Muslimah, Inilah Hal-Hal yang Harus Dilakukan ketika Patah Hati

Hal-Hal yang Harus Dilakukan ketika Patah Hati

My dear Muslimah, pernahkah kamu mengalami kekecewaan mendalam disebabkan oleh cinta? Ketika selama ini kamu habiskan waktu untuk mengamatinya dari kejauhan, diam-diam menyebut namanya dalam doa, tidak pernah berani untuk menyapa, namun di dalam hati tersimpan sebuah impian besar, suatu saat ia akan datang ke rumahmu untuk sebuah niat mulia bersamamu, yaitu pernikahan. 
Hari berganti, hingga sekian bulan bahkan tahun, cinta ini tetap tersimpan rapi di dalam hati. Bagimu melihat dia tersenyum, mendengar kabar tentang prestasi-prestasinya, mengetahui hidupnya selalu dilimpahi kebahagiaan, adalah hal terindah yang juga membuatmu bahagia. Senyumnya adalah senyummu juga. 
Tiada hari tanpa memikirkan dia, siang dan malam. Karena Islam tidak mengenal istilah pacaran, maka kamu pun memilih untuk mencintai dalam diam. Diam dan sangat dalam. Seringkali kamu berhayal yang indah-indah bersamanya, tentang peristiwa demi peristiwa yang kelak akan terjadi setelah kalian menikah.

Dalam hayalan itu kamu melihat dia menghadiahimu bunga setiap kali pulang kerja, melihat kalian shalat bersama, melihat kalian berdiri di sebuah jembatan di Eropa dengan kapal-kapal dan kawanan burung di depan sana. 
Ya, indah memang indah. Kamu pun berbisik, “Bersabarlah. Mungkin sekarang dia tidak melihatmu, tapi percayalah Allah akan mempersatukan kalian. Lihatlah sebentar lagi.” Kalimat yang kamu buat untuk menenangkan diri sendiri ini pun berhasil membuatmu tersenyum. Bermimpi lebih jauh lagi.
Namun di suatu sore yang basah, bagai tersambar petir rasanya ketika tiba-tiba kamu mendengar bahwa lelaki tersebut akan menikah. Sebentar lagi. Bahkan hari dan jam sudah ditetapkan. Hal pertama yang kamu rasakan adalah napas yang sesak, seperti ada tambang mengikat dadamu. 

Selanjutnya kamu akan tertatih-tatih mencari tempat duduk, atau mungkin langsung turun ke lantai, kamu diam, napas yang tidak teratur, terus mengulang kalimat, “Tidak mungkin. Ini pasti salah.”
Sekali lagi kamu pastikan berita itu, yang sebenarnya kamu sudah tahu bahwa hal tersebut tidak mungkin salah. Kenyataan tetaplah kenyataan, meski semua orang mengatakan itu hanyalah mimpi. Begitu juga dengan kabar tersebut. 

Dia benar-benar akan menikah, dengan seorang wanita, yang ternyata adalah teman baikmu sendiri. Hancurlah sudah semua impian yang kamu rangkai hari demi hari. Kini air matamu mengalir perlahan di kedua sudut mata, lalu kamu berlari ke kamar, mengunci diri, dan menangis sejadi-jadinya. “Kenapa bukan aku yang dicintainya, ya Allah? Engkau tahu betapa aku mencintainya. Engkau tahu bahwa aku mati-matian menjaga perasaanku agar tak ia ketahui, karena aku mematuhi aturan-aturanMu. Engkau tahu sesering apa aku mendoakannya? Aku sanggup hidup bersamanya dalam keadaan bagaimana pun, aku tak peduli sebanyak apa hartanya, karena selama ini aku tahu betul lelaki seperti apa dia. Aku tidak menginginkan apa-apa selain menjadi istrinya, mengabdikan diri padanya.

Tapi kenapa wanita itu yang beruntung? Dia berhijab sekadarnya, kelakuannya mirip lelaki, dia tidak menjaga pandangan, tidak membatasi pergaulan dengan lawan jenis, bagaimana bisa dia?”Kamu terus menangis dan menangis. Karena selama ini kamu mencintai dalam diam, maka resikonya, kamu pun akan terluka dalam diam. 


Bagi sahabat Muslimah yang pernah mengalami kejadian seperti ini, pasti sepakat kalau ini tidak mudah. Sakit, sesakit sakitnya. Pedih, sepedih pedinya. Dunia yang indah berubah malam. Tak ada lagi harapan. Bahkan ia tak tahu lagi bagaimana bisa meneruskan hidup dengan hati terluka seperti itu? Bagaimana bisa dia ikhlas? Bagaimana bisa melupakan seseorang yang sudah sangat dekat di jantung ini?


