Sunday, 4 December 2016

3 Langkah Mencintai Wanita Setangguh Ali bin Abi Thalib





Ali bin Abi Thalib, pemuda muhajirin sekaligus sepupu Rasulullah yang kisahnya begitu erat dengan kisah cinta lelaki sejati. Semua orang pasti setuju, bahwa pria Muslim sejati itu adalah dia yang bisa mencintai setangguh dan seanggun Ali. Cinta Ali pada Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah, terus ditulis dari generasi ke generasi sebagai lambang kisah cinta yang agung. 

Cinta Ali pada Fatimah bukan hanya sebatas cinta seperti kebanyakan pemuda saat ini, cinta Ali pada Fatimah adalah cinta tulus yang dibalut kesabaran dan keikhlasan tingkat tinggi. Hingga akhirnya  Sang Maha Tinggi sendirilah yang menulis akhir kisah cinta mereka. Lalu sebagai pemuda Islam, apa sajakah langkah mencintai wanita seperti Ali?


1.  Cinta Ali adalah Kesabaran

Ali tidak mengenal Fatimah secara tiba-tiba. Mereka tumbuh bersama. Berteman sejak kecil. Jadi jika ditanya siapakah pemuda yang paling mengenal Fatimah, tentu jawabannya adalah Ali. Entah sejak kapan benih-benih cinta itu tumbuh di hati Ali, tapi melihat pribadi Fatimah, kurasa kita sepakat kalau gadis satu ini bisa membuat lelaki mana pun jatuh cinta padanya. Lihat saja tatkala Rasulullah pulang dengan tubuh bersimbah isi perut unta, Fatimah sambil menangis membersihkan pakaian ayahnya. Ia kemudian menghadang para kafir Qurays dan membela ayahnya tanpa takut sedikit pun. Pantas saja jika Fatimah menjadi putri kesayangan Nabi saw. Kurasa, salah satunya, hal seperti inilah yang membuat Ali diam-diam mencintainya.

Apakah Ali langsung mengungkapkan cintanya seperti yang dilakukan pemuda sekarang?

O, tidak. Ali masih belum seberani itu menemui Rasulullah untuk meminta Fatimah, sementara dirinya sendiri adalah pemuda miskin yang tidak punya apa-apa. Tapi entahlah, ketika Ali mendengar Fatimah dilamar Abu Bakar, dadanya bergetar. Ia merasakan perih. Saat itu Ali membatin, “Ternyata Allah sedang mengujiku.”

Ali bertekad akan ikhlas. Memang Abu Bakar bukan kerabat Nabi seperti dirinya, tapi seluruh penduduk Makkah tahu seperti apa kedekatan Abu Bakar dan Nabi. Saat hijrah pun, Rasulullah memilih berangkat ditemani Abu Bakar, sedangkan Ali diminta menjaga tempat tidur. Abu Bakar punya kedudukan yang jauh lebih mulia. Lihat saja sederet nama orang-orang terkemuka yang masuk Islam melalui Abu Bakar, belum lagi sederet budak yang dibebaskan. Ah, Abu Bakar memang pantas untuk Fatimah. Selagi Fatimah bahagia, Ali merasa bukan suatu masalah.

Tapi ternyata, lamaran lelaki semulia Abu Bakar ditolak Rasulullah. Ali pun bertanya-tanya, seperti apa kriteria menantu yang diharapkan Rasulullah?


2.  (Lagi) Cinta Ali adalah Kesabaran

Quote from Lailah Gifty Akita
Kini kesempatan bagi Ali untuk memperistri Fatimah masih terbuka. Ia kembali mempersiapkan diri. Tapi tidak disangka, kabar mengejutkan kembali datang. Fatimah telah dilamar oleh sahabat Nabi yang lain, yaitu Umar bin Khattab, lelaki yang dijuluki Al Faruq alias pemisah antara kebenaran dan kebatilan ternyata juga jatuh hati pada putri Rasulullah yang satu ini.

Lagi-lagi Ali bertekad untuk ikhlas. 

Dibandingkan lelaki seperti Umar, siapalah Ali ini. Benar Umar masih tergolong baru sebagai Muslim, tapi siapa pula yang menyangsikan kesetiaan, keberanian, dan kekuatannya dalam membela Islam? Hanya ada satu orang yang bisa menyamai kedudukan Umar, yaitu Hamzah paman Nabi. Ali tidak ada apa-apanya. 

Lihat saja saat berhijrah, Ali harus mengendap-ngendap keluar dari kota Makkah, bahkan dia hanya berani berjalan di malam gelap gulita saja. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Sementara Umar? Lelaki ini justru naik ke atas Kakbah lalu berkata dengan lantang,
Hari ini putra Al Khatab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang Umar di balik bukit ini!”
Ah, benar sekali. Dinilai dari sisi mana pun, Umar lebih pantas menjadi suami Fatimah. Selagi Fatimah bahagia, sungguh ini bukan suatu masalah.

