Sunday, 22 November 2015

Aku tidak Mau Lagi Berdoa, karena Allah tidak Pernah Mengabulkan Doaku!



Mengapa doaku tidak dikabulkan?

Aku pernah mengalami masa-masa saat berada di titik nadhir dalam hidup, setidaknya pernah beberapa kali. Satu kali di antaranya sekitar pertengahan 2012 lalu, tepat saat kelulusanku dari Pesantren. 

Masih teringat jelas bagaimana di bulan-bulan sebelum kelulusan, semua teman kelas sibuk membicarakan universitas mana yang akan mereka masuki, serta jurusan apa yang akan dipilih. Sebagian dari mereka bahkan sudah mempersiapkan diri dengan mengikuti bimbingan belajar tes SNMPTN. 

Berbeda dengan mereka, aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bercerita tentang dunia perkuliahan. Prestasiku selama di pesantren tidak begitu bagus. Kalau beruntung aku masuk 10 besar, tapi lebih seringnya terlempar ke urutan belasan. Jadi tidak mungkin aku bisa kuliah gratis dengan jalan beasiswa.

Sedangkan ekonomi keluarga juga sangat sulit. Aku tidak berani meminta Bapak untuk membiayai kuliahku. Sedangkan selama ini, untuk meminta uang jajan saja aku harus berpikir dua kali. 

Rasanya tidak ada jalan lagi bagiku untuk bisa mencicipi bangku perkuliahan, sementara di sisi lain, aku sangat ingin kuliah. Di umur yang masih 17 tahun, rasanya aku belum siap seandainya harus mengakhiri dunia sekolah dan masuk ke lingkungan pekerjaan.

Di titik seperti itu, aku hanya merasa bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa menolongku hanyalah Allah. Tidak ada lagi celahku untuk menaruh harapan selain daripada-Nya. Karena itu pula aku meningkatkan ibadah. 

Aku bangun pukul 2 untuk tahajud hingga Subuh, membaca Al Quran lebih banyak, merutinkan Duha, sebisa mungkin tidak meninggalkan Shalat Rawatib, dan terus mengamalkan, ‘hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.’ 

Selama aku hidup, itu adalah masa dimana aku merasa begitu dekat dengan Allah. Rasanya aku begitu bahagia ketika shalat dan berdoa. Bahkan ingin berlama-lama. Anehnya, jika sudah seperti itu, secara otomatis pula ambisi pada kesenangan dunia seperti lenyap. 

Saat teman kamar menonton film, aku tidak tertarik untuk bergabung, dan pilih membaca buku. Saat teman bergosip sesusai shalat, aku pilih langsung pulang ke asrama. Niat awal yang hanya ingin meminta pada Allah agar bisa kuliah, ternyata mengantarku pada kecintaan yang luar biasa. 

Hingga kemudian siapa sangka, di semester 5, tiba-tiba aku masuk rangking 3 besar. Angka 3 di rapor inilah yang ternyata membawa namaku masuk dalam daftar peserta tes beasiswa santri berprestasi dari Kementrian Agama RI. Tidak pernah menyangka sebelumnya.
 
Aku dan teman-teman dari Pesantren yang mengikuti seleksi (Dok 2012)
Bersama 9 orang teman dari pesantren, kami mengikuti seleksi di sebuah hotel di kota Pekanbaru. Lamanya sekitar 3 hari. Ada sekitar 73 santri seluruh Riau yang bersaing merebutkan kursi beasiswa. Di sana kami tidak hanya melakukan tes tertulis, melainkan juga diberi materi dan pembekalan oleh panitia dari Departemen Agama kota Pekanbaru. 

Banyak daftar perguruan tinggi negeri ternama yang bisa dipilih. Kedokteran di Universitas Syarif Hidayatullah, UGM, UPI Bandung, ITS, Airlangga, IPB, dan sekian nama unversitas bergengsi lainnya. Aku memutuskan IPB sebagai universitas incaran. Apa karena aku kagum dengan pertanian dan prestasinya? 

