Monday, 17 April 2017

Inilah Baiknya

Mungkin kita harus belajar,
Bagaimana caranya jatuh cinta dengan biasa saja.
Mungkin masih ada banyak yang harus dievaluasi kembali,
Tentang salahnya cara kita berkomunikasi.

Mungkin benar, kita harusnya tak saling tahu apa-apa,
Karena terkadang, sedikit masuk ke hatimu, justru berujung sengsara.
Tak masalah,
Aku di sini sedang belajar,
Belajar menjalani kehidupan seperti sebelumnya,
Belajar menghargai apa-apa yang ada,
Belajar meninggalkan semua cerita tentangmu yang tak seberapa itu,

Sebaiknya kita jalani kehidupan masing-masing seperti dulu lagi. Anggap saja tak pernah ada cerita yang tertulis, baik dari sisiku atau sisimu.

Jika nanti bertemu lagi, dan hati kita masing-masing masih tak berubah, insyaAllah akan ada jalannya.
Tapi, siapa tahu, salah satu atau mungkin kita berdua masing-masing sudah menemukan rumah yang lebih nyaman, mungkin begitulah baiknya.

Terkadang jatuh cinta padamu terasa begitu menyakitkan. Dan aku ingin keluar dari rasa sakit itu. Aku hanya tak habis pikir, kenapa perasaan harus tumbuh begitu terlambat? Sekian tahun kebersamaan, tak tahunya ada apa-apa yang memaksa untuk selalu teringat padamu, menunggu pertemuan, atau ada juga rindu. Hanya saja, aku tak setegar itu.

Jika tidak, maka akan lebih baik berlari putar haluan. Sebelum semuanya terlalu jauh. Aku pernah sakit satu kali, luka yang membuat duniaku terasa tak indah lagi, dan mungkin karena itulah aku hanya berusaha agar tak ada kejadian serupa yang terulang.

Hiduplah dengan baik, berdoa lebih banyak, semoga rindu di antara kita tak lagi terasa pedih. Semoga kita bisa bersikap dewasa dan biasa saja. Semoga selama menjalin hubungan ini tak ada norma-norma yang diabaikan. Semoga semuanya tetap diberkahi yang Maha Kuasa.

Aku berusaha menjaga itu, dan semoga kamu. Mulai hari ini aku akan sangat jarang menulis untukmu. Tapi kita bisa berteman seperti dulu. Dan aku berharap tak ada lagi kecanggungan di antara kita.

Sunday, 16 April 2017

5 Travel Tips yang Wajib Diketahui Muslimah



photo by: @elifkubragenc

Aku suka traveling. Meskipun sejauh ini belum banyak tempat baru yang dikunjungi, setidaknya aku tahu lah bagaimana rasanya traveling ke negeri orang. Nah, berdasarkan pengalaman itu pula, aku mengamati ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan baik-baik oleh traveler Muslimah. Tidak jarang hal berikut menjadi masalah terbesar yang nantinya akan menyulitkan selama di tempat baru. Apa saja itu?

1/ Semua Dibawa, tidak Semua Dipakai

Ya, ini aku banget. Tiap kali mau bepergian ke mana pun, termasuk tempat wisata paling dekat semacam Kepulauan Seribu, aku selalu membawa pakaian yang berlebihan. Meskipun perjalanan hanya menghabiskan waktu sekitar 3 hari, namun pakaian yang dibawa bisa sampai satu koper penuh. 

Waktu ke Macau beberapa waktu lalu, aku memang tidak membawa koper besar. Tapi sama saja, banyak pakaian yang akhirnya tidak terpakai. Ini semacam mubazir. Sudah capek membawa, eh hanya menumpuk di dalam koper.

Hal seperti ini tidak boleh terus dibiarkan, karena akan terus membebani kita dengan bawaan berat yang tidak ada manfaatnya. Sebagai solusi, coba pilih dua pakaian yang dijadikan sebagai center outfit. Misal, dua celana dan kaos berwarna basic. Selanjutnya mereka bisa digunakan berkali-kali dan dikombinasikan pakaian lainnya, sehingga tidak terlihat itu-itu saja.

Aku beri contoh, hari ini kamu memilih celana warna putih, kaos krem, dan outwear warna cokelat. Nah untuk besok, kamu bisa menggunakan celana hitam, kaos krem (lagi), namun dilengkapi dengan blazer. Walaupun kaos krem sudah digunakan dua kali, tidak akan ada yang menyadari bahwa itu adalah kaos yang kamu pakai kemaren. 

