Monday, 20 November 2017

Pentingnya Menuntut İlmu Bagi Seorang Muslim [Described by Fiction]

Malam ini kota Sarajevo masih mengepulkan uap dingin. Siapapun tidak akan sanggup keluar tanpa mengenakan pakaian berlapis-lapis atau jaket yang benar-benar hangat. Terlebih Aisiya.

Kali ini perempuan Indonesia itu keluar sendirian. Tadi ketika ia tiba di hostel sekitar pukul lima sore, kamarnya kosong. Ia tidak tahu keberadaan James, apalagi wanita Amerika yang bahkan belum sekali pun terlihat batang hidungnya.

Langkah kaki Aisiya yang perlahan terus berjalan menyusuri sungai Miljacka. Sekitar 300 m di depan sudah terlihat jembatan Latin yang berada di depan museum Sarajevo 1878-1918 atau yang dikenal dengan museum Austria-Hongaria. Hanya terpisah oleh jalan yang konon disana lah Franz Ferdinan terbunuh, hingga kemudian disebut-sebut sebagai asal muasal perang dunia pertama. Tapi pikiran Aisiya tidak sedang tertuju pada jembatan, museum, atau bahkan Franz Ferdinan.

Sama sekali tidak.

Apa yang berkecamuk dalam kepalanya saat ini begitu rumit. Ia merasa, semakin banyak ilmu yang diketahui justru dirinya semakin terlihat demikian bodoh. Seperti tadi siang ketika ia turut menjadi makmum di Masjid Gazi Hurev dengan Mustafa sebagai imamnya, ia dibuat heran karena rukuk, berdiri i’tidal, sujud, dan duduk antara dua sujud yang dilakukan Mustafa sangat lama. Masing-masing bisa memakan waktu satu menit sendiri.

Usai shalat, begitu melihat Mustafa meninggalkan Masjid, Aisiya segera membuntuti. Ia tak mau berdiam diri dalam kebingungan. Mustafa kemudian mengajaknya singgah di sebuah warung kecil dan memesan makan siang sederhana. Untuk dirinya sendiri, sekaligus wanita yang dipanggilnya Rahma. Di sanalah Mustafa menjelaskan panjang lebar.

“Rahma, engkau tahu mengapa banyak sekali permusuhan yang terjadi antara kaum Muslimin saat ini? Muslim yang satu mengkafirkan Muslim lainnya? Muslim yang membetulkan hal-hal bid’ah, namun justru kemudian diberi stempel wahabi, sehingga dimasukkan ke dalam golongan orang yang sesat?”

Asiya tak perlu berpikir panjang demi pertanyaan Mustafa itu, “Karena memang orang yang senang membid’ahkan sesuatu itu tidak pantas hidup di tengah masyarakat. Mereka mengganggu ketenteraman kaum Muslimin. Orang lain ingin beribadah malah diberi stempel bid’ah, kan ini namanya menghalang-halangi manusia dari kebenaran.”

Mustafa tersenyum. Ia menarik cangkir teh, kemudian menyeruputnya dengan tenang.

“Aku tidak ingin menghakimimu. Tapi biarkan aku memberimu beberapa penjelasan.” Ia mengambil jeda, “Rahma, ibadah tidak bisa dilakukan hanya dengan berlandaskan semangat dan perasaan. Seseorang yang sedang bersemangat tetap harus menunaikan shalat Subuh sebanyak 2 rakaat, meskipun ia sanggup menunaikan sebanyak 10 atau 12 rakaat. Apabila kamu mengerjakan shalat Subuh lebih dari 2 rakaat, maka itu adalah bid’ah. Tahu kenapa?”

“Karena shalat Subuh lebih dari 2 rakaat itu tidak ada landasannya.” Jawab Aisiya mudah.

