Why We Should Be Thankful?

Why We Should Be Thankful?

Suatu hari, sekitar dua bulan lalu, aku pernah memiliki percakapan panjang dengan seorang sahabat via whatsapp. Dia bercerita tentang susahnya mendapat pekerjaan, tidak jauh berbeda denganku. Entah bagaimana ceritanya, di ujung percakapan itu, aku sempat menuliskan sebuah kalimat yang kurasa tidak pantas.


Aku bilang begini, “Sepertinya aku lelah berdoa. Tahun ini Allah seperti tidak henti-hentinya memberikan ujian padaku. Aku bingung kenapa hatiku tidak pernah merasa tenang.”


Beberapa saat setelah pesan tersebut terkirim, sahabatku membalas, “Allah sayang padamu. Tapi kamu lah yang kurang bersyukur. Kamu ingat? Tahun lalu (2014), Allah terus-terusan memberikan kebahagiaan padamu. Aku dan teman-teman sampai iri. Tapi kamu? Hanya merespon semua anugerah itu dengan cuek-cuek saja.”


Aku diam. Tidak lagi membalas pesannya.


Hingga di suatu pagi, Desi Namora, teman blogger sekaligus seseorang yang sudah kuanggap sebagai kakak, mengirimiku pesan via BBM. Kalimat demi kalimat yang muncul di layar ponsel kubaca dengan khidmat. Air mataku jatuh tanpa bisa ditahan. Bahkan setelah selesai membaca pun aku masih menangis di sudut kamar. 


Inilah kalimat indah sekaligus penuh nasehat tersebut:


Aku melihat hidupnya begitu indah, ternyata ia hanya menutupi keluhan.Aku melihat hidupnya tak ada pedih, ternyata ia hanya menutupi dg mensyukuri.

Aku melihat hidupnya tanpa ujian,ternyata ia begitu menikmati badai hujan.Aku melihat hidupnya sempurna, ternyata ia hanya menjadi apa adanya.Aku melihat hidupnya beruntung, ternyata ia tunduk pada Allah untuk bergantung.

Aku belajar memahami, mengamati setiap hidup orang yang aku temui, ternyata aku yang kurang mensyukuri, bahwa di belahan dunia lain, masih ada (bahkan banyak) yang belum seberuntung yang aku miliki.
Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa Allahu Robbi, tak pernah mengurangi, hanya aku saja yang masih terus mengkufuri. Suratan Ilahi, maka jangan iri hati dengan rejeki orang lain. Mungkin kau tak tahu dimana rizkimu. Tapi rizkimu tahu dimana dirimu. Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah memerintahkannya menuju engkau. Allah menjamin rizkimu, sejak 4 bulan 10 hari kau dalam kandungan ibumu.


Amatlah keliru bila bertawakkal & rizki dimaknai dari hasil bekerja. Karena bekerja adalah ibadah, sedang rizki itu urusan-Nya. Melalaikan kebenaran demi mengkhawatirkan apa yang dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda. Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati.


Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yg telah dinikmatinya. Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita. Allah menaruh sekehendak-Nya. Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya.


Ikhtiyar itu perbuatan. Rizki itu kejutan. Dan jangan lupa, tiap hakekat rizki akan ditanya, “Darimana dan Untuk Apa”, karena rizki adalah “Hak Pakai”, halalnya dihisab, haramnya diadzab.


Maka, jangan kau iri pada rizki orang lain. Bila kau iri pada rizkinya, kau juga harus iri pada takdir matinya. Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummatnya tanpa bisa tertukar satu dan lainnya.


Jadi yakinlah….


Beberapa puluh menit aku masih terdiam. Ya, semua ini adalah cara Allah menegurku. Dia ingin memberi tahuku betapa Ia sangat mencintaiku, hanya saja akulah yang kurang bersyukur. Aku lebih sering melihat gemerlap bintang di langit dan mengabaikan debu di ujung telapak kaki.
Malam harinya, aku sengaja membuka ebook novel A Thousands Splendid Suns. Novel itu kubaca dengan cara scanning. Tapi tetap saja, lagi-lagi ia membuat air mataku banjir. Seperti yang kamu ketahui, novel tersebut bercerita tentang seorang wanita Afghanistan bernama Maryam. 