Ini adalah trik para traveler yang tidak mau membawa banyak pakaian dengan alasan kemudahan. Namun untuk kamu yang tidak punya masalah dengan koper berat, it is no problem if you bring all ouf your stuff from the cup board. Hihi


2/ Take A Selfie

Wanita selalu ingin tampil lebih dari biasanya, terutama kalau sudah di tempat baru. Alasannya is so simple, supaya bisa terlihat dua kali lebih cantik dalam foto yang mau diupload ke facebook. Demi hal ini, banyak wanita yang mau bepergian dibuat sibuk belanja pakaian baru.

Mereka lalu menyusun semua pakaian dalam koper. Pokoknya semua pakaian bagus harus dimasukkan. Tapi mereka tidak sekalian mencoba outfit tersebut. Akibatnya mix and match pun dilakukan begitu sampai di tempat tujuan. Mengaku saja, siapa yang pernah mengalami kamar hotel terlihat seperti toko obral tiap pagi hari? Semua pakaian dari dalam koper dikeluarkan, kemudian dicoba satu per satu.

Aku sendiri sering seperti ini. Biasanya aku akan menggerutu sendiri, “Kenapa baju ini dibawa sih? Padahal waktu di rumah saja nggak pernah dipakai karena agak kekecilan.” Ya hanya karena baju tersebut baru dan jarang dipakai, aku pikir bisa dipakai nantinya. Tapi tetap saja, baik itu di rumah atau di tempat baru, baju itu tetap saja kekecilan.

Untuk mengatasi kejadian seperti ini, akan lebih baik saat packing kamu ber-selfie terlebih dahulu. Kamu bisa mengenakannya langsung lalu menghadap ke cermin besar, atau bisa juga membentang pakaian di atas lantai. Coba kombinasikan hingga memperoleh sebuah perpaduan yang cocok. Ingat baik-baik hasil mix and match tersebut lalu terapkan begitu sampai di tempat tujuan. 


3/ Pakaian Persediaan dalam Hand Bag

Saat penerbangan ke Hong Kong beberapa waktu lalu, aku menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam di dalam pesawat. Tiba di bandara Hong Kong tepat di pagi hari. Jadi aku persis orang yang baru bangun pagi. Kucel, muka ngantuk, kulit kusam, serta pakaian dan hijab yang kusut.

Waktu itu aku tidak berganti pakaian dan hijab dengan alasan malas bongkar koper. Akibatnya, di perjalanan selanjutnya aku sampai ingin menangis karena badan terasa panas. Kalau kamu pernah jalan-jalan di siang hari, padahal belum mandi pagi, pasti tahu seperti apa rasanya. 
">Sebagai solusi, jika perjalanan menuju tujuan wisata membutuhkan waktu panjang, sebaiknya siapkan pakaian persediaan di dalam tas. Begitu sampai, kamu bisa mandi (jika sempat), berganti pakaian dan hijab, tanpa harus bongkar koper. Hal ini akan membuatmu tampil lebih fresh dan percaya diri.


4/ Tidak Ada Setrika tidak Masalah

Kebanyakan wanita selalu mencari setrika di hotel tempat menginap. Memang banyak hotel yang menyediakan setrika, tapi ada juga lho (termasuk hotel berbintang) yang tidak memiliki iron service ini. Benar kamu bisa menggunakan loundry service yang lebih mudah, tapi tentu menuntut uang lebih banyak. Jika kamu tidak masalah dengan ini, it’s okay.

Tapi untuk kamu yang memikirkan budget, waktu, dan sebagainya, aku punya trik favorit untuk menghilangkan kusut pada pakaian. Caranya dengan menggantung pakaian di kamar mandi, putar shower hingga full ke bagian merah (artinya air panas), pastikan uap air panas itu menjangkau pakaian tapi tidak membasahinya, kemudian tutuplah kamar mandi. Cara ini diakui para traveler sebagai cara ampuh untuk menghilangkan kusut tanpa setrika. 


5/ Sajadah, Mukena, dan Penunjuk Arah Kiblat

Ya sebagai Muslimah tentu jangan mentang-mentang lagi traveling, lalu shalat dilupakan. Untuk sajadah dan mukenah, ini perlengkapan wajib. Baik untuk traveling di dalam maupun luar negeri. 