Oh, tidak. Aku hanya ingin mengambil peluang yang paling besar. Menurutku kala itu, pertanian tidak begitu diminati, jadi sudah pasti saingannya juga sedikit. Aku tidak tahu sepopuler apa IPB sebenarnya. Saat itu, bukan universitas atau jurusan yang kupikirkan, satu-satunya dambaan hanyalah ‘aku bisa kuliah!’. Itu saja.

Seleksi telah selesai. Setelah wisuda, masing-masing kami berjalan di jalannya masing-masing. Ada yang langsung pulang, ada yang ikut bimbingan belajar, dan lain-lain. Aku termasuk salah satu yang pulang. Masa penantian pengumuman selama 2 bulan, adalah masa-masa yang sangat mencekam.

Suatu hari, pengumuman yang lolos seleksi sudah muncul di web. Seorang petugas dari DEPAG Pekanbaru yang memberi tahu via sms. Ada 4 nama santri asal Riau yang lolos. Tidak ada namaku di sana, dan aku sudah pasrah. Rasanya dunia menjadi gelap. Aku seperti sulit bernapas. Saat itu aku langsung masuk ke kamar dan mengunci diri.

Di dalam kamar yang gelap saat malam hari, dan panas di siang hari, aku terus menangis. Aku mulai meragukan janji Allah. Bukankah Allah sudah berjanji akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya, apabila mereka mau berdoa? Itu disebutkan dengan jelas dalam Al Quran. Tapi kenapa Allah tidak mengabulkan doaku?  Apa Dia tidak paham bahwa niatku ingin berkuliah begitu tulus dan murni? Apakah Dia tidak tahu bahwa aku ingin kuliah bukan demi kebahagiaan sendiri?

Lihatlah orang tuaku, mereka bekerja keras sepanjang hari. Lihat Bapakku, ia terlihat lebih tua dari umurnya. Ia terjemur panas saat bekerja di kebun, punggungnya sakit saat harus mengangkut puluhan kelapa. 

Lalu Ibuku, aku juga ingin seperti anak-anak lain, yang bisa membelikan Ibu mereka kerudung atau tas yang bagus. Tapi jika aku tidak kuliah, apa aku bisa melakukan semua itu? Bagaimana bisa aku membantu keluarga? 

Selama beberapa hari aku terus di kamar. Keluar hanya untuk makan dan buang hajat, itu pun kalau rumah sudah sangat sepi. Untuk melampiaskan kekecewaan pada Allah, aku sengaja tidak shalat ke Musola. Aku benar-benar marah dan tidak habis pikir dengan keputusan-Nya.

Waktu itu, sesekali ketika keluar kamar, misalnya untuk ke kamar mandi, terkadang aku mendapati Bapak duduk dengan mata menerawang. Terkadang ia memegang kepalanya. Lalu di malam hari, aku mendengarnya shalat tahajud lebih panjang. Ya, Bapak memang tidak pernah meninggalkan tahajud kecuali benar-benar ada alasan yang tepat. Terkadang ia tahajud di Musola, terkadang tidak jauh dari pintu kamarku.

Meski begitu, aku tidak peduli. Tidak sekali pun aku mau bicara dengan Bapak atau Ibu. Mereka memang tidak bersalah, aku tahu pasti itu, tapi aku tidak punya tempat lain untuk melampiaskan marah dan kecewa selain pada mereka. Entahlah, semakin aku merasa mengecewakan mereka, semakin aku mendiamkan mereka.

“Pak, aku ingin kerja ke Bintan. Besok antar ke Kantor Desa, aku mau bikin surat pindah.” Kataku ketus. Ya, ketika kamu ingin melamar kerja di Kepulauan Riau, akan lebih cepat diterima kalau di KTP tertulis kamu adalah penduduk asli. Aku berencana membuat KTP Kepulauan Riau, karena itu pula dibutuhkan surat pindah.

