Sahabatku dan Cinta dalam Diamnya

Sahabatku dan Cinta

Sore yang basah. Hujan seharian baru saja reda ketika seorang sahabat berlari menghampiriku. Sore itu aku sedang duduk di teras rumah, menyaksikan sisa tetes hujan dari dedaunan yang jatuh ke tanah. Aku cukup terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Biasanya dia berkunjung saat pagi atau siang hari, tak sekali pun sore menjelang Maghrib begini. Keterkejutanku semakin bertambah saat ia menghambur dalam pelukanku dan menangis.“Ada apa?” tanyaku. Kuusap punggungnya.Dia terus menangis. Semakin menyesakkan hingga punggungnya berguncang. Kubiarkan dia melepaskan semua itu hingga beberapa menit kemudian. Setelah ia merasa kuat, ia lepaskan pelukannya, menghapus air mata yang berlinang di pipi. Tanpa kuminta dia sudah duduk di salah satu kursi di depan rumahku.“Doaku sudah dikabulkan.” Katanya lirih. Matanya menerawang. Ada air mata yang tertahan di sana. Aku mengernyit. Tapi sikapnya barusan tidak menunjukkan bahwa dia bahagia karena doanya sudah dikabulkan. Doa seperti apa yang ia maksud, aku masih belum mengerti.“Doa yang mana?” tanyaku.

Kusentuhkan tangan di atas pundaknya yang terihat lunglai.“Doa apabila memang Allah tidak menakdirkan kami berjodoh, maka kuminta agar Allah segera mempertemukan ia dengan jodohnya. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa melupakan dia.” Jelasnya dengan suara yang sangat sesak. Seperti ada sesuatu yang tajam sedang bersemayam dalam hati sahabatku.  Satu air mata kembali meluncur dari matanya.Aku cukup tersentak. Masih kuingat dengan jelas setiap cerita yang diceritakan wanita di sampingku tentang bagaimana cara ia mencintai laki-laki tersebut. Kini aku membenarkan kalimat yang bertebaran di internet yang berkata, “Mencintai seseorang dalam diam harus sanggup menerima resiko tersakiti dalam diam pula.” Sahabatku sudah membuktikannya. Satu tahun lebih ia cintai laki-laki itu tanpa sedikit pun berani mengganggu kehidupan si lelaki di sana. Ia amati laki-laki itu setiap hari. Ia senang saat melihat laki-laki itu membuat status atau membagikan foto di facebook. Karena hanya dengan itu cara sahabatku mengetahui kabar lelaki yang ia cintai. Aku mendesis. Dadaku ikut sesak. Kenapa kehidupan seperti tak adil bagi sahabatku?“Laki-laki itu?”  tanyaku akhirnya.Dia mengangguk. Kembali menangis dan memelukku. “Baru dua minggu terakhir aku sungguh-sungguh meminta pada Allah, dan langsung dikabulkan. Tapi kenapa rasanya sakit sekali, Sof? Selama ini aku tidak pernah mau memulai percakapan atau menyapa dia karena berpikir umurnya masih 23 tahun.

Ia masih sangat muda untuk ukuran seorang laki-laki. Aku berpikir masih banyak cita-cita yang ingin ia raih. Namun semua pengertianku itu tidak pernah dihargai. Bagaimana caraku melupakannya? Perasaan ini sudah terlalu jauh. Padahal aku hanya ingin hidup bersamanya. Aku akan jadi istri yang baik. Kebahagian dia adalah segalanya.” Ungkap sahabatku seperti melepaskan apa yang bergejolak dalam hatinya.Aku terdiam. Sadar bahwa semua tuntutan yang baru saja ia sebutkan hanyalah wujud dari sakit hatinya. Dia tidak seperti itu. Sepengetahuanku, cinta sahabatku ini adalah cinta yang paling beradab dan tulus. Di hari-hari sebelumnya, saat ia bercerita tentang cintanya, aku sempat berpikir, bagaimana bisa dia mencintai dengan caranya yang seperti itu?


Dia hanya berkomunikasi dengan lelaki yang ia cintai itu tiga kali dalam setahun. Saat Idil Fitri, saat sahabatku ulang tahun, dan saat laki-laki tersebut ulang tahun. Itupun hanya percakapan yang sangat singkat. Aku bahkan menamai percakapan mereka bukanlah sebuah percakapan.

