Dilema Wanita 20-an

Wanita 20-an

Akhir-akhir ini ada beberapa wanita yang berkirim pesan padaku, baik itu via bbm maupun whatsapp. Aku sendiri masih tidak paham, kenapa harus aku yang dijadikan sasaran cerita? Kenapa bukan yang lain? Karena jujur, semakin banyak cerita yang kutampung, itu artinya semakin banyak pula amanah yang harus dipikul. 


Lagipula cerita yang datang itu bukan hal remeh-temeh. Selalu saja menyangkut seseorang yang diharapkan, dan ternyata seseorang tersebut adalah lelaki yang sama. Bisa dibayangkan bagaimana kualahannya aku menghadapi para wanita yang tidak lain adalah teman-temanku ini? 
Saat seorang teman mau berbaik hati menceritakan mengenai perasaannya pada kita, itu artinya ia sangat mempercayai kita. Benar, kan? Dan aku sangat bersyukur karena itu. Aku bersyukur karena ternyata ada banyak orang yang selama ini percaya padaku. Yaa di tengah kekuranganku yang seringkali tidak peduli. Jujur, aku bukan wanita yang menjadi idola para teman-teman wanita. 


Maksudnya tidak banyak wanita yang mau berteman denganku, terlebih pria. Kebanyakan takut, dan bilang kalau aku itu angker. Karena hal ini pula, aku sering jalan sendirian kemana-mana. Saat berangkat kuliah misalnya, aku selalu tidak punya teman yang mau berjalan sejajar denganku. You know why? Karena aku tidak asyik. Aku selalu bingung apa yang harus diceritakan atau ditanyakan. 


Nah, begitu lulus dan aku mendapati banyak teman yang masih mengubungi, lalu bercerita tentang kehidupan pribadinya, jujur aku tidak menyangka. Sungguh ini adalah anugerah terbesar dari Allah yang selalu kusyukuri. Oke, oke, mukaddimah nya terlalu panjang. Mari kembali pada tema kita yaitu dilema wanita 20an. 


Apa maksudnya?


Yes. Kalian pasti sudah bisa menerka sendiri lah apa yang selalu mengkhawatirkan bagi wanita seumuran kami. Selain urusan karir dan pekerjaan, tidak lain adalah tentang hati. Di umur yang sekarang, rasanya sudah bukan waktunya lagi bermain-main dengan perasaan. Jadi wajar lah ya kalau wanita-wanita yang cerita padaku itu pada serius dengan perasaan mereka. Ada yang nekat mendekati si lelaki dengan berbagai cara, adapula yang pilih mencintai secara diam-diam namun penuh pengharapan.


Lalu aku akan mendukung yang tipe mana? Tipe agresif atau si malu-malu ini? 


Entahlah. Semuanya temanku. Dan terkadang inilah yang membuatku bingung untuk memberikan saran. Satu pesan yang selalu kuwanti-wanti pada mereka adalah agar mereka mencintai dengan cara yang biasa saja. Tidak perlu berlebihan. Kalau mau sedikit berjuang ya monggo shalat malam, shalat hajat, duha, sedekah, plus shalawat 1000 kali per hari. Insya Allah deh Allah akan kasih jalan. Jika hati lelaki itu tidak luluh juga, berarti dia memang bukan jodoh yang dituliskan Allah buat kita. Begitu saja. Saran yang cukup sederhana. 

Lagipula tidak perlu bingung-bingung, 50 ribu tahun sebelum Allah menciptakan alam semesta, Dia sudah lebih dahulu menuliskan takdir manusia. Jadi sudah pasti jodoh kita juga sudah disiapkan. Terkadang kitanya saja yang terlalu ngoyo maunya dia, tapi lupa sama Allah. Lupa kalau hatinya si dia itu ada dalam genggaman Allah. Tidak perlu deh capek-capek tebar pesona, kagak perlu juga pake make up setebal triplek, rayu saja Allah, minta sama pemiliknya langsung. 


Kalau Allah sudah ridho, Dia tinggal bilang ‘jadilah’, maka seluruh manusia ini tidak ada yang bisa mencegah. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja tuh si lelaki kirim email bilang mau ngelamar. Peduli amat dia dikerubingi banyak wanita sekelas Miss Universe atau bidadari sekalipun. Kalau Allah maunya kamu yang jadi istrinya, mau apa lagi mereka? Hebat kan? 