Bapak diam. Ia seperti berpikir, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ah, rasanya di hari-hari itu, rumah kami diselimuti sesuatu yang gelap. Hampir tidak ada pembicaraan apalagi canda ria yang terdengar hingga berhari-hari.  

Hingga suatu siang di bulan Juni, sebuah panggilan masuk ke ponsel. Dari kakak kelas yang saat itu sudah lebih dulu berkuliah di IPB. Rasanya seperti tersambar kilat begitu mendengar dari lisannya bahwa aku lolos beasiswa ke IPB. Ternyata memang pengumuman untuk IPB sedikit terlambat. 

Kakak kelas itu bilang, aku tidak akan berkuliah  di program sarjana seperti yang kupilih di formulir, tapi di program diploma. Tidak masalah. Aku tidak peduli apakah itu sarjana atau diploma. Yang penting aku bisa kuliah.

Bapak dan Ibu sudah berdiri di dekatku. Mereka turut mendengarkan pembicaraan di telepon. Dan begitu telepon tertutup, mereka memelukku. Ibu menangis dan menciumi pipiku. 

Ya Allah, saat mengingat kembali hari itu, rasanya aku sangat menyesal. Betapa sering aku melampiaskan kekesalan pada mereka. Betapa mereka begitu sabar memiliki anak sepertiku.

“Waktu kamu bilang tidak lulus, sebenarnya Bapak tidak yakin. Selama ini firasat Bapak terus mengatakan kalau kamu lulus.” Ucap Bapak. “Kamu masih kecil. Bapak tidak tega kalau kamu sudah harus bekerja.” Ternyata inilah jawaban Bapak yang tidak ia ucapkan saat aku meminta dibuatkan surat pindah. Inilah kenapa saat itu ia seperti berpikir keras dengan kabut menggelayut di mata.

Hari itu juga Bapak dan Ibu pergi ke pasar di kota Kecamatan. Mereka membelikanku koper dan beberapa pakaian baru. Setiap ada orang yang bertanya, untuk apa koper itu, mereka dengan bangga menjawab, “Anakku mau kuliah ke Jawa. Ke Bogor.” Dan ketika orang-orang itu kembali bertanya, “Kok bisa? Bagaimana caranya?”, orangtuaku akan lebih bangga lagi menjawab, “Anakku dapat beasiswa dari Kementrian Agama.”
 

Alhamdulillah... (Bogor, 26 Agustus 2015)
Begitulah sahabat, poin yang ingin kugaris bawahi di sini bukanlah tentang keberhasilanku, melainkan betapa saat itu aku sudah sangat berlebihan menyalahkan Allah. Aku berburuk sangka pada-Nya. Seolah-olah doaku selama ini adalah yang paling sempurna.

Aku seperti lupa pada kisah 25 Nabi dan Rasul yang pernah kubaca sejak umur 5 atau 6 tahun. Bagaimana Nabi Zakaria harus menunggu 60 tahun agar doanya untuk meminta keturunan dikabulkan. Lalu Nabi Nuh terus berdoa hingga 900 tahun agar ummatnya mau mengikuti ajaran yang ia bawa. Hingga junjungan kita, Nabi Muhammad SAW juga terus berdoa sepanjang hidupnya agar Islam mampu menyentuh hati para Kafir Qurays. 

Kenapa doa para manusia pilihan seperti mereka juga ditangguhkan Allah? Apa karena Allah tidak menyangi mereka?

Oh, tidak mungkin. Mereka adalah wakil-wakil Allah di dunia. Allah sendiri yang memuliakan mereka di atas manusia lain. Sudah pasti mereka lah yang paling dicintai Allah di dunia. Tapi lihatlah, doa para kekasih Allah itu pun tertangguhkan.

Tapi mengapa kita, yang setiap hari bergelimang dosa, yang menyanjung dunia berlebihan, yang lebih banyak mengingat orang yang dicinta dibandingkan mengingat Allah, bahkan saat berdoa pun yang kita ingat adalah hal lain, justru marah saat doa tidak dikabulkan? 



