Sunday, 1 October 2017

Surat Musim Gugur



 

Terimakasih untuk persinggahanmu yang sebentar. Bagaimanapun, engkau pernah menjadi bunga musim semi yang selama beberapa saat menghiasi hari. Namun layaknya musim semi, bunga-bunga itupun hanya memanjakan sekejap mata. Ketika sampai masanya, musim akan berganti. 

Cinta tak pernah bisa gugur. Tapi harapan, ia bisa kapan saja meninggalkan ranting-ranting hati yang sudah tak sanggup memintanya bertahan. Daun-daun harapan itu satu per satu menuju tanah, hingga kemudian menyisakan rerantingan yang kosong. 

Kasihku padamu, mungkin ia akan selalu ada. Di sini. Di dalam hati. Sama seperti kasihku kepada Mustafa, atau beberapa nama lelaki lain yang pernah sekadar singgah sejenak. Namun selamanya nama-nama itu menempati ruang-ruang di hati. Mereka yang namanya tak mungkin pernah terhapus dari ingatan.

Lalu, apakah yang tak lagi kumiliki untuk mereka? Juga untukmu?

Itu adalah sesuatu bernama harapan.

Ketahuilah, ketika seseorang memutuskan untuk berhenti mencintai, sebenarnya bukan cinta itu yang terhenti, melainkan harapan-harapan yang terputus.

Selamat memasuki musim gugur...

Musim yang tepat untuk mengucap kalimat selamat tinggal. Musim yang tepat bagi kita untuk menanggalkan satu demi satu daun-daun harapan. Di musim ini, aku berdoa semoga Allah ar Rahman memberimu kemuliaan kehidupan di dunia dan akhirat. 

Aku berdoa semoga engkau tidak lagi memperoleh cinta yang rumit. Seperti kita. Yang mungkin apabila bersama tidak akan ada silaturrahim yang baik antara dua keluarga. Yang mungkin apabila bersama, maka akan ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Olehmu juga olehku. 

Aku berdoa semoga kelak pada waktunya, engkau akan menemukan seorang wanita yang mampu membuat hatimu tenteram, yang pada wajahnya engkau mendapatkan naungan keteduhan dan kasih sayang.

Suatu saat kelak, sama seperti mimpiku untuk Mustafa, semoga kita bisa bertemu sebagai sahabat atau kerabat. Mungkin aku akan bersama dengan seseorang yang kucintai dan kumuliakan, demikian pula dirimu. Insya Allah...

Semoga Allah menghimpun kita kelak di akhirat ke dalam golongan orang-orang yang diberi rahmat dan cinta-Nya yang luas.





Tuesday, 26 September 2017

Selarik Doa Tentang Derita Yang Bertubi-Tubi




Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”QS Al Anbiya: 83

Seorang sahabat datang dengan setangkup derita. Padahal, saya ingat, saat itu dua pekan pasca lebaran. Semestinya, sisa-sisa kemenangan masih menyelimuti dirinya. Namun, air mukanya yang keruh, serta matanya yang merah dan sayu mengabarkan setumpuk nelangsa tengah bergemuruh di benaknya. Dugaan saya tidak meleset. Dodi, demikian sahabat saya itu acapkali dipanggil, berkisah:

“Lebaran tahun ini, aku merasa sendirian. Aku benar-benar menderita. Pertama, seminggu menjelang Idul Fitri, aku tergolek sakit hingga dua minggu lamanya. Jelas, aku tidak bisa lebaran dan berbagi bahagia seperti yang kau bayangkan. Kedua, ibuku ketahuan sakit tumor dan harus berobat ke sebuah Rumah Sakit di negeri Jiran, Malaysia, tepat sehari setelah Idul Fitri. Padahal, kau tahu, adik perempuanku yang semata wayang mengidap kanker payudara. Ketiga, awal tahun baru ini, ayahku remi pensiun. Katanya, akulah nanti yang harus ikut bertanggung jawab membiayai sekolah adik-adikku. Dan kau kan tahu, sebagai anak sulung, aku sendiri belum mapan dalam karir dan pekerjaan. Oh iya, satu lagi, bagaimana dengan rencana pernikahanku nantinya? Cobalah kau pikir, Az! Begitu banyak penderitaan yang harus kutanggung. Aku stressssss, Az! Stressss!”

