Thursday, 19 June 2014

Cinta dari Ujung Telepon [Bagian 1]

Source: click here
Tulisan ini sebenarnya adalah ungkapan dari berbagai pertanyaan yang sering kupertanyakan pada diri sendiri, dan sering tak menemukan jawaban terang. Terlebih sebentar lagi insya Allah aku akan pulang kampung untuk libur panjang. Semua inspirasi dari tulisan ini adalah cerita tetangga-tetangga di kampung, dan ada juga cerita dari saudaraku sendiri. Setiap di rumah, pasti desas-desus tentang masalah-masalah tetangga datang setiap hari, dari penjual kue keliling, penjual sayur, penjual tempe, di warung, ditambah agenda Ibu-Ibu yang sering mampir ke rumah untuk sekedar ngerumpi siang.

Tahun lalu, berita paling marak yang selalu membuatku tak habis pikir adalah tentang kekasih di ujung telepon. Ya, Si A janda dua anak menikah dengan laki-laki yang dikenalnya dari telepon. Sang lelaki yang dulunya mengaku memiliki ini dan itu, ketika datang ternyata hanya membawa baju di badan. Ganteng juga tidak. Anehnya Si A tetap menerimanya, bersedia dinikahi, dan kini mereka hidup bersama di rumah sang wanita. Lelaki itu bekerja mengelola kebun milik si wanita. Setidaknya lelaki itu sudah menunjukkan itikad baik dengan sungguh-sungguh menikahi, itu saja sudah dihargai seluruh penduduk kampung. Daripada kejadian sebelumnya, kasus yang sama—masih si A juga, namun bedanya si lelaki hanya numpang hidup, istilah kumpul kebo. Untungnya penduduk setempat segera ambil langkah cepat dengan cara mengusir laki-laki pendatang itu keluar kampung.

Kisah dua, adalah tentang Si B yang dalam perkiraanku memiliki usia antara 55-60 tahun. Sudah punya dua orang cucu. Dan uniknya, masih juga tertarik dengan kekasih di ujung telepon. Memang kisahnya tidak menyebar ke segala penjuru desa, karena barangkali Si B ini malu untuk mengumbarnya, sadar diri juga. Lalu bagaimana aku tahu? Tidak lain karena Si B ini adalah sahabat Bibikku, curhatnya ke Bibikku, dan pastinya Bibikku akan bercerita pada keluargaku.

Ceritanya, suatu hari Si B melacak nomor di ponsel, eh ternyata nyambung ke nomor seorang laki-laki. Si lelaki inipun seorang duda. Ngakunya duda keren yang mapan, tinggalnya di kota Batam. Secara gitu ya, nenek janda kesepian yang selama ini hidup berat di desa ditaksir sama duda keren, mungkin hatinya langsung berbunga-bunga. Impian hidup di kota dengan harta berlimpah barangkali menari-menari di pelupuk mata. Hingga setelah sekian bulan, Kakek itu mengajak Si Nenek ini ketemuan di pulau Tanjung Batu. Kalau dari pulauku, harus naik boat 2 jam dulu baru sampai di Tanjung Batu. Simpelnya, Tanjung Batu ini pulau yang letaknya di antara pulau kami dan pulau Batam. Di sanalah pertemuan direncanakan antara kedua sejoli ini.

Si Nenek pun dengan uang pas-pasan berangkat ke Tanjung Batu dengan membawa cucu perempuannya yang kayaknya masih berumur 5 tahunan. Apakah pertemuan itu berakhir bahagia seperti dalam film-film?

Sedih memang mengetahui pertemuan itu memiliki ending yang menyedihkan. Setelah melihat wajah Si Nenek, ternyata Si Kakek tidak menyukainya. Ia bilang, walaupun dirinya sudah tua, tapi Si Nenek jauh lebih tua lagi. Tidak serasi. Seandainya mereka jadi beneran, Si Kakek merasa dirinya seperti brondongnya Tante-Tante. Walhasil, Si Kakek memberi ongkos pulang Si Nenek seratus ribu rupiah. Aku berpikir, akankah Si Nenek merasakan patah hati layaknya yang dirasakan kaum muda? Entahlah...

Cerita ketiga datangnya dari salah satu sepupuku sendiri, panggil saja Si C. Sudah menikah sekitar sepuluh tahun lalu dengan laki-laki mapan, ganteng pula. Sayangnya mereka tak kunjung dikaruniai buah hati hingga akhirnya memutuskan adopsi anak perempuan tiga tahun lalu. Dan cerita ini terjadi sekitar empat atau lima tahun lalu, sebelum mereka mengadopsi anak. Malangnya, aku baru tahu cerita ini setahun lalu. Lagi-lagi dari Bibikku, yang di sini perannya sebagai Ibu kandung Si C.

Suatu hari ponsel Si C menerima sms dari nomor tak dikenal. Percakapan awal sih hanya seputar tanya-jawab tentang metode salah nomor si lelaki di ujung telepon. Tapi entah mengapa, semakin lama hubungan itu semakin akrab. Si C suka curhat, terima telepon kalau sang suami sedang tidak berada di rumah, dan sms berlusin-lusin setiap harinya.