Dia seorang anak haram, dibuang oleh ayah kandungnya, lalu ibunya bunuh diri, dinikahkan dengan lelaki tua, dimadu, disiksa setiap hari, hingga kehidupannya yang berujung hukuman mati. Maryam tidak pernah bahagia sepanjang hidupnya. Mungkin begitu juga yang dirasakan oleh jutaan penduduk di Afghanistan, di Palestina, Suriah, dan negara-negara konflik lainnya. 

Lalu aku, kamu, duka seberat apa yang menghalangi kita untuk bersyukur? Aku masih memiliki keluarga lengkap yang sangat mencintaiku, Ayah yang menelepon setiap dua atau tiga hari sekali, saudara yang perhatian, sahabat-sahabat yang loyal, penghasilan yang cukup, sandang dan pangan terpenuhi, tapi kenapa tidak bisa bersyukur juga? Kenapa masih mengeluh dan menyalahkan Tuhan?


Ya, karena iman kita yang sangat lemah. Karena setiap hari yang kita saksikan adalah gaya hidup hedonis di televisi, di instagram, dan sebagainya.


Saat membuka blog favoritku Happy Muslim Mama, aku tersentuh dengan salah satu postingan terbarunya. Di sana Umm Salihah Ahmed menuliskan sederet fakta yang bisa dijadikan pengingat bagi kita semua. Aku menerjemahkan bebas dan menuliskannya di bawah ini:

  • Hanya 2% dari penduduk dunia ini yang memiliki toilet indoor.
  • Organisasi Pangan dan Pertanian PBB memperkirakan ada sekitar 795 juta orang di dunia ini (1 dari 9) menderita gizi buruk kronis (tahun 2014-2015).
  • Menurut UNICEF, sekitar 22 ribu anak meninggal setiap hari akibat kemiskinan.
  • Kurang gizi merupakan penyebab dari 3,1 juta kematian anak per tahun, atau 45% dari total kematian anak di tahun 2011.
  • Jumlah seluruh anak di dunia ini ada 2,2 miliar, lalu 1 miliar di antaranya hidup dalam kemiskinan, dan sekitar 121 juta anak tidak mengecap pendidikan sekolah.
  • Perang, kekerasan, dan penganiayaan telah memaksa 1 dari 122 manusia di bumi ini hidup sebagai pengungsi.
  • Sekitar 1,2 miliar orang tidak memiliki akses ke air bersih; 2,4 miliar hidup tanpa sanitasi yang layak; dan 4 miliar tanpa pembuangan air limbah.
  • Pada 2015, World Bank memperkirakan ada sekitar 1 miliar orang hidup dengan USD 1,25 per hari atau di bawah itu.
  • Sekitar 1,6 miliar(seperempat dari umat manusia) hidup tanpa akses listrik.

Why do we have so much when others have so little?
Sekarang sudah saatnya kita bersikap bijak ketika melihat sesuatu. Kita tidak bisa selalu melihat ke atas, karena nanti akan membuat kita berangan-angan kosong dan tidak bersyukur. Sebaliknya, kita tidak bisa hanya melihat ke bawah, karena nanti akan kekurangan motivasi untuk hidup lebih maju. Be balance! Inilah kunci segalanya. 
Jadi kesimpulannya, sudahkah kamu bersyukur hari ini?
“If you tried to number Allah’s blessings, you could never count them.” ~ Quran 16:18

“If you are grateful, I will certainly give you increase.” ~ Quran 14:7

It was narrated that ‘Aishah said: When the Messenger of Allah (blessings and peace of Allah be upon him) prayed, he would stand for so long that his feet became swollen. ‘Aishah said: O Messenger of Allah, are you doing this when Allah has forgiven your past and future sins? He said: “O ‘Aishah, should I not be a thankful slave?” ~ Narrated by al-Bukhari and Muslim.

Lots of Love

S O F I A | Z H A N Z A