Thursday, 19 February 2015

Kunjungan Anak-Anak SD di Slamet Quail Farm



Selama PKL, sepertinya aku akan banyak memposting segala sesuatu tentang puyuh. Yeah, makhluk mungil yang semakin hari semakin kukagumi, karena manfaat dan keunikannya. Di farm, setiap harinya gak pernah kosong tamu, selalu saja ada. Mulai dari rombongan pilot Garuda Indonesia, polisi, pegawai negeri, pengusaha kuliner, wisausahawan, masyarakat biasa, akademisi, hingga anak-anak SD dan TK. Semuanya pengen tahu, bagaimana sih cara berbudidaya puyuh?

Nah, hari ini, kita kedatangan rombongan anak SD kelas 3 dari SDIT At Takwir. Jumah mereka sekitar 60 orang belum termasuk guru pembimbing. Sebagai menu sambutan, kami menyiapkan bakso puyuh yang rasanya nggak kalah nikmat dibandingkan bakso ayam. Setiap anak dapat jatah dua buah bakso, dan semuanya makan dengan lahap banget. Pokoknya seneng lihat mereka makan, jadi ikutan kenyang. Belum lagi seragam mereka yang kuning-kuning dan para ceweknya berkerudung semua, jadi tambah gemes. Ingat masa kecil.
 
Bakso puyuh buatan kita (Dok.pribadi, tapi jepretannya Si Danny--> orangnya di bawah nih)

Ceritanya lagi bagi-bagi bakso puyuh.
Lucu-lucu banget. Mereka tuh suka kalau diajak foto.
Tadi, aku dan seorang teman dapat jatah jadi guide dua kelompok anak. Ngajak mereka keliling farm, plus menjawab segala pertanyaan aneh bin lucu yang mereka lontarkan. Pas di kandang, merekapada pake masker, itu pun masih bau katanya. Padahal bagi aku sendiri, kandang di sana nggak bau sama sekali. Apa karena hidungku udah terbiasa kali, ya? 
 
Ini ceritanya lagi ngucel-ngucel puyuh
Ini puyuh salah dua jari
Meski di kandang, eksis tetap jalan
Mereka pulang sekitar pukul 11. Kita beres-beres dan selanjutnya ada tamu lagi, nggak tau juga dari mana. Tugasnya Pak Pram dan Pak Kris yang ngajak ngobrol dan kasih penjelasan.

Saturday, 14 February 2015

Puyuh, Si Mungil yang Membuatku Jatuh Cinta



Nggak terasa udah satu minggu aja PKL di Slamet Quail Farm. Alhamdulillah sejauh ini sangat menyenangkan. Pemilik perusahaan, Pak Slamet Wuryadi, menyambut kami seperti keluarga sendiri. Selain itu, ada juga Pak Kris (Manajer perusahaan), Pak Pram (ahli kuliner puyuh), dan Pak Asyik (bapak yang masakannya enak banget), semuanya ramah-ramah dan nggak pelit ilmu. Temen-temen dari Progam Keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak juga warm semua. Besok Minggu rencananya kita ber-12 mau main ke pelabuhan Ratu bareng Pak Kris, insya Allah.

Selain kerja di kandang penetasan, starter, grower, dan layer, kita juga diajarin mengolah berbagai masakan berbahan dasar puyuh setiap harinya. Praktek langsung. Jadi, meskipun masuk dari jam 07.30 sampai asar, di sini nggak terasa lelah sama sekali. Rasanya kali ini aku udah mengambil pilihan yang tepat, justru semakin cinta dengan puyuh. Terlebih saat lihat wujud mereka yang baru netas, itu sangat-sangat-sangat menggemaskan. Jadi gini ya rasanya mengerjakan sesuatu yang disukai, walau sepadat apa pun kerjaan, tetep aja seneng.
 
