Monday, 23 January 2017

Mengintip Kehidupan Wardatul Ula, Muslimah Asal Aceh yang Menempuh Studi di Turki



Sahabat Muslimah, mulai hari ini aku juga akan menulis kisah Muslimah baik Indonesia maupun dari negara-negara lain, yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua. Sebagai pembuka, inilah kisah pertama yang aku pilihkan dan ditulis khusus untukmu. InsyaAllah bermanfaat.

Wardatul Ula: Mahasiwi Asal Aceh yang Tengah Menempuh Studi di Tanah Ustmani
Namanya Wardatul Ula dan lebih senang dipanggil Lala. Bagi yang pernah membaca buku ketiga Hanum Rais ‘Berjalan di Atas Cahaya’, tentu sudah tidak asing lagi dengan gadis lahiran Aceh, 1 Januari 1992 ini. Selain pengalaman Hanum Rais sendiri, buku tersebut juga dilengkapi cerita oleh dua wanita lain, yaitu Tuti Amaliah yang bertahun-tahun tinggal di Vienna, dan Lala yang saat ini berkuliah di Turki. 

Jangan jadi Muslimah Nyebelin Teman Kosan hanya Karena 3 Hal Ini!



My dear Muslimah yang salihah, sejauh ini pernah nggak punya teman kosan, berhijab, tapi sifatnya ngeselin banget? Bisa jadi pernah, bisa jadi juga orang tersebut adalah dirimu sendiri. Jadi untuk mengetahui apakah dirimu subjek atau objek, yuk check the list bellow!



1. Ada Makhluk Ghaib yang Ikut Memakai Peralatanmu

Ini pasti sering dialami oleh kamu yang pernah/sedang tinggal bersama satu atau beberapa Muslimah dalam satu kamar, yang biasanya harus berbagi kamar mandi, meja rias, dan kulkas. Pernah nggak mendapati sabun mandi atau pasta gigimu habis dengan begitu cepatnya, padahal menurutmu, selama ini nggak menghabiskan sebanyak itu? Yah, semacam ada makhluk halus yang ikutan gosok gigi bareng kamu. 

Begitu juga dengan kosmetik seperti parfum, krim pelembab, dan lain-lain, kadang sampai bertanya-tanya, ‘Kok cepet banget habisnya?’. Bahkan kejadian serupa juga dialami makanan yang sudah dibuka dan disimpan dalam kulkas. Saat pertama dimasukkan, biskuit tim-tam mu berjumlah enam, besoknya tinggal lima. Hari ini kripikmu masih setengah plastik, dua hari kemudian tinggal seperempat.

Akhirnya kamu pun mengambil tindakan pencegahan, yaitu  membawa kotak sabunmu keluar kamar mandi, memasukkan kosmetik ke dalam lemari, dan tidak lagi menyimpan makanan yang sudah terbuka ke dalam kulkas. Kamu pun bertekad untuk pindah kamar di bulan atau tahun selanjutnya, karena itu tadi, ada makhluk yang diam-diam ‘nebeng’ tanpa modal sedikit pun. 

Bagaimana rasanya, nggak enak kan kalau barang-barang kita digerogoti diam-diam seperti itu? Pastinya sebel tingkat dewa. Sedihnya kamu nggak bisa negur temanmu langsung, karena nggak ada bukti sama sekali. Atau jika pun ada bukti, kamu pasti segan buat ngomong jujur. 

Nah, sekarang kamu sudah tahu kalau diperlakukan seperti itu nggak enak. Jadi aku harap kamu bukan Muslimah yang bisa menjelma ‘makhluk halus’ bagi teman kamarmu. Menjadi seorang Muslimah tidak hanya cukup dengan selembar hijab di kepala, melainkan juga harus belajar sedikit demi sedikit memperbaiki perilaku sehari-hari. Bayangkan seandainya teman kamarmu seorang Non Muslim. Ketika dia berkumpul dengan sesamanya, ia nggak hanya akan men-judge dirimu, melainkan juga agamamu. Itu sudah pasti. 

So, berlakulah jujur di mana pun dan kapan pun. Meskipun hanya satu kali olesan bedak, itu tetap saja mencuri. Jika kamu benar-benar dalam keadaan terdesak, misalnya kamu baru ingat kalau sabunmu habis padahal tubuhmu sudah disiram air, bolehlah kamu panggil temanmu dan katakan kamu ingin meminta sedikit sabunnya. Aku jamin dia nggak akan nolak. 


2. Di Belakang Pesonanya, Ada Joroknya!
 
Pernah nggak kamu satu kosan dengan Muslimah yang tenar banget di luar sana, disukai banyak orang, modis, wangi, tapi saat di kosan dia justru sebaliknya? Habis makan nggak pernah mau nyuci piring dan hanya ditumpuk di pinggir wastafel, nggak pernah mau bantu-bantu ngepel, dan nggak pernah mau buang sampah. Hanya saja untuk urusan pribadi, seperti pakaian dan lemari, dia ini selalu rapi plus perfeksionis. Pokoknya kalau dia show up di kampus atau kantor, nggak akan ada yang bisa menebak tabiat joroknya, yang mungkin, hanya Allah dan kamu yang tahu. 

Kamu pun menggerutu, “Huh mending juga aku, biar di luar dibilang kucel, nggak pinter dandan, nggak populer, tapi di kosan nggak pernah nyusahin orang. Kenapa sih mereka nggak pada tahu kelakuan buruknya?”