Tapi tahukah, ternyata lamaran lelaki sehebat Umar juga ditolak oleh Rasulullah saw. Ali semakin heran, seperti apakah lelaki yang ditunggu Rasulullah untuk dinikahkah dengan Fatimah? Apa seperti Usman sang miliarder, suami Ruqayyah? Atau seperti Abul Ash ibn Rabi sang saudagar Qurays, suami Zainab? Dua menantu Rasulullah itu membuat Ali hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya Abdurrahman ibn Auf yang setara dengan dua menantu Nabi tersebut. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan ilegan. Atau Sa’d ibn Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat? Entahlah, Ali tidak bisa menentukan siapa tepatnya.

3.  Cinta Ali adalah Keberanian

“Kenapa bukan kamu saja yang mencoba, Wahai Ali? Kami punya firasat engkaulah yang ditunggu Rasulullah.” Ucap teman-teman Ansharnya.
“Aku hanya pemuda miskin.” Ali menjawab.
“Kami ada di belakangmu. Semoga Allah menolongmu.”
Akhirnya setelah mengumpulkan segenap keberanian yang dimiliki, Ali bertamu pada Rasulullah. Pada awalnya Ali tidak yakin pada dirinya sendiri, tapi kemudian ia bertekad untuk mengungkapkan apa yang selama ini terpendam di hati. “Engkau pemuda sejati, wahai Ali!” Begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggung jawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Dan siapa sangka, lamaran Ali dijawab dengan kata “Ahlan wa Sahlan” yang bermakna Selamat Datang. Kata ini diucapkan Rasulullah bersamaan dengan senyuman yang sangat indah. Tapi Ali, ah, ia justru tidak paham maksud ucapan Rasulullah.

Ali pun pulang dan kemudian ditanyai oleh teman-temannya, “Bagaimana jawaban Rasulullah?”
“Entahlah.” Jawab Ali.
“Entahlah bagaimana?”
“Rasulullah menjawab Ahlan wa Sahlan. Menurut kalian itu sebuah jawaban?” tanya Ali polos.
“Aduh, kawan. Kamu ini payah sekali. Itu artinya lamaranmu diterima. Ahlan saja sudah bagus, ini ditambah wa sahlan pula.” Teman-temannya tertawa, memukul pundak Ali, dan bergantian mengucapkan selamat.
Dan pada akhirnya, sejarah mencatat, Ali bin Abi Thalib menikahi Fathimah binti Muhammad. Kisah cinta Ali membuat semua orang berdecak kagum. Tidak heran jika Arab memiliki sebuah yel-yel “Laa fatan illa Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”. Cinta Ali bukanlah cinta yang mementingkan dirinya sendiri. Bukan cinta yang dipenuhi ambisi ingin memiliki. Cinta Ali adalah cinta yang sanggup mengikhlaskan. Cinta yang berlandaskan tanggung jawab dan tujuan yang benar. Baca juga: Kisah Cinta Beda Agama Putri Rasululla SAW.



Lalu Fatimah, tahukah kamu bahwa dalam sebuah riwayat disebutkan, ia pernah berterus terang pada suaminya,  

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda.”
Ali kaget bukan main, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu.”
Ah, kisah yang indah. Bahkan kisah cinta fiksi melegenda sekelas Romeo dan Juliet, Laila dan Majnun, Jack dan Rosse, pun tidak bisa menandingi. Untukmu para lelaki, Ali adalah teladan paling baik dalam urusan mencintai. Jika wanita itu ditakdirkan untukmu, bersyukurlah. Tapi terkadang ada beberapa hal di dunia yang berjalan tanpa bisa kita kendalikan, salah satunya cinta dan jodoh. Kita mencintai seseorang, bukan berarti dialah yang ditakdirkan Allah sebagai pasangan hidup. 

Sampai kiamat, jodoh akan tetap menjadi misteri. Tak seorang pun bisa menentukan siapa jodohnya sebelum ijab qabul diucapkan. Jika memang kamu tidak ditakdirkan berjodoh dengan seseorang yang dicinta, ikhlas adalah jalan terbaik, bukan malah meneror wanita tersebut, atau lebih buruk, kamu akhiri hidupmu sendiri. Aku tahu seperti apa sakitnya, tapi percayalah, itu tidak akan lama. Semakin bertambahnya waktu, insyaAllah kamu akan melupakannya. Semoga siapapun yang saat ini sedang mencintai, ia bisa mencintai dengan niat yang benar, sebenar niat Ali pada Fatimah. Baca juga 10 Manajemen Pintar Ala Muslimah Karir Saat Pulang Kerja.




Referensi: Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A. Fillah


13 comments:

  1. semoga cintanya suamiku sepertinya cintanya Ali..amiien...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiiin insyaAllah Mbak Dwi :)

      Delete
    2. Semoga anda pun dikaruniakan untuk mencintai suami anda seperti Fatumah Azzahra

      Delete
  2. Kesabaran
    Kesabaran
    Keberanian
    Harus ditiru nih cara mencintai Ali bin Abi Thalib

    ReplyDelete
  3. Artikel yang bagus sekali. Wajib dibaca para SUAMI atau calon SUAMI di seluruh Indonesia

    ReplyDelete
  4. Semoga yg kusebut dlm doaku itu kamu yg Allah taqdirkan

    ReplyDelete
  5. Menentang kehendak diri
    Menundukan nafsu hati..
    Subahanallah..

    ReplyDelete
  6. Ali Bin Abi Tholib Adalah Teladan Kita Semua

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...