Pilihlah sajadah yang tipis, begitu juga mukena (namun tidak terawang). Untuk sajadah, terkadang aku sendiri memanfaatkan satu lembar kerudung, sedangkan mukena, aku masih setia dengan mukena parasut sebagai teman perjalanan. 

Untuk penunjuk arah kiblat, kamu bisa mendownload aplikasinya di ponsel. Jamannya teknologi, jadi tidak ada lagi alasan shalat menghdap ke sembarang arah akibat tidak tahu kiblat.

Friday, 14 April 2017

Untuk Sesuatu yang Tak Begitu Dipahami


Karena soal perasaan adalah satu hal yang tak begitu kupahami. Terkadang, menebak arah perasaan sendiri aku masih sering kebingungan. Terlebih perasaan pada seseorang yang tak memiliki kejelasan. Pada hakikatnya makhluk bernama wanita tak lah sepolos itu. Terkadang, meski merasa, kami lebih memilih berpura-pura tak paham apa-apa. Karena inilah satu-satunya langkah aman yang paling mungkin. Terkadang lagi, wanita hanya malas memikirkan terlampau jauh, terlebih bagi mereka yang pernah hancur hatinya. Karena apa? Karena mereka takut hancur untuk kedua kali. Pada suratmu yang bertumpuk itu (ah, bahkan kau menulisnya untuk banyak orang), aku hanya tak mengerti cara membalasnya. Akhir-akhir ini aku hanya malas berharap. Tak jarang berharap pada manusia hanya berujung luka. Biarlah berjalan apa adanya. Bukankah kau pernah berharap akan lebih baik jika semua kembali seperti sedia kala. Ya, kurasa sekarang harapanmu itu telah menjadi nyata.

Tuesday, 11 April 2017

Selain tentang Cinta




Hari ini mendung menggelayut di langit kota. Sejak pagi aku tidak melihat matahari menampakkan cahaya emasnya. Hanya ada semburat putih yang menyeruak dari gumpalan awan kelabu. Aku yang seharian menghabiskan waktu di apartemen sambil membaca beberapa buah jurnal kesehatan, akhirnya merasa bosan.

Di tengah kebosanan itu, aku berjalan menuju jendela dengan secangkir teh di tangan. Aku melirik ke bawah. Seorang wanita paruh paya tampak kesusahan membawa barang belanjaan, dan di sisi lain aku melihat anak-anak yang sedang bermain bola. Sementara di ujung jalan, ranting-ranting magnolia mulai mengeluarkan bunga-bunganya berwarna pink. 

Ah, sekarang sudah merangkak ke pertengahan musim semi. Aku hampir saja lupa. Di musim seperti ini, tulip-tulip yang ditanam di taman kota pasti sudah mulai berbunga, menciptakan hamparan warna-warni yang sayang untuk dilewatkan. Tapi lihatlah pada mendung yang menggantung di atas itu? Sesuatu yang membuat bibirku kembali terlipat. Aku yang sedetik lalu sudah membuat rencana untuk berjalan keluar, tiba-tiba didera kekecewaan.

“Mariam! Mariam! Kau di dalam?” seseorang memanggil dari luar. Dari suaranya seperti aku sudah tahu siapa dia.

“Alena? Kaukah itu?” aku berjalan menuju pintu.

Sebuah senyuman lebar mengembang ketika mata kami bertabrakan. Ya, benar Alena. Tanpa dipersilahkan pun dia sudah mengeloyor masuk.

“Aku bawakan noghut corbasi untukmu. Ayo dimakan mumpung masih panas. Tadi aku beli di restoran depan sana.” Alena langsung menuju dapur, mengambil dua buah mangkok.

Aku yang duduk di sofa hanya memperhatikan gerak-geriknya yang lincah.  

“Alena...” aku mengeluh. “Kau selalu membawakan makanan ini untukku.” Entahlah, akhir-akhir ini mungkin lidahku sudah jenuh dengan makanan penduduk negara ini. Aku merindukan makanan Indonesia yang bahkan bisa membuat berkeringat saat melahapnya.

“Hey!” Alena keluar dari dapur, tidak terima pada kekesalanku. “Sup ini baik untuk tubuhmu. Kudengar chikpea sangat bagus untuk dikonsumsi di masa kehamilan atau anak di usia pertumbuhan.” Dia nyengir. Lelucon yang ganjil.

Aku kembali mengeluh. “Alena yang baik, aku bukan anak-anak lagi. Dan aku tidak sedang hamil.”