Melainkan hanya ucapan layaknya dua orang yang kenal sekadarnya.“Sabar. Ikhlaskan dia. Bukankah kamu sendiri yang sudah berdoa pada Allah seperti itu? Sekarang bersyukurlah karena Allah sudah menjawab doamu. Allah tidak ingin kamu terlalu jauh mencintai laki-laki yang sama sekali tidak mencintaimu. Sungguh sahabatku sayang, inilah yang terbaik untukmu. Sekarang memang sakit, namun nanti akan lupa dengan sendirinya. Setidaknya cintamu padanya akan menjadi cerita yang bisa kamu ceritakan. Itu kisah yang sangat indah. Perjuanganmu untuk mengenal laki-laki itu tanpa percakapan dan tanpa pertemuan, membuatku kagum. A

ku yakin di luar sana banyak sekali orang yang suka pada kisahmu ini.” nasehatku.Ya, aku juga masih ingat betul seperti apa giatnya sahabatku ini berusaha mengenal laki-laki yang dicintainya. Meski di akun media sosial si lelaki tidak pernah disebutkan siapa ibunya, siapa ayahnya, siapa keponakannya, siapa kakaknya, siapa kakak iparnya, namun sahabatku bisa tahu semua itu. Bahkan ia bisa dapatkan foto-foto semua orang yang sudah kusebutkan itu. Dia selalu menunjukkannya padaku sambil tersenyum, “Ini keluarganya. Dia berasal dari keluarga sederhana kan? Dan ini Humeira. Gadis kecil dan cantik ini adalah keponakannya. Aku mencintai semua keluarganya, Sof. Apa pun tentang dia. Bahkan debu di masjid tempat ia menjadi imam pun sanggup aku cintai.”


Hatiku seperti teriris-iris saat mengenang semua itu. Padahal berkali-kali kukatakan padanya bahwa ia dan laki-laki itu insya Allah berjodoh. Aku menilai dari ketulusan dia dan cara dia mencintai dengan tidak berlebihan seperti kebanyakan muda-mudi. Perasaannya tidak pernah berceceran di media sosial. Hanya padaku dia bercerita tentang lelaki itu. 


Aku pernah berkata padanya bahwa cintanya hanyalah tentang waktu. Mungkin saat ini Allah masih ingin sahabatku berjuang demi cita-cita dahulu, karena itu Allah tidak menyampaikan cintanya pada sang lelaki. Nanti di waktu yang tepat, mereka pasti akan dipertemukan di waktu yang indah. Dulu aku sangat yakin mereka akan bersama, namun sore ini, aku sadar, bahwa nasehat-nasehat bijak dan prediksiku dulu hanyalah cara untuk menenangkan perasaan sahabatku.


Ia buka ponselnya. Sebuah foto ia tunjukkan. Seorang lelaki dengan setelan jas rapi sedang mencium buket bunga mawar yang sangat indah. Di sampingnya ada satu foto lagi, seorang wanita yang memegang bunga yang sama dengan si lelaki. Wanita itu tersenyum bahagia. Dua foto tersebut disandingkan dalam sebuah foto. Dan di antara mereka ada lambang hati berwarna merah muda yang ditambahkan. Begitu pula background-nya, banyak sekali love-love yang berterbangan.

Mereka pasti sudah bertunangan. Aku sangat yakin lelaki yang dicinta sahabatku ini tidak kenal istilah pacaran. “Aku sempat melihat fotonya yang memegang bunga ini di facebook miliknya beberapa minggu lalu. Sempat bertanya-tanya, apa maksud bunga di tangannya itu? Ada dua kemungkinan yang kupikirkan, dia telah mendapatkan penghargaan, atau bunga itu dimaksudkan untuk sebuah acara lamaran. Meski penasaran, aku tidak pernah sanggup bertanya. Hingga akhirnya tadi aku lihat foto dia dan wanita ini di instagramnya. Hatiku sakit. Tapi juga lega. Entah bagaimana aku bisa membawa perasaan ini menjauh darinya.” Ucap sahabatku.Kupeluk sahabatku. Aku tahu seperti apa suasana hatinya saat ini. Setiap shalat dia terus mengulang doa demi kebahagiaan lelaki itu, dan doa seperti yang sudah ia ceritakan padaku, dan Allah benar-benar mengabulkan doanya.