Nah, sekarang kita tukar posisi, kalau kamu merasa pernah berlaku seperti ini pada teman kosanmu, sebaiknya segera hentikan. Ingat, teman kosanmu bukan pembantu. Status kamu dan dia sama. Lagian apa susahnya mencuci piringmu sendiri begitu selesai makan? Semakin kamu menumpuknya, semakin kamu malas untuk mencuci. Ujung-ujungnya temanmu yang mencuci, karena saat dia ingin makan, nggak ada lagi piring bersih yang tersisa.

Jika kamu bisa tampil sempurna di luar sana, kenapa nggak bisa tampil sempurna untuk orang-orang terdekatmu? Okelah, mungkin kamu menganggap teman kosanmu bukan teman dekat. Tapi mau nggak mau, memang mereka orang-orang terdekatmu. Secara ikatan emosional bisalah dikatakan bukan, tapi secara fisik, setiap hari kamu hidup berdekatan dengan mereka. 

Hidup di kosan nggak bisa kamu samakan seperti hidup di rumah. Biasanya tabiat seperti ini dimiliki mereka yang terbiasa hidup enak, punya asisten rumah tangga, sehingga nggak pernah beres-beres rumah sejak kecil. Yang ia paham hanya trend mode, merek gadget terbaru, dan tren memakai hijab. Jadi begitu ngekos, ia masih belum bisa merubah kebiasaannya. 

Sekarang coba posisikan dirimu sebagai korban (si teman yang tersiksa itu), bagaimana rasanya kalau tiap hari harus mencuci piring yang nggak pernah kamu pakai? Ikut mencicipi makanannya juga kagak, eh kebagian bersih-bersih. So, it is the time for you to change your habbit. Muslimah yang baik itu nggak hanya berpenampilan baik di luar, namun juga pada orang-orang di sekitar.
Nah untuk kamu yang punya teman kamar sejenis ini, kamu bisa bicarakan baik-baik dengannya. Suruh aja dia mencuci piringnya dengan terang-terangan, jangan justru membicarakan dia di belakang. Aku sendiri pernah punya pengalaman dengan teman jenis ini, dan aku memilih untuk berkata jujur padanya. 

Alhamdulillah perlahan-lahan dia mau berubah. Membicarakan dia di belakang justru akan memperburuk keadaan. Nanti semua penghuni kosan akan mengucilkannya dan nggak berselang lama, dia pasti akan pindah kosan dan memutuskan tali silaturrahim denganmu. Itu bukan solusi yang baik.




3. Kepo Akut = Penggosip Kronis

Aku sempat punya teman kosan seorang Muslimah berhijab, namun juga ratu kepo sejagat. Kepo atau yang diartikan sebagai ‘terlalu ingin tahu’ memang punya dua nilai, positif dan negatif. Misalnya kepo ingin tahu apa aktivitas terbaru sahabat kita yang tinggal di kota berbeda, dengan cara obok-obok facebooknya, tentu ini bukan masalah. Tapi kalau kamu sudah masuk ke tahap kepo akut, ini baru masalah. Kamu selalu ingin tahu apa yang dikerjakan temanmu, dengan siapa dia pergi, apa yang setiap hari dia lakukan di kamar, apa isi diary-nya, bahkan ingin tahu harga setiap barang-barang yang ia beli seperti sepatu, tas, dan hijab.

Memangnya ada Muslimah yang kepo akut seperti ini?

Jawabannya ada. Seperti yang kubilang, aku pernah satu kosan dengan Muslimah jenis ini. Jangankan tentang aku yang tinggal satu atap dengannya, ia bahkan tahu merek plus harga sepatu teman-teman kelas. Saat ada sesuatu yang mencurigakan, misal kita baru saja pulang dari bepergian sendiri, ia akan bertamu kamar (padahal biasanya nggak pernah) kemudian menyodorkan pertanyaan paket komplit. 

Ia akan sedikit kecewa begitu tahu kenyataan kita hanya pergi menghadiri talk show di kampus. Why? Karena sebelumnya ia sudah berekspektasi akan memperoleh berita besar, misal kita pergi dengan lawan jenis. Itu akan jadi modal menggosip bersama teman-temannya yang satu spesies.

Percaya atau nggak, seorang kepo akut itu biasanya juga penggosip kronis. Ini adalah dua bad habbits yang nggak bisa dilepaskan. Keduanya ibarat hidung dan upil. Selagi masih ada hidung, maka upil akan selalu ada. Begitu juga sifat ini, selagi kamu masih kepo akut, maka hobi menggosip pun nggak bisa hilang. Tapi bukan berarti kamu harus buang hidung juga. It’s just a term.

Nah karena sekarang kamu sudah tahu kalau kepo akut itu nggak baik, then it is one of the black points you should to change too. Rasa ingin tahu itu memang naluriah, tapi kalau sudah masuk dalam area ‘terlalu mencampuri urusan orang lain’, inilah yang nggak baik. Bagimu mungkin hanya sekadar have fun, tapi kamu nggak pernah tahu betapa terganggunya teman satu kosanmu. 

Meskipun kalian menempati kamar yang sama, tetap ada privasi masing-masing yang tetap nggak boleh dicampuri. Misalnya kamu punya teman yang hobi menulis, maka sebaiknya jangan pernah kamu coba-coba untuk melihat apa yang ia tulis di laptop, kecuali jika ia yang meminta. Apalagi sampai ke hal-hal sensitif seperti buku harian. 