Quail Baby (Dok.pribadi)
Nah, untuk kuliner puyuh yang akan kita siapkan selama PKL ini sebanyak 22 menu. Pak Slamet dan Pak Pram akan membuat buku dari menu-menu tersebut. Banyak yang bilang daging dan telur puyuh itu mengandung kolesterol jahat yang sangat tinggi, nggak perlu khawatir karena berita itu hanya hoax alias nggak bener. Pak Slamet sendiri udah kroscek ke laboratorium IPB, dan walhasil diketahui bahwa kadar kolesterol puyuh itu sangat rendah (aku lupa angka persisnya, besok mau ditanyain lagi). Selain itu, nilai gizi telur puyuh itu bisa tiga sampai empat kali lebih tinggi dibandingkan telur ayam. Lemak puyuh juga sangat rendah, ini bisa dibuktikan saat puyuh direbus, ia nggak bisa menghasilkan kaldu yang baik, karena nggak banyak lemak itu. Intinya, kaldunya nggak sekental kaldu babi, sapi, atau ayam.
Nugget puyuh (Dok.pribadi)
Satay puyuh (Dok.pribadi)
Berita bagusnya, aku udah bisa nemuin kartu yang high speed untuk modem selama di Sukabumi beberapa bulan ke depan. Sebelumnya aku mohon maaf untuk teman-teman blogger yang kunjungannya belum kubalas, lama nggak ninggalin jejak di blog teman-teman. Mulai sekarang, insya Allah aku akan sempet-sempetin silaturrahim ke blog teman-teman lagi.


Saturday, 7 February 2015

Praktik Kerja Lapangan & Kenapa Puyuh



Bersama teman kelas (dari semester 1-6, kita semua satu kelas) ketika kunjungan ke area keramba jaring apung Kepualauan Seribu.
Rasanya baru kemaren sore aku datang ke kota Hujan ini. Umurku masih 16 tahun kala itu, datang seorang diri ke pulau Jawa, tanpa pernah sekali pun bepergian dengan pesawat sebelumnya. Tidak ada keuarga yang menangisi keberangkatanku di bandara Pekanbaru, tak ada pula yang menjemputku di bandara internasional Soekarno Hatta. Mereka hanya mengantar sampai pelabuhan pulauku, selebihnya aku mengurus keberangkatan seorang diri.

Kedatanganku yang seorang diri itu dan tanpa keluarga yang menjadi tempat jujukan, rasanya tidak lagi menjadi masalah besar saat itu. Situasi yang sama juga pernah kualami saat umurku 13 tahun, saat aku memutuskan menyambung sekolah di pesantren yang jauh dari pulau. Jika di umur 13 tahun aku sanggup berangkat sendirian, menumpang di rumah orang, dititipkan ke sana-sini, pulang satu tahun sekali, maka saat umur 16 tahun seharusnya aku tidak terkejut lagi. 

Saat pertama kali kedatangan di pesantren, kulihat teman-teman diantar sang ibu hingga ke kamar, dijenguk setiap bulan, sementara aku tidak mendapatkan itu semua. Jadi seharusnya, saat dua minggu pertama di kota Bogor, aku tidak perlu sedih lagi meski dititipkan di kosan mereka yang tidak kukenal. 

Semua itu bukan karena orangtua tidak pernah menyayangiku, tapi karena memang pilihanku sendiri. Saat Bapak ingin mengantar, aku yang bilang tidak usah padanya. Selagi aku bisa menghadapinya seorang diri, rasanya aku tidak perlu menyusahkan kedua orangtuaku. Terkadang aku menilai diriku seorang penakut, terlebih saat ingin menyeberang jalan, tapi setelah kuingat-ingat, aku sudah melewati banyak ketakutan dengan cukup berani. Tidak pernah menyangka aku akan sampai sejauh ini.

