8 Hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Membuat Judul Novel

8 Hal Yang Harus Diperhatikan

Bagi kamu yang hobi menulis, proses penentuan judul merupakan salah satu bagian yang memusingkan. Banyak lho orang yang tulisannya bagus, tapi sayang judulnya kurang pas. Aku sendiri sering mengalami masalah seperti ini. Jangankan judul untuk novel, judul untuk postingan blog saja selalu membingungkan. 


Sebuah judul tulisan atau novel memang memiliki fungsi wajib sebagai penarik simpati pembaca. Hanya saja kebanyakan orang lupa, dalam membuat sebuah judul yang menarik, kita tetap tidak boleh melupakan kejujuran alias no tipu-tipu. Kan sering ya kita menemukan judul yang cetar membahana, tapi begitu dibuka ternyata isinya tidak sesuai ekspektasi. 


Nah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, berikut tips yang aku kumpulkan untuk membantu kesulitanmu.

1. Jangan Membuat Judul sebelum Tulisan Selesai


Kejadian seperti ini biasanya dilakukan oleh penulis pemula. Mereka terlebih dahulu memikirkan judul sebelum menulis. Tapi kalau kamu ingin jadi penulis profesional, sebaiknya perbaiki kebiasaan yang satu ini, kecuali kalau kamu sudah memiliki outline yang jelas dari awal hingga akhir tulisan.


Terlalu dini dalam membuat judul justru membuat idemu tidak berkembang. Kamu akan terfokus pada judulmu sehingga melewatkan ide-ide baru yang bisa jadi lebih menarik. Perlu diketahui, penulis sekelas Hanum Rais saja baru menentukan judul novelnya Bulan Terbelah di Langit Amerika begitu novel tersebut selesai. Selama masa penulisan, dia menggunakan judul ‘Amerika belum ada judulnya’ sebagai penamaan naskah. 


So, menulislah dulu sesuai tema dan topik, nanti begitu sudah selesai, judul yang kamu temukan akan lebih mewakili tulisan tersebut. Sometimes you don’t know what your story is truly about until you’ve finished it.

2. Gunakanlah Kata-Kata yang Sederhana


Di tengah dunia yang hingar-bingar seperti sekarang (memangnya iklan AXE?), percaya atau tidak, semua orang masih menyukai hal-hal yang sederhana. No matter how great it is, just keep it simple. Mungkin tulisanmu bisa saja membahas tentang bursa efek, pemanasan global, perubahan iklim, penemuan terbaru di mars, atau kelahiran bayi anaconda di Amazon, tapi soal judul akan lebih baik jika dibuat sederhana. Sebenarnya tidak hanya judul, penulis yang baik itu—menurutku—adalah penulis yang bisa menyederhanakan hal-hal njelimet. Itu baru keren. Bukan sebaliknya. 


Tentang judul yang sederhana, mari kita ambil contoh dari perubahan ‘The Bow and The Bear’ menjadi ‘Brave’‘Rapunzel’ menjadi ‘Tangled’, lalu ‘The Snow Queen’ menjadi ‘Frozen’. Apa poin penting yang bisa kita pelajari dari perubahan-perubahan itu? Tidak lain tidak bukan, mereka membuatnya jadi lebih sederhana namun tidak mengurangi esensinya. Tapi jangan mentang-mentang ingin judul yang sederhana, alih-alih kamu membuat novel berjudul ‘Kucing’. Duh, ini penulis dikenal juga belum sudah aneh-aneh. Judul seperti itu mungkin akan menggebrak kalau dipakai oleh penulis sekelas Tere Liye yang sudah punya nama dan penggemar.

4. Jangan Terlalu Panjang


Novel pertamamu baru saja selesai. Selanjutnya kamu sibuk memikirkan judul yang tepat. Setelah melewati proses berpikir yang panjang, akhirnya kamu mantap memberikan judul ‘Putri yang Sekarat di Pedalaman Hutan Alas Roban’. Aduh ini tidak hanya spoiler berat, tapi juga memusingkan desainer grafis yang nanti akan membuatkan cover untuk novelmu. Pastikan judul yang kamu buat itu pendek—sebaiknya tidak lebih dari 4 kata—dan mudah diingat. So nanti begitu novelmu sudah dipajang di toko buku, orang-orang akan langsung memahami judulnya meski hanya memandang sekilas saja.

5. Jaga Rahasia, Jangan Spoiler


Terkadang seseorang ingin sebuah judul yang benar-benar mewakili novelnya, tapi lupa kalau ternyata judul tersebut justru menjadi spoiler. Coba perhatikan novel ‘The Great Gastby’. Kira-kira kenapa si penulis tidak membuat judul ‘A Man and His Tragic Love Story’ atau ‘A Man and The Lonely Death’?  Tentu tidak, karena judul yang seperti itu akan jadi spoiler. Ia memilh judul The Great Gastby karena tahu judul tersebut akan mengundang banyak tanda tanya. Kira-kira apa yang membuat Si Gastby ini mendapat gelar great? Sehebat apakah dia? Apanya yang hebat?
Jadi berhati-hatilah. Jangan sampai judul yang kamu buat justru menjadi spoiler. Tentunya kamu tidak mau orang lain sudah tahu apa isi novelmu meski tanpa membacanya, kan?  Be smart to compose your novel title.

