk di semester 2 bangku perkuliahan, aku mendapatkan sedikit rezeki hingga bisa membeli ponsel android—belum yang jelly-bean dan ice-cream sandwich tentunya. Dari android ini aku bisa sedikit aktif mengisi blog-ku meskipun urusan margin, font, dan tata letak foto baru bisa kurapikan saat di warnet. Aku bisa menulis hingga 10 halaman A4 di ponselku. Laptop? Aku belum punya. Laporan, makalah, minitab, semuanya pinjam laptop teman dan jasa warnet. Baru setelah duduk di tahun ke-2, aku bisa membeli laptop, alhamdulilah dengan uangku sendiri.

Ya, pertama kali aku mengikuti lomba blog adalah lomba yang diadakan Wardah Cosmetisc, Blog Detik, dan MUI [kalau nggak salah, bulan September 2013 lalu]. Hadiahnya lumayan. Karena temanya menarik, aku coba-coba untuk ikut. Tentu saja aku menulisnya di ponsel lalu dioptimasi saat di warnet. Banyak sekali yang mengikuti lomba ini. Mulai dari model hingga ibu-ibu rumah tangga. Dan siapa sangka, aku mendapat peringkat III. Sesuatu yang aku rasa tidak mungkin.

Hadiahnya lumayan. Aku bisa mengirim sedikit untuk nenekku di kampung, untuk traktir 20 orang temanku, dan membeli laptopku sekarang. Alhamdulillah...

Hasil lomba pertama


Karena kemenangan ini, aku jadi memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti lomba blog lagi. Dan proyek selanjutnya adalah lomba blog dari Prioritas Land. Aku juga tertarik tentang tema ‘investasi’ yang mereka berikan, sekalian belajar maksudku. Beberapa minggu kemudian, seorang teman di komunitas emak-emak blogger men-tag namaku, memberi tahu bahwa aku sebagai pemenang I, sekaligus mengucapkan selamat. Aku segera meluncur ke halaman resmi Prioritas Land, dan alhamdulillah benar namaku ada di sana. Hadiahnya cukup lumayan juga, bisa untuk membayar kontrakanku tahun depan plus ongkos pulang kampung liburan lebaran besok. Insya Allah

Nah, proyekku selanjutnya adalah lomba blog yang diadakan oleh Cheria Tour & Travel [Biro perjalanan haji, umrah dan wisata muslim]. Hadiahnya sangat menggiurkan: tour Malaysia-Singapore dan uang saku 1,5 juta. Aku tidak seketika percaya, bagiku cek sana-sini sebelum mengikuti lomba adalah hal yang penting dilakukan. Aku obrak-abrik web resmi penyelenggara, blog pribadi owner-nya, semua video-video yang berkaitan dengan Cheria, semua tulisan-tulisan oleh Cheria Groups, facebook owner-nya, fanpage, dan masih banyak lagi. Lomba ini sempat menjadi kontroversi di komunitasku. Mereka sedikit tidak berpihak karena menemukan dua surat pembaca yang menyatakan ketidak puasan terhadap jasa pelayanan. Tapi aku tidak mau juga asal telan kalimat orang, aku lebih mempercayai penilaianku sendiri. Bukankah hal seperti itu wajar? Ada satu-dua orang yang tidak puas dengan jasa yang didapatkan? Lalu ada juga kemungkinan bahwa orang tersebut berniat ingin menjatuhkan Cheria Travel dan alasan-alasan lain. Aku bahkan sempat menanyakan hal ini pada owner-nya [Bapak Cheria] dan ternyata jawabannya sangat memuaskan. Selain itu, aku juga sudah membaca semua berita di halaman facebook Bapak Cheria, walhasil aku kemudian bisa menyimpulkan, Pak Cheria adalah figur yang patut diteladani. Baik itu karyanya, sumbangsihnya, kedermawanannya, dan lain-lain yang tidak perlu kusebutkan semua.

Pengumuman pemenang dari Cheria Travel


Setelah kurang lebih satu bulan, kemarin sore pemenang lomba itu telah diumumkan, dan alhamdulillah aku terpilih sebagai pemenang I. Sekarang lagi sibuk menunggu kiriman KTP dan fotokopi KK dari kampung halaman untuk proses pembuatan paspor. 

Nah, meskipun karyaku di dunia nge-blog belum setumpuk, setidaknya aku sudah mulai berani nih buat share tips-tips buat teman-teman yang pengen ikutan lomba blog. Check it out, yah!