Sekarang, kota Hujan ini sudah seperti rumah bagiku. Ada jalan Malabar yang merekam perbincanganku bersama teman-teman saat pulang dan pergi kuliah, warung bakso Bantolo yang sudah menjadi langganan sejak semester satu, kosan Bagunde yang sempat kami tempati selama setahun, dan kini menjadi basecamp teman-teman lelaki sesama penerima beasiswa dari Kementrian Agama; gema suara 19 orang temanku yang berjuang bersama sejak awal semester juga masih memenuhi langit kota ini, lalu sayup-sayup suara teman-teman kelas yang berasal dari pulau Meranti, mereka tidak pernah absen berbahasa Melayu meski sedang berada di lingkungan kampus sekali pun, meski lipandang aneh oleh mahasiswa dari jurusan lain; ada pula Bogor Trade Mall dan Botani Square yang selalu menjadi tujuan setiap uang bulanan meluncur ke tabungan. Saat kulihat kota ini, di sanalah kulihat diriku sendiri. 
Ya, para alaiers yang baru keluar dari pesantren
Wujudku di semester pertama
Ini bareng 19 teman di PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi/Beruntung) dari Kementrian Agama, saat masa matrikulasi
Yeah, masa laluku yang anggun sekali. Pengen banget bisa pake rok lagi. Bener kata Mbak Tia Yusnita, memulai itu mudah, istiqomah yang susah.
Ini sih waktu MKMB (Masa Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru) IPB. Aku kelihatan banget lagi dongkol, ya?
Kayak gini nih setiap habis praktikum
Sejak awal Februari ini, sebuah awal baru akan dimulai. Ya, aku akan berangkat untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Aku belum memakai seragam toga, juga belum berjabat tangan dengan pak Rektor, tapi rasanya dari sinilah kehidupanku akan berubah. Aku merasa diriku bukan lagi seorang anak lugu yang pantas merengek ini itu pada orang tuaku, dari sini juga aku dituntut memiliki aura ‘kakak’ seperti yang kulihat dulu pada gadis-gadis dewasa. 

Aura 'kakak' inilah yang hingga kini tak pernah kupahami. Jika dulu saat umurku di bawah 10, aku menganggap gadis berumur 19-25 di desaku adalah sosok yang dewasa, sehingga kami selalu rebutan untuk menyalami tangan mereka, dekat-dekat dengan mereka, lalu kenapa saat aku sampai di umur itu, aku tidak merasa seperti mereka? Aku masih merasa diriku adalah sosok yang sama seperti belasan tahun lalu.

Baik, lupakan sejenak tentang kehidupanku. Kita membahas tentang tempat belajarku tiga bulan ke depan saja.  Ia adalah sebuah peternakan puyuh bernama Slamet Quail Farm di Cikembar Sukabumi. Bapak pernah bertanya padaku, “Kenapa pilih di puyuh? Kenapa tidak seperti temanmu yang dari Bandung itu, PKL di dinas?”

Kurasa kamu pun akan bertanya seperti itu. Sejak jaman purbakala, keputusanku untuk kuliah di pertanian memang hanya dianggap keren oleh sesama anak IPB saja. Di luar sana, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Kenapa pilih pertanian, pilihan sendiri atau bagaimana?” sudah biasa kudapatkan. Belum lagi respon penduduk kampung yang memuji namun menurutku adalah sebuah ejekan, “Lha yo bagus ambil pertanian, biar nanti bisa bantu-bantu tanam jagung di kampung.”

Bagi penduduk kampungku, termasuk orang tuaku, kesuksesan adalah berhasil menjadi pegawai negeri. Itu saja. Mereka mengirim anak mereka untuk berkuliah, diwisuda, kembali ke kampung untuk mengajar, ikut tes CPNS, lulus, dan sukses! Jadi, saat mengetahui aku mendapat beasiswa melanjutkan kuliah di pertanian, meski itu di pulau Jawa, bagi mereka biasa saja.