Tetap saja, Alena tidak pernah mau menggubris penolakanku. Dia justru duduk dengan manis, kemudian meniup sesendok sup lalu menyodorkan ke depan bibirku.

“Ayo buka mulutmu. Ini enak sekali.” Katanya dengan mata berbinar.

“Kau selalu memaksaku.” Mau tak mau aku pun membuka mulut.

Sup yang berbahan utama chikpea atau yang dikenal dengan kacang arab ini terpaksa kukunyah. Rasanya sedikit asam karena dicampur dengan pasta tomat dan bawang bombay. Yang membuat sup ini terasa gurih ya karena daging cincangnya. Kurasa kunci lezat tidaknya sup ini juga terletak pada teknik perebusan daging. Ah, entahlah. Aku hanya menerka.

“Sudah, Alena. Aku mual. Sungguh. Akhir-akhir ini perutku tak begitu bersahabat dengan makanan di sini. Mungkin karena aku begitu merindukan makanan Indonesia. Sejak malam tadi aku terus membayangkan nasi hangat, sambal terasi dan lalapan.” Aku cemberut.

Alena diam beberapa saat, tapi kemudian bergegas bangkit dari duduknya.

“Ayo belanja. Kita bisa masak di sini. Kau masih menyimpan terasi?”

Akhirnya kami memutuskan untuk keluar selama beberapa menit. Beruntung apartemenku tidak terlalu jauh dari pusat perbelanjaan. Tak lama kemudian kami sudah kembali membawa bahan masakan.

“Kau masih ingat Safiye?” tanya Alena saat kami sibuk di dapur.

“Dia temanmu yang kuliah di Uludag itu, kan? Rasa-rasanya aku masih ingat. Kenapa dia?”

“Minggu lalu dia menikah. Aku ingin mengajakmu datang ke pesta pernikahannya. Tapi kurasa kau tak akan mau menempuh perjalanan jauh. Jadi aku hanya datang berdua dengan Ahmed.”

“Baguslah. Sampaikan ucapan selamat dariku.” Responku datar.

“Dia dan suaminya saling mencintai. Ternyata mereka saling mengagumi satu sama lain sudah sejak lama. Hanya keduanya sama-sama diam. Suaminya bernama Osman, asli Istanbul. Seorang pengacara. Mereka bertemu di kampus. Tiba-tiba dua hari setelah Safiye wisuda, Osman mendatangi rumahnya.” Alena bersemangat menceritakan kisah Safiye.

“Baguslah.” Responku singkat.

“Kau kenapa, Mariam?” kini Alena menoleh ke arahku, memandang dengan tatapan cemas.

“Kau ingin aku jujur?” aku mengambil napas, “Berhentilah menceritakan kisah cinta padaku, Alena. Kau sudah tahu itu. Percuma, aku tak percaya ada dua orang yang bisa saling mencintai di dunia ini. Sejauh ini aku hanya menyaksikan banyak kisah cinta yang menyakitkan. Bahkan beberapa kali aku dihantui mimpi buruk, menikah dengan seseorang yang sama sekali tak kusukai.” Aku tersenyum getir. “Aku bahkan tak percaya akan menikah suatu hari nanti. Jadi kumohon, carilah cerita lain yang lebih menarik selain kisah cinta.”

“Mariam, Sayang...” Alena menatapku. “Selama kau tak bisa melupakan lelaki itu, maka kau akan terus dihantui cinta yang menyakitkan. Ayolah lihat di sekelilingmu, ada banyak hal-hal indah. Kau terlalu fokus pada luka itu.”

Mataku berair. Aku meninggalkan Alena untuk kemudian duduk di sofa. Alena menyusul, duduk di samping.

“Kau bisa bilang begitu karena kau tak pernah mengalami sendiri. Aku pernah jatuh cinta. Sekali. Cinta yang membuatku menanti hari esok, yang membuatku begitu bersemangat, yang membuat hari-hari terasa dua kali lebih indah. Cinta yang sederhana, Alena. Tapi kemudian cinta sederhana itupun harus berakhir dengan sederhana, dia menikah dengan wanita yang ia cintai, dan wanita itupun mencintainya. Kemudian hal sederhana yang paling mungkin untuk kulakukan adalah berbahagia untuknya. Bahagia yang menyakitkan. Bahkan hingga hari ini aku masih berharap Tuhan sudi mempertemukan kami, walau sebentar. Ya, mungkin jika dunia ini terlalu singkat sehingga Tuhan kesulitan mencari waktu yang tepat untuk pertemuan itu, kuharap di kehidupan selanjutnya Tuhan mau sedikit berbaik hati padaku.”