Oh, ini larangan keras! Jangan sekali-kali kamu membuka diary-nya. Bagiku, seorang yang membaca diary orang lain tanpa ijin itu sama saja dengan mencuri. Ini adalah tindakan paling memalukan yang benar-benar harus kamu jauhi. Sekali lagi, hargailah privasi teman kamar atau kosanmu. Selagi bisa jagalah aibnya, jangan justru kamu korek-korek lalu disebarkan ke teman-teman yang lain. Ini akan jadi bencana untuk hubungan kalian ke depannya. 


Epilog...

Jadilah teman yang baik, andai belum bisa, setidaknya sejauh ini kamu sudah berusaha dengan cara memperlakukan orang-orang di sekelilingmu dengan baik. Mungkin hari ini dia kesal saat kamu nasehati untuk mencuci piringnya, untuk nggak keluar hingga larut malam. Dia berkata pada teman-teman dekatnya bahwa kamu terlalu cerewet. Mungkin hari ini dia belum bisa melihat ketulusanmu, tapi percayalah suatu saat kelak, saat kalian berjauhan, ia akan paham betapa kamu adalah teman terbaiknya. 

Sebuah hubungan yang baik, apakah itu pertemanan, persahabatan, semuanya nggak bisa dipelajari di bangku pendidikan mana pun. Jika kamu ingin memiliki ilmu tentangnya, maka kamu harus terjun ke dalamnya. Itu hal biasa jika di bulan hingga tahun pertama ngekos atau tinggal di asrama, kamu mengalami banyak kejadian buruk bersama teman kamar. 

Aku juga pernah seperti itu. Bahkan saat di pesantren, aku sangat ahli dalam urusan membuat teman pindah kamar hingga pindah sekolah. Masalahnya sepele, aku terbawa kebiasaan selama di rumah yang nggak bisa lihat kotor-kotor. Hanya saja kala itu, aku belum tahu cara mengajak teman dengan benar. Justru aku cerita ke sana ke mari, dan berujung pada kehancuran hubungan kami.

Aku belajar banyak tentang memahami teman, tentang bagaimana hidup rukun dengan teman sekamar atau sekosan, adalah dengan menjalaninya langsung. Buku dan tips-tips dari orang lain tetap nggak bekerja dengan baik bila kamu nggak mencobanya sendiri. Sekarang semakin bertambahnya waktu, setelah bertahun-tahun kehidupan seperti itu kujalani, akhirnya aku paham rumusnya.

Benar kata Muhammad Ali, sang legenda tinju dunia itu, bahwa “Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything.” –Pertemanan adalah hal yang paling sulit dijelaskan di dunia ini. Ia bukanlah sesuatu yang kamu pelajari di sekolah. Tapi jika kamu belum pernah mempelajari makna pertemanan, kamu pasti belum pernah mempelajari apapun.

Jadi mulai sekarang, luruskan niat terlebih dahulu, selanjutnya teruslah berusaha melakukan yang terbaik. Jadilah Muslimah yang menenteramkan, baik itu di luar maupun bagi orang-orang terdekatmu.

Lots of Love
Sofia




Wednesday, 18 January 2017

Seorang Teman Dekat

Terimakasih. Malam ini kamu membuatku bisa merasakan kehangatan seorang teman. Ternyata kamu juga sama dengan wanita sebaya kita kebanyakan. Entahlah, rasanya aku ikut bahagia tiap kali kamu menceritakan tentang sesuatu bernama perasaan. Tentang pembicaraan apapun bersama ibumu dan selalu berujung pertanyaan tentang 'siapa dia?'. Aku jadi ingin tertawa ketika ibumu memohon agar kamu sedikit merubah penampilan, atau sedikit memperhalus tutur bahasa. Lalu kamu pun selalu mencari seribu satu alasan untuk berkilah. Di saat cerita begini, aku seperti satu-satunya teman baikmu di dunia ini. Kau juga menyarankan agar aku kembali menjalin silaturrahim dengan semua orang yang pernah membantuku di masa lalu, beramah-tamah dengan mereka, terutama pada guru-guru.

Aku tidak melupakan mereka, tak satu pun, percayalah. Hanya saja aku punya kesulitan dalam menghadapi orang. Bahkan aku sendiri bingung bagaimana caranya menjalin sebuah komunikasi yang hangat. Jangankan pada mereka, pada nenek kakek saja aku canggung. Sudah beberapa kali aku berkonsultasi pada ahlinya, tapi tak satu pun paham bahwa aku dalam masalah. Jika aku bisa memilih, aku ingin jadi sepertimu yang akrab dengan siapa saja.

Kamu tahu, untuk sekadar berkunjung ke rumah tetangga, aku harus menunggu Ibu. Kenapa? Karena aku takut. Aku takut orang tidak mau bicara padaku, aku takut kehadiranku mengganggu, aku takut diacuhkan. Padahal aku sangat paham bahwa semua hanya dusta. Ketakutan ini hanya bermain dalam kepalaku saja. Kenyataannya, mereka selalu menanyakan tentangku pada bapak ibu, kapan aku pulang? Kenapa tak pernah berkunjung? Dan lain-lain.

Tiap kali berkenalan dengan orang asing, aku pasti mewanti-wanti sedini mungkin agar mereka paham kondisiku yang seperti ini. Mungkin semua sebab trauma di masa kecil. Kisah yang lumayan menyesakkan, bahkan aku menangis tiap kali mengenang. Biarlah bagian ini jadi ceritaku saja.