Saya tercekat dengan ceritanya, dengan alur derita hidupnya. Inilah kisah ke sekian kali ihwal kepiluan yang langsung menghujam lubuk saya. Sebelum Dodi, beberapa sahabat saya kerap menuturkan hal yang sama. Dan, kita tahu, sahabat saya ini tidak sendiri. Ia bukan orang pertama yang menyimpan setumpuk nestapa dan derita. 

Nun, jauh sebelumnya, hidup seorang nabi yang juga hidup di tubir kegelapan derita; nabi yang besar di negeri Syria, cicit Nabi Ibrahim alaihissalam, yang sebelumnya tersohor karena hartanya yang berlimpah ruah sehingga membuatnya senantiasa hidup dalam kebajikan berderma. Dialah Nabi Ayyub, putra Ish bin Ishaq, yang membuat masyarakat Hauran dan Tih sangat menghormati dirinya lantaran sikap dermawannya. Mungkin, sebagian Anda pernah membaca kisahnya dan menyerap iktibarnya. Tapi, di tulisan ini, saya ingin menukil secuil hikayahnya.

Konon, iblis menyusun senarai rencana agar Ayyub berpaling dari Ilahi. Karena itulah, siasat pertama, iblis menggoda Ayyub dengan membuat rumah Ayyub terbakar. Seluruh harta bendanya ludes dilahap si jago merah. Begitu pula dengan hewan-hewan ternaknya yang terserang penyakit. Semuanya mati. Ayyub pun jatuh miskin dan melarat. Dua orang istrinya sendiri tak sanggup menemaninya lagi. Yang tersisa hanya Rahmah, istrinya yang paling setia.

Sayang, iblis salah dugaan, Ayyub bukanlah sosok yang imannya payah. Ia masih tetap beriman, meski derita baru saja menimpanya. Maka iblis pun menjalankan siasat kedua. Bersama para pembantunya, iblis membuat rumah anak-anak Ayyub juga terbakar. Yang lebih menyakitkan, semua buah hati Ayyub meninggal tertimbun reruntuhan rumah itu. Otomatis, Ayyub berduka. Air mata berlinang-linang di pelupuknya. Belum pupus sejumput musibah, datang kabar kematian anaknya yang meninggal secara mengenaskan.

Tapi, Ayyub memang seorang nabi, ia tetap tidak berpaling dari iman kepada Allah, ia malah lebih giat beribadah. Iblis pun sangat kecewa, dan siasat ketiga telah disusunnya. Kali ini, ia sengaja membuat Ayyub benar-benar menderita fisik dan psikis. Iblis menebar bermacam kuman pada tubuhnya. Walhasil, Ayyub mendapati sekujur tubuhnya rusak. Kulitnya mengelupas. Segenap belatung menyembul di sela-sela dagingnya. Seluruh penduduk, akhirnya, mengucilkannya. Ia terusir. Ia tersisih bersama istrinya; keluar dari desanya. Dan penyakit menjijikkan itu tidak sebentar merajah di tubuhnya. Konon, bertahun-tahun menggerogoti dirinya.

Sayang, derita bertahun-tahun belum juga menegakkan panji kemenangan di pihak iblis. Ayyub belum goyah. Imannya tetap kokoh dan ibadahnya semakin tak terkira giatnya. Maka, iblis pun menggunakan jurus terakhir; ia menggoda istri Ayyub untuk meninggalkannya. Di sinilah, benteng terakhir Ayyub hampir luluh lantak. Istrinya tak kuat menahan bisikan sang iblis. Ia, akhirnya, meninggalkan Ayyub seorang diri dalam segenap derita.

Ayyub terpuruk, Ayyub terluka, dan Ayyub, alkisah, hanya ditemani Allah ta’ala. Pada titik nadir inilah, selarik doa meluncur dari bibirnya: “Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin” [Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang—QS Al Anbiya: 83]

Sebaris doa itulah yang menemani jiwanya; sebuah kalimat yang menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al Misbahn-nya tidak sebanding dengan penderitaanya. Ibnu ‘Asyur, seperti ditulis Quraish, menjelaskan bahwa kata ‘durru’ yang dipanjatkan Ayyub itu bermakna segala kesulitan yang menimpa diri seseorang. Hal ini mempertegas bahwa besarnya derita yang Ayyub pikul itu beraneka ragam dan begitu panjang masanya.

