Wednesday, 8 November 2017

Jangan Bersedih untuk Sesuatu yang Belum Pasti Datang



Untukmu, siapapun dirimu kelak, semoga adalah engkau yang beramal salih dan berilmu pengetahuan. Dan aku selalu meminta kepada Allah, ketika telah tiba masanya, agar Dia Menganugerahkan ketenteraman padamu akan aku dan padaku akan engkau.

Apa yang harus dicemaskan tentang masa yang akan datang padahal tinta catatan telah kering? Semuanya sudah terangkai rapi dalam sebuah kitab yang bahkan telah selesai sebelum bumi, langit, dan enam masa dalam penciptaannya. Manusia hanya memiliki peran sebagai pelaksana takdir. Kita berupaya, kemudian bertawakkal.

Pada perasaan yang dititipkan, upaya kita adalah menjaganya agar tidak keluar dari fitrahnya yang suci, tidak menyalahi aturan, dan tidak menjadikannya sebagai penyebab dosa hati dan khayalan. Upaya kita adalah berdoa kepada Yang Maha Mencintai, agar ia menganugerahi kita sesuatu yang baik berdasarkan pengetahuan-Nya yang luas. Adalah menyebut namamu dalam doa, akhir-akhir ini begitu takut untuk kulakukan. Bahkan nabi Nuh alaihissalam pernah mendapat teguran ketika ia berdoa untuk putera yang dicintai, hingga akhirnya ia memohon ampunan dan berlindung kepada Tuhan-Nya dari meminta sesuatu yang tidak diketahui hakikatnya.

Sebuah syair menyebutkan bahwa cinta yang benar itu selalu mengajarkan adab-adab percintaan. Bagi mereka yang menjaga adab-adab tersebut, maka merekalah yang kelak akan memetik berkah dan sakinnah seperti yang telah dijanjikan. Namun bagi yang mengingkari, memperturuti hawa nafsu, maka baginya adalah cinta yang hina sebagai sumber penderitaan.

Tidak ada seorang pun manusia yang diciptakan sempurna dengan kebaikan-kebaikan kecuali Rasul-Nya, tapi kita dianugerahi akal agar terus belajar, memperbaiki segala yang keliru, serta meminta keikhlasan dari keluarga, sahabat, karib kerabat, kenalan, yang dulu pernah kita ambil haknya atau disakiti perasaanya. Hari ini adalah waktu terbaik untuk menjadi lebih baik. Dan untuk hari esok yang masih berada di alam ghaib, biarlah ia datang dengan sendirinya. Tak perlu kita memanjangkan angan-angan yang justru hanya akan menambah kesedihan.

Untuk engkau yang tengah bersedih dan takut akan kehilangan, semoga pesan ini sampai kepadamu. Masa sekarang adalah apa yang ada di sekitarmu, di hadapanmu, dan apa yang akan engkau kerjakan satu detik ke depan. Itulah yang harus diupayakan sebaik-baiknya. Jika engkau tengah bersama orang tuamu, maka bahagiamu adalah dengan berbakti kepadanya, mendengarkan, dan membantu mereka. Jika engkau tengah berlayar di lautan, maka bahagiamu adalah dengan memandang birunya air, percikan di kaca jendela, ikan-ikan yang mungkin sesekali berlompatan, atau ketika memandang daratan yang hijau di depan sana. Jika engkau tengah menuntut ilmu, maka bahagiamu adalah ketika engkau mampu menghafalkan sebaris pengetahuan, menyelesaikan sebuah tugas, atau ketika menyibukkan diri dengan bacaaan-bacaan.

Apa yang ada padamu hari ini, itulah sumber bahagiamu. Sebaliknya, jika ia hanya berupa angan-angan, maka tidak ada jaminan apakah engkau akan sampai padanya atau binasa sebelum itu. Jadi tak perlu pula engkau menghabiskan waktu untuk bersedih karenanya. Kecuali pada bencana yang pasti akan terjadi, seperti kematian. Semua manusia sepakat bahwa tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati, dan masalahnya tak ada seorang pun yang tahu kapan ia akan datang. Jadi untuk sesuatu yang pasti, adalah kebodohan apabila kita tidak bersiap-siap setiap waktu. Selain dari maut dan petaka setelahnya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Berbahagialah seperti burung yang keluar dari peraduannya di pagi hari tanpa memikirkan kemalangan apa yang akan menimpanya sepanjang hari itu. Selama kita bertakwa kepada Allah, maka pada hakikatnya kita adalah manusia yang aman dan berbahagia.

Butuh waktu lama untuk belajar tentang hal ini. Engkau yang berlayar tanpa gelombang, pasti sulit untuk memahami. Namun salah juga apabila aku menghakimi bahwa hidupmu tidak pernah ditimpa kesulitan, karena setiap manusia memiliki ujiannya masing-masing. Jadi bersabarlah. Tulisan ini juga kutujukan untuk diriku sendiri. Insya Allah bagi orang-orang yang bersabar, ada pahala dan kebahagiaan setelahnya. Setelah ini, aku tak ingin mendengar berita apa-apa tentangmu kecuali kebahagiaan-kebahagiaan. Semoga Allah menetapkan hati kita di atas iman dan Islam, dua nikmat yang apabila diambil, maka tak akan pernah ada penggantinya. Semoga engkau hidup dalam ketaatan dan keberkahan.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...