Ya, aku merasa malu. Malu pada diriku sendiri. Malu pada Allah. Kisah para Nabi dan Rasul membuat hatiku pecah berkeping-keping, meruntuhkan kesombongan yang selama ini mencokol di dalam hati. Malam harinya aku menangis sesenggukan. Aku memohon ampunan Allah.

Sahabat, Allah telah berjanji dalam kitab-Nya, “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Al Mukmin:60).
Dan Rasulullah  SAW pun menguatkan dengan sabdanya, “Tidak seorang pun yang berdoa, kecuali akan dikabulkan.”  (HR. Ath-Thirmidzi).


Tapi itu tidak akan simlabim dan doa kita langsung terkabul. Tidak, rumusnya bukan seperti itu. Ada banyak hal yang menjadi sebab musabab tidak terkabulnya doa, atau doa yang tertangguhkan. 

Pertama-tama, ingatlah sebuah kisah dalam Risalah Alqusyairiyah yang menceritakan: 

Alkisah Nabi Musa pernah bertemu dengan seorang pria yang sedang berdoa dengan menunduk. Musa berkata kepada Tuhannya: Wahai Tuhan, jika saja kebutuhan hamba tersebut berada di tanganku, pasti akan saya berikan.

Kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya: ‘Wahai Musa, Aku lebih sayang kepadanya daripada kamu. Dan tahukah kamu mengapa doa dia tidak Kukabulkan?  Karena setiap dia berdoa kepada-Ku, hatinya selalu ingat akan kambingnya. Dan Aku tidak mau mengabulkan doa seorang hamba yang ketika berdoa, hatinya masih mengingat selain-Ku. Dengan demikian diantara cara agar doanya terkabul adalah hatinya harus khusyu.’

Dalam kisah lain, Yahya bin Said Alqothan pernah bermimpi bertemu dengan Allah, dan dalam mimpi tersebut ia mengadu kepada-Nya, ‘Wahai Tuhanku, banyak sekali doa yang aku panjatkan kepada Engkau namun tidak ada yang Engkau kabulkan’. Jawab Tuhan: ‘Wahai Yahya, mengapa doa kamu belum Kukabulkan? Karena Aku senang mendengar suaramu.’

Dalam sebuah hadis qudsi yang pernah kubaca, Allah berfirman pada malaikat, “Di sana ada hamba-Ku yang pendosa sedang berdoa, kabulkan doanya, karena Aku muak mendengarnya. Sedangkan di sana ada hamba-Ku yang beriman sedang berdoa, tangguhkan doanya, karena Aku senang mendengar rintihannya.”

Jadi, saat doa kita belum dikabulkan, itu bukan berarti Allah melupakan dan mengabaikan kita. Dia justru bahagia melihat pengabdian dan rintihan doa kita di malam-malam yang sunyi, saat kebanyakan manusia khusyuk dalam tidur mereka.

Dan perlu diingat, bahwa dalam berdoa, Allah tidak menyukai hamba-Nya apabila berdoa dengan tergesa-gesa. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadis, “Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi ia tidak buru-buru. (Yakni jika) ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.”  (HR Al-Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Saat ini aku kembali berada di titik gelap. Aku merasa semua yang sudah kukerjakan selama ini sia-sia belaka. Beberapa hal yang kuperjuangkan ternyata gagal. Selama satu tahun ini, banyak doaku yang tidak dikabulkan. Berkali-kali pula aku jatuh dalam kekecewaan. Hingga terbersit dalam pikiranku, “Setelah doa demi doa yang tidak terjawab, akankah Allah akan mengabulkan doaku?”

Beberapa hari lalu, aku sempat malas berdoa. Entahlah dari mana pikiran seperti ini singgah di kepalaku. Bahkan aku merasa lelah dengan semua aturan-aturan. Aku merasa tidak ada satu orang pun yang paham betapa terpuruknya aku saat ini, dan mengapa Allah tak kunjung mengirimkan pertolongan-Nya.