Hebatnya, Nabi Ayyub alaihissalam, dalam doa tersebut mengatakan kata ‘massani’ yang berarti ‘aku disentuh/tersentuh’, sebuah kata yang menjelaskan kondisi tindakan yang kecil alias sedikit. Kenapa Ayyub, misalnya, tidak mengatakan kata ‘ashaabany’ [aku ditimpa], padahal apa yang ia alami sungguh sangat berat? Tidak hanya itu, di lain sisi, Ayyub malah bermunajat kepada Allah azza wa jalla tanpa sedu sedan dan menggerutu. Ia, bahkan, tiada memohon sebagaimana lazimnya sebuah kidung doa. Beliau hanya menyebut sifat Allah yang paling menonjol, yakni kata ‘wa Anta arhaama rahimin’ seraya memasrahkan diri sepenuhnya pada kehadirat Allah. Sebab, bukankah Dia-lah sumber Maha Mengetahui dan segala Rahmat?

Saya mafhum kenapa kata ‘massani’ yang dipilih Ayyub untuk melukiskan deritanya. Pasalnya, dalam satu riwayat, Ayyub berkata dengan lirihnya kepada sang istri:

“Allah sedang menguji kita. Akankah kita lulus atau gagal dalam ujian ini. Sudah berapa lama kita hidup bahagia?”
“Delapan puluh tahun.” Jawab istrinya ketika tengah bersiap meninggalkan Ayyub seorang diri.
“Lalu, sudah berapa lamakah kita hidup menderita?”
“Tujuh tahun.”
“Itu berarti sabar kita tak sebanding dengan syukur kita.”

Demikianlah, Ayyub memaknai sebuah penderitaan. Ia memandang rasa sabar kita seharusnya berbanding lurus dengan rasa syukur kita. Penderitaan yang kita terima, selayaknya diredam dengan betapa besarnya anugerah yang telah kita dapatkan.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya (menghitungnya). Sesungguhnya manusia itu sangat zamil dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Lalu, kenapa kita lebih banyak meratapi ujian Allah sebagai sebuah penderitaan yang tak pernah usai? Kenapa penderitaan yang kita lewati dalam beberapa waktu saja menghapus ingatan kita akan segala kebaikan-Nya? Kenapa kita sering alpa menzikir-zikir rezeki dan nikmat Allah yang pernah kita dapatkan dari-Nya? Pada posisi inilah, tak aneh bisa Allah ta’ala, kerap meneguhkan, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali melalui jalannya yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya.” (QS Yunus: 12, lihat juga ayat senada pada QS Fushshilat: 51; QS Az Zumar: 8; QS Al Hajj:11)

Mengolah Derita

“Manusia yang memiliki sebuah alasan untuk hidup dapat menahan penderitaan apapun,” begitulah Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang lahir pada tahun 1844 itu pernah berkata. Dan Nabi Ayyub, jauh berabad-abad silam sebelum Nietzsche lahir, sudah terlebih dulu mengalami dan menghitmatinya. Bahkan, menurut hemat saya, Ayyub lebih dari sekadar mempunyai alasan untuk hidup; selain ia berharap dapat lulus atas ujian Allah, ia juga berharap, kelak, Allah masih meliriknya agar tak pernah jera menggenapi anugerah kepadanya.

Bagi saya, semangat hidup yang terus meletup-letup itu, sejatinya, bukan milik Ayyub sendiri. Suatu saat, entah saya atau Anda, apapun status dan profesi Anda, pasti bisa menjalaninya. Viktor Frankl, seorang pakar psikolog humanis, misalnya. Ia membuktikan dirinya bisa bangkit dari beban derita yang meruap di jiwanya. Viktor mengalami penderitaan yang tak kalah hebatnya; istri, orang tua, dan saudara laki-lakinya meninggal di kamp konsentrasi Nazi, Jerman. Ia sendiri, di tengah kelaparan, hawa dingin, dan kekejaman selama di Auschwits dan Dachau, terus-menerus dimasukkan ke dalam kamar gas. Ia kehilangan seluruh harta miliknya di hari pertama masuk kamp, dan dipaksa menyerahkan sebuah manuskrip ilmiah yang merupakan hasil kerja seumur hidupnya. Frankl, meski berada di dalam keadaan yang mengerikan itu, memutuskan memilih bertahan hidup. Wajar, dalam buku Man’s Search for Meaning yang dikarangnya, ia menuliskan, “Jangan biarkan penderitaan memicu munculnya gejala penyakit jiwa, tetapi biarkan ia memicu munculnya pencapaian seseorang.”