Barulah beberapa bulan kemudian, saat Si C akan mengunjungi keluarga adiknya yang juga sudah berkeluarga di Tanjung Pinang, ia menyempatkan diri untuk membuat agenda ketemuan dengan Si Lelaki. Dimana? Di Batam, karena memang Si Lelaki tinggalnya di sana. Sepupuku yang memang cantiknya luar biasa itu berdandan senecis dan secantik mungkin. Pokoknya dia akan membuat Si Lelaki terkesan pada pandangan pertama.

Waktu yang ditentukan tiba. Mereka janjian di sebuah Dermaga yang cukup padat. Sambil menelepon lelaki itu, Si C memberi tahu warna pakaian yang ia kenakan. Hingga...beberapa saat kemudian seorang laki-laki berpenampilan mengejutkan menyapanya. Tampan dan neciskah?

Haha...jujur aku menertawakan sepupuku itu habis-habisan tahun lalu. Ibu dan Bibikku sendiri tertawa sampai menangis. Laki-laki itu kurus dan hitam, rambutnya gimbal, pakai sandal jepit, kaos oblong yang kusam, dan jins bolong-bolong. Kata sepupuku, laki-laki itu dipangkatin sampai pangkat sejuta pun, masih belum bisa setara dengan ketampanan dan kenecisan suaminya sendiri. Sekadar basa-basi, mau tidak mau sepupuku menyempatkan diri untuk sekadar bersalaman dan ngobrol satu-dua kalimat. Habis itu dia langsung tancap naik boat menuju Tanjung Pinang dan ganti kartu.

“Aku suka kesal sama Mas, Bu. Bukannya aku nggak tahu kalau setiap tugas ke luar, Mas itu jalan sama perempuan lain. Dia juga sering menghubungi wanita lain. Hanya aku diam-diam saja, memilih pura-pura nggak tahu. Aku ngeladenin laki-laki ini bukan karena pengen selingkuh, aku hanya pengen ngebalas suamiku. Biar dia tahu bagaimana rasanya dikhianati. Biar dia cemburu.” Kalimat ini diulang oleh Bibikku dalam penuturannya pada kami.

Itulah tiga cerita yang bisa kutuliskan malam ini, masih ada beberapa kisah serupa yang insya Allah bakal aku tuliskan lain waktu. Kisah-kisah yang sebenarnya selalu membuatku berpikir, sebenarnya bagaimana cinta itu? Kok bisa dua orang yang bahkan belum saling mengetahui wajah masing-masing sudah saling suka? Lalu seperti kisah Si B, bagaimana bisa dia jatuh cinta lagi sementara usianya sudah serenta itu? Bukankah lebih baik ia mencurahkan segenap cinta kasih untuk cucu-cucunya daripada mengurusi laki-laki antah-berantah?

Sedangkan untuk kasus sepupuku, bingung juga mau menanggapi bagaimana. Barangkali jika aku berada di posisinya, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Ya, aku paham itu semua tanpa didasari niat berselingkuh atau cinta, hanya sekadar berharap suami akan merasa cemburu, lalu menyadari bahwa ia begitu mencintai kita, dan perempuan-perempuan di luar sana bukan siapa-siapa. Kurasa begitu.

Aku tidak pandai berkomentar kalau urusan seperti ini. Hanya pengen berbagi cerita yang kutahu saja. Sanking banyaknya kisah seperti ini, perselingkuhan, remaja hamil di luar nikah, perseteruan antar keluarga, di kampung sana, sampai-sampai aku pernah bilang ke Bapak-Ibu, mau mondok di pesantren kilat saja liburan tahun ini. Malas pulang karena kuping dan kepalaku rasanya semakin penuh. Hanya saja, aku kangen rumah, kangen Bapak, Ibu dan Adikku. Kangen masakan Ibu. Kangen shalat di Musola samping rumah. Kangen ngajarin anak-anak tetangga ngaji. Itulah yang membuat kampung halamanku selalu tampak istimewa dan selalu memanggilku untuk pulang. Semua kasus yang terjadi di sana barangkali adalah cara Tuhan untuk mendewasakan hamba-Nya yang mau berpikir dan mengambil pelajaran. Semoga ada manfaatnya...

Wednesday, 18 June 2014

Foto-Foto Perjalanan Malaysia dan Singapura (Late Update)


Sebenanrnya ini foto-foto kadaluarsa, kemaren-kemaren nggak ada rasa pengen posting. Tapi entah mengapa, malam ini foto-foto itu menghantui dan memintaku agar segera memasangnya di blog. Baiklah inilah dia foto-foto perjalananku ke Singapura dan Malaysia bersama Cheria Tour & Travel pada bulan Maret 2014 lalu.

Alfian, aku, dan Darwin, di Batu Cave


Mas Faisal Ramdani, pemandu dari Cheria Wisata (Lokasi: Around Twin Tower)


Alfian! (Lokasi: Around Twin Tower) 


Darwin! Ngelamunin hutang di kampung ya? (Lokasi: Genting, Malaysia)

Kita bertiga, cuaca panas banget waktu itu dan kita nggak pegang uang 1 dolar pun :'(  Lokasi: Deket patung Merlion

Ini sehabis naik Sky Way, sebelum menjelajah First World Plaza (Lokasi: Genting)

Suer ini Plaza indahnya gila! Ada miniatur Venice, New York, Paris, dsb. Sumber: google


Ini di area tugu-tugu gitu


Sky Way! Aku pengen banget naik ini lagi! Ntar kalau udah punya suami. Suasananya romantis gitu :D


Ini di Singapura, depannya Patung Singa. Sayang patungnya masuk kandang waktu itu, lagi direnovasi.