Dokter bilang, 'Ingatanmu tak mungkin bisa menjangkau masa kecil di umur 7 atau 8. Buktinya kau bisa lulus kuliah tanpa hambatan, berarti tidak ada masalah dengan komunikasi.' Ya, itu kata kebanyakan orang yang mengaku ahli di bidangnya. Mereka tak paham tentang ketakutanku setiap hari. Dan ini tak mudah. Soal ingatan yang tak mampu menjangkau, kata siapa? Aku bahkan ingat saat masih di ayunan, saat duduk di tengkuk Bapak, saat bicaraku belum lancar. Lalu sejak saat itu, aku jadi malas dengan orang-orang yang mengaku psikolog, dokter spesialis kejiwaan, atau sejenisnya.

Cukuplah dulu. Oh iya kini, aku sudah bisa menamaimu sebagai seorang teman dekat.

Sunday, 15 January 2017

Terimakasih, Putri Kecilku

Terimakasih karena kau pernah memberiku kesempatan untuk mengasuhmu sejak umur 3 bulan.

Terimakasih, waktu itu kau biarkan tangan ini memandikanmu, memakaikan pakaian indah, menyapu minyak dan bedak, kemudian mendandanimu.

Terimakasih, waktu itu kau biarkan matamu terlelap di tanganku.

Terimakasih, waktu itu kau bersedia makan dari suapanku.

Terimakasih, waktu itu kau telah merangkak sambil tertawa saat menyambutku pulang kerja, kemudian menangis saat kutinggalkan.

Terimakasih, telah membuatku tahu rasanya menjadi seorang ibu.

Aku jadi tahu apa itu khawatir ketika engkau tak kunjung bisa berjalan dan bicara. Ketika gigimu tak kunjung mau tumbuh.

Aku jadi tahu apa itu air mata ketika engkau sakit, jatuh, atau terluka.

Dan sekarang aku tahu, tahu sekali, bagaimana rasanya rindu ketika harus berjauhan denganmu.

Aku berharap aku punya kesempatan kedua untuk kembali tinggal di sisimu, bermain bersamamu, menggendongmu, mengangkatmu ke angkasa, menyaksikan kau menangis dan tertawa. Lalu waktu akan berlalu dengan indah...

Saturday, 14 January 2017

Niqab Sharing



A sister from Brooklyn. Credit to: @elamraniiman

Dulu, aku beranggapan bahwa para wanita yang mengenakan niqab di negara-negara seperti Indonesia, adalah wanita yang ngotot. Buat apa harus bersusah payah menutup wajah, belum lagi harus menerima pandangan sinis orang-orang, sementara hal itu tidak diwajibkan dalam Islam? Kenapa mereka tidak bisa ber-Islam dengan sederhana saja, tidak fanatik? Lihatlah, mereka justru menyusahkan diri sendiri. Di beberapa negara, seperti Prancis dan Belgia, niqab ini dilarang oleh negara. Tapi para Muslimah di sana tidak mau seketika menanggalkan niqab, sebaliknya mereka menggelar aksi agar niqab dilegalkan. Hey, girls, why you make these all become complicated? Islam is easy! If the goverment don’t allow you to wear niqab, then put it off! Quran and Hadist never ask you to cover all of your face and hands, right? Just wear the simple hijab, I mean you may take the big size of hijab and then let your face and hands be uncovered. 

Problem solved!

Ya, that was me! Ya, itu dulu!

Tapi, akhir-akhir ini, aku disadarkan oleh maraknya para Muslimah mualaf dari Eropa, Amerika, bahkan Rusia, yang memutuskan mengenakan niqab. Kita bisa lihat bagaimana cara Muslim di negara-negara Barat tersebut berdakwah di area publik. Mereka menyebarkan brosur tentang Islam, memberikan penjelasan kepada orang-orang di jalanan, bahkan menggelar ‘try to wear niqab’ bagi para wanita yang ingin menjajal bercadar. 


Kemudian di instagram, aku juga mengikuti beberapa Muslimah Barat yang bercadar (kebanyakan adalah para Mualaf), lalu memperoleh banyak pencerahan dari caption foto yang mereka bagikan. Kini aku mulai paham mengapa mereka begitu gigih mempertahankan niqab. 

Niqab adalah wujud kesempurnaan dari kepatuhan kepada Allah swt, dimana semakin teguh iman seseorang, maka semakin pula ia ingin menyempurnakan kepatuhan tersebut. Bagi seorang Muslimah, adakah yang lebih tinggi untuk dijadikan sebagai bukti kecintaan kepada Allah melebihi niqab? Jika aku ditanya tentang hal ini, jawabanku adalah tidak ada! Ketika seorang Muslimah telah mengenakan niqab, itu artinya ia benar-benar telah mengaplikasikan salah satu ikrarnya di setiap shalat, yaitu ‘Sesunggunya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan Penguasa Alam’ dengan sempurna.

Kenapa aku berpendapat seperti itu?

So look at me! Aku adalah Muslimah berhijab panjang, alhamdulillah. Tapi jika kamu memintaku untuk bercadar, bisa dipastikan aku harus berpikir dulu selama berminggu-minggu. Kenapa? 

Karena aku takut.

Aku takut orang-orang tidak bisa melihat senyumku lagi, wajahku lagi. Aku takut tidak bisa memamerkan make up lagi. Dan aku juga juga tidak bisa memakai aneka model gamis lagi. Kan sekarang lagi nge-trend gamis syari warna-warni, lucu-lucu, ditambah renda dan bunga-bunga. Nah, kalau aku bercadar, maka aku harus say good bye forever pada semua itu.