Untungnya orang tuaku hanya sekadar memiliki anggapan yang sama, namun di lain sisi mereka memberiku dukungan penuh. Termasuk saat kujabarkan alasan mengapa aku memilih puyuh, Bapak mengatakan apa pun yang aku pilih ia akan mendukung dan mendoakannya. 

Berikut adalah alasanku memilih belajar selama 3 bulan di peternakan puyuh milik Pak Slamet Wuryadi ini:

1. Pak Slamet sendiri adalah ketua Asosiasi Peternak Puyuh Indonesia dan memiliki kisah inspiratif di balik kesuksesannya kini. Sejak ia memberikan kuliah singkat satu tahun lalu, aku langsung jatuh cinta pada unggas mungil yang diternakkannya. Dahulunya di tahun 1992, saat datang berkuliah di diploma IPB, Pak Slamet hanya membawa 4 potong celana, 4 potong baju, serta uang 175 ribu rupiah. Dan sekarang, asetnya sudah milyaran rupiah. Termasuk satu buah rumah besar yang akan kami tempati selama PKL nanti, dia menyediakannya gratis. Menurut Pak Pram (staf di Slamet Quail Farm, masih ada beberapa rumah lagi milik Pak Slamet yang tidak ditempati. Pak Slamet pernah ditawari pemerintah Belanda untuk mengambil S3 di Belanda, tapi ia menolak dan memilih melanjutkan ke IPB. Ia juga pernah ditawari untuk membangun peternakan puyuh di Malaysia dengan gaji 50 juta per bulan, namun ia tolak mentah-mentah tawaran dari pengusaha Malaysia tersebut. 
 
Pak Pram yang pake topi, Pak Slamet yang pegang puyuh (foto diambil Juni 2014, waktu kunjungan ke sana)
2. Jumlah permintaan puyuh lebih besar dari pada penawaran. Puyuh yang tersedia baru mencukupi 15%  untuk kebutuhan nasional. Menurut data bulan Desember 2013,  permintaan telur puyuh untuk wilayah Jabotabek, Banten, dan Priangan Timur saja mencapai 14 juta butir per minggu, dan  baru bisa dipenuhi sebanyak 3,5 juta butir. Jadi, masih terjadi kekurangan pasokan telur puyuh sebanyak 11 juta butir per minggu.
 
Ini telur dalam mesin tetas (dok.pribadi)
3. Selain dimanfaatkan telur dan dagingnya, kotoran puyuh juga masih memiliki sumber protein yang tinggi, yaitu sebesar 28% (analisis laboratorium IPB), sehingga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif untuk pakan ikan dan pupuk kandang. Bahkan untuk pakan lele, kotoran puyuh tersebt tidak perlu diolah lagi. Cukup langsung ditebarkan ke kolam.

Lele yang lagi melahap kotoran puyuh. Hmm...yummi (Dok.pribadi)
4. Puyuh dapat bertelur cepat, cukup dengan pemeliharaan selama 45 hari saja. Pakan per hari per ekornya cukup dengan 20-22 gram, dan mampu menghasilkan telur dengan berat 11 gram. 

5. Usaha puyuh bisa dimulai meski hanya memiliki lahan sempit. Karena kandangnya pun dibuat bertingkat.
 
Ini wujud kandang puyuh (Dok.pribadi)
6. Meski stok dalam negeri kurang, namun tak ada impor. Korporasi belum masuk ke peternakan puyuh. 