Pertunjukan Song of the Sea! KEREN BANGET! (lokasi: Singapura)


My own room! (Hotel Sentral Pudu Kuala Lumpur)


View dari jendela kamarku pada saat matahari naik. Soooo wonderful! Aku pengen punya kamar di sana.

View dari jendela kamar hotel di Singapura

Batu Cave: with Alfian. My best lah buat temen perjalanan!


Dan aku di area Twin Tower. Waktu itu Twin Towernya gelap, jadi gak difoto deh!

Oke, sekian dulu. Sayang aku nggak punya foto di hari terakhir. Pas kita mau ninggalin hotel. 

Saturday, 7 June 2014

Hijab Fest: Festival Besar untuk Tujuan Akbar

Indonesia Sebagai Kiblat Busana Muslim Dunia?

"Indonesia memiliki potensi sebagai salah satu pusat mode dunia khususnya untuk busana muslim, karena Indonesia memiliki sumber daya kreatif dan warisan budaya yang melimpah. Maka suatu saat Indonesia bisa menjadi sumber inspirasi untuk pengembangan mode dunia," ungkap Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kamis (9/1/2014).
Melihat betapa berkembangnya muslim fashion di Indonesia saat ini, aku rasa semua orang juga akan mengamini ucapan Sapta Nirwandar di atas. Melalui kreativitas dan tangan dingin para desainer Indonesia, hijab kini bukan lagi menjadi sesuatu yang dianggap ketinggalan zaman, tidak modis, atau gerah digunakan.

Aku sendiri bukanlah tipe wanita yang nice look, tapi jujur saja aku suka dengan perkembangan hijab dan muslimah fashion akhir-akhir ini. Wardobe Dian Pelangi dan Ria Miranda adalah model-model yang menjadi favoritku, bahkan untuk Dian Pelangi, bisa dibilang aku adalah penggemarnya. Model hijab yang biasa dia gunakan sangat sederhana dan cocok dipakai kapanpun dan di manapun. Belum lagi foto-foto yang ia posting di blog saat berpelesir keliling dunia menggunakan koleksinya sendiri selalu kukunjungi hampir beberapa kali dalam seminggu. Semuanya memukau, sampai-sampai aku sendiri tertarik untuk menjadi muslimah fashion designer. But, i have no ability, maybe i should take a course for it.

This is one of my design! Yes, sometimes i dream to be muslim designer! don't laugh at all :D
Kamu sudah menonton film Ketika Tuhan Jatuh Cinta? Jika belum kurasa kamu harus menontonnya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin kamu menyaksikan betapa berkembangnya hijab dan muslim fashion di negeri ini melalui film tersebut. Dian Pelangi dan Wardah kosmetik hadir menciptakan sihir pada wanita-wanita yang bermain dalam film. Salah satunya adalah Aulia Sarah, wanita yang menurutku sedikit tomboi ini terlihat sangat jelita menggunakan wardobe Dian Pelangi dan make-up Wardah kosmetik. Tidak hanya itu, kamu juga akan menyaksikan bahwa wanita muslim Indonesia ternyata tak kalah memesona dibandingkan para wanita bule. Dengan hijab dan pakaian muslimah yang sedemikian rupa, wanita Indonesia tetap terlihat cantik tanpa harus memamerkan keindahan tubuh mereka. That is the point, guys!
“Indonesia? I love your country ‘cause its muslim woman so stylish with their hijab.” Seorang teman wanita asal Turki memberikan komentarnya saat kutanyai tentang Indonesia.
Wow! Siapa yang tidak bangga mendapatkan pujian seperti itu. Sejenak kemudian aku pun berkhayal, seandainya Indonesia menjadi kiblat muslim fashion dunia, betapa lebih kerennya hal itu. Festival-festival pakaian muslimah dan hijab,  pameran-pameran pakaian muslim, hingga butik-butiknya yang menjadi tujuan utama shopping turis mancanegara. Setidaknya meskipun mereka tidak berhijab, mereka akan membeli kemudian memakai pakaian yang tertutup. Itu adalah langkah yang sangat baik untuk merubah budaya Barat yang terkenal dengan pakaian seksi mereka.

So, This Is Hijab Fest: The Biggest Hijab Gathering & Expo!

Apa itu Hijab Fest?

Aku sendiri mengenal acara ini pada tahun 2013 lalu, tepatnya karena Oki Setiana Dewi menjadi pembicara di sana sekaligus launching bukunya yang berjudul Hijab I’m in Love. Sebagai penggemar, tentu saja aku selalu update tweet dan statusnya di media sosial. Aku pun sempat berniat akan datang ke acara tersebut, tujuanku waktu itu adalah agar bisa bertemu Oki Setiana. Tapi karena lokasinya yang cukup jauh—di Sabuga Bandung, aku pun urung hadir. Sebagai tambahan informasi, pergelaran akbar Hijab Fest 2013 juga diadakan di Surabaya.

