Tuesday, 26 September 2017

Selarik Doa Tentang Derita Yang Bertubi-Tubi




Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”QS Al Anbiya: 83

Seorang sahabat datang dengan setangkup derita. Padahal, saya ingat, saat itu dua pekan pasca lebaran. Semestinya, sisa-sisa kemenangan masih menyelimuti dirinya. Namun, air mukanya yang keruh, serta matanya yang merah dan sayu mengabarkan setumpuk nelangsa tengah bergemuruh di benaknya. Dugaan saya tidak meleset. Dodi, demikian sahabat saya itu acapkali dipanggil, berkisah:

“Lebaran tahun ini, aku merasa sendirian. Aku benar-benar menderita. Pertama, seminggu menjelang Idul Fitri, aku tergolek sakit hingga dua minggu lamanya. Jelas, aku tidak bisa lebaran dan berbagi bahagia seperti yang kau bayangkan. Kedua, ibuku ketahuan sakit tumor dan harus berobat ke sebuah Rumah Sakit di negeri Jiran, Malaysia, tepat sehari setelah Idul Fitri. Padahal, kau tahu, adik perempuanku yang semata wayang mengidap kanker payudara. Ketiga, awal tahun baru ini, ayahku remi pensiun. Katanya, akulah nanti yang harus ikut bertanggung jawab membiayai sekolah adik-adikku. Dan kau kan tahu, sebagai anak sulung, aku sendiri belum mapan dalam karir dan pekerjaan. Oh iya, satu lagi, bagaimana dengan rencana pernikahanku nantinya? Cobalah kau pikir, Az! Begitu banyak penderitaan yang harus kutanggung. Aku stressssss, Az! Stressss!”

Saya tercekat dengan ceritanya, dengan alur derita hidupnya. Inilah kisah ke sekian kali ihwal kepiluan yang langsung menghujam lubuk saya. Sebelum Dodi, beberapa sahabat saya kerap menuturkan hal yang sama. Dan, kita tahu, sahabat saya ini tidak sendiri. Ia bukan orang pertama yang menyimpan setumpuk nestapa dan derita. 

Nun, jauh sebelumnya, hidup seorang nabi yang juga hidup di tubir kegelapan derita; nabi yang besar di negeri Syria, cicit Nabi Ibrahim alaihissalam, yang sebelumnya tersohor karena hartanya yang berlimpah ruah sehingga membuatnya senantiasa hidup dalam kebajikan berderma. Dialah Nabi Ayyub, putra Ish bin Ishaq, yang membuat masyarakat Hauran dan Tih sangat menghormati dirinya lantaran sikap dermawannya. Mungkin, sebagian Anda pernah membaca kisahnya dan menyerap iktibarnya. Tapi, di tulisan ini, saya ingin menukil secuil hikayahnya.

Konon, iblis menyusun senarai rencana agar Ayyub berpaling dari Ilahi. Karena itulah, siasat pertama, iblis menggoda Ayyub dengan membuat rumah Ayyub terbakar. Seluruh harta bendanya ludes dilahap si jago merah. Begitu pula dengan hewan-hewan ternaknya yang terserang penyakit. Semuanya mati. Ayyub pun jatuh miskin dan melarat. Dua orang istrinya sendiri tak sanggup menemaninya lagi. Yang tersisa hanya Rahmah, istrinya yang paling setia.

Sayang, iblis salah dugaan, Ayyub bukanlah sosok yang imannya payah. Ia masih tetap beriman, meski derita baru saja menimpanya. Maka iblis pun menjalankan siasat kedua. Bersama para pembantunya, iblis membuat rumah anak-anak Ayyub juga terbakar. Yang lebih menyakitkan, semua buah hati Ayyub meninggal tertimbun reruntuhan rumah itu. Otomatis, Ayyub berduka. Air mata berlinang-linang di pelupuknya. Belum pupus sejumput musibah, datang kabar kematian anaknya yang meninggal secara mengenaskan.