7. Tiap penjual cash and carry. Jadi tidak ada sistem bawa dulu bayar kemudian. 

8. Pemeliharaan puyuh cukup mudah dan bisa dikerjakan oleh perempuan. Inilah alasan terbesar aku memilih puyuh, karena aku merasa tidak akan sanggup mengerjakan hal-hal yang memerlukan banyak tenaga, contohnya di perkebunan kopi, ternak sapi, atau membangun perkebunan buah. Ya, meski semua itu bisa dilakukan oleh pegawai laki-laki, aku tetap saja merasa tidak mampu dalam hal finansial. Bagi pemilik modal besar, membangun peternakan dan perkebunan besar bukan suatu masalah, tinggal keluar uang, sebulan kemudian usaha sudah berjalan. Tapi bagi yang memulai dari awal dengan modal terbatas, kita harus ikut turun tangan terlebih dahulu. Tidak sebatas jadi direktur atau manajer yang tinggal duduk di kantor. Karena itulah aku memilih puyuh, meski aku nantinya akan memulai dari awal perlahan-lahan, aku tetap bisa turun langsung mengurus kandang puyuh. Insya Allah...
 
Baik, rasanya sudah terlalu panjang. Semoga kapan-kapan bisa bercerita lagi tentang puyuh dan sedikit tentang pengalamanku. Mohon doanya, semoga PKL-ku dilancarkan dan bisa menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Semoga kesuksesan menyertai kita semua. 

“Silahkan berbicara apapun tetapi ingatlah apa yang kita sampaikan akan di hisab” (Salah satu pesan Pak Slamet merujuk pada Surah Qaf ayat 18).

Selamat PKL teman kelas, sampai jumpa di bulan Mei :)
Pembaretan sebelum PKL oleh Prof. Bintoro
Ini teman-teman terbaik (Foto diambil saat pelepasan PKL Diploma IPB angkt.49)

Thursday, 5 February 2015

Will I Have A Fun Winter in Japan?



Nauko dan Mengapa Aku Tertarik Pada Jepang
“Nauko, bagaimana rasanya naik angkot tadi?” tanya seorang teman laki-lakiku pada Nauko, mahasiswi Jepang yang ikut dalam rombongan kami. Hari itu kami memiliki agenda mengunjungi sebuah kawasan agropolitan di Cianjur.
“Aku suka naik angkot. Asik.” Jawabnya dengan logat yang khas dan pengucapan yang tidak fasih.
“Haha. Kalau begitu nanti aku mau usaha angkot di Jepang.” Sambung temanku yang membuat kami semua tertawa, termasuk Nauko.
“Dingin nggak Nauko?” satu lagi teman laki-laki melontarkan pertanyaan. Dasar kalau sudah lihat yang cemerlang, bakat menggombal keluar semua.
Malam itu memang sangat dingin, selain karena lokasi yang berada di dataran tinggi, gerimis juga turun sejak sore. Aku sampai melapisi jaket dengan jas almamater. Itupun masih menggigil. Anehnya, Nauko hanya mengenakan jaket kaos yang tipis dan jins berwarna biru. Dia juga tidak terlihat pernah mendekap kedua tangannya.

Monday, 2 February 2015

Aanshul Trivedi sebagai Pramad dalam Saraswati Chandra




Siapa yang suka nonton serial Saraswati Chandra yang tayang setiap pukul 17.00 di salah satu stasiun televisi swasta? Aku sih kalau kebetulan lagi free, ya nonton juga. Tapi jarang-jarang. Hanya saja beberapa hari terakhir, perhatianku cukup tersita sama seorang pemainnya, yaitu Pramad (suaminya Kumud).

Bagi yang belum kenal, kuceritain sedikit ya.. 

Sebelum menikah dengan Pramad, Kumud itu udah dijodohin sama Saraswati. Banyak sih rintangannya hingga akhirnya mereka sepakat untuk menikah. Undangan udah disebar, upacara-upacara adat udah mulai dilaksanakan, tangannya Kumud juga udah dihiasi hena, tapi tiba-tiba Saraswati yang saat itu pulang ke Dubai telpon kalau pernikahan nggak bisa dilanjutkan. Why? Karena Saraswati udah nggak dianggap anak sama ayahnya, so dia udah nggak punya kekayaan apa-apa lagi. Masa depannya Kumud pasti suram kalau sampai nikah sama dia.