Hal lain yang memperkenalkanku pada Hijab Fest yaitu lomba fashion show muslimah yang mereka adakan. Aku merasa memiliki tinggi tubuh yang proporsional, dan terkadang ada juga rasa ‘pengen’ untuk mencoba berjalan di atas catwalk—walau itu tidak mungkin. Belum lagi aku juga suka membahas tentang mode dengan teman kontrakanku yang  berasal dari Bandung. Dia fashionable, dan tentunya sangat tertarik dengan dunia hijab style dan fashion. Iseng-iseng aku memintanya untuk mengikuti lomba tersebut.

Satu hal lagi, aku suka difoto! hehe

“Nggak berbakat, Sof. Kamu aja sana yang tingginya pas.”

“Aku nggak berbakat juga, nggak bisa senyum cantik. Ngomong-ngomong acara ini gede nggak, sih? Kok kayaknya heboh banget.” tanyaku sambil menunjukkan foto dari tweeter.

“Aku cuman lewat doang kemaren waktu balik ke sini. Tapi rame banget kelihatannya.”

Cerita tentang Hijab Fest di tahun 2013 pun usai. Dan kemaren aku kembali diingatkan setelah melihat poster tentang Family Run Fun yang dibagikan Dewi Sandra di tweeternya. Pun saat aku membuka website Dian Pelangi, di sana ditampilkan outfit yang ia gunakan saat menghadiri Hijab Fest 2014. So beautiful, colorful, and wonderful!

Dian Pelangi saat menghadiri Hijab Fest 2014 (Sumber: klik di sini)
Nah, jadi ceritanya, Hijab Fest ini adalah sebuah festival besar persembahan Wardah kosmetik yang bertema hijab. Intinya segala sesuatu seputar hijab dan muslimah ditampilkan di festival ini. Seperti fashion show koleksi-koleksi pakaian muslimah dari desainer ternama, pameran-pameran pakaian dan hijab, talk show, parade ustadz, run fun,  hingga berbagai lomba pun ada di sana.

Rundown acara Hijab Fest 2014
Untuk tahun 2014 ini, Hijab Fest dilaksanakan dari 29 Mei hingga 1 Juni dan merupakan event yang keempat kali. Acara ini pertama kali diadakan pada tahun 2012 di Sabuga Bandung, tahun 2013 untuk acara kedua dan ketiga berturut-turut di Surabaya dan Sabuga Bandung, lalu tahun ini kembali diadakan di Sabuga Bandung.

Berbagai lomba yang diadakan Hijab Fest 2014
Meskipun di poster dinyatakan Hijab Fest 2014 dimulai dari tanggal 29 Mei, namun sebenarnya acara sudah dibuka sehari sebelumnya oleh Ibu Sheena Krisnawati, creator Hijab Fest Indonesia. Acara ini dinyatakan resmi dibuka melalui simbolis pelepasan 1000 balon ke udara. Pasti seru ya, dear!

Adapun tema Hijab Fest 2014 adalah fashion dan hijab bridal atau yang dikenal sebagai busana dan hijab pengantin. Tidak asal desainer lho yang bisa ikut pameran di sana, karena ternyata pihak panitia melakukan seleksi super ketat. Dan akhirnya ada sekitar 100 brand berbagai produk fashion hijab  ikut ambil bagian dalam  86 stand pameran. Perlu dicatat nih dear, yang terpilih mengikuti pameran memang benar-benar para desainer yang memiliki ciri khas dan karyanya orisinil. Tuh kan, ciri khas itu perlu banget. Karena ciri khas bisa menunjukkan bahwa desainer tersebut kreatif sekaligus inspiratif. Sepertinya benar-benar tidak ada tempat untuk para desainer yang hobinya copy-paste di Hijab Fest kali ini.
“Selain melalui konsep event setiap tahunnya, Hijab Fest juga akan bekerja sama dengan buyers dari negara asing untuk melihat perkembanan industri di dalam negeri untuk mengembangkan potensi ekspor.” ujar Bu Sheena.
Wah, ternyata pameran ini bukan sekadar pameran ya, dear. Ada maksud dan tujuan yang keren banget, sepertinya acara ini juga mengarah pada cita-cita Indonesia agar menjadi kiblat muslim fashion dunia. Kita doakan saja, semoga dengan seringnya digelar acara sejenis, Indonesia benar-benar mampu mewujudkan impian tersebut.

Selain mengedepankan promosi dan pengembangan potensi, acara Hijab Fest 2014 ini tentu saja tidak melupakan salah satu perannya sebagai syiar Islam. Terbukti dengan diadakannya parade ustadz yang diisi oleh Aa Gym dan Hanan Ataqi di hari kedua. Berdasarkan pernyataan seorang peserta pameran, Rizky Joko Satria—owner Kaos Kaki My Hayra, Hijab Fest 2014 ini juga menampilkan produk yang memberikan kenyamanan bagi muslimah dan aktivitas ibadahnya. Salah satunya kaos kaki. Jadi tidak melulu pakaian dan hijab ya dear yang ada di Hijab Fest 2014.