Tapi syukurlah, peristiwa 3 tahun lalu mengingatkanku kembali. Aku sadar dan kembali merasa malu. Ah, cobaan ini belum seberapa dibandingkan cobaan yang telah dilalaui para kekasih Allah, para sahabat, dan orang-orang salih. 

Aku pun membaca kembali Novel Api Tauhid yang ditulis Habiburrahman Al Shirazy untuk mengingat lagi sejarah hidup Said Nursi. Bagaimana sang ulama itu hidup dari penjara ke penjara, di pengasingan beku tanpa makanan layak, namun itu semua tidak sedikit pun mengurangi kecintaan-Nya pada Allah. Kisah Said Nursi menjadi tamparan keras bagiku. 

Terkadang kita menganggap diri ini adalah satu-satunya yang paling menderita di dunia. Terkadang kita menganggap kedukaan dan kesedihan yang menimpa adalah pertanda Allah tidak menyayangi kita, lalu kita membalas dengan cara melanggar larangan-Nya. 

Kita melampiaskan dengan cara melepas hijab, meninggalkan shalat, lalu pergi menikmati hal-hal yang terlarang, mabuk-mabukan, serta hal buruk lainnya. Dengan melanggar larangan-Nya, kita merasa telah berhasil membalas dendam pada Allah. 

Untukku dan untukmu yang pernah mengalami masa-masa seperti ini, marilah kita hayati nasehat dari Al Munawi berikut ini,

“Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang shalih yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair, dan Ibnu Jabir? Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih? Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya? Begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup?”

Ya, sahabat. Ujian yang kita hadapi hanyalah seujung kuku apabila dibandingkan dengan ujian yang dihadapi para Nabi dan Rasul, dan Alim Ulama. Bersabarlah, dan jangan pernah berpikir bahwa Allah mengabaikanmu. Dalam sebuah ayat Al Quran, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk sekadar bersabar, melainkan juga menguatkan kesabaran.
 

Bersabarlah, teruslah berdoa. 

Dan untuk siapapun yang saat ini berada dalam titik nadhir hidupnya, merasa gelap dan tidak ada harapan, ingat selalu, kita masih memiliki Allah.
Bersabar dan shalat. Itu lah yang dianjurkan dalam Kitab Suci.

Jika kesabaranmu dirasa sudah sempurna, maka lihat lah lagi pada shalatmu, apakah sudah sempurna juga?

Perbaiki keduanya. Insya Allah pertolongan itu Allah amat dekat.


Bintan, 21 Novermber 2015


19 comments:

  1. Aku lebih suka meminta dengan menyerahkan semuanya kembali kepada-Nya. Do'a yang simpel ; Allah, Kau lebih tahu apa yang terbaik buatku tanpa aku harus meminta yang lebih. :)

    ReplyDelete
  2. ceritanya menginspirasi sekali, senang sekali bacanya dan melihat foto2 wisudanya. Tentunya ayah dan ibu bahagia sekali ya melihat keberhasilan anaknya, dan memang benar Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita hamba-hamba-Nya :)

    ReplyDelete
  3. Betul Sof, terus berdo'a dan yakin kalau Allah maha mengabulkan.
    Oh ya, aku suka sama tampilan baru dan tagline blog nya, more fresh and inspire :)

    ReplyDelete
  4. allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita

    ReplyDelete
  5. Tulisannya sangat menginspirasi....
    Begitulah jika senjata udah ditembakan maka langitpun akan menghujamkan kasih sayangnya... doa adalah senjatanya kita
    Barakallah yaa mbak atas wisudahnya

    ReplyDelete
  6. Sofi, tulisanmu membuatku menangis :)

    Allah Maha Baik. Allah Maha Baik...

    ReplyDelete
  7. Pertama aku mampir di blog ini. Bagus banget..kelihatan nulisnya bener,- bener dari hati. Salam kenal...

    ReplyDelete
  8. dari sekian judul blogg untuk wktu yg lama gak mampir kesini, judul ini pertama kali yang menyentuh dan menyorot pandanganku fy. . .