Pencapaian itulah yang akhirnya Ayyub dapatkan. Allah mengabulkan selarik doanya. Buah kesabaran yang selama ini diembannya, Allah ganjar dengan akhir yang indah: Allah menyembuhkan penyakitnya seperti sediakala. Istri Ayyub yang pernah minggat pun, akhirnya, kembali ke pangkuannya. Tak hanya itu, Allah kembali mengkaruniainya anak yang banyak serta kekayaan yang tiada tara. Dan, sudah pasti, surga tengah menantinya.

Pada titik ini, Nabi Ayyub, sepertinya, ingin menegaskan kepada kita bahwa sebaris doa adalah selaksa harapan. Pada doalah segala yang tidak mungkin bisa terjadi. Nabi salallahu ‘alahi wassalam sendiri bersabda, “Takdir tidak ditolah kecuali oleh doa, dan tidak ada yang menambah umur manusia kecuali kebaikan yang dilakukan olehnya...”

Dan, saya yakin, bibir kita seharusnya tidak hanya memanjatkan selarik doa seperti yang dilakukan Nabi Ayyub, tapi juga menyemai benih harapan yang tak pernah aus lantaran sejumlah derita. Saya yakin, Anda juga berharap mendapatkan akhir yang indah seperti Nabi Ayyub dan kisah orang-orang yang lulus ujian dari setangkup deritanya.


-Dikutip seluruhnya dari buku Doa-Doa yang Menjawab Impian karya A Muaz

Saturday, 23 September 2017

Surat Ke-Sekian Untukmu

Untuk siapakah ucapan selamat darimu itu? Aku di sini sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Tak sedang dengan siapapun. Sudah berapa banyak suratku yang kau baca, tapi ternyata kau belum mengenalku terlalu banyak. Aku tak akan mengulang dosa menjalin hubungan seperti yang dulu pernah aku dan kau lakukan saat kita duduk di bangku sekolah atas. Aku bersama orang lain, demikian pula dirimu. Biarlah itu menjadi catatan lampau yang kelak bisa diceritakan sebagai pelajaran.

Lelaki itu, meski kukatakan aku jatuh cinta padanya, tapi ia tak memiliki keberanian untuk mengambil keputuasan besar dalam waktu singkat. Jadi sejak malam itu, aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi dengannya. Berat pada mulanya, tapi aku punya Allah yang Maha Penyayang. Ketika kita meninggalkan suatu perkara buruk karena Dia, maka tidak perlu lagi cemas, karena Dia yang akan mengurus selebihnya.

Lalu untukmu, aku bersyukur menjadi wanita yang hidup dalam hatimu. Terimakasih karena sejauh ini kau bisa menjaganya dengan istimewa. Tidak mengumbar apapun pada siapapun sebelum kau mampu  mengikrarkan janji tanggung jawab. Sungguh aku tak pernah berhenti mengagumi satu hal ini tentangmu.

Sudahlah. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya telah kembali seperti sedia kala. Cukup kau baik-baik saja hingga kemudian menyelesaikan urusanmu dengan baik, semua itu sudah cukup membuatku bahagia. Sesekali kita bisa saling menulis surat, mengetahui kabar hati masing-masing.

Kurasa, itu sudah cukup mewakili kata paling romantis bagi sepasang manusia seperti kita.

Thursday, 7 September 2017

Tak Perlu Khawatir Berlebihan

Lihatlah meski telah kukatakan aku jatuh hati pada pria lain, tetap saja aku membaca semua suratmu. Aku bukan wanita bodoh yang tak paham apapun, tapi menjadi naif, itu adalah sebuah pilihan.