Bagi kamu yang ingin sekali bertemu para publik figur muslimah, pasti sangat menyesal jika tidak menghadiri acara ini—salah satunya aku, karena Hijab Fest 2014 kemaren juga menghadirkan Dian Pelangi, Zaskia Sungkar, Zahratul Zannah, Lulu ElHasabu, dan Teh Ninih. Mereka sharing berbagai hal seputar kemuslimahan, fashion, dan bisnis. Bahkan di hari terakhir, Dewi Sandra ikut lari bareng pengunjung di acara Family Run Fun!
Dewi Sandra dan Tulus di konser penutupan Hijab Fest 2014 (sumber: @dewisandra)
Dewi Sandra saat Family Run Fun Hijab Fest 2014 (sumber: @dewisandra)

Kosmetik Halal Wardah

Ah Dewi Sandra, semenjak dia menggunakan hijab, aku resmi menjadi penggemarnya. Apalagi saat dia ikut berperan dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa, rasanya pengen banget bisa foto bareng—duh, kumat katroknya. Kalian juga pasti sudah tahu, kalau Mbak Dewi juga merupakan salah satu brand ambassador kosmetik halal Wardah. Nah, karena Hijab Fest 2014 ini adalah persembahan dari Wardah, tidak ada salahnya kalau kita sedikit membahas produk sahabat muslimah yang satu ini.


Aku sendiri setia memakai wardah sejak 2013 lalu, tepatnya karena ingin mengikuti lomba blog yang diadakan Wardah, Blog Detik, dan LPPOM MUI. Sebenarnya tidak ada syarat untuk menyertakan produknya, tapi rasanya kurang afdhol kalau tidak ada foto yang ku-capture sendiri. Walhasil, aku justru tetap setia memakainya sampai sekarang. Bahkan produk wardahku semakin bertambah banyak saja. Kalau dulu aku menggunakan lightening step 1, sekarang sudah sampai step 2. Dan produk kesukaannku tentu saja sunscreen dengan 30 SPF-nya. Setelah hampir setahun konsisten bersama Wardah, kini ada lima teman kontarakan yang ikut pakai juga. Mungkin mereka termakan promosi yang sering kuumbar-umbar.


"Panas banget, sih. Kalau gini ceritanya bisa hitam seketika nih wajahku." Keluh seorang teman saat kita melakukan field trip ke Kepulauan Seribu beberapa minggu lalu.
Tetap senyum dong meskipun panas (at Pulau Semak Daun--Kepulauan Seribu)
"Makanya pake sunscreen Wardah, dong." Biasanya kalimat inilah yang sering kuucapkan untuk merespon keluhan teman-teman. Mungkin karena di lomba Wardah kemaren aku menjadi pemenang ke-3, jadinya merasa jadi ambassador juga. Hihi...
They are mine!

Hijab Phenomenon?

Melalui pergelaran Hijab Fest ini, aku rasa Wardah sudah melakukan langkah yang benar-benar tepat. Semakin berkembang hijab dan muslimah fashion disertai kegiatan edukasi dan promosi, semakin banyak pula muslimah yang menjalankan kewajiban kepada Tuhannya dan menyadari pentingnya menggunakan kosmetik halal. Jadi meskipun sebagian muslimah berhijab masih karena ikut-ikutan, setidaknya dengan berhijab sudah memenuhi kewajiban dari Tuhan.

Fenomena hijab di Indonesia memang menjadi kontroversi, karena sebagian dari kita berpendapat bahwa muslimah tidak seharusnya berpenampilan stylish dengan model fashion, hijab, hingga make-up yang sedemikian rupa. Belum lagi tentang event-event muslimah seperti Muslimah World, Putri Muslimah Indonesia, dan sejenisnya yang banyak menerima komentar pedas. 



Tapi terbebas dari itu semua, tentunya dari dalil-dalil yang mereka paparkan, aku sendiri tidak bisa dikatakan menerima begitu saja. Bagiku, selagi semua itu menampilkan muslimah yang tertutup dan bisa menarik banyak wanita yang sebelumnya tidak berhijab menjadi berhijab, mengapa harus dicerca? Bukankah itu semua langkah yang baik dibandingkan para wanita yang mengumbar auratnya?

Coba kita pikirkan kembali seandainya semua majalah dan produk hanya mencari para model tanpa hijab, betapa banyak para muslimah yang bercita-cita menjadi model akhirnya melepas hijab mereka. Sekarang dengan perkembangan muslim fashion yang begitu pesat, muslimah kita lebih luas berekspresi. Mereka bisa menjadi model tanpa harus menggadaikan kewajiban berhijab, begitu juga para artis-artis kita. Dengan aneka desain baru dan fresh, muslimah yang awalnya takut berhijab karena alasan: modelnya jadul, warnanya kusam, gerah, ribet, dan sebagainya, menjadi kehilangan alasan. Karena model-model muslimah fashion sekarang justru jauh lebih trendi dibandingkan baju-baju you can see yang selama ini dianggap keren. So, why should we judge this all?