Tapi, Ayyub memang seorang nabi, ia tetap tidak berpaling dari iman kepada Allah, ia malah lebih giat beribadah. Iblis pun sangat kecewa, dan siasat ketiga telah disusunnya. Kali ini, ia sengaja membuat Ayyub benar-benar menderita fisik dan psikis. Iblis menebar bermacam kuman pada tubuhnya. Walhasil, Ayyub mendapati sekujur tubuhnya rusak. Kulitnya mengelupas. Segenap belatung menyembul di sela-sela dagingnya. Seluruh penduduk, akhirnya, mengucilkannya. Ia terusir. Ia tersisih bersama istrinya; keluar dari desanya. Dan penyakit menjijikkan itu tidak sebentar merajah di tubuhnya. Konon, bertahun-tahun menggerogoti dirinya.

Sayang, derita bertahun-tahun belum juga menegakkan panji kemenangan di pihak iblis. Ayyub belum goyah. Imannya tetap kokoh dan ibadahnya semakin tak terkira giatnya. Maka, iblis pun menggunakan jurus terakhir; ia menggoda istri Ayyub untuk meninggalkannya. Di sinilah, benteng terakhir Ayyub hampir luluh lantak. Istrinya tak kuat menahan bisikan sang iblis. Ia, akhirnya, meninggalkan Ayyub seorang diri dalam segenap derita.

Ayyub terpuruk, Ayyub terluka, dan Ayyub, alkisah, hanya ditemani Allah ta’ala. Pada titik nadir inilah, selarik doa meluncur dari bibirnya: “Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin” [Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang—QS Al Anbiya: 83]

Sebaris doa itulah yang menemani jiwanya; sebuah kalimat yang menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al Misbahn-nya tidak sebanding dengan penderitaanya. Ibnu ‘Asyur, seperti ditulis Quraish, menjelaskan bahwa kata ‘durru’ yang dipanjatkan Ayyub itu bermakna segala kesulitan yang menimpa diri seseorang. Hal ini mempertegas bahwa besarnya derita yang Ayyub pikul itu beraneka ragam dan begitu panjang masanya.

Hebatnya, Nabi Ayyub alaihissalam, dalam doa tersebut mengatakan kata ‘massani’ yang berarti ‘aku disentuh/tersentuh’, sebuah kata yang menjelaskan kondisi tindakan yang kecil alias sedikit. Kenapa Ayyub, misalnya, tidak mengatakan kata ‘ashaabany’ [aku ditimpa], padahal apa yang ia alami sungguh sangat berat? Tidak hanya itu, di lain sisi, Ayyub malah bermunajat kepada Allah azza wa jalla tanpa sedu sedan dan menggerutu. Ia, bahkan, tiada memohon sebagaimana lazimnya sebuah kidung doa. Beliau hanya menyebut sifat Allah yang paling menonjol, yakni kata ‘wa Anta arhaama rahimin’ seraya memasrahkan diri sepenuhnya pada kehadirat Allah. Sebab, bukankah Dia-lah sumber Maha Mengetahui dan segala Rahmat?

Saya mafhum kenapa kata ‘massani’ yang dipilih Ayyub untuk melukiskan deritanya. Pasalnya, dalam satu riwayat, Ayyub berkata dengan lirihnya kepada sang istri:

“Allah sedang menguji kita. Akankah kita lulus atau gagal dalam ujian ini. Sudah berapa lama kita hidup bahagia?”
“Delapan puluh tahun.” Jawab istrinya ketika tengah bersiap meninggalkan Ayyub seorang diri.
“Lalu, sudah berapa lamakah kita hidup menderita?”
“Tujuh tahun.”
“Itu berarti sabar kita tak sebanding dengan syukur kita.”