Untukmu yang sedang mengalami hal ini, tenanglah, ini bukan akhir dari segalanya. Memang tidak mudah, aku tahu itu, tapi janji Allah dalam Al Quran bahwa Dia tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya, adalah benar. 


Aku punya teman dekat yang pernah mengalami kejadian serupa, kisahnya bisa dibaca di sini: SAHABATKU DAN CINTA DALAM DIAMNYA, dan sekarang, melihat bagaimana dia bangkit membuatku tersentuh. Setelah melewati sharing panjang dengan sahabatku itu, berikut beberapa hal yang harus kamu lakukan untuk keluar dari zona patah hati:

#Rasanya Memang Sakit, jadi Menangislah!


Ditinggal menikah oleh seseorang yang kita cinta memang bukan perkara mudah. Kamu belum bisa dikatakan paham jika belum merasakan sendiri seperti apa sakitnya. Bayangkahlah, selama ini hari-harimu dipenuhi mimpi yang indah, namun tiba-tiba semua impian itu dicabut paksa darimu. Seperti seorang gadis kecil yang sekian lama bermain dengan sebuah boneka, hingga kemudian boneka tersebut dirampas dan dihancurkan. Seperti gadis kecil itu pula, kamu boleh menangis. 


Apakah kamu tahu kenapa Allah menciptakan air mata? Kenapa tiap kali ada yang menyentuh atau menusuk hati ini, air mata itu diproduksi berkali-kali lipat dari keadaan normal? Itulah jawabannya, karena air mata adalah puncak dari ekspresi kesedihan maupun kebahagiaan. Allah tahu kamu membutuhkannya. Jadi gunakanlah. Kamu bisa menangis hingga lelah, namun jangan berlarut-larut.


Sahabatku berkata, “Air matamu sangat mudah keluar dalam satu minggu pertama. Tapi ini bukan masalah. Justru kalau kamu tidak menangis, itulah yang tidak normal.”

#Jika bukan Ujian, Pastilah Teguran


Selama kamu mengunci diri di kamar dan menangis, cobalah untuk tidak hanya memikirkan kesedihan dan kekecewaan saja. Coba kamu ingat-ingat lagi, apakah cintamu selama ini memang benar? Selalu ingat formulanya, Allah menjatuhkan musibah pada diri seorang atau suatu kaum karena dua alasan, sebagai ujian atau teguran (azab). 


Jika kamu merasa selama ini tidak pernah melanggar aturan Allah dalam mencintai dia, selamat berarti Allah sedang mengujimu. Ia ingin kamu naik ke derajat yang lebih tinggi. Tidak ada hal paling indah yang bisa kamu lakukan selanjutnya, selain shalat dan bersabar.


Tapi, coba pikirkan lagi, ingat-ingat lagi. Mungkin benar kamu tidak melanggar aturan Allah, misalnya tidak pernah berduaan dengan si dia, tidak pernah coba-coba PDKT dan sejenisnya. Ayo ingatlah kembali, terkadang tanpa sadar kita telah mencintai seseorang melebihi cinta kita pada Allah. Bahkan saat shalat pun yang diingat adalah dia, dan bukan Dia. Ketika makan, membaca, bekerja, semuanya adalah tentang dia. 


Kamu bermimpi hal-hal indah bersamanya, namun tidak sekali pun bermimpi tentang Jannah-Nya.  Kamu cemas suatu saat tidak bisa melihatnya, dan tidak sekali pun mencemaskan apa yang akan terjadi di hari pembalasan. Bukankah ini sangat egois? Jadi ketika Allah menjatuhkan luka dan kesedihan ini padamu, kamu sama sekali tidak punya alasan untuk menuntut Allah. Ini teguran yang indah dari-Nya, agar nanti kamu bisa lebih bijak lagi tatkala mencintai.

#Wudhu dan Shalat


Ketika sebuah musibah datang, ketika kesedihan merampas segala kantung kebahagiaan dalam jiwamu, langkah pertama yang paling bijak dilakukan seorang Muslim adalah berwudhu lalu menunaikan shalat. Sentuhan air di kulit akan membuatmu sedikit lebih segar, selanjutnya dengan shalat kamu bisa mendapatkan sedikit ketenangan.
Hal ini bukan berarti kepedihan di hatimu seketika lenyap. Derajat keshalihan kita belum sampai ke sana. Pasti masih sangat sedih dan perih, tapi shalat membuatmu bisa berpikir jernih, tidak mengarah pada tindakan gila seperti minum satu botol pil tidur atau terjun dari jendela. 
Sahabatku bilang, setelah shalat, kita hanya ingin berbaring, menangis dengan tenang, diiringi lisan yang terus mengingatkan untuk bersabar.  Bukankah Allah pernah berfirman, “Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu”?