Finally

Akhirnya aku mengucapkan selamat atas suksesnya acara HijabFest 2014. Kalian menyelesaikan tugas mulia, dear! Melalui acara-acara seperti ini, pengusaha-pengusaha muslim akan lebih dikenal masyarakat lokal hingga mancanegara. Lebih lanjut, akan banyak pula masyarakat terutama generasi muda yang memiliki interest untuk memulai usaha, baik di bidang muslim fashion maupun produk halal.

Semoga dengan rutinnya diadakan Hijab Fest akan membantu Indonesia meraih cita-citanya menjadi kiblat muslim fashion dunia. Insya Allah...

Wednesday, 4 June 2014

Untuk Bukti [Bagian II]--Sebuah Fiktif


Source: click here
“We are not my novel, where i can create the story...”
Senja itu masih dingin, saat langkahku baru saja meninggalkan halaman masjid berwarna krem dengan satu menara indahnya. Tujuanku selanjutnya adalah sebuah rumah. Seorang wanita paruh baya baru saja menunjukkan alamat rumah seseorang yang begitu ingin kulihat, ia juga yang menjadi alasanku singgah di kota kecil ini.

“Tidak jauh dari sini. Hanya berjarak dua rumah saja. Saat kamu menemui rumah dengan cat berwarna biru langit, itulah dia.” ucap Ibu itu dengan bahasa yang sebenarnya masih begitu sulit kupahami.

Kukuat-kuatkah hati agar langkah ini tak berbalik arah. Bukankah aku datang hanya untuk membuktikan, tanpa berniat untuk merubah apapun, lalu kenapa harus takut?

Seperti apa wajahnya? Akankah senyumnya seindah yang selama ini kulihat? Mungkinkah hanya aku yang mendapati sorot matanya yang kehilangan cahaya? Aku ingin menyaksikan semua itu.

Di jalanan yang bersepuh putih beku itu aku berdiri. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas, barangkali terlalu enggan menembus dinginnya puncak musim dingin di jalan yang menggigil ini.

Aku berdiri di bawah payung sambil menatap rumah sederhana itu lamat-lamat, pada kaca jendelanya yang kabur. Di rumah itulah kamu kembali selepas melakukan perjalanan, tempatmu melepas penat setiap harinya. Di rumah itu pula wanita jelita yang sejak beberapa bulan lalu kulihat wajahnya tersenyum di sampingmu. Wanita yang setiap hari berpikir keras, hidangan apakah yang akan ia sajikan padamu. Kemudian ia akan memilihkan hasil masakan paling lezat untukmu dan menyisakan yang ‘keasinan’ atau yang ‘gosong’ untuk dirinya sendiri. Ah, kurasa di manapun wanita saleha itu, pasti hal-hal seperti itulah yang akan ia lakukan untuk lelakinya.

Degup jantungku seketika gemuruh saat kulihat seorang laki-laki keluar dari balik pintu bercat biru itu. Dengan sigap tangannya membuka payung merah muda yang sejak tadi digenggaman. Takut kehadiranku mencurigakan, aku berjalan pada sebuah bangku tak jauh dari badan jalan, duduk di sana seolah-olah sedang menanti jemputan. Aku merendahkan payung hingga menutupi sebagian wajah. Dari sinilah kuamati dia yang masih berdiri menunggu. Tak lama keluar seorang wanita semampai dalam balutan coat tebal berwarna donker dan jilbab merah muda. Dari jarak tak kurang dari empat puluh meter ini, aku bisa memastikan bahwa wanita itu benar-benar jelita.

Mereka berjalan beriringan di bawah payung merah muda meninggalkan rumah. Sayup-sayup terdengar suara mereka yang tengah membicarakan sesuatu. Tangan kanan lelaki itu terlihat erat memeluk punggung sang wanita. Indah sekaligus menyakitkan bagiku. Setelah aku membuktikan bahwa masjid berwarna krem itu benar adanya, kini kembali kubuktikan, bahwa lelaki itu benar-benar ada. Ia sama seperti manusia lainnya, bukan hanya sekadar ilusi atau imajinasi belaka. Pun tentang wanita yang sejak beberapa bulan lalu selalu mendampingi setiap foto yang dibagikan. Mereka benar-benar bersama.


Ketika langkah mereka sudah tiba tak jauh dariku, kuberanikan diri untuk sedikit mengangkat payung. Mencuri pandang pada kedua wajah itu. Hanya satu hal yang tak mampu kubuktikan, yaitu tentang sorot mata yang kehilangan cahaya. Keduanya tampak begitu bahagia, senyum yang lepas, seolah-olah kehidupan ini hanyalah taman yang dipenuhi bunga.
“Lalu ceritamu hanya sampai di situ saja?” tanya gadis berambut pirang yang duduk di sampingku, tentu saja dalam bus yang membawa kami menuju Istanbul.
“Yes, you are right.”
“How about him? Is he know about your feeling?”
Aku menggeleng pelan, mencoba tersenyum meskipun itu sangat sulit.
“We are not my novel, where i can create the story...”
Beberapa saat kami sama-sama diam. Gadis itu masih memandangku tak percaya.
“Ketika kau menulis sebuah novel, kau bebas menentukan hati dan hidup para tokoh yang kau ciptakan. Kau buat si lelaki juga menyimpan rasa yang sama pada sang wanita yang sekian lama menanti dalam diamnya, kemudian setelah melewati berbagai rintangan, mereka akan bersama pada akhirnya. Tapi di kehidupan nyata, banyak sekali rasa yang berlayar  tanpa  bisa menepi di dermaga impiannya. Kau harus terus berlayar, tanpa perlu memorak-porandakan rasa lain yang telah bersatu dengan dermaganya, hingga mungkin suatu hari, kau akan bertemu dengan dermaga yang hampir sama dengan yang kauimpikan. Di sanalah kau akan berhenti. Tuhan telah menyiapkan dermaga yang tepat bagi masing-masing kita, dan kurasa, dia bukanlah dermagaku.”