“Mariam, jika Tuhan berkehendak, jangankan pertemuan, kebersamaan kalian pun adalah hal mudah bagi-Nya. Kau tak bisa bersama dia, itu karena sudah kehendak-Nya. Sudahlah, lupakan dia. Kau telah banyak mengabaikan hal-hal baik di dunia ini hanya karena sibuk meratapi luka itu. Menganggap kaulah yang paling tersiksa di dunia ini. Masih ada banyak hal yang bisa kau kerjakan daripada harus berlama-lama dalam kubangan patah hati, Mariam.”

“Kau benar.” Aku mengangguk. “Minggu depan aku akan ikut tim relawan ke perbatasan. Aku juga sudah mendaftar di sebuah organisasi amal yang berfokus di bidang penyaluran dana untuk anak-anak korban perang. Di sana kami akan membangun pemukiman layak bagi mereka. Seperti katamu, masih ada banyak hal yang bisa aku kerjakan daripada harus berlama-lama dalam kubangan patah hati.”

“Mariam?” Alena kaget. Tidak percaya. "Bukan begitu maksudku." Ia menampakkan wajah bersalah.

“Kau tenang saja. Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang. Aku akan berusaha rutin mengunjungimu.”

Ya, aku tidak berbohong. Minggu depan aku memang akan berangkat. Seorang teman asal Australia bersedia menjemput. Semuanya bermula dari satu malam dimana aku menangis sambil melihat satu per satu foto lelaki itu. Juga foto pernikahannya. Tapi kemudian seorang teman mengirim sebuah foto. Dalam foto itu terlihat seorang wanita Barat berhijab rapat sedang menyalurkan bantuan bagi wanita dan anak-anak korban perang. Mereka adalah para janda dengan beberapa anak yang bahkan rumah mereka telah hancur. Tak ada kasur hangat, tak ada televisi, tak ada hiburan, beberapa keluarga bahkan baru saja tewas kemaren lusa, lalu ada anak-anak yang menatap dengan wajah menahan lapar. Sementara aku di sini, juga mungkin kebanyakan kaum muda, terlalu khusyuk masyuk dengan urusannya sendiri: cinta! Mereka bermimpi akan ada lelaki bak pangeran yang akan datang dengan sikap dingin namun perhatian, seperti dalam drama kebanyakan. Tapi setelah mereka terbangun, yang didapati adalah kisah cinta yang nyilu, tak sesuai harapan, atau uluran tangan yang tak bersambut. Mungkin sudah saatnya aku meninggalkan khayalan yang dibuat manusia tentang cinta, tentang tak ada kebahagiaan yang lebih indah melebihi kebahagiaan cinta. Karena pada kenyataannya, faktanya, di dunia ini masih ada banyak hal menyakitkan yang membutuhkan uluran tangan dan sedikit kepedulian. 

*I think it will be the main idea for my upcoming novel. Sebenarnya inspirasi terbesar itu dari organisasi non profit bernama  one solid ummah yang saat ini terus menyalurkan dana untuk anak-anak yatim piatu di Syria. Founder-nya Abdullateef Khaled terus update perkembangan terbaru mereka on the spot. Kadang suka speechless aja, di tengah kehidupan jaman sekarang yang sayang dilewatkan, masih ada orang-orang yang setiap hari berjuang untuk kehidupan orang lain, untuk membahagiakan orang lain. Sering nangis, tapi nangis untuk diri sendiri yang lebih banyak ngurusin hal-hal gak penting, padahal di luar sana masih banyak hal yang membutuhkan perhatian kita. 

Monday, 10 April 2017

[WANTED] A Man Who Loves to Read



Menurut survei UNESCO, hanya satu dari seribu orang membaca secara serius di Indonesia. Bila dihitung secara kasar, hanya ada 250.000 pembaca di antara 250 juta jiwa. Jadi tidak mengherankan kalau bangsa yang tingkat literasinya sedemikian rendah memiliki kecenderungan  untuk membaca berbagai hal secara literal. Tidak mengherankan juga kalau ada perempuan yang masih jomblo karena kriterianya dalam mencari pasangan hidup adalah siapapun lelaki itu, ia juga harus gemar membaca. 