  • Hindari lomba SEO. Nah, ini berdasarkan blog masing-masing, lho. Karena lomba SEO lebih memprioritaskan penilaian pada google rank blog kita, sedangkan kualitas tulisan maksimal hanya mempengaruhi 30-40% saja. Bagi teman-teman yang blog-nya sudah memiliki posisi baik di google, boleh-boleh saja mengikuti lomba ber-genre SEO ini. Tapi kalau aku, lebih memilih tidak.
  • Kecocokan dengan tema. Ya, bagiku tema itu berpengaruh terhadap keseriusan menulis. Aku sih, kalau temanya cocok, paling lama 2 jam satu tulisan selesai. Makanya nggak semua lomba blog aku ikutin. Pilih yang benar-benar kita minati lalu maksimalkan di sana. Insya Allah seperti ini lebih baik, ketimbang semua diikuti tapi content-nya abal-abal.
  • Baca tulisan pemenang sebelumnya. Ini juga penting, lho. Biasanya setiap penyelenggara lomba blog itu rutin ngadain setiap tahun, jadi kita bisa baca tulisan pemenang di tahun sebelumnya. Untuk lomba blog Prioritas Land dan Cheria Travel memang baru diadakan di tahun 2013-2014, jadi belum ada tulisan yang dijadikan teladan. Kalau begitu, lanjut ke jurus berikutnya.
  • Komplit. Ini dia salah satu jurus yang harus dikuasai. Tulisan kita harus benar-benar komplit. Semakin komplit informasi yang kita tulis, maka akan semakin bagus. Bagus dalam penilaian, bagus juga posisi kita di google. Kan keyword-nya juga semakin banyak toh?
  • Kreatif. Ya, yang ini hukumnya wajib. Kita harus merangkai tulisan yang kreatif supaya pembacanya nggak bosan dan penyajiannya berkesan. Bisa juga menggunakan animasi atau kekreativan tulisan. Tulisan yang kreatif bukan berarti tulisan alai loh, ya. Tapi bagaimana kita bisa membuat tulisan itu enak dibaca, mengalir, dan membuat betah si pembaca.
  • Update. Selagi ada kesempatan buat optimasi tulisan, maka jangan disia-siakan. Inilah alasan kenapa sebaiknya kita posting tulisan jauh-jauh hari sebelum deadline. Biar punya banyak waktu buat optimasi. Ikuti terus informasi terbaru tentang hal yang kita tulis, lalu tambahkan di tulisan kita. Sebagai pengalaman, selama mengikuti lomba menulis dari Cheria Travel, aku mengikuti informasi di facebook-nya Bapak Cheria. Banyak sekali informasi terbaru yang belum di-post di web resmi mereka bisa kudapatkan, seperti kuota visa haji yang diberikan untuk Cheria Travel dan foto-foto tur terbaru Cheria Travel ke Korea.
  • Jurus terakhir adalah berdoa dan yakin. Jangan cuma gede usaha aja tapi melupakan bahwa segala ketentuan dan rezeki itu adalah dari-Nya. Lomba itu seharusnya semakin mendekatkan kita pada-Nya, bukan malah sibuk sendiri sampai waktu shalat aja keteteran. Insya Allah dengan begitu, hasilnya di-ridhoi dan lebih berkah. Eh, tapi ada juga loh, tipe orang yang selama mengikuti lomba, shalat dan doanya luar biasa, Alquran dikhatamin dalam waktu 3 hari, tahajud sampai lima jam, dhuha sampai zuhur, tapi setelah menang, shalat aja di akhir waktu. Nggak bener kebiasaan yang kayak begini, itu namanya memanfaatkan Tuhan. Nggak sopan banget, kan?

 
the winner (sumber: klik di sini)
Okay, segini dulu ya jurus memenangkan lomba blog dariku. Nanti kalau aku punya jurus baru, insya Allah ditambah lagi. Selamat menulis kreatif, ya...semoga menang dan Allah meridhoi. Aamiiin...




BlogPingSite http://www.blogpingtool.com

Wednesday, 8 January 2014

Final Exam: Good Luck, Guys!



Enjoy your exams...! (source: click here)

Nalar hanya akan membawa anda dari A menuju B, namun imajinasi mampu membawa anda dari A ke manapun—Albert Einstein.