Nah, hancur banget hatinya Kumud. Nangis hebat banget pokoknya. Keluarganya juga marah besar, secara acara bener-bener udah siap. Hanya kurang pengantin laki-lakinya aja. Di saat itulah datang Pramad yang menyelamatkan keluarga Kumud dari aib pembatalan pernikahan. Pramad ini sama sekali nggak ada perasaan ke Kumud, hobinya minum alkohol, dan dia diam-diam pacaran sama pembantu di rumahnya yang bernama Kalika. But, mau bagaimana lagi. Keluarganya dia kaya-raya, rumahnya segede pulau, dan orangtuanya maksa dia buat nikahin Kumud. Sebagai anak yang selama ini dianggap tidak berguna, mau nggak mau, dia nurut juga. Akhirnya pernikahan Kumud dan Pramad pun terjadi.

Kisah sesudah upacara pernikahan dan Kumud diboyong ke rumah Pramad nih yang tragis. Menyiksanya gitu banget ya, sampai-sampai dia bilang kalau Kumud itu cuma dianggapnya sebagai benda dan nggak boleh bersikap sebagaimana seorang istri. Saat Kumud memergoki Pramad berduaan dengan Kalika di kamar, Pramad tetep selow-selow aja. Kumudnya yang sakit hati disimpan sendiri.

Nggak Cuma itu, Pramad juga sering nyiksa fisik. Masangin gelang yang kecil ke tangan Kumud, dipaksa masuk sampai tangannya luka-luka. Ditolak ke dinding sampai jidatnya berdarah, dicekokin bir, dihina-hina dan banyak lagi. Intinya kalau ada suami terjahat di dunia ini, Pramadlah orangnya.

Beberapa waktu kemudian, entah gimana sebabnya, Kumud nggak tahan dan memilih pulang ke rumah orang tuanya. Mertuanya juga yang meminta dia buat pulang, daripada tersiksa terus gara-gara si Pramad. Tapi ternyata Pramad punya rencana lain, dia taubat terus jemput Kumud. Mohon-mohon dan berjanji nggak bakal nyakitin Kumud lagi, bahkan juga berjanji buat ninggalin minuman keras.

Ya, hebat. Dia bener-bener nepatin janji, pokoknya berubah total. Suka banget lihatnya kalau pas baik gitu. Sampai-sampai dia ngajakkin Kumud ke rumah orangtuanya Kumud selama beberapa hari. Manis banget deh episode-episode yang ini. Keluarganya Kumud juga suka banget sama Pramad dan kebaikannya. Hanya Saraswati yang nggak seneng lihat perubahannya Pramad.

Suatu malam, setelah melihat kesungguhan Pramad, Kumud akhirnya jujur kalau Navin Chandra yang selama ini tinggal di rumah mereka itu adalah Saraswati Chandra, calon suami yang dicintainya sekaligus laki-laki yang mengkhianatinya. Pramad nangis gitu tau kenyataan itu, nggak nyangka kalau sang istri ternyata dekat banget sama mantannya. Pas di acara pesta keluarga, Pramad menceraikan Kumud. Dihapusnya tanda merah di kening, gelang pernikahan di tangan Kumud juga dilepas, dan dia mau narik kalung pernikahan di leher Kumud.

Keluarga Kumud dan Kumud sendiri nangis, mohon jangan lakukan itu. Pramad ngomong panjang, tapi aku nggak ngerti dia ngomong apa (cause aku nonton yang bahasa Telugu), matanya berkaca-kaca gitu. Dia lalu ambil yang merah-merah buat di kening itu dan diulurkannya ke Saraswati, meminta laki-laki itu menikahi Kumud. 

Meski cinta Kumud ke Saraswati nggak pernah hilang, dia tetep nggak mau diceraikan Pramad. Kumud bahkan mohon-mohon untuk dimaafkan. Dia ngajakin Pramad nikah lagi. Akhirnya Pramad luluh, untuk kedua kalinya mereka melakukan upacara pernikahan. Kali ini di hadapan Saraswati dan Kumud bisa senyum untuk suaminya. Nggak kayak di upacara pernikahan yang pertama, Kumudnya nangis-nangis.

