Sunday, 3 September 2017

Tidak Cukup Sekadar Cinta




Hari ini sahabatku Mariam tengah duduk di ujung sebuah kursi panjang, di bawah pepohonan musim gugur. Di bawah kakinya, dedaunan berwarna kuning, oranye, hingga cokelat berserakan tertiup angin yang berhembus perlahan. Tak banyak orang di taman itu, karena langit sudah mulai menghitam dan tampaknya agan segera turun hujan. Tapi Mariam, perempuan yang tubuhnya dilapisi jaket panjang dan selembar kerudung hitam panjang itu seperti enggan beranjak. Matanya yang kulihat selalu bercahaya kini terkesan redup. Sepertinya ia tengah didera sesuatu yang begitu menyakitkan.

“Mariam.” Sapa sambil mengambil tempat di sampingnya.

Ia sedikit kaget. Begitu tahu yang datang adalah aku, dia mencoba untuk tersenyum lembut.

Masing-masing kami tak bersuara hingga beberapa menit ke depan. Wanita ini hanya diam, seolah kedatanganku bagaikan selembar daun yang berguguran di depan matanya. Tak berarti. 

Tidak. Kurasa bukan itu alasannya. Aku mengenal Mariam. Perempuan anggun yang baik paras dan budi pekertinya. Ia bukanlah jenis orang yang senang mengabaikan orang lain, terlebih aku yang notabene mengenalnya sejak kecil. Pasti ada sesuatu yang begitu menganggunya.

Tiba-tiba, sesaat kemudian ia menangis dan memelukku erat.  Aku membiarkannya sambil berusaha ikut merasakan separah apakah kesedihan dalam dadanya.

“Ada apa, Mariam?” tanyaku.

Ia menghapus air mata. “Aku mencintainya, Alena. Sangat mencintainya. Tapi tak ada yang bisa kulakukan selain mengucapkan kalimat perpisahan padanya.”

“Siapa?”

“Lelaki yang kuceritakan padamu tempo hari.” jawabnya sambil terisak.

“Kau bilang dia bukan tipemu. Kau jenis orang yang serius, sementara dia tidak. Kau dewasa dan dia kekanak-kanakkan, meskipun umurnya telah masuk 27 tahun bulan lalu. Kenapa bisa kau jatuh cinta padanya secepat ini?” Aku tidak habis pikir.
Lelaki itu, tentu saja aku tahu. Aku tahu segala kisah cinta Mariam yang pernah kandas. Aku tahu tentang sekeping hati yang hancur di dalam rongga dadanya. Aku tahu ketulusannya ketika mencintai seseorang, namun ketulusan itu selalu berujung menyakitkan. Tapi sungguh demi Tuhan, aku tidak menyangka dia akan jatuh cinta secepat ini. Lelaki yang awalnya hanya ingin belajar bahasa Inggris bersamanya demi persiapan untuk tes IELTS beasiswa ke Canada tahun depan, lelaki yang setiap mengirimi pesan whatsApp selalu saja dipenuhi emoji ala anak remaja, lelaki yang bahkan saat Mariam marah ia justru datang sambil membawa selembar kertas berisi soal-soal bahasa Inggris dan berkata ‘Can you help me?’, lelaki yang selalu saja menjawab dengan kalimat ‘yes and okay’, lelaki menyebalkan, dan entah apa lagi ia menyebutnya.

“Beginilah perempuan, Alena. Tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta, tapi akan butuh waktu seumur hidup untuk melupakan. Sejak kehilangan Mustafa pada tahun 2015, kali ini aku merasa benar-benar kembali melihat hari yang dipenuhi bunga-bunga. Lelaki kekanak-kanakkan itu ternyata mampu mencuri hatiku dengan begitu lembut, tanpa disadari. Aku jatuh cinta pada segala kepolosan yang dia miliki. Aku sedikit tenteram saat tahu kali ini dia juga mencintaiku. Tapi cinta saja tidak cukup bagi dua orang untuk bertahan.”

“Lalu kenapa kalian harus saling meninggalkan?”

Mariam manunduk. “Tak ada yang bisa diharapkan dari hubungan ini, Alena. Dia meskipun dewasa, tapi ia tak cukup berani untuk mengambil langkah besar. Bahasa Inggris-nya masih sangat buruk, meskipun dia telah lolos tes beasiswa. Setahun ini dia akan fokus untuk persiapan IELTS, dan dia bilang kehadiranku justru menganggunya. Tidak bisa fokus, selalu teringat dan sebagainya. Aku tahu dia tidak bohong. Dia tak pernah berbohong. Dia begitu polos untuk bisa berbohong. Lalu mulai Agustus tahun depan ia akan berangkat ke Kanada, belajar selama 2 tahun di sana. Dia tidak siap untuk menjalin hubungan serius dengan izin agama dan negara dalam rentang waktu itu. Terlebih jarak antara aku dan dia begitu jauh. Dia tidak akan seberani itu mengambil keputusan, meskipun ia memiliki cinta yang besar. Di lain sisi, aku tidak ingin menjalin sebuah hubungan haram seperti yang sempat ia sarankan. Meski hanya melalui telepon. Lagipula, rasanya aku tak akan bisa menunggu hingga 3 tahun kemudian. Lihatlah, cinta saja tidak cukup untuk menyatukan dua anak manusia, Alena. Mungkin mudah bagi mereka yang tak memegang prinsip, tapi bagiku yang tak mau lagi jatuh pada hubungan di luar pernikahan, cinta seperti ini menjadi sebuah cobaan yang sangat sulit.”

“Bersabarlah. Kau telah mengambil langkah yang benar. Jika ia memiliki cinta yang tulus padamu, suatu saat ia akan kembali padamu insya Allah. Jika dia tidak kembali, maka itulah wajahnya yang sesungguhnya. Itulah ketetapan terbaik dari Tuhanmu.” Aku berusaha memberikan ketenangan sambil memeluknya.

“Kisah perjuangan tentang melupakan Mustafa akan kembali terulang mulai dari hari ini, Alena. Aku terjatuh dua kali ke dalam lubang yang sama.”

Hujan menjatuhkan tetes pertamanya dari langit. Aku dan Mariam segera beranjak meninggalkan kursi panjang itu, membiarkannya sendirian diterpa angin dan kedinginan.

05/09/2017

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...