Jadi kesimpulannya, meski aku sudah berhijab panjang, apakah aku sudah terlepas dari yang namanya tabarruj? Kenyataanya belum. Aku masih ingin berdandan untuk menarik perhatian orang, masih ingin dipuji ‘aduhai, teduhnya wajahmu’, dan seterusnya. 

Tapi apa jadinya jika aku mengenakan niqab dengan pakaian keseharian berwarna gelap? Tentu semua itu tidak lagi bisa kudapatkan. Pada poin inilah aku bisa membuat kesimpulan, bahwa wanita yang benar-benar berniqab adalah wanita yang benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jala. Ia tidak lagi peduli pada pujian manusia, karena ridho Allah adalah segala baginya. 

“Bagaimana perasaanmu saat mengenakan ini?” seorang Muslimah asal Kuwait (berniqab) menanyai seorang wanita bule yang kini sudah berniqab rapat. Ini adalah pembicaraan di sebuah area publik, dimana Muslimah asal Kuwait ini mempersilakan siapa saja wanita yang ingin mencoba niqab.

“Liberated. Dengan pakaian seperti ini aku merasa orang-orang saat berbicara padaku, maka mereka akan fokus pada mataku, kemudian mereka akan mendengarkan dengan baik apa yang kukatakan. Tidak justru memperhatikan tubuh, kecantikan wajah, atau rambutku. It’s amazing!” 

Aku sendiri pernah merasakan seperti apa rasanya menjadi wanita berniqab, tepatnya ketika bekerja di perusahaan Jepang satu tahun lalu. Karena ruang kerjaku ada di lantai Clean Room, jadinya dituntut untuk mengenakan jump suit, hijab seperti ninja, dan masker, sehingga yang terlihat hanyalah mata. Begitu keseharian aku bekerja dan berinteraksi dengan rekan yang lain. Namun percayalah, kondisi pakaian yang seperti ini justru membuatku sangat nyaman. Saat sedang tidak begitu banyak kerjaan, terkadang aku bercerita panjang lebar bersama beberapa engineer and teknisi di sana. Aku bebas tertawa, mengeluarkan pendapat, dan sebagainya. 

Berbeda jika aku ada di luar. Mau bicara saja harus berpikir ratusan kali dulu. Why? Karena aku tidak begitu nyaman saat keseluruhan wajahku diperhatikan oleh lawan bicara. Kesimpulannya, aku lebih nyaman berkomunikasi ketika aku mengenakan masker dan hijab ninja. Rasanya lebih bebas dan tidak perlu terlalu pusing untuk bereskpresi. 

Di Indonesia sendiri, kuperhatikan, niqab sudah mulai memasuki era trend. Lihat saja beberapa waktu yang akan datang. Terbukti dari mulai maraknya toko online yang berjualan abaya dan gamis lebar yang dilengkapi cadar, bahkan beberapa toko online mulai meng-import design gamis longgar para Muslimah Prancis yang mengenakan niqab. Hanya saja, masih banyak juga masyarakat kita yang memandang niqab sebagai sesuatu yang aneh. Stempel ekstrimis, istri teroris, penculik bayi, dsb masih belum bisa hilang. Ini karena memang beberapa pelaku kriminal ada yang sengaja memanfaatkan niqab untuk menyembunyikan identitas mereka. But it is the reality that we can’t deny.

Aku sendiri, untuk saat ini, belum mengenakan niqab. Beberapa waktu lalu aku sempat mendatangi salah satu pesantren tahfidz Quran yang menurutku cukup berkualitas, tapi para wanitanya diharuskan berniqab. Bapak sempat memintaku untuk lanjut menghafal di pesantren ini nantinya setelah pengabdian, hanya saja aku masih berkilah sebab niqab tersebut.

“Apa yang salah dengan cadar?” tanya Bapak. Dan aku tidak bisa memberikan jawaban.

Tidak ada yang salah dengan cadar. Justru aku sangat menghormati para wanita yang sungguh-sungguh bercadar karena Allah ta’ala. Yang salah adalah imanku yang tak kunjung meningkat ini. Semoga Allah memperteguh iman kita, dan menjaga kita agar selalu beristiqomah di jaman akhir yang mengkhawatirkan seperti sekarang.

Bapak, tiap kali menelepon beberapa waktu terakhir, seringkali mengingatkan tentang kondisi umat saat ini. Memprihatinkan. Seperti kita sedang melakukan penyambutan untuk beberapa peristiwa besar di penghujung akhir jaman. Semoga Allah selalu melindungi kita, memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang kembali dengan hati ridha lagi diridhai-Nya. Semoga Allah selalu menjaga kelurusan niat di dalam hati kita. Memilih berhijab syari atau berniqab, semuanya kembali pada penilaian masing-masing. Allahummaj 'al khaira 'umrii wa khaira ‘amalii khawaatimahu wa khaira ayyaamii yauma liqaa ika.

Monday, 9 January 2017

Karena Kasihan?





“Di dunia ini, ada beberapa hati yang benar-benar tidak ingin disakiti, namun untuk membuatnya tersenyum, engkau justru akan melukai diri sendiri.”

Malam ini aku bertemu Alena. Kami duduk di sebuah cafe yang menghadap selat tempat kapal-kapal pesiar hilir mudik. Dari sini, kami bisa menyaksikan deretan lampu di seberang sana. Cahayanya yang jatuh di atas air menciptakan warna-warni menakjubkan.