Untuk Bukti [Bagian I]

Sunday, 1 June 2014

Tentang Sepupuku yang Lain, Hari Setiawan


Aku sering merindukan masa kecil, dan seperti cerita-cerita sebelumnya, aku memiliki seorang sepupu bernama Evi Safitri yang kini bekerja di Kepulauan Riau. Kita memiliki ikatan persaudaraan dari darah Bapak—Evi anak dari adik Bapak.

Kita tumbuh bersama di pulau kecil Penyalai, dan kenangan saat kami berumur di bawah 10 adalah masa-masa indah yang tak pernah habis untuk dikenang. Sedangkan ini adalah cerita tentang sepupuku yang lain, yang juga sahabat kecilku. Namanya Hari Setiawan, anak dari adik Ibuku. Hari lebih muda satu tahun dariku, sebab itu pula sejak kecil dia memanggilku Mbak.

Kedekatanku dengan Hari, sama seperti kedekatanku dengan Evi. Hanya saja Hari tinggal ratusan kilometer dari pulau kecilku, sehingga pertemuan dengannya terjadi sekali setahun saja, saat kami sekeluarga mudik ke rumah nenek. Hari pertama kedatanganku, biasanya Hari masih malu-malu untuk menyapa, tapi esok harinya bisa dipastikan kami sudah berteman akrab, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kita bermain masak-masakan di antara kayu yang melintang di mana-mana saat rumah nenek direnovasi. Membuat sarang laba-laba dari air jeruk dan kotak kaset—sekarang aku sudah lupa bagaimana cara membuatnya, dan banyak permainan lain. Tapi satu hal yang paling jelas kuingat, kami lebih sering bertengkar. Bukan bertengkar hebat sampai bermusuhan, biasanya kami merebutkan nenek, kakek, paman, atau bibi.

“Itu nenekku. Kamu nggak punya Nenek. Kamu kan cucu pungut!” seruku.

“Eh, itu Nenekku. Mbak yang cucu pungut. Datang ke sini aja jarang-jarang.” Ia tak mau kalah, bahkan sampai berlari ke pangkuan Nenek.

Kalau sudah begitu, Nenek pasti akan mendekati kami berdua, menciumi bergantian, dan mengatakan kalau kami adalah cucu-cucunya.

Pun ketika malam lebaran, biasanya Kakek akan membelikan banyak kembang api, maka rutinitas pertengkaran di malam lebaran kami pun dimulai. Kami saling berlomba untuk mendapatkan kembang api terbanyak, meskipun akhirnya kami mendapatkan sama rata.

Kini tak ada lagi permainan seperti dulu, juga tentang pertengkaran-pertengkaran kecil kami. Kita sudah tumbuh mendekati usia kepala dua. Jalanku dan jalannya seumpama dua lorong di dua belantara yang berbeda, rasanya tak akan mungkin pernah bersisian atau kembali berjalan bersama. Saat berkunjung ke rumah Nenek, Hari biasanya hanya datang untuk menyapa. Menyalamiku, bertanya kabar, duduk sebentar, lalu pergi entah ke mana. Lima hari aku di rumah Nenek, barangkali hanya dua kali kita bertemu. Satu kali untuk bertanya kabar, dan dua kalinya saat hari pertama lebaran. Padahal dulu, kami pasti akan menghabiskan lima hariku itu bersama. Pagi-pagi sekali ia sudah datang, lalu pulang di sore atau malam hari. Bahkan terkadang sampai menginap.

Hari sekarang tumbuh menjadi pemuda yang menurutku sangat tampan dan atletis. Ia juga memiliki setumpuk kepandaian seni dan olahraga yang menurutku sangat mengagumkan. Drum band, tari, nyanyi, basket, hingga karate. Semuanya sudah menghasilkan, bahkan di kabupaten tempatnya tinggal, rasanya tidak ada remaja yang tidak mengenalnya. Wajahnya selalu muncul di acara festival-festival, musik show, dan turnamen olahraga. Kalau tidak salah, dia menjuarai karate tingkat provinsi, dan dari facebook kuketahui beberapa minggu lalu ia baru saja ke Jakarta untuk tarian melayu di sebuah festival. Tahun lalu rasanya ia juga sudah bolak-balik Jakarta untuk acara-acara serupa.