Mari kita mencongak sedikit. Dari 250.000 pembaca itu, anggap saja setengahnya adalah perempuan. Kurangi setengahnya lagi, karena kemungkinan mereka berada di demografi lelaki berusia di bawah umur yang belum doyan perempuan atau lelaki usia tidak produktif. Lanjut kurangi lagi jumlahnya dengan lelaki yang sudah berumah tangga. Terakhir, kurangi lagi setengahnya dengan lelaki yang tidak doyan perempuan. Sudah? Tebak sisanya berapa. 

Hanya tersedia 15.000 lelaki (available) yang gemar membaca untuk satu bangsa.

Tidak heran perempuan tersebut masih jomblo. Ia  yang hanya bisa dirayu dengan kata-kata, luluh dengan bahasa, dan gemetar dengan majas yang digunakan secara sempurna tidak akan tertawan oleh lelaki yang tidak suka membaca. Agak susah, misalnya, ia bisa jatuh hati dengan lelaki yang mengirimkan WhatsApp dan tertawa dengan mengetik ‘wkwkwkwk’ seperti Donal Bebek. Tidak mungkin juga ia bisa terpesona dengan lelaki yang hanya bengong sementara ia tertawa terpingkal-pingkal dari awal hingga akhir saat menonton Zootopia dan humor sarkastik di sepanjang film itu. Sarkasme tidak akan bisa ditangkap oleh mereka yang literal. 

Kadang ia berpikir bahwa ia mungkin menginginkan terlalu banyak dari satu lelaki. Setia, pekerja keras, berbakti kepada orang tua dan ngga neko-neko sudah jauh dari cukup bukan? Cari suami yang “polos” adalah nasehat yang didengungkan oleh para tante yang khawatir kepadanya yang masih saja sendiri. “Polos” dalam Bahasa Bali berarti ketiga kriteria tadi di atas. Tapi ia selalu berpikir, harusnya ada yang lebih dari sekedar tiga kualitas itu saat mengatakan “saya bersedia” di hadapan Tuhan dan keluarga bukan?

Harusnya ada pertanyaan “buku apa yang sedang kamu baca hari ini?” saat ia dan lelakinya bertemu saat makan malam. Harusnya ada juga kunjungan rutin pada setiap akhir minggu ke toko buku yang dilanjutkan dengan sesi membaca di antara long black dan cafe latte. Harusnya lagi, ada hari Minggu dimana ia dan lelakinya dapat menyelesaikan teka-teki silang dan memutuskan untuk diam di rumah dengan koran-koran yang berserakan di kamar. Harusnya ada tawa, saat si lelaki tiba-tiba terkekeh di tengah bacaannya dan berkata,”Sayang, coba dengar...”lalu ia bacakan paragraf yang tadi membuatnya terbahak untuk membuat si perempuan ikut tertawa. Harusnya ada malam dimana si perempuan menemukan lelakinya tertidur dengan buku di dadanya dan sinar lampu di wajahnya,  dan bahwa di samping tempat tidur mereka, ada tumpukan buku yang sama tingginya.

Ia tahu mencari lelaki “polos” jauh lebih mudah daripada lelaki yang tergila-gila oleh kata. Ia tahu tidak banyak lelaki seperti itu di Indonesia. Tapi, ia juga tahu bahwa lelaki yang suka membaca mempunyai dunia yang lebih kaya dan hati yang lebih peka. Ia tahu lelaki yang suka membaca adalah lelaki yang suka belajar, selalu penasaran, dan berpikiran terbuka. Ia tahu bahwa lelaki yang sanggup menyelesaikan buku setebal seribu halaman akan mampu bersabar saat ia sedang mengalami siklus bulanannya dan menggerutu kemana-mana. Ia tahu lelaki yang suka membaca akan senantiasa menantangnya dalam berpikir, bahwa mereka akan berargumentasi dan berbeda pendapat, hingga akhirnya mereka bersepakat dalam ketidaksepakatan. Ia tahu lelaki yang suka membaca akan menghormati pemikirannya dan menghargai perasaannya. Ia tahu, mereka akan saling memberi ruang untuk berkembang dan bertumbuh bersama. 

Kini, yang perlu ia lakukan hanyalah menemukan lelaki itu di antara kelangkaan 15.000 kaumnya.

                   *Thanks for Mbak http://www.evetedja.com for this bombing article. I do agree, haha

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...