Di atas meja, duduk dua gelas teh panas yang disajikan dalam gelas berbentuk tulip, dan dua piring dessert berbahan kacang almond menjadi pelengkap. 

“Ada apa, Mariam? Aku melihatmu murung sepanjang hari ini.” tanya Alena padaku.

Aku menggeleng, berusaha tersenyum. “Aku mengenal seorang lelaki, Alena. Dia temanku semasa sekolah dasar. Seorang mualaf. Dulunya dia beragama Budha, dan alhamdulillah sekitar 3 tahun lalu ia memutuskan ber-Islam. Keluargaku tahu tentangnya, karena memang rumah kita tidak begitu jauh. Dulu, semasa ia belum Muslim, saat liburan akhir semester yang bertepatan dengan Idul Fitri, biasanya kami sama-sama pulang. Dan meskipun ia bukan Muslim, ia selalu menemaniku silaturrahim ke rumah guru-guru kami dulu. Ia sering bertanya padaku tentang Islam, dan aku menjawab berdasarkan apa yang kutahu.  Lalu, ketika ia menelepon dengan pembukaan sebuah salam, air mataku hampir saja menetes. Ada keharuan yang tiba-tiba datang. Tapi setelah itu, kami jarang berkomunikasi. Ia fokus dengan kuliahnya, dan aku fokus dengan kuliahku. Hingga kami sama-sama berhasil menyelesaikan pendidikan satu tahun lalu.” Aku mengambil jeda. Pandanganku yang pias tertuju pada selat yang berubah menyedihkan—di mataku.

“Lalu?” Alena mulai tidak sabar.

“Satu tahun terakhir kami kembali menjalin komunikasi. Meskipun aku tak pernah memberikan balasan panjang atau perhatian lebih dalam setiap komunikasi kami, tapi aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Hingga malam tadi semuanya terjawab. Awalnya hanya bermula dari pertanyaan kecilnya, ‘Kapan kamu menikah?’. Tapi kemudian pertanyaan itu justru berujung ia yang berterus terang. Ia mengaku mengharapkanku. Katanya agar bisa menguatkan Islam-nya. Tapi jika tidak berjodoh, dia akan mengikhlaskan.”

Mata Alena membesar. “Kau sungguh-sungguh, Mariam?”

Aku mengangguk.

“Lalu kau jawab bagaimana?” tanya Alena lagi.

Sejenak aku diam. Akhir-akhir ini aku dibingungkan oleh tawaran-tawaran yang aku sendiri tidak mengerti cara menanggapinya. Baru saja beberapa hari lalu, saat perjalanan menuju kota ini, seorang teman Ayah menawarkan apakah aku tertarik dengan putranya. Artinya sudah dua orang teman dekat Ayah yang menawarkan sebuah ikatan keluarga. Tapi lagi-lagi, aku tak bisa membuat keputusan tegas. Kini aku paham betapa rumit menjadi seorang wanita usianya mulai merangkak di atas kepala dua.

“Sulit, Alena. Di satu sisi hatiku sama sekali tidak tersentuh olehnya. Dia hanya kuanggap sebagai seorang teman. Namun di sisi lain, aku kasihan padanya.”

“Kalau begitu katakan padanya dengan tegas, bahwa dia tidak boleh mengharapkanmu lagi!” Kini Alena memberikan sebuah saran dengan serius.

“Kenapa?” Aku tidak mengerti.

Alena mendekap kedua tanganku, “Mariam sayang, kau tidak boleh menerima seseorang karena kasihan. Hubungan seperti itu justru akan menyiksa dirimu dan dirinya. Percayalah. Pernikahan bukan perkara main-main—yang apabila kau tak suka—kau bisa mengakhiri dengan mudah. Aku dan Ahmet menikah karena kami saling mencintai. Karena itu pula kami sanggup menghadapi segala macam ujian dalam rumah tangga. Jika kamu menerima dia karena kasihan, maka hubungan kalian selanjutnya akan mudah diruntuhkan. Kau tahu kenapa? Karena kau tidak punya cinta sebagai pondasinya!”

Aku tertunduk. Sungguh, aku sendiri tidak menyukai diriku yang seperti ini. Sejauh ini teman-teman mengenalku sebagai seseorang yang mudah kasihan, tidak tegaan, hingga seringkali mengorbankan kebahagiaan sendiri demi kebahagiaan orang lain. Aku benci diriku yang tidak mampu tegas.

“Kau benar, Alena.” Ucapku lirih.

Air mataku kini sudah hampir luruh. Inilah yang paling aku takutkan. Inilah kenapa sejak awal aku selalu tidak mau memberi kesempatan. Inilah kenapa aku pilih menghindar. Karena ternyata di dunia ini ada beberapa hati yang benar-benar tidak ingin disakiti, namun untuk membuatnya tersenyum, engkau justru akan melukai diri sendiri.

Friday, 6 January 2017

...

Sahabatku, bisakah kau bantu aku mengurangi penyesalan yang kian hari kian pekat? Bisakah kau bantu aku menuntaskan rindu yang kian hari kian sesak?

Aku rindu padamu, pada anak yang sudah seperti anakku, pada kakakmu, pada sahabat-sahabat kita yang setia. Kini aku baru tahu, aku sama sekali hancur jika tanpa orang-orang seperti kalian di sekelilingku. Pada air mata yang jatuh di setiap malamnya, pada pundak yang sakit di setiap kewajiban dan beban yang semakin bertambah, pada teman yang bahkan tak sudi melihat bahwa ada aku di sampingnya, pada tempat yang menyimpan cerita masa lalu, sungguh--detik ini--aku merasa muak!