Demikianlah, Ayyub memaknai sebuah penderitaan. Ia memandang rasa sabar kita seharusnya berbanding lurus dengan rasa syukur kita. Penderitaan yang kita terima, selayaknya diredam dengan betapa besarnya anugerah yang telah kita dapatkan.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya (menghitungnya). Sesungguhnya manusia itu sangat zamil dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Lalu, kenapa kita lebih banyak meratapi ujian Allah sebagai sebuah penderitaan yang tak pernah usai? Kenapa penderitaan yang kita lewati dalam beberapa waktu saja menghapus ingatan kita akan segala kebaikan-Nya? Kenapa kita sering alpa menzikir-zikir rezeki dan nikmat Allah yang pernah kita dapatkan dari-Nya? Pada posisi inilah, tak aneh bisa Allah ta’ala, kerap meneguhkan, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali melalui jalannya yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya.” (QS Yunus: 12, lihat juga ayat senada pada QS Fushshilat: 51; QS Az Zumar: 8; QS Al Hajj:11)

Mengolah Derita

“Manusia yang memiliki sebuah alasan untuk hidup dapat menahan penderitaan apapun,” begitulah Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang lahir pada tahun 1844 itu pernah berkata. Dan Nabi Ayyub, jauh berabad-abad silam sebelum Nietzsche lahir, sudah terlebih dulu mengalami dan menghitmatinya. Bahkan, menurut hemat saya, Ayyub lebih dari sekadar mempunyai alasan untuk hidup; selain ia berharap dapat lulus atas ujian Allah, ia juga berharap, kelak, Allah masih meliriknya agar tak pernah jera menggenapi anugerah kepadanya.

Bagi saya, semangat hidup yang terus meletup-letup itu, sejatinya, bukan milik Ayyub sendiri. Suatu saat, entah saya atau Anda, apapun status dan profesi Anda, pasti bisa menjalaninya. Viktor Frankl, seorang pakar psikolog humanis, misalnya. Ia membuktikan dirinya bisa bangkit dari beban derita yang meruap di jiwanya. Viktor mengalami penderitaan yang tak kalah hebatnya; istri, orang tua, dan saudara laki-lakinya meninggal di kamp konsentrasi Nazi, Jerman. Ia sendiri, di tengah kelaparan, hawa dingin, dan kekejaman selama di Auschwits dan Dachau, terus-menerus dimasukkan ke dalam kamar gas. Ia kehilangan seluruh harta miliknya di hari pertama masuk kamp, dan dipaksa menyerahkan sebuah manuskrip ilmiah yang merupakan hasil kerja seumur hidupnya. Frankl, meski berada di dalam keadaan yang mengerikan itu, memutuskan memilih bertahan hidup. Wajar, dalam buku Man’s Search for Meaning yang dikarangnya, ia menuliskan, “Jangan biarkan penderitaan memicu munculnya gejala penyakit jiwa, tetapi biarkan ia memicu munculnya pencapaian seseorang.”

Pencapaian itulah yang akhirnya Ayyub dapatkan. Allah mengabulkan selarik doanya. Buah kesabaran yang selama ini diembannya, Allah ganjar dengan akhir yang indah: Allah menyembuhkan penyakitnya seperti sediakala. Istri Ayyub yang pernah minggat pun, akhirnya, kembali ke pangkuannya. Tak hanya itu, Allah kembali mengkaruniainya anak yang banyak serta kekayaan yang tiada tara. Dan, sudah pasti, surga tengah menantinya.

Pada titik ini, Nabi Ayyub, sepertinya, ingin menegaskan kepada kita bahwa sebaris doa adalah selaksa harapan. Pada doalah segala yang tidak mungkin bisa terjadi. Nabi salallahu ‘alahi wassalam sendiri bersabda, “Takdir tidak ditolah kecuali oleh doa, dan tidak ada yang menambah umur manusia kecuali kebaikan yang dilakukan olehnya...”

Dan, saya yakin, bibir kita seharusnya tidak hanya memanjatkan selarik doa seperti yang dilakukan Nabi Ayyub, tapi juga menyemai benih harapan yang tak pernah aus lantaran sejumlah derita. Saya yakin, Anda juga berharap mendapatkan akhir yang indah seperti Nabi Ayyub dan kisah orang-orang yang lulus ujian dari setangkup deritanya.


-Dikutip seluruhnya dari buku Doa-Doa yang Menjawab Impian karya A Muaz

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...