    ReplyDelete
  9. kisah kaka bener" menggugah hati.. karna aku msih 16 thun dan msih labil. aku jg sering bgt ngalamin hal kaya gini kak. dan bodohnya aku malh blas dendam dg sholat ngga tepat waktu, ninggalin sholat rawatib. tapi stelah bca kisah ini, aku sadar bukan doaku yg tidak d kbulkan tpi yg harus d perbaiki adlh kesabaran dan sholat q kak :)

    ReplyDelete
  10. Subhanalloh..Alhamdulillah..smua cerita hidupnya mngenginsfirasi untukku,smoga kita semua dikasih kesabaran sm ALLAh,dn smoga ALLAh selalu mngabulkan setiap doa,dan karna memang sesungguhnya ALLAh mngabulkan setiap doa,ALLAh sllu terjaga tak pernah tidur dan maha mendengar,hanya saja kita harus lebih banyak bersabar dan berserah diri kepadanya gitu kta ibuku,semoga ALLAh sllu memberikan yg terbaik untuk kita,dunia & akhirat..Amiiin

    ReplyDelete
  11. Subhanalloh..Alhamdulillah..smua cerita hidupnya mngenginsfirasi untukku,smoga kita semua dikasih kesabaran sm ALLAh,dn smoga ALLAh selalu mngabulkan setiap doa,dan karna memang sesungguhnya ALLAh mngabulkan setiap doa,ALLAh sllu terjaga tak pernah tidur dan maha mendengar,hanya saja kita harus lebih banyak bersabar dan berserah diri kepadanya gitu kta ibuku,semoga ALLAh sllu memberikan yg terbaik untuk kita,dunia & akhirat..Amiiin

    ReplyDelete
  12. Menginspirasi banget ceritanya.. saya juga sekarang sedang mengalami titik nadhir.. terima kasih sharingnya.. semoga kita bisa jadi hamba-hamba Allah ayng sabar dan dicintaiNya... :-) Semangat, mbak... :-D

    ReplyDelete
  13. Saya merasa di tampar keras, membaca tulisan ini.
    Terima kasih ya,,,

    ReplyDelete
  14. Saya merasa di tampar keras, membaca tulisan ini.
    Terima kasih ya,,,

    ReplyDelete
  15. Mata saya berkaca-kaca membaca kisah inspiratif kamu. Allah sangat menyayangmu, selalu. Sehat dan sukses ya, Sofi. :)

    ReplyDelete
  16. Ya allah..
    Habis baca ini aku sadar aku salah...
    Bukan allah yg salah..
    Tapi aku..
    Aku blum membenarkan sholatku..
    Keimanan ku masih seujung kuku..
    Menghapal bacaan sholatpun masih gagap...
    Maaf ya allah aku menuntut kau kabulkan doaki sedangkan aku tak tau diri atas perintahmu pdku..

    Makasih blognya menginsfirasi

    ReplyDelete
  17. Asa syarikat pinjaman pinjaman bersedia untuk meminjamkan mana-mana jumlah yang anda perlukan untuk memulakan perniagaan peribadi anda. kami memberi pinjaman pada kadar faedah 3%, jadi Sila memohon pinjaman pertanian pertanian. jika anda memerlukan hubungan pinjaman e-mel kami: asaloantransfer@gmail.com, anda juga boleh menghubungi e-mel ini: finance_institute2015@outlook.com


    Asa loan lending company are ready to loan you any amount you need to start up your personal business. we give out loan at 3% interest rate, so Kindly apply for agricultural farming loan. if you need loan contact our email:asaloantransfer@gmail.com, you can also contact this email:finance_institute2015@outlook.com

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Hi salam.
    Saya dari Malaysia. Jujur, tulisan anda membuatkan air mata saya mengalir tanpa sedar. Semoga Allah kurniakan rezeki yg besar buat anda lantaran tulisan anda yg sgt menyentuh dan memberi inspirasi.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...