#Ingatlah Kisah Rasulullah SAW


Bukan hanya kamu seorang yang ditimpa musibah dan kesedihan di dunia ini. Jika kamu merasa menjadi satu-satunya orang yang paling menderita, cobalah ingat lagi kisah-kisah terdahulu. Jika kamu bertanya, siapakah orang-orang yang diamanahi ujian paling dahsyat? 


Tentu jawabannya adalah para nabi dan rasul. Tentang Ayyub yang terus dilanda bencana bertubi-tubi, mulai dari harta yang terbakar tanpa sisa, ternak yang mati, rumah-rumah runtuh, anak-anak yang tertimpa bangunan, penyakit mengerikan, dikucilkan selama bertahun-tahun, hingga ditinggalkan istri yang paling dicintai. 


Lalu sudahkah kamu lupa bagaimana Rasulullah saw menghadapi derita demi derita? Ia yatim sejak dalam kandungan. Lalu ibunya meninggal saat usianya masih sangat kecil. Kemudian kakek yang ia sayangi juga wafat ketika umur Muhammad masih 8 tahun. Tenang, ia masih punya paman, Abi Thalib, yang selalu melindunginya. 


Ternyata Abi Thalib juga dipanggil Allah saat Nabi masih sangat membutuhkannya, tak lama disusul Khadijah, istri yang begitu ia cintai. Sempurna sudah kehilangan yang dialami Nabi. Para kafir Qurays pun semakin leluasa untuk menyiksa, memboikot, bahkan berusaha membunuh Nabi. Beliau kemudian berniat hijrah ke Thaif, namun sayang ia justru mendapat perlakuan buruk. Masyarakat Thaif justru melemparinya dengan batu hingga tubuh kekasih Allah itu berdarah-darah. 


Bandingkanlah ujian demi ujian yang dilalaui Nabi dan Rasul dengan ujian yang kamu alami sekarang? Sebanding?


“Ah, tapi Rasulullah kan tidak pernah merasakan kekecewaan karena cinta sepertiku?”


Oh iya? Justru Rasulullah mengalami kekecewaan seperti itu jauh sebelum ia menerima perlakuan buruk dari kaumnya. Sebagian kamu mungkin belum tahu kisah ini, tapi aku pernah membacanya dalam biografi terpercaya mengenai Rasulullah. 


Dalam buku tersebut diceritakan, bahwa sebelum mengenal Khadijah, Muhammad pernah menyukai seorang wanita yang tidak lain adalah anak pamannya, Abi Thalib. Ia pun mengutarakan niat baik untuk menikahi wanita itu pada sang paman. Tapi sayang, wanita itu justru dinikahkan dengan pemuda lain.


Nabi kecewa? Tentu saja. Tapi beliau tidak berlarut-larut. Beliau percaya bahwa cinta kepada sesama manusia tidaklah sebanding dengan cintanya pada Dzat yang Maha Sempurna. Hingga akhirnya Allah mempertemukannya dengan Khadijah, seorang Muslimah terbaik yang terus disanjung-sanjung dan menjadi suri tauladan hingga kini. 
Begitulah, teman. Jika dia tidak ditakdirkan berjodoh denganmu, bukan berarti kamu itu buruk. Ini sudah ketetapan, dan ingatlah bahwa 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi, Dia sudah terlebih dahulu menuliskan takdir manusia.

#Jangan Langsung Menghapus Fotonya

Di jaman secanggih sekarang, mustahil kamu mencintai seseorang tanpa menyimpan fotonya. Mengaku saja, kamu pasti langsung men-download setiap foto yang baru ia share di media sosialnya. Iya, kan? Jadi sudah pasti kamu juga punya sebuah folder yang khusus berisi foto-foto si dia.

Lalu, begitu kamu tahu dia akan menikah sebentar lagi, apa kamu akan segera menghapus semua fotonya? Bukan hal yang salah jika foto-foto tersebut dihapus, tapi aku menyarankan, sebaiknya jangan. Untuk sementara pindahkan saja folder tersebut ke ruang paling sulit terjangkau di laptopmu. Misalnya dalam sebuah folder di drive C, sehingga folder tersebut tidak tertangkap mata tiap kali kamu membuka laptop. 

Suatu hari di masa depan, pasti ada masanya kamu bisa mengikhlaskan dengan sepenuhnya. Lalu ketika masa itu datang, kamu akan memiliki sebuah cerita untuk diceritakan pada sahabat, buku, atau mungkin suamimu di masa depan. Indah rasanya mengenang saat dulu kamu begitu semangat mengumpulkan foto demi foto tersebut.