Betapa Allah sangat mencintainya.“Aku sudah tahu resiko dari cintaku, Sof. Seperti yang kubilang padamu, mencintai laki-laki semulia dia sama seperti sebuah perjuangan menuju jurang. Aku tahu suatu hari akan melihat fotonya bersama seorang wanita, tapi aku tidak sangka akan secepat ini. Satu tahun lebih mencintainya seperti masih kurang. Mencintainya membuatku merasa benar. Merasa bahwa ibadahku dan cintaku pada Allah tidak sebanding dengan yang ia miliki. Dia telah membawa sebagian hatiku.

Aku tidak yakin bisa melupakannya tanpa bekas.” Sahabatku menerawang. Seuntai senyuman getir terlukis di bibirnya. “Aku akan selalu berdoa untuknya. Berdoa untuk kebahagiaannya. Itu selalu, Sof.”Ah, sahabat. Aku masih bingung, benarkah ada cinta seperti itu? Merelakan seseorang yang dicintai dengan perempuan lain. Ikut bahagia saat orang yang dicintai bahagia meski tidak bersama kita? Bukankah itu hanya ada dalam dongeng? Dalam cerita-cerita roman?

Sahabatku menggeleng.

“Ketika kamu benar-benar mencintai seseorang dengan tulus, kamu pasti bisa melakukan hal yang sama sepertiku. Wallahi, kebahagiaan laki-laki itu sudah cukup membuatku bahagia. Beberapa hari lalu, akun facebooknya tidak kutemukan selama satu hari. Kupikir dia memblokirku. Sempat ingin menangis, bertanya-tanya apa kesalahanku hingga dia blokir? Selama ini aku tidak pernah mengganggu hidupnya, tidak pernah menyusahkan dia, mengirim pesan pun hanya ucapan selamat saat dia ulang tahun dan saat lebaran, apa yang salah? Eh ternyata tidak. Keesokan harinya, aku kembali lihat facebooknya muncul di kronologi. Aku bersyukur. Sungguh, aku lebih memilih tetap berteman dengannya di facebook dan melihat dengan mataku sendiri foto pernikahannya, dibandingkan harus diblokir dan tidak tahu berita apa-apa tentangnya. Aku juga baru tahu dia punya akun instagram beberapa hari lalu. Isinya penuh dengan quote-quote, hanya beberapa saja fotonya di sana. Sangat tipikal dia.”“Ini adalah kisah cintaku sendiri, Sof. Aku yang sudah memulainya dulu, dan kini aku juga yang harus membuat ending yang manis. Aku tidak ingin cerita ini berakhir sampai di sini saja.

Suatu hari di masa depan, entah itu aku sudah bersuami atau belum, aku akan berkunjung ke tempatnya. Bukan untuk bertemu dengan lelaki itu, karena aku yakin dia sudah bahagia bersama sang istri. Aku hanya ingin lihat dengan mata kepalaku sendiri setiap tempat yang pernah ia jejaki. Aku ingin lihat masjid yang begitu ia banggakan. Mungkin itulah akhir yang manis untuk ceritaku. Sekarang aku akan mulai belajar melupakannya.” Ucapnya lagi.Aku tidak bisa berkata-kata. Entah mengapa hatiku terasa pedih. Tenang sahabatku, Allah Maha Tahu yang terbaik untuk setiap hambanya. Jika berjodoh, selalu saja ada cara yang ajaib dan luar biasa yang bisa menyatukan dua manusia. Namun jika tidak, meski sudah berusaha hingga tetes darah penghabisan, seseorang tetap tidak akan pernah menjadi jodoh kita. 


Cukup cintai dia dari kejauhan.Karena hadirmu tidak mampu menjauhkannya dari ujian. Karena hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan. Karena mungkin saja akan membawa kelalaian hati-hati yang terjaga.
Cukup cintai dia dengan kesederhanaan.Memupuknya hanya akan menambah penderitaan. Menumbuhkan harapan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan.


“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)