Aku ingin pulang saja. Seperti aku menyerah pada perjuangan yang belum dimulai. Tapi apa lagi harapan bagi sebuah hati yang rapuh? Apa lagi harapan untuk waktu yang terasa begitu enggan bergerak maju? Jika dulu bersamamu, satu tahun seperti satu hari, maka ini satu hari adalah seperti satu tahun.

Mungkin ini hukuman. Bagiku. Yang katanya tak pandai bersyukur. Mungkin ini adzab, karena aku pernah pergi seketika, meninggalkan semua janji kita.

Sahabatku, ayolah kita pulang bersama. Aku lelah sendirian di tanah orang. Akhir-akhir ini ketakutan seperti terus mencengkeram ubun-ubunku. Rasanya kampung halaman jauh lebih menenteramkan. Atau, aku bisa kembali di dekatmu, kemudian semua kepedihan ini akan usai.

Kini semua di depanku adalah gelap. Di sekelilingku adalah singa yang tinggal menunggu waktu, untuk menghabisiku tanpa sisa. Aku gelap. Benar-benar gelap.

Kemaren di pelabuhan, orang tua kita mengantarkan kami yang sama-sama akan berangkat, aku dan kakakmu. Aku yang akan menuju kota hantu ini, dan kakakmu yang akan menuju kotamu yang bercahaya. Kau tahu, dua kota ini berlawanan arah. Satu ke Timur, dan satu ke Barat. Rasanya, waktu itu, aku ingin ikut kakakmu saja. Lalu di sepanjang perjalanan itu kami akan bercerita, tertawa, sedih, atau menangis bersama. Maka hidup ini akan berlalu dengan indah.

Jika aku mengatakan padamu, aku suka dengan kesendirian. Ketahuilah itu adalah dusta. Pada kenyataannya, sepanjang jalanku yang sendiri itu, aku dihantui oleh cemas dan takut. Kota ini menakutkan, menyakitkan! Dan aku seperti menunggu kematian!

Sahabatku, bantulah aku dengan doamu, semoga waktu bisa melaju. Semoga Tuhan mendekatkan kita dengan pertemuan dan kebersamaan. Semoga kita bisa segera belanja bahan-bahan dapur bersama, ke pantai dan duduk bersama, pulang kampung bersama, dan apapun bersama.

Aku lelah. Sungguh lelah. Aku lelah pada semua permainan. Kau boleh bilang aku menyerah. Tapi inilah aku yang tak setegar terlihat. Inilah aku yang pesimis dan tak bisa jalan beriringan dengan mereka, dengan mereka yang angkuh dan ingin menang sendiri. Aku tak dibesarkan dengan ambisi agar tampak unggul dari yang lain. Aku tak pernah diajari untuk pura-pura bisa segala, padahal hanya tahu satu. Aku lebih suka kalian, kamu dan teman-teman kita di sana, yang setara, yang berjalan bersama, yang apa adanya.

Tapi sudahlah. Untuk apa menyesal? Takdir yang membawaku ke kota hantu adalah takdir-Nya. Mungkin ada hikmah yang belum kulihat wajahnya. Mungkin Tuhan punya sesuatu untukku. Mungkin...

Thursday, 5 January 2017

Sebuah Penyelesaian




Ini adalah kali kedua aku menulis tentangmu. Semoga kamu membaca yang pertama. Aku sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba malam ini aku teringat tentangmu, kemudian berniat untuk membuat sebuah penyelesaian yang melegakan tentang kita. Aku berharap, di sana, secara diam-diam, kamu tetap rajin berkunjung ke halaman ini dan membaca tulisanku.

Untukmu, percayalah aku sangat menghargai setiap perasaan yang dihadiahkan untukku. Sekecil apapun itu, terlebih yang besar dan istimewa. Aku tidak pernah melupakan setiap nama yang singgah dalam hidupku, tentu saja nama-nama yang memiliki niat tulus padaku. Di sini, meski hati tak bisa membersamaimu, aku selalu berdoa untukmu, untuk semua nama-nama itu. Aku mendoakan kalian, yang terbaik untuk kalian, untukmu juga. 

Aku masih mengingat tiga hari kebersamaan kita di masa training pembekalan sebelum kita dibagi di departemen masing-masing. Bukankah waktu itu kita duduk bersebelahan? Yang kusimpulkan dari tiga hari itu adalah dirimu yang sopan, selalu shalat tepat waktu, dan ramah. Hmm... meskipun bisa dikatakan kamu pemalu sekali, mungkin itu hanya berlaku untukku. Buktinya, salah satu teman kita sering bercerita tentangmu yang periang, yang tidak pernah kehabisan cerita, yang selalu melontarkan gurauan garing—namun justru itulah yang membuatnya tertawa geli.