Kamu benar. Setia pada satu hati akan membuatmu jauh lebih mulia, menikmati dan mensyukuri apa yang kita miliki saat ini akan jauh lebih terhormat, tapi kita tidak pernah punya kendali untuk menggerakkan hati agar tetap pada satu tujuan atau berbelok ke sembarang arah.

Cintaku padamu. Meski itu telah terhapus oleh beberapa nama, tapi ia selalu ada. Jauh sebelum orang lain mengungkapkan padaku tentang betapa mereka berharap padamu, aku telah menyimpannya terlebih dahulu. Kamu mungkin tak pernah menyangka sejak kapan perasaan itu dimulai. Dan kisah tentangmu, adalah satu-satunya yang tak diketahui oleh orang-orang terdekatku. Kamu hanya ada di dasar perasaan, terkadang naik ke permukaan dan terkadang tertindih oleh hal-hal baru di atasnya. Tapi satu hal yang harus kamu garis bawahi, ia tak pernah hilang.

Terkadang aku menanti sesuatu darimu yang mampu meyakinkanku untuk bertahan. Bertahan meletakkanmu di permukaan perasaan. Tapi semakin hari kunanti, kamu semakin khusyuk dengan bahasa yang hanya kamu sendiri mampu memahaminya. Aku tak butuh sebuah pengakuan, pesan singkat, atau rekaman suara. Yang aku harapkan hanyalah sebuah tanda yang jelas bahwa kamu akan datang padaku, dan aku boleh menunggumu. ─░tu saja.

Jika kamu mampu setia dengan perasaanmu padaku, maka sungguh kesetiaan itu tidak akan mengingkarimu. Bukankah kamu pernah mengatakan padaku bahwa mungkin kita tidak bisa membersamai seseorang yang selalu disebut dalam doa, melainkan membersamai seseorang yang selalu menyebut kita dalam doanya. Jika kamu percaya akan hal itu, maka jangan khawatir. Hatiku tidak akan pergi terlalu jauh. ─░nsyaAllah.

Aku tidak pernah menyebutmu dalam doa. Jujur saja. Aku tak pernah menyebut sebuah nama dalam doaku. Tapi sekarang aku akan berdoa semoga dirimu selalu berbahagia.

Sunday, 3 September 2017

Tidak Cukup Sekadar Cinta




Hari ini sahabatku Mariam tengah duduk di ujung sebuah kursi panjang, di bawah pepohonan musim gugur. Di bawah kakinya, dedaunan berwarna kuning, oranye, hingga cokelat berserakan tertiup angin yang berhembus perlahan. Tak banyak orang di taman itu, karena langit sudah mulai menghitam dan tampaknya agan segera turun hujan. Tapi Mariam, perempuan yang tubuhnya dilapisi jaket panjang dan selembar kerudung hitam panjang itu seperti enggan beranjak. Matanya yang kulihat selalu bercahaya kini terkesan redup. Sepertinya ia tengah didera sesuatu yang begitu menyakitkan.

“Mariam.” Sapa sambil mengambil tempat di sampingnya.

Ia sedikit kaget. Begitu tahu yang datang adalah aku, dia mencoba untuk tersenyum lembut.

Masing-masing kami tak bersuara hingga beberapa menit ke depan. Wanita ini hanya diam, seolah kedatanganku bagaikan selembar daun yang berguguran di depan matanya. Tak berarti. 

Tidak. Kurasa bukan itu alasannya. Aku mengenal Mariam. Perempuan anggun yang baik paras dan budi pekertinya. Ia bukanlah jenis orang yang senang mengabaikan orang lain, terlebih aku yang notabene mengenalnya sejak kecil. Pasti ada sesuatu yang begitu menganggunya.

Tiba-tiba, sesaat kemudian ia menangis dan memelukku erat.  Aku membiarkannya sambil berusaha ikut merasakan separah apakah kesedihan dalam dadanya.

“Ada apa, Mariam?” tanyaku.

Ia menghapus air mata. “Aku mencintainya, Alena. Sangat mencintainya. Tapi tak ada yang bisa kulakukan selain mengucapkan kalimat perpisahan padanya.”

“Siapa?”

“Lelaki yang kuceritakan padamu tempo hari.” jawabnya sambil terisak.