Jadi gini, aku pernah ngikutin salah satu tausiyahnya Ust Yusuf Mansur perihal jodoh. Kenapa kita tidak kunjung menemukan jodoh padahal umur sudah menyentuh kepala tiga? 


Katanya, orang-orang seperti ini diibaratkan berada dalam sebuah ruangan yang gelap. Begini, anggap saja dunia ini tuh gelap dan isinya ada banyak manusia. Ada aku, kamu, dia, mereka, dan buanyak lagi. Nah, sebenarnya nih jodoh kita tuh ada di dalam ruangan ini. Tapi karena gelap, jadi kitanya tidak bisa lihat. 


Pertanyaannya, apa yang bikin gelap? Sudah pasti Allah.
Tapi kenapa Allah bikin gelap sampai-sampai kita tidak kunjung melihat sang jodoh?


Kalau sudah ketemu pertanyaan seperti ini, urusan ke depannya bakal gampang. Tinggal interopeksi diri saja. Mungkin kamu pernah zina (atau mendekati zina), pernah durhaka sama orang tua, pernah makan harta haram, sering ninggalin shalat, pernah bersaksi palsu, dan dosa-dosa besar lainnya. Kalau merasa pernah, segera deh mohon ampun. Taubat nasuha. InsyaAllah kalau Allah sudah ridho, jalan ke depan akan lebih terang. 
Lha bagaimana kalau sejak kecil kitanya orang yang saleh saleha?

Jangankan dosa besar, menepuk nyamuk saja tidak pernah. Nah kalau merasa bersih dari dosa, berarti itu ujian. Tenang saja, kalau ujian itu tidak bakal lama-lama. Dan biasanya nih kalau memang benar ujian, nanti bakal datang pangeran saleh yang jauh di atas ekspektasi kita. Sama seperti ujian di sekolahan, begitu lulus kita naik ke kelas yang lebih tinggi. Istilahnya, Allah makes you down just to raise you to another high level. Di bawahnya bentaran doang.


So, kamu yang mana?


Aku juga masih sering galau soal jodoh. Pastilah. Yang mana Ibuk sering tanya, “Sudah punya kandidat belum?” Terkadang Ibuk malah mengutus adik buat tanya hal ini. Jawabannya ya nyengir aja. Kalau pas di telepon, akunya diam terus jawab lirih, “Udah doain aja moga nanti ada yang datang. Laki-laki saleh seperti yang diharapkan Bapak Ibuk.”
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui siapapun. Aku sendiri baru tahu ilmunya dalam waktu beberapa minggu terakhir. Sering nonton tausiyah, baca-baca, belajar tauhid, makanya sedikit kebuka pikirannya. Aku tahu kenapa selama ini bawaannya resah, galau, dan sedih melulu. Ternyata yang sakit itu bukan apa-apa, tapi hati.  

Dulu aku mah tidak percaya sama kekuasaan Allah. Saat Bapak bilang, “Kalau punya hajat itu coba disambi sama shalat malam.” Akunya hanya mangguk-mangguk saja, tapi tidak dijalankan. You know why? Karena aku tidak yakin Allah bakal mengabulkan. Tapi makin hari, makin banyak belajar, makin dewasa (mungkin), jadinya sadar lah sedikit demi sedikit kalau kita tuh punya Allah yang Maha Segalanya. 


Percaya kan kalau alam semesta dan isinya ini ciptaan Allah? Lalu kenapa tidak percaya kalau Allah juga bisa kasih jodoh terbaik buat kita? Kenapa tidak percaya kalau Allah bakal mengabulkan permohonan kita, yang sebenarnya hanya segede upil di mata-Nya? 


Okeh buat sahabat dan teman-temanku, yuk datangi Allah. Insya Allah tidak bakal galau-galau lagi. Soal si dia, yang siapa itu??? Katanya pintar, saleh, baik hati, calon S2 jebolan luar negeri, idaman Ayah Ibuk, santun, dan entah apa lagi, insya Allah kalau jodoh ya minta didekatkan. Begitu saja ya. Jangan galau-galau lagi, nanti aku malah ikutan galau.
Semoga kita semua segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik untuk dunia dan akhirat. Aamiiin insya Allah…

Lots of Love

Sofia