“Benar.” Sambung Mustafa. “Karena Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan kita agar shalat seperti beliau shalat. Dan beliau menunaikan shalat Subuh cukup dengan 2 rakaat. Ini artinya, suatu ibadah akan dikatakan bid’ah alias tidak sah apabila tidak ada tuntunan dari Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Lalu, jika aku mengajakmu berhaji di sini, di Sarajevo, apakah engkau setuju?”

“Tentu tidak. Haji itu harus di Masjidil Haram. Harus berthawaf mengelilingi Kakbah.” Aisiya menampakkan wajah sebal.

“Nah sekali lagi engkau benar. Suatu ibadah tertentu memang tidak sah apabila tempatnya salah. Jika seseorang berhaji di Sarajevo, itulah bid’ah. Termasuk mereka yang beribadah seperti membaca Al Quran di kuburan. Itu tidak benar. Karena kuburan bukan tempat untuk beribadah. Selanjutnya, jika aku shalat Subuh pada pukul 8 pagi, apakah menurutmu itu benar?”

“Itu shalat Dhuha.”

“Iya, dan shalat Subuh pada waktu itu dengan alasan sengaja sudah pasti shalatnya tidak sah karena waktunya tidak sesuai tuntunan. Sama saja hukumnya bagi seorang Muslim yang berpuasa pada hari-hari tertentu yang tidak ada tuntunannya sama sekali, maka puasanya tidak sah.

Jadi, Rahma, penting sekali bagi seorang Muslim untuk menuntut ilmu, terutama ilmu fiqh, sehingga ia bisa mengetahui mana yang sesuai ajaran Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam, mana yang hanya merupakan adat istiadat, dan mana yang hanya berupa amalan-amalan imam tertentu namun tanpa dasar dari Rasulullah. Dan penting pula bagi seorang Muslim untuk memperhatikan sumber ilmu tersebut dan memastikan kebenarannya. Apakah riwayatnya benar-benar sampai kepada Rasulullah? Apakah sumbernya sahih atau tidak?  

Belajar kepada seorang ahli ilmu agama yang bodoh atau buku-buku yang bodoh sama artinya dengan membiarkan kita beribadah dalam kebodohan seumur hidup. Kebodohan ummat Islam di zaman ini adalah karena kebanyakan mereka belajar praktek ibadah dari buku-buku yang tidak jelas sumbernya, sementara buku tersebut berlimpah di pasar-pasar. Sehingga kaum awam mempelajari lalu mempraktekkannya dan menganggap itu sudah benar.

Belum lagi tidak sedikit pula yang belajar praktek ibadah hanya sekadar dari hafalan lisan para pendahulunya, sementara ia tidak bisa memastikan apakah lafadznya sudah benar atau tidak. Dan satu lagi masalah penting, kebanyakan kaum Muslimin yang non Arab saat ini, mereka membaca lafadz-lafadz tanpa memahami maknanya. Akibatnya ibadah mereka kering. Tidak memiliki ruh apalagi sampai memberinya kekuatan untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga tidak sedikit manusia yang hatinya lalai, bahkan ketika ia sedang menunaikan shalat.

Rahma, meskipun seluruh masyarakat menganggap sesuatu itu baik, tapi untuk urusan ibadah, kita harus kembalikan kepada Al Quran dan Al Sunnah. Tidak bisa hanya dengan bermodalkan tradisi turun menurun, buku-buku yang tidak jelas nasabnya, atau penilaian pribadi. Ibadah itu tidak sama dengan urusan duniawi. Selagi ada tuntunan dari Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam, maka wajiblah kita mengikutinya.

Contohnya zikir pagi dan sore, ilmu mengenai apa yang harus dibaca sekaligus berapa hitungannya, semuanya sudah pernah diajarkan Rasulullah. Tidak perlu kita berlelah-lelah menambah amalan yang tidak pernah diajarkan.

Lalu untuk berdzikir dengan kalimat tayyibah atau kalimat-kalimat lain yang merupakan pujian untuk Allah, silakan lakukan sebanyak-banyaknya dan jangan pula kita sok tahu menetapkan jumlah dan waktunya. Karena Al Quran sendiri telah memerintahkan agar kita menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya, baik ketika berdiri, duduk, maupun berbaring.