Alhamdulillah...akhirnya semester tiga yang melelahkan ini akan terlewati, sedikit lagi, insya Allah. Yeah, besok Kamis sudah mulai ujian akhir semester, dan mata kuliah Budidaya Sagu menjadi hidangan pembuka. Waktu memang begitu cepat berlalu, enam bulan hanya serupa satu kali kedipan mata. Meskipun aku sangat menanti-nanti ending dari semester ini, tapi tetap saja ada sedikit rasa sedih dan kehilangan. Tidak bertemu lagi dengan para dosen yang mengisi satu semester ini, dan tentunya tidak akan ada praktikum di mata kuliah yang sama lagi.


Aku (tengah)
Semester tiga ini kami mempelajari tujuh mata kuliah. Mereka adalah: Metode Statistika, Hama Tanaman, Enjinering Perikanan, Budidaya Ikan Laut dan Udang, Budidaya Sagu, Kesehatan Ternak, dan Budidaya Tanaman Pangan. Pasti terheran-heran ya mendapati mata kuliahku yang nggak spesifik itu? Ya, namanya juga jurusan pertanian terpadu. Kalau mau tahu lebih detil silakan datang ke kampusku aja atau kunjungi webnya. Okeh!

Just stay cool in your exams! It's not too hard if you think it's not hard! (source: click here)
Nah, karena besok udah ujian, aku mau minta maaf nih buat para pembaca blogku yang tercinta—sok punya pembaca setia, ah siapa aja deh, pokoknya maafin aku, ya? Biar ujianku lancar. Terus kalau udah dimaafin, sekalian doain aku juga, ya? Biar nilaiku bagus. Hehe. Ya kita saling mendoakan.

Aku juga mau menyampaikan satu hal, barangkali dalam kurun waktu dua minggu ke depan, blog ini akan jarang update. Aku udah niat mau serius, nih. Soalnya nilai UTS-ku kemaren nggak terlalu memuaskan, jadinya mau kencengin sabuk pengaman di UAS-nya. Biar nilainya seimbang gitu, kalau bisa 7,6 semua—wah, A semua dong, maunya...!

Did you like him? Just take it easy, and you'll be see, no hard! (source: click here)
Ya...cuma bisa berupaya aja—doa and usaha, selebihnya Tuhan yang punya ketentuan. Meskipun aku bukan termasuk salah satu pecinta high score, bagiku skrip nilai yang mentereng itu butuh juga, buat nyenengin Ibu-Bapak sama buat gaya. Selebihnya aku tetap meyakini bahwa nilai nggak akan menjamin apapun. Karakter itu jauh lebih berperan. Ya, biasanya nilai itu cuma dipakai buat ngelamar pekerjaan, abis itu kalau udah diterima bekerja and ternyata kerja kita nggak bener, Si Boz nggak akan sudi melirik skrip nilai kita kembali saat mau memecat.

Sekarang memang bukan saat yang tepat bagiku untuk menyalahkan siapapun. Aku akan berusaha untuk menikmati kesempatan yang diberikan Tuhan padaku sekarang. Jika kampus tidak mampu memberi kebahagiaan, tidak pantas aku menyesali dan bersedih hati, karena masih banyak hal yang bisa kulakukan. Salah satunya dengan terus mengasah minat dan bakatku. Ketertekanan tidak boleh membuatku melalaikan teman-temanku, ada banyak hal yang bisa kubagi dengan diriku yang sekarang. So, apapun masalahmu, bagaimanapun keadaanmu saat ini, trust me...masih banyak gerbang yang terbuka untukmu. Syukuri saja semuanya dan terus berusaha untuk mendapatkan dan menjadi yang lebih baik. Kenapa kita harus berbahagia sekarang? Karena aku tidak tahu sampai kapan kesempatan yang Tuhan berikan untuk kita berjalan di muka buminya.

Tempat untuk berbahagia itu di sini. Waktu untuk berbahagia itu kini. Cara untuk berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia. – Robert G. Ingersoll

Oke deh sekian dulu, ya... Buat teman-teman yang mau UAS juga, selamat menempuh ujian—berikan senyuman. Semoga sukses ujiannya dan Tuhan juga meridhoi. Jangan lupa minta doa ke orangtua, ya... Selamat ujian...!!! Hadapi dengan senyuman, yakinlah semua kesulitan pasti akan berlalu. See you...

SEMOGA ANDA LEKAS DIWISUDA!