“Kau bilang dia bukan tipemu. Kau jenis orang yang serius, sementara dia tidak. Kau dewasa dan dia kekanak-kanakkan, meskipun umurnya telah masuk 27 tahun bulan lalu. Kenapa bisa kau jatuh cinta padanya secepat ini?” Aku tidak habis pikir.
Lelaki itu, tentu saja aku tahu. Aku tahu segala kisah cinta Mariam yang pernah kandas. Aku tahu tentang sekeping hati yang hancur di dalam rongga dadanya. Aku tahu ketulusannya ketika mencintai seseorang, namun ketulusan itu selalu berujung menyakitkan. Tapi sungguh demi Tuhan, aku tidak menyangka dia akan jatuh cinta secepat ini. Lelaki yang awalnya hanya ingin belajar bahasa Inggris bersamanya demi persiapan untuk tes IELTS beasiswa ke Canada tahun depan, lelaki yang setiap mengirimi pesan whatsApp selalu saja dipenuhi emoji ala anak remaja, lelaki yang bahkan saat Mariam marah ia justru datang sambil membawa selembar kertas berisi soal-soal bahasa Inggris dan berkata ‘Can you help me?’, lelaki yang selalu saja menjawab dengan kalimat ‘yes and okay’, lelaki menyebalkan, dan entah apa lagi ia menyebutnya.

“Beginilah perempuan, Alena. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta, tapi akan butuh waktu seumur hidup untuk melupakan. Sejak kehilangan Mustafa pada tahun 2015, kali ini aku merasa benar-benar kembali melihat hari yang dipenuhi bunga-bunga. Lelaki kekanak-kanakkan itu ternyata mampu mencuri hatiku dengan begitu lembut, tanpa disadari. Aku jatuh cinta pada segala kepolosan yang dia miliki. Aku sedikit tenteram saat tahu kali ini dia juga mencintaiku. Tapi cinta saja tidak cukup bagi dua orang untuk bertahan.”

“Lalu kenapa kalian harus saling meninggalkan?”

Mariam manunduk. “Tak ada yang bisa diharapkan dari hubungan ini, Alena. Dia meskipun dewasa, tapi ia tak cukup berani untuk mengambil langkah besar. Bahasa Inggris-nya masih sangat buruk, meskipun dia telah lolos tes beasiswa. Setahun ini dia akan fokus untuk persiapan IELTS, dan dia bilang kehadiranku justru menganggunya. Tidak bisa fokus, selalu teringat dan sebagainya. Aku tahu dia tidak bohong. Dia tak pernah berbohong. Dia begitu polos untuk bisa berbohong. Lalu mulai Agustus tahun depan ia akan berangkat ke Kanada, belajar selama 2 tahun di sana. Dia tidak siap untuk menjalin hubungan serius dengan izin agama dan negara dalam rentang waktu itu. Terlebih jarak antara aku dan dia begitu jauh. Dia tidak akan seberani itu mengambil keputusan, meskipun ia memiliki cinta yang besar. Di lain sisi, aku tidak ingin menjalin sebuah hubungan haram seperti yang sempat ia sarankan. Meski hanya melalui telepon. Lagipula, rasanya aku tak akan bisa menunggu hingga 3 tahun kemudian. Lihatlah, cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua anak manusia, Alena. Mungkin mudah bagi mereka yang tak memegang prinsip, tapi bagiku yang tak mau lagi jatuh pada hubungan di luar pernikahan, cinta seperti ini menjadi sebuah cobaan yang sangat sulit.”

“Bersabarlah. Kau telah mengambil langkah yang benar. Jika ia memiliki cinta yang tulus padamu, suatu saat ia akan kembali padamu insya Allah. Jika dia tidak kembali, maka itulah wajahnya yang sesungguhnya. Itulah ketetapan terbaik dari Tuhanmu.” Aku berusaha memberikan ketenangan sambil memeluknya.

“Kisah perjuangan tentang melupakan Mustafa akan kembali terulang mulai dari hari ini, Alena. Aku terjatuh dua kali ke dalam lubang yang sama.”

Hujan menjatuhkan tetes pertamanya dari langit. Aku dan Mariam segera beranjak meninggalkan kursi panjang itu, membiarkannya sendirian diterpa angin dan kedinginan.

05/09/2017
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...