Seperti sahabatku, setelah lima bulan berlalu, kini ia sempurna bisa melupakan cintanya pada si lelaki. Sehari lalu dia menunjukkan foto-foto si lelaki yang pernah ia download sejak pertama kali jatuh cinta. 

Ia begitu antusias menerangkan ini dan itu mengenai yang dilakukan si lelaki dalam foto. Begitu sampai pada sebuah foto yang menampilkan si lelaki dan sang istri, sahabatku tersenyum. Ia sentuhkan ujung jarinya ke wajah si wanita dalam foto.

“Inilah istrinya, Sof. Cantik, ya? Mereka sangat serasi. Beberapa hari lalu aku memberanikan diri menjenguk instagramnya, lalu menemukan banyak foto tentang ia dan sang istri. Alhamdulillah aku tidak lagi sedih. Justru sangat senang melihat mereka hidup bahagia saling mencintai. Kamu tahu, Sof, sampai sekarang aku masih berdoa untuk kebaikannya dan istri. Semoga mereka dikaruniai anak yang shalih-shalihah, yang menjadi penyejuk mata dan hati.”

Ah, hingga detik ini aku masih saja terkagum-kagum pada sahabatku yang satu ini.

#Jangan Mengurung Diri Terlalu Lama


Kamu boleh mengurung diri selama satu hari pertama. Karena biasanya puncak kesedihanmu berada di sana. Jika mengunci pintu kamar dimaksudkan untuk menenangkan diri, menangis, dan intropeksi, itu bukan masalah. Yang jadi masalah adalah ketika kamu malah bunuh diri di dalam sana. 

Setelah satu hari di dalam kamar, ini akan menjadi awal yang baik bila esok kamu bisa tampil ceria di depan keluarga dan teman-teman. Mandilah dan basahi rambut, ini akan membuat saraf-sarafmu yang lemas setelah digunakan untuk menangis bisa kembali segar. 

Lalu gunakan pakaian yang berwarna segar. Gunakan make up tipis agar wajahmu terlihat segar. Selanjutnya keluarlah dari kamar dan lakukan aktivitas seperti biasanya. Hari ini kamu bisa mengambil alih tugas ibumu untuk memasak, mengundang teman-teman makan siang di rumah, atau mengajak mereka pergi camping. 

Kegiatan seperti duduk sambil menikmati secangkir teh di cafe yang asri, atau menghabiskan waktu book shop, juga bisa mengurangi beban pikiranmu.
Jadi hilangkan persepsi bahwa kesedihan itu harus diiringi dengan menyendiri di dalam kamar. Kamu boleh menyendiri, tapi menyendirilah dengan ilegan. Duduk seorang diri di book cafe sambil membaca novel terbaru justru akan me-refresh kepalamu. 

#Kedepannya, Jika sudah Mantap, Segera Nyatakan!


Memendam cinta bukan hal yang terlarang, justru lebih baik dibandingkan mengumbarnya dengan aktivitas pacaran. Jika cinta datang saat umurmu masih belasan tahun atau masih di periode labil, cobalah untuk mengabaikan. Penuhi hari-harimu dengan kegiatan positif sehingga perlahan rasa cinta itu akan memudar. 

Semua orang tua pasti sepakat, cinta di usiamu itu hanya lelucon bagi mereka. Jika kamu berkata sudah bertemu cinta sejati di umur 14 tahun, bersiaplah untuk ditertawakan orang dewasa. Semakin bertambahnya umur, kelak pula kamu akan menertawakan diri sendiri. 

Hanya saja terkadang usia tidak bisa dijadikan standar kematangan seseorang. Kamu kenal Fatih Seferegic, pemuda Amerika yang hapal 30 juz Al Quran di luar kepala itu? Nah, dia menikah di usia 18. Secara umum memang usia belasan masih dikatakan labil secara emosional, namun tidak semua.

Jika cinta itu datang saat usiamu sudah siap, segera nyatakan bahwa kamu ingin menikah dengannya. Inilah yang disarankan oleh Syeikh kenamaan Zakir Naik dalam sebuah video yang kutonton. Dengan menyatakan, kamu akan segera memperoleh titik terang: ia bersedia menikah denganmu, atau tidak bersedia karena sebuah alasan. 

Jika dia bersedia, bersyukurlah. Namun jika tidak, itu berarti dia akan menemukan jodohnya, dan kamu akan menemukan jodohmu. Jawaban terang seperti ini tidak membuatmu berlarut-larut pada sesuatu yang tidak pasti. Jika memang tidak berjodoh dengannya, kamu pun bisa segera memulai untuk melupakannya. Suatu hari kamu pasti akan bertemu seseorang yang Ditakdirkan Allah sebagai jodohmu.

Lots of love

Sofia