Kau tadi bertanya soal lamanya rukuk, sujud, dan lain-lain yang kulakukan iya, kan?”

“Jawabannya sederhana, karena Rasulullah dahulu melakukan semua itu—rukuk, berdiri setelah rukuk, sujud, duduk antara dua sujud—dengan jumlah waktu yang relatif sama. Apabila beliau ingin berdoa panjang di dalam sujud, berarti beliau pun memanjangkan waktu rukuk dan lain-lain. Tadi aku ingin berdoa cukup panjang di dalam sujud, jadi aku pun memanjangkan yang lainnya.”

“Dan tasyahudmu kenapa lama sekali?” tanya Aisiya lagi.

“Itu karena aku berdoa sebelum salam.”

“Doa sebelum salam?”

“Kau tidak tahu?” kali Mustafa menampakkan wajah heran.

“Setahuku tidak ada doa dalam tasyahud. Setelah shalawat adalah salam. Begitu yang selama ini kupelajari.”

“Rahma, ada dua momen di dalam shalat dimana kita dianjurkan untuk berdoa, yaitu saat sujud dan tasyahud. Suatu hari Rasululullah salallahu ‘alaihi wassalam pernah mendengar seseorang membaca shalawat, kemudian hamdalah dan memuji Allah, lalu mengucapkan shalawat nabi. Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam bersabda padanya, ‘memohonlah, tentu engkau akan dikabulkan; dan mintalah, tentu engkau akan diberi.’ Dan seperti yang kita ketahui, isi dari tasyahud adalah pujian kepada Allah dan shalawat nabi. Setelah itu kita dianjurkan untuk berdoa. Adapun untuk lafadz-lafadz doa, kita bisa memilih dari lafadz-lafadz yang pernah digunakan Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam. Karena doa-doa beliau semuanya singkat namun memiliki makna yang luas. Biasanya mencakup permintaan dunia dan akhirat. Tapi kita juga diperbolehkan untuk berdoa dengan doa-doa yang sesuai dengan kondisi kita saat itu”

Aisiya diam selama beberapa saat. Bukankah ini benar-benar ilmu baru baginya? Kini ia sadar betapa lalai dirinya. Bahkan urusan shalat yang merupakan ibadah pertama yang akan dihisab saja masih banyak yang tidak ia ketahui. Sejauh ini ia sudah merasa puas dengan hafalan bacaan shalat yang ia pelajari ketika kecil di surau, tanpa pernah mengoreksinya lagi, “Jadi inilah mengapa seorang Muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu.” Gumamnya dipenuhi perasaan bersalah.

“Ketahuilah, Rahma. Sesungguhnya iblis itu 1000 kali lebih takut kepada orang yang berilmu dibandingkan seorang ahli ibadah tapi bodoh. Ali ibn Abi Thalib rhadiallahu anhu pernah mengatakan, ‘Ada dua jenis manusia yang merusak agama, yaitu ahli ibadah yang bodoh dan alim yang melakukan dosa’. Kau ingin dengar sebuah cerita?”

“Ceritakanlah.”

Pria Turki itu memulai bercerita bahwa dahulu ada seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang begitu tekun beribadah di atas sebuah bukit. Suatu hari sang ahli ibadah ini jalan-jalan di sekitar bukit dengan niat bertafakur. Di sela-sela berkeliling ini, dia melihat sesosok manusia berjalan sementara tubuhnya mengeluarkan bau yang sangat busuk. Maka ahli ibadah ini segera menjauh agar terhindar dari bau busuk tersebut. Iblis kemudian menampakkan diri dalam bentuk laki-laki saleh dan memberi nasehat. Iblis berkata kepadanya, “Sungguh amal-amal kebaikanmu tidak dihitung di sisi Allah ta’ala.”

Ahli ibadah bertanya, “Mengapa?”