Tuesday, 7 January 2014

Kisah Andrew Carnegie: Dari Tukang Gulung Benang Sampai Pengusaha Baja Terkaya di Dunia



Sumber: klik di sini

Lama setelah ia membuktikan dirinya sebagai salah satu pengusaha terkemuka di Amerika dan juga pengusaha baja termasyhur dalam sejarah, Andrew Carnegie mengemukakan pendapatnya tentang mental. "Kita semua hidup di negara terkaya dan paling bebas di dunia, di mana tidak ada orang yang dibatasi kecuali oleh sikap mentalnya dan keinginannya,” katanya.

Ia menjadi bukti dari pernyataannya itu. Carnegie lahir di Dunfermline, Fife, Skotlandia pada 25 November 1835. Keluarganya adalah keluarga sederhana yang tinggal di pondok para penenun yang khas. Satu rumah digunakan ramai-ramai bersama para tetangga. Ruang utama digunakan bersama dan sekaligus tempat tidur bersama pula.

Ketika ekonomi Inggris sulit, ayahnya, William Carnegie, memutuskan untuk pindah ke Allegheny, Pennsylvania, AS untuk memperbaiki hidup. Agar bisa mengangkut seluruh keluarganya William harus meminjam uang dari kerabat.

Sampai di Allegheny tahun 1948, ia terkejut karena ternyata wilayah itu merupakan daerah miskin. Ayahnya sendiri memulai hidup baru sebagai pemintal kapas dengan pendapatan yang minim. Baru penghasilannya sedikit membaik ketika menjadi tukang tenun sekaligus menyambi sebagai penjaja kain linen. Andrew kemudian ikut bekerja di sebuah pabrik tenun sebagai tukang gulung benang dengan gaji US$1,2 per minggu.

Uang itu tak banyak, tetapi Carnegie melihatnya cukup. Ia tak mengeluh. Yang dilakukannya adalah ia ingin menunjukkan bahwa dedikasinya tinggi pada pekerjaan. Ia juga menjadikan pekerjaan pertamanya sebagai tempat belajar.

Ternyata dengan sikap seperti itu, menarik seseorang untuk menawarkan pekerjaan baru sebagai tukang antar telegram di O’Reilly’s Telegraph Company, dengan gaji lebih dari dua kali lipat. Selain gaji US$2,5 seminggu ia juga mendapat karcis gratis untuk nonton pertunjukan di teater lokal. Namun yang membuatnya senang, sebagai pengantar telegram ia jadi punya kesempaan bertemu dengan banyak orang penting dan menjalin hubungan dengan mereka.

Selain itu, ketelatenannya menunggu telegram sampai-sampai ia bisa mengenali pesan telegram yang masuk hanya dari suaranya saja. Kemampuannya itu membuat Andrew dipromosikan menjadi operator hanya dalam waktu setahun sejak ia bekerja di situ. Konon hanya ada dua orang di Amerika saat itu yang bisa membaca telegram hanya dari suaranya.

Selain bekerja tekun, ia juga memiliki semangat belajar tinggi. Sadar bahwa sekolahnya rendah ia meminjam buku-buku dari perpustakaan milik Colonel James Anderson, seorang tokoh yang membuka perpustakaan pribadinya di malam hari bagi anak-anak yang bekerja. Lagi-lagi sikapnya ini dan kemampuannya membaca telegram menarik perhatian banyak orang. Thomas A. Scott seorang kepala stasiun Pennsylvania menawarinya pekerjaan baru sebagai asistennya. Gajinya berlipat-lipat menjadi US$35 sebulan, padahal saat itu ia baru berusia 18 tahun. Kesempatan itu tak ia sia-siakan.

Dari hasil pekerjaannya Andrew bisa menabung. Tahun 1955 ia bisa ikut menanam investasi di perusahaan kargo Adams Express sebesar US$500. Inilah awalnya ia memulai hidup sebagai pengusaha. Ia kemudian tumbuh menjadi industrialis baja terkenal di dunia dan menjadi orang terkaya di dunia.

Sisi lain yang menarik dari Andrew Carnegie adalah jiwa dermawannya. Ketika ia meninggal pada 11 Agustus 1919, ia telah memberikan sumbangan sebesar US$350 juta yang jika dihitung dengan kurs tahun 2010 berarti sebesar US$30 miliar (sekitar Rp 285 triliun).  “Orang yang tidak mampu memotivasi dirinya sendiri akan menjadi orang yang biasa-biasa saja, tidak peduli kendatipun ia memiliki bakat lain yang luar biasa,” katanya. Dan ia selalu mendapat motivasi dari dalam dirinya. Seperti itulah karakter Andrew Carnegie.

Copy-Paste dari: 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...