Kayaknya kalau soal karate emang bakat turunan Ayahnya--ini Omku










Baiklah, aku senang melihat perkembangannya. Cucu-cucu Kakek-Nenek akhirnya tumbuh dengan baik, dengan cara dan bakatnya masing-masing. Semoga suatu hari kita bisa bertemu di perjalanan, duduk sebentar, dan menyempatkan diri untuk sekadar mengenang. Sukses selalu, Ri! Mbak doakan dari jauh.


Angkot, Sebal, dan Turkishmen

Source: click here
Aku mau cerita pengalaman hari ini, sebenarnya awalnya menyebalkan, tapi berakhir bahagia. Ceritanya aku tadi main ke Jambu Dua Plaza, niatnya mau jual laptop ke konter. Tapi udah singgah di tiga konter, mereka nawarnya di bawah 4 juta semua, karena dihargain sama kayak barang second.
“Walaupun saya tau ini barang baru, tapi kalau segel kardusnya udah dibuka, jatuhnya second, saya jualnya harga second.”
“Wah, kenapa dijual, Mbak? Sayang atuh laptop bagus.”
“Aduh, kalau saya beli sesuai penawaran Mbak, nanti saya jualnya gimana, Mbak? Kan harga second jadinya. Daya beli masyarakat kita jarang-jarang Mbak yang nyampe sono. Mending dijual di OLX atau Berniaga aja, pasti bisa kejual mahal.”
Hfft...baiklah, daripada terjual dengan harga yang super jauuuh....mending aku pulang aja. Syukurnya kakak temenku juga mau ngejualin. Sayangnya saat ini dia masih pelatihan selama 2 minggu di Jatim, akhirnya kuputusin buat nawarin ke teman-teman blog aja dulu. Dan alhamdulillah, sudah di-booked. Harganya juga nggak kumahalin, jauh di bawah harga pasaran. Di Jambu Dua juga belum banyak dipajang, kebanyakan emang laptop-laptop di bawah 3,5 juta yang laris manis. Emang sih, daya beli orang kita rata-rata emang segitu. Aku sendiri waktu cari laptop juga nyari yang kisaran segitu.

Nah, jadi selama perjalanan pulang—naik angkot, sambil sedikit kesal, aku duduk dengan wajah cemberut di samping temanku. Tepat di depan kami, duduk tiga orang laki-laki paruh baya berwajah bule yang asik ngobrol. Tak beberapa lama, masuk lagi cewek imut—sekitar umur 15 atau 16—dan dia duduk di antara ketiga bapak itu.

Angkot pun melaju. Kita sibuk dengan gadget masing-masing. Salah satu bapak menelepon dengan bahasa yang membuat otakku berlompatan. Tentu saja bukan bahasa Inggris.
“Kok kayaknya familiar banget, ya?”
Lantaran aku nggak mau dikatain sotoy, jadi lebih memilih diam. Tak sampai lima menit, salah satu bapak berkata:”Indonesia bagus” pada cewek imut di sampingnya.
“Can you speak english, Sir?” tanya si cewek
Si bapak itu mengode kalau dia tidak bisa berbahasa Inggris, kemudian menunjuk satu temannya yang duduk tepat di depanku, ia sedikit berekspresi seolah-olah mengatakan bahwa temannya itu bisa english.
“Where do you come from?” si cewek kembali bertanya.
Laki-laki paruh baya itu sedikit tampak bingung, untungnya temannya langsung menyaut: “Turki”
“Ha, Turki, Istanbul.”
What? Turki? Suerrr deh, itu rasanya something banget. Temanku spontan berteriak “Turki?!!”

Salah satu bapak tertawa ‘Yes, Turki’ sambil memukul gemas temanku dengan selembar uang sepuluh ribunya. Ingin sekali aku bertanya ‘adin ne?’ atau ‘Endonezya seviyor musunuz?’, sayangnya semua kalimat itu error. Tak ada yang kuingat. Sementara mereka sudah meminta Pak Supir untuk berhenti.

Mereka berlalu keluar sambil mengucapkan ‘Selamun Aleykum’. Saat itu juga aku pengen banget teriak ke mereka:
‘Hocam, Turki cok guzel ve Turki cok seviyorum...!’ 
'Pak, Turki sangat indah dan aku sangat mencintainya...!'
Tapi kalimat itu hanya sampai di tenggorokan, tanpa berani kuungkapkan. Padahal sebelumnya salah satu dari mereka tanpa segan mengatakan ‘Indonesia bagus’. Hfft...it’s okay.

Entahlah, cintaku pada negara itu memiliki banyak alasan, bahkan terkadang aku bingung harus dari mana untuk memulai bercerita. Ketika bertemu dengan orang Turki, hatiku seketika berubah indah. Padahal kamu tahu betapa kesalnya aku pada semua penjaga konter laptop di Jambu Dua. Aku punya semacam chemistry dengan bahasa Turki, sehingga apabila ada orang yang melafalkan, rasanya ada yang mengejutkan. Tapi aku tak punya keberanian untuk menerka, karena aku masih kesulitan membedakan antara bahasa Turki dan bahasa Rusia saat dilafalkan oleh native people.

Turki...aku tidak pernah tahu kapan, yang jelas, hingga kini aku masih setia mencintaimu, pada sejarah dan keindahanmu...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...