Aku juga masih ingat saat bulan-bulan pertama perkenalan, kamu ingin bermain ke rumahku. Waktu itu aku berbohong. Kukatakan padamu bahwa aku harus menemani sepupu keluar kota, mungkin kamu bisa datang ke rumah di lain waktu. Justru aku menyarankan kamu untuk berkunjung ke rumah teman-teman perempuan yang lain. Sekarang kau tahu kan betapa aku tidak peka? Sungguh, waktu itu aku belum bisa menangkap maksudmu. Aku beranggapan kamu menilai sama diriku dan teman-teman perempuan lain. Yang perlu kamu tahu, waktu itu, dan peristiwa seperti ini acapkali berulang, adalah tentang ketakutanku untuk memberikan kesempatan. Sejauh ini, aku sengaja menutup pintu rumahku, dan hanya membuka bagi ia yang sejak awal sudah menyentuh hatiku saja. Aku kesulitan menerima saran teman-teman untuk membuka kesempatan bagi yang lain, untuk coba-coba dulu. Tidak, aku bukan tipe seperti itu. Bagiku, jika di awal aku tidak menemukan sesuatu yang menyentuh hati, maka itu tetap tidak akan ditemukan di waktu selanjutnya.

Aku adalah seseorang yang jujur, termasuk dalam hal menulis. Aku tak begitu suka dengan gaya bahasa yang membuat orang lain pusing menerjemahkan. Bagiku, menulis itu adalah sebuah kejujuran. Jadi, meskipun aku menciptakan setting di negeri antah berantah, tetap saja isi tulisan tersebut adalah kejujuran. Dan mengenai dirimu, kutegaskan di sini, bahwa bukan berarti dirimu tidak baik. Tidak sama sekali. Justru teman-teman kita selalu memuji-mujimu. Mereka semangat sekali menyatukan kita. Tapi bagaimana lagi, aku sudah berusaha menuruti nasehat mereka. Aku sudah berusaha membangun komunikasi dengan membalas semua pesan singkatmu. Hanya saja, hingga pada detik paling akhir, semuanya tetap tak berhasil. Pada titik itu pula, aku mampu membuat sebuah kesimpulan, bahwa hati setiap manusia bukanlah milik mereka. Bukti paling nyata adalah ketika akal kita menghendaki untuk mencintai seseorang, namun hati tetap kokoh menolak.

Biarpun begitu, hingga detik ini, aku masih ingat saat jam makan siang dan kita saling melihat meski terpisah beberapa baris meja. Aku masih ingat warna botol minummu. Aku juga masih ingat siapa teman-temanmu. Di ujung sana, kau selalu makan dengan kepala menunduk. Sesekali kau bicara dengan teman-temanmu. Sesekali kau melihat ke arahku. Pada mulanya, aku sama sekali tak tahu kalau kau sering melihat ke mejaku, hingga akhirnya seorang teman memberi tahu. Dan sejak itu, aku mulai memperhatikan dari kejauhan.

Aku juga masih ingat saat sesekali kamu turun ke ruang kerjaku di lantai bawah untuk instalasi sistem jaringan di perangkat baru. Kadang, aku sengaja segera keluar. Kau tahu, seluruh teman-teman satu ruang kerjaku selalu menyebut-nyebut namamu. Bahkan salah satu engineer di ruanganku membuat sebuah nyanyian yang isinya adalah namamu.

Baiklah, semua itu telah tertinggal di masa lalu. Pada akhirnya, aku telah menghapus satu-satunya media komunikasi kita. Rasanya tidak baik jika kita mempertahankan komunikasi, meski hanya sebuah komunikasi antar teman. Semua justru akan menyulitkanmu untuk melangkah dan mengambil keputusan. Akan lebih baik apabila kamu tak tahu kabar tentangku. Dengan begitu semua akan jadi lebih mudah.

Dulu kamu sempat menceritakan impian untuk membuka sebuah usaha di bidang pertanian atau peternakan, kan? Meskipun saat itu aku tertawa mendengarnya, bagaimana mungkin seorang anak teknik memiliki mimpi menjadi petani atau peternak? 

Kurasa kau hanya mencari bahan pembicaraan. Bahkan kau sampai mencari-cari informasi tentang kampusku. Soal usaha, wujudkan lah itu. Waktu itu kau juga sempat meminta pendapatku untuk memilih, kira-kira usaha apa yang sebaiknya dimulai dalam waktu dekat. Tapi hingga detik ini, aku masih belum menemukan jawaban. 

Saranku, sebaiknya kau jangan terlalu banyak berpikir. Jika ingin memulai usaha, maka mulailah. Selebihnya kau bisa menyempurnakan sambil jalan. Tidak ada yang tiba-tiba sempurna, semua butuh proses. Jadi, tak apalah bersakit-sakit di awal. Itu hal biasa. Yang kau butuhkan hanyalah tekad, niat, dan keteguhan hati. Satu lagi, semoga kau tak pernah melupakan Tuhan. Seperti yang pernah kuucapkan padamu dulu, sebaiknya kau tetap rajin bersedekah. Hal itu akan membantumu mendapatkan rejeki yang berkah. Kau tahu apa perbedaan antara rejeki yang berkah dan yang tidak? Rejeki yang berkah itu akan cukup memenuhi semua kebutuhan meskipun jumlahnya sedikit. Sebaliknya, rejeki yang tidak berkah akan selalu tidak cukup meskipun jumlahnya besar.

Baiklah, tulisan ini jadi sangat panjang. Semoga hidupmu selalu berbahagia dan dilimpahi keberkahan. Di sini aku selalu mendoakanmu, doa untuk seorang saudara yang istimewa. Semoga enam bulan kebersamaan kita tetap akan dikenang sebagai kenangan yang baik, tidak menyisakan luka ataupun kekecewaan. Tenang saja, semua takdir manusia sudah ditulis di sebuah kitab yang terpelihara. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...