Iblis menjawab, “Karena engkau enggan mencium bau anak cucu Adam yang semisal denganmu.” Maksudnya karena sebelumnya si ahli ibadah menghindari lelaki yang berbau busuk.

Ucapan iblis yang berwujud lelaki shaleh itu membuat ahli ibadah begitu sedih. Hingga kemudian iblis pura-pura kasihan dan memberinya nasehat, “Jika engkau ingin agar Allah mengampuni kesalahanmu, saya akan memberi nasehat kepadamu agar engkau mencari tikus gunung. Lalu engkau gantungkan bangkainya di lehermu seraya beribadah kepada Allah sepanjang hidupmu.”

Si ahli ibadah bodoh inipun kemudian menuruti nasehat iblis tersebut. Ia memburu tikus gunung kemudian mengalungkan ke leher. Dia pun terus menerus beribadah dengan membawa najis selama enam puluh tahun sisa umurnya.

“Baik, Rahma. Kurasa diskusi kita cukupkan sampai di sini.” Mustafa mengandaskan kopinya. “Dan untuk selanjutnya, jika kau masih ingin berdiskusi, silakan membuat janji dengan wanita yang namanya ada di dalam kartu ini. Dia adik perempuanku yang tinggal di Mostar, sekitar 129 km dari kota ini. Kurasa kau akan menulis tentang Sebrenica, karena kota itu merupakan kata kunci dari pembantaian 22 tahun silam. Insya Allah Syaheeda bisa menemanimu ke sana.”

Mustafa mengeluarkan sekeping kartu nama berwarna putih, lalu meletakkan tepat di samping cangkir kopi Aisiya.

“Terimakasih untuk diskusi dan ilmu sepanjang kebersamaan kita.” Aisiya berdiri, sedikit merendahkan tubuh dan menundukkan kepala sebagai penghormatan.

“Yang baik datangnya dari Allah dan yang buruk dari kebodohan diriku sendiri. Semoga Allah memberkahi perjalananmu dengan ilmu dan pemahaman. Selam aleykum wa rahmatullah.”

“Waalaikumussalam wa rahmatullah.”

Mustafa merapatkan jaket dan segera berlalu meninggalkan warung mungil itu. Langkahnya santai namun pasti. Dan pandangan Aisiya masih belum bisa beralih hingga sosok itu hilang di persimpangan.

Matanya kemudian tertuju pada selembar kertas yang tergeletak manis di atas meja. Aisiya memungutnya, mengeja lamat-lamat setiap baris hurufnya.

Syaheeda Melek Yayla

Di bawah nama tersebut tertulis: (Founder and Head of Organizations)

Kemudian di bagian kiri tertulis sebuah nama LSM: Zehra (Muslimah of Bosnia—Education & Empowerment Center)

Satu lagi fakta yang membuat Aisiya berdecak kagum. Ternyata adik perempuan Mustafa ini bukan muslimah biasa-biasa saja.



*Sebagai penulis saya hanya ingin menambahkan kalimat "Wallahualam". Segala kebenaran milik Allah semata. Saya hanya berusaha membantu untuk menyederhanakan masalah ini dalam bentuk yang mudah dipahami. Semoga kita diberi pertolongan oleh Allah ta'ala agar mampu mengamalkan Kitabullah dan Al Sunnah, semoga niat kita untuk membantu pekerjaan amar ma'ruf nahi munkar tidak terkotori oleh nafsu dan cita-cita duniawi yang begitu murah. Aku berlindung kepada Allah dari dua keburukan ini. Semoga ada kebaikan yang bisa diambil oleh pembaca sekalian. Dan semoga kita diberi pertolongan oleh Allah untuk mengamalkan segala kebaikan yang pernah dibagikan kepada manusia lainnya, karena manusia yang paling merugi di akhirat kelak adalah mereka yang berilmu namun tak bisa mengamalkannya. Dan semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan manusia yang merugi dalam amalnya. 




No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...