Gimana kelanjutannya? Apakah Kumud tetap bersama Pramad hingga akhir atau kembali ke Saraswati? Tunggu aja ya. Aku sih udah nonton di youtube, tapi sukanya di-skip. Cuma pilih-pilih adegan yang ada Pramadnya. Soalnya suka banget sama aktingnya.


Siapa Nama Asli Pemeran Pramad dalam Saraswati Chandra?

Namanya Aanshul Trivedi, umurnya 27 tahun. Pernah belajar di Xavier Institute of Communications, Mumbai dan lulus tahun 2010. Nggak banyak berita di internet yang ngebahas tentang dia, karena belum terkenal banget. Selama ini dia belum pernah jadi pemain utama, hanya sebatas cameo di film dan pemain pembantu di serial TV. Sebelum nonton di Saraswati Chandra, aku udah lihat Aanshul di film Ramayya Vastavayya, kirain Saurab Raj Jain (pemain Krishna dalam Mahabharat), soalnya mirip banget. Baik wajah, hidung, maupun tingginya yang memang di atas rata-rata. Eh, ternyata dua orang yang berbeda.
Bener mirip nggak, sih?

Kelemahanku, kalau udah mengagumi sesuatu atau seseorang, aku bakal cari informasinya sedetail mungkin. Semua media sosia, forum, web, youtube, kujelajahi semua. Sama kejadiannya waktu aku suka sama pemeran Rukaiya dalam serial Jodha Akbar. Pokoknya informasinya harus kudapatkan sebanyak-banyaknya, termasuk foto-fotonya.

Anehnya, kenapa aku selalu suka sama pemeran pembantu yang antagonis? Mulai dari Rukaiya dalam serial Jodha Akbar, Rama dalam serial Navya, Rohan dalam film Student of The Year, dan terakhir si Aanshul ini. Sebaliknya, aku nggak suka sama pemeran utamanya. Kalau temen-temenku pada ngikutin dari awal sampai akhir serial, aku bakal menoleh ke TV pas pemeran yang aku suka nongol aja.

Kembali ke Aanshul Trivedi, sekarang dia udah nggak main di Saraswati Chandra. Udah berpindah ke serial baru yang berjudul Ek Rishta Aisa Bhi. Di serial ini dia dapat peran sebagai laki-laki pengusaha yang baik hati bernama Abhimaan. Ah, padahal suka lihat dia jadi jahat. Sampai-sampai dapat penghargaan the best villain lho.

Dalam sebuah wawancara, dia bilang suka sama aktingnya Paridhi Sharma (pemeran Jodha). Kalau dia bisa main bareng Paridhi, mungkin tingginya akan seimbang. Soalnya Aanshul ini punya tinggi yang banget-banget, 1,89 meter! Dia mengaku kesulitan mengimbangi ketinggian lawan main setiap kali syuting. Ah, yang sabar ya Aanshul...

Menurut Aanshul, dia udah menerima beberapa tawaran untuk memerankan pemeran utama, tapi belum ada yang cocok. Dia suka memerankan karakter yang kuat, jadi tidak akan menerima karakter yang biasa-biasa saja. Gitu.

Okay, cukup sekian dulu ulasan tentang Mas Aanshul Trivedi ya. Biasanya yang begini nih yang paling banyak dicari di search engine (modus banget niat nulisnya). Yeah, ini trik agar pembaca blogku rame. Terbukti ya, postingku yang tentang India rata-rata dibaca hingga puluhan ribu. Yang lainnya, apalagi yang diikut sertakan dalam lomba, paling banyak seribu viewer :D Sukses terus buat Aanshul. I am your fan now... aktingmu patut diapresiasi!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...