6. Unik tapi Tidak Menyiksa Pembaca


Jika pembaca harus buka kamus dulu hanya demi mengeja dan menafsirkan kata-kata dalam judulmu, tentu ini sudah pelanggaran hak asasi pembaca. Jangan mentang-mentang kamu menulis tentang fantasi, jadi bisa seenaknya membuat nama-nama asing yang sulit dieja, apalagi sampai memasukkannya dalam judul. Perhatikan judul ‘The Hobbit’. Apa yang bisa kita contoh? Di sini Tolkien menciptakan kehidupan suatu kaum bernama Hobbit yang tidak ada di dunia nyata. Nama Hobbit sendiri adalah ciptaan Tolkien. Hebatnya Tolkien memilih nama asing, namun mudah dieja sekaligus mudah diingat. Judul seperti ‘The Stvezoeliscksei’ sebaiknya dihindari, meskipun menurutmu itu keren.

7. Tanyakan Pada Keluarga dan Kenalan


Akhirnya judul novel pertamamu selesai juga. Jangan bahagia dulu, kamu masih perlu melakukan sedikit proses penyempurnaan. Coba tanyakan pada keluarga dan kenalan mengenai judul tersebut. Mengetahui pendapat mereka bisa jadi hal yang menyenangkan, lho. Nilai plusnya, kemungkinan akan ada masukan-masukan yang bisa membuat judulmu semakin sempurna. Jadi jangan menutup kotak saran dan komentar.

8. Cek di Internet


Kalau judulmu sudah benar-benar oke, langkah terakhir adalah cek ke internet. Seperti yang semua orang tahu, di dunia yang serba canggih ini, hampir semua hal terekam di internet. Apalagi buku. Kegiatan cek ricek ini bertujuan untuk mengetahui apakah judulmu itu sudah pernah dipublikasi. Contohnya kalau novelmu berjudul “Rachel of Sunny Farm”, sebaiknya kamu perbaiki lagi apabila kamu menemukan novel yang sudah terbit dengan judul “Rebecca of Sunnybrook Farm”.  Tentu kamu tidak mau kan dibilang menjiplak atau mengekor karya yang sudah ada?  
Sebaliknya, jika novelmu berjudul “A Tale of Two Neighbors”, dan sebelumnya sudah ada novel berjudul “A Tale of Two Cities”, ini justru terlihat prospektif. Keduanya memang sama-sama menggunakan ‘A Tale of Two…’ tapi lihatlah, mereka benar-benar berbeda dan punya tujuan cerita masing-masing. Jadi kecerdasan dan analisis sangat dibutuhkan dalam hal cek and ricek ini.


Baiklah sekian dulu tips menentukan judul yang bisa aku kumpulkan untukmu. Tidak hanya untukmu lho, aku juga belajar dari tulisan ini. Memang menjadi penulis itu bukan perkara gampang. Bakat saja tidak cukup. Dibutuhkan usaha keras sekaligus pintar mengatur waktu. Belum lagi kalau naskah yang sudah beratus-ratus halaman itu butuh revisi total. Pokoknya harus punya stok sabar dan motivasi yang banyak. Biarlah di masa muda susah-susah dulu, berjuang dulu, baru nanti kalau karyanya berhasil, boleh lah ikut gaya-gayaan. Siapa sih yang tidak mau tenar seperti Rowling, Paulo Coelho, Dan Brown, Asma Nadia, Kang Abik, dll? Semua mau kan. Jadi be patient, enjoy the process!

Sekarang menulislah dengan semangat, meski fasilitas apa adanya. Laptop butut sering mati sendiri, meja belajar reot, kamar sumpek, these not the matter, guys! Semuanya akan terbayar kalau kamu sudah sukses. Kalau novelmu terbit dan ternyata dicintai banyak orang, tentu kamu akan mendapat royalti yang bisa digunakan untuk renovasi kamar, investasi gadget yang memadai, pulpen canggih, buku catatan keren, dan lain sebagainya. Tapi syaratnya jangan mudah menyerah. Naskah ditolak berkali-kali itu lumrah. Ingat betapa banyak penulis terkenal yang awalnya ditolak penerbit sampai puluhan bahkan ratusan kali. Tahu Chronicles of Narnia, kan? Nah itu penulisnya, Si Om Lewis, pernah ditolak penerbit sampai 800 kali. Bayangkan tuh! So, tidak ada alasan untuk menyerah. Oke